Arsip Tag: Sejarah

Amankan Sejarah Kerajaan Pajajaran, Bogor Layak Miliki Museum

Lingkar.co – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mengungkapkan, saat ia berkunjung ke Bumi Ageung dan Prasasti Batutulis, Menteri Kebudayaan (Mendbud), Fadli Zon menegaskan tidak ada keraguan bahwa Kota Bogor merupakan salah satu lokasi berdirinya Kerajaan Pajajaran, sehingga layak memiliki museum.

“Jadi intellectual property right untuk Museum Pajajaran adalah Kota Bogor, karena fakta sejarahnya menunjukkan bahwa Sri Baduga Maharaja dinobatkan di sini dan adanya Prasasti Batutulis sebagai artefak utamanya,” ujarnya.

Wali Kota mengatakan hal itu saat menghadiri diskusi kelompok terpumpun bertema Perumusan Narasi Museum Pajajaran Kota Bogor yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor di Bumi Ageung, Rabu (17/12/2025).

Diskusi ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Fadli Zon beberapa waktu lalu yang menyatakan akan memfasilitasi forum diskusi kelompok sebagai langkah awal mewujudkan Museum Pajajaran.

Ke depan, bersama Kementerian Kebudayaan, BPK Wilayah IX Jawa Barat, budayawan, sejarawan, akademisi, komunitas penggiat pelestarian sejarah, seniman, para ahli, serta seluruh unsur terkait akan berdiskusi dalam kelompok terpumpun mengenai bagaimana Museum Pajajaran dapat menjadi tempat pembelajaran, edukasi, sekaligus edutainment bagi generasi muda.

“Ke depan, generasi muda bisa mengetahui bahwa dari sinilah terdapat kontribusi terhadap perkembangan bangsa Indonesia, yang di dalamnya ada peran penting masyarakat Sunda, salah satunya berasal dari Kota Bogor yang saat itu dikenal dengan Pakuan Pajajaran,” sambungnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Wawan Yogaswara, mengatakan, secara umum museum memiliki sejarah dan perkembangan yang panjang.

Dahulu, katanya, museum difungsikan sebagai tempat mengumpulkan hasil penelitian, kemudian berkembang menjadi sarana pameran dan pengumpulan benda sejarah bernilai pendidikan, budaya, hingga alam.

“Sehingga di Indonesia, regulasi museum hingga saat ini masih mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 serta Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Museum,” ucapnya.

Senada, Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana juga mengatakan bahwa Jawa Barat akan memiliki museum yang dilengkapi berbagai koleksi khas di Kota Bogor karena Bogor memiliki kekhasan serta perjalanan sejarah yang panjang.

Kepala BPK Wilayah IX Jawa Barat, Retno, menambahkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendukung upaya penelusuran jejak peradaban kuno yang telah ada, kemudian ditemukenali kembali dan diaktivasi agar di masa mendatang generasi muda tidak melupakan budayanya.

“Kegiatan penyusunan narasi ini merupakan arahan langsung dari Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, saat bertemu dengan Wali Kota Bogor untuk merumuskan sejarah serta perannya bagi peradaban di Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat penting dan diisi oleh berbagai pemangku kebijakan serta kepentingan,” ucapnya.

Kepala Disparbud Kota Bogor, Firdaus, menuturkan hal yang sama terkait peran Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat dalam merumuskan arah pengembangan museum ke depan.

“Pembangunan tahap pertama telah selesai dengan berdirinya Gedung Museum Bumi Ageung. Saat ini kita merumuskan langkah strategis berikutnya, terutama terkait narasi atau storyline museum agar terus berkembang, termasuk pengisian koleksi,” kata Firdaus.

Firdaus menekankan bahwa penyusunan narasi tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar Museum Pajajaran memiliki alur cerita sejarah yang kuat dan komprehensif. (*)

Pertempuran Lima Hari di Semarang Jadi Momentum Wali Kota Ajak Generasi Muda Lawan Kemalasan dan Krisis Moral

Lingkar.co — Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meneladani semangat para pejuang dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang dengan cara melawan pertempuran zaman modern, yakni kemalasan, ketidakpedulian, dan krisis kesadaran sosial.

Pesan itu disampaikan saat menghadiri Pameran Arsip dan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang yang digelar di Lawang Sewu, Selasa (14/10/2025).

“Kalau tidak ada pameran seperti ini, mungkin banyak yang tidak paham sejarah. Tapi luar biasa, arsip-arsip ini membuat kita sadar betapa besar perjuangan mereka,” ujar Agustina.

“Acara seperti ini bukan untuk tepuk tangan, tapi untuk berdiskusi dan memahami. Justru di sinilah pengetahuan yang mendalam tumbuh,” lanjutnya.

Menurutnya, kegiatan semacam ini penting, karena membuka ruang refleksi bagi warga. Terlebih, pameran tersebut sudah berlangsung beberapa hari sehingga masyarakat memiliki kesempatan luas untuk datang dan belajar.

“Apalagi nanti malam akan ada prosesi peringatan dengan inspektur Pak Gubernur. Harapannya, ini bisa jadi momentum bagi kita untuk melawan hal-hal negatif, mulai dari malas buang sampah, malas bangun pagi, sampai malas berbagi,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Agustina juga menyoroti pentingnya memahami konteks sejarah agar bisa menghadapi tantangan zaman kini.

“Kalau dulu pertempurannya fisik, sekarang pertempuran ekonomi dan pikiran. Anak-anak muda harus belajar bagaimana menjaga ekosistem agar tidak ada lagi ‘pertempuran lima hari’ di era modern,” ucapnya.

Ia menilai, memahami sejarah bukan hanya soal mengenang masa lalu, tapi juga membangun kesadaran sosial agar generasi penerus lebih tangguh dan beretika.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti minimnya literasi sejarah lokal, terutama tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Ia meminta jajaran pustakawan dan pengelola arsip kota untuk terus mencari sumber-sumber baru, termasuk dari luar negeri.

“Saya minta setiap tahun harus ada testimoni baru. Coba cari arsip di Belanda atau Australia. Karena kabarnya arsip di Jepang sudah banyak yang hilang. Kita perlu tahu apa yang terjadi di tahun itu dan mengapa, supaya peristiwa serupa tidak terulang,” tuturnya. (Adv)

Kesimpulan Ahmad Baso Mengenai Sejarah Demak Tidak Sesuai Logika Akademik

Lingkar.co – Pada awal Agustus lalu, peneliti dan penulis buku ‘Walisongo; Khittah Kebangkitan Bangsa dan Historiografi Islamisasi Nusantara’ Prof. Dr. Ahmad Baso, MA membuat pernyataan yang menggegerkan kalangan akademisi.

Ia menyatakan bahwa Kesultanan Demak sudah ada pada tahun 1460 M dalam forum diskusi dan bedah buku Babad Demak dan Historiografi Walisongo yang diselenggarakan di serambi Masjid Agung Demak. Bahkan ia juga berani menyimpulkan bahwa Keraton Demak berada di serambi Masjid Demak termasuk lembaga peradilan juga ada di serambi Masjid Demak.

Ahmad Baso berani mengambil kesimpulan tersebut atas dasar dirinya menemukan naskah kuno berbahasa Arab yang ditulis oleh Ibnu Majid. Naskah kuno itu menyatakan bahwa Ibnu Majid sebagai penulis telah datang dan bertemu Sultan Fatah di serambi Masjid Agung Demak pada tahun 1462 M.

Menanggapi hal itu, Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Arief Junaidi MAg mengatakan pernyataan Ahmad Baso tidak sesuai dengan logika akademik. Semestinya, Ahmad Baso sebagai peneliti tidak bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pada satu sumber saja.

“Kalau kita meneliti sejarah Demak maka kita mesti melengkapi dengan data-data dari sumber babat dan data-data dari Barat seperti dari Portugis, kemudian China dan sebagian kecil dari Arab. Kita tidak bisa hanya memfokuskan pada satu sumber sejarah dengan menegasikan sumber-sumber sejarah yang lain,” ujarnya.

Ia menyatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam kegiatan refleksi kemerdekaan ke-80 dan launching buku ‘Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah’ yang digelar IKA PMII Jateng pada hari Jum’at, 22 Agustus 2025 Pukul 13.00 – 17. 00 WIB di aula Wisma Perdamaian, Kota Semarang.

Maka dari itu, Arief Junaidi menilai kesimpulan Ahmad Baso tergesa-tergesa karena dalam melakukan kajian sejarah, seorang peneliti harus menempatkan data pada locus dan tempus yang tepat agar bisa tepat pula dalam membuat kesimpulan. “Untuk itu kita harus membekali dengan data selengkap mungkin,” tegasnya.

Menurut dia, Ahmad Baso cenderung menolak data dari Barat dan lebih menerima data dari Arab, padahal data dari Arab sedikit sekali.

“Sebagai peneliti kita mestinya dapat menerima data-data dari manapun kita kumpulkan, kemudian diverifikasi atau diuji validitasnya, apakah data-data yang kita dapatkan itu sahih apa tidak, kemudian dibuat intrepretasi dan disusun historiografi,” paparnya.

Arief Junaidi mengingatkan bahwa menulis sejarah itu bagian dari upaya peneliti untuk mencari pijakan agar tidak salah. Orang yang mau merengkuh masa depan tapi mengabaikan masa lalu akan mudah terjerembab.

Menurutnya, kesimpulan Ahmad Baso tidak logis jika pada tahun 1462 sudah ada Kesultanan Demak, karena berbenturan dengan temuan para sejarawan yang menulis Sultan Fatah lahir tahun 1455 M.

Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum'at (22/8/2025). Foto: dokumentasi
Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum’at (22/8/2025). Foto: dokumentasi

Jika para sejarawan menulis Sultan Fatah lahir tahun 1455 di Palembang, maka data Ahmad Baso berbenturan dengan tahun 1462 sudah ada orang Arab datang ke Kerajaan Demak dan ditemui Sultan Fatah di Serambi Masjid Demak karena usia Sultan Fatah baru 5 tahun, “Ini yang menjadi pertanyaan dari sumber data dari Arab yang dikemukakan Ahmad Baso,” katanya.

Arief Junaidi mempertanyakan, jika Kerajaan Demak benar sudah ada pada tahun 1460, maka siapa yang menjadi sultannm Demak, atau status Demak saat itu sebagai tanah kesultanan yang merdeka atau masih sebatas komunitas muslim awal sebelum Demak menjadi kesultanan.

Di lain sisi, kalau di gerbang Majapahit terdapat tulisan Candra Sengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi yang diartikan oleh para peneliti sejarah sirna berarti nol kemudian ilang juga berarti nol sedangkan kertaning itu maknanya kota yang punya empat ujung arah sehingga diartikan empat dan bhumi berarti satu. Jadi dibaca 0041 atau kalau dibalik menjadi 1400 tahun saka.

Selisih tahun saka dengan tahun masehi itu 78, maka kalau dicarikan masehinya jadi tahun 1478 M. Kalau Majapahit baru runtuh tahun 1478 M, apakah mungkin pada tahun 1460 sudah berdiri Kesultanan Demak. “Jadi kita harus melihat data secara utuh dari manapun asalnya kemudian kita uji validitasnya,” tandasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Refleksi HUT ke-80 RI, IKA PMII Jateng Bedah Buku Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkai dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Membuka bedah buka, Adib, sapaan akrab M. Kholidul Adib memaparkan bahwa buku yang ia tulis merupakan implementasi deklarasi PW IKA PMII Jawa Tengah saat halal bi halal pada tanggal 24 April 2025 di Pendopo Bupati Blora. Saat itu, kata dia, IKA PMII Jateng melakukan deklarasi untuk bergerak menulis sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Proses pembuatan buku melibatkan penulis dari anggota IKA PMII di Jawa Tengah.

Menurutnya, buku tersebut mengupas sejarah perjuangan ulama sejak di era kesultanan Demak hingga era kemerdekaan. “Pada buku edisi pertama ini disusun dalam waktu dua bulan, yaitu Mei-Juni dan berisi 51 sejarah singkat ulama pejuang di Jawa Tengah dan insya Allah akan disusul edisi kedua,” kata Adib.

Lebih lanjut Adib menyebut budaya literasi untuk melanggengkan kontribusi dalam berjuang bukanlah satu-satunya tujuan dalam penulisan buku tersebut. Lebih dari itu menjadi pemetaan potensi pengajuan gelar pahlawan nasional.

“Tujuan penulisan buku ini ada tiga. Pertama literasi sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Kedua meneladani pejuangan para ulama untuk konteks kehidupan sekarang dan ketiga jika memenuhi syarat bisa diajukan sebagai pahlawan nasional,” ujarnya.

Kata dia, kegiatan bedah buku diadakan di Wisma Perdamaian karena berada di depan Tugu Muda yang dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Semarang yang gigih berjuang melawan penjajah pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan istilah Pertempuran 5 Hari di Semarang.

IKA PMII Jateng Gelar Refleksi HUT ke-80 RI, Ketua MUI Jateng Sebut Ulama Sebagai Pelopor Perjuangan Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkul dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr. KH Ahmad Darodji yang didaulat Keynote Speach memberikan pemantik bahwa sejak dahulu para tokoh Islam atau ulama merupakan pelopor perjuangan bangsa dalam melawan kolonialisme di Nusantara (Indonesia).

“Dari dulu yang gigih mempelopori perjuangan perlawanan terhadap penjajah itu ya ulama. Namun selama ini kiprah perjuangan para ulama belum banyak yang ditulis sehingga generasi muda sekarang belum banyak yang tahu,” kata Darodji.

Menurut Darodji, sebagai umat Islam yang berbangsa Indonesia harus bersyukur dengan nikmat kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan para orang tua terdahulu, terutama para ulama yang menjadi pelopor pejuangan melawan penjajah.

“Untuk itu, guna mengenang dan meneladani perjuangan para ulama sekaligus memupuk jiwa nasionalisme kita semua, terutama para generasi muda, maka refleksi kemerdekaan ke-80 dan launching buku ini menjadi sangat penting untuk kita apresiasi,” ujarnya.

Usai Darodji memberikan orasi kebangsaan, kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM dr. Ikhwan Hamzah, dan dilanjutkan dengan bedah buku.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum'at (22/8/2025). Foto: dokumentasi
Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum’at (22/8/2025). Foto: dokumentasi

Ajukan Gelar Pahlawan Nasional

Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Arief Junaidi menyatakan penulisan sejarah yang dilakukan PW IKA PMII Jawa Tengah ini sangat penting. Sebab, hal itu bisa jadi pijakan untuk merengkuh masa depan.

“Penulisan sejarah ini bagian dari upaya menapaki pijakan sejarah supaya kita dapat menempatkan sejarah dalam locus dan tempus tertentu. Untuk itu kita harus melengkapi diri kita dengan data-data sejarah yang banyak dan valid,” ujarnya.

Pelantikan Serentak 8 Ansor Kecamatan, Wabup Kendal Ingatkan Kiprah GP Ansor Tidak Bisa Lepas dari Sejarah Bangsa

Lingkar.co – Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi mengingatkan bahwa kiprah pemuda Ansor tidak bisa lepas dari sejarah bangsa. Sebab, menurutnya, perjalanan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama, dan sejarah NU pun tidak lepas dari kontribusi besar para kader Ansor.

“Kami berharap catatan-catatan sejarah yang ditulis hari ini dan ke depan akan terus menguatkan NKRI. Ansor telah terbukti menjadi penjaga ulama dan bangsa,” ujarnya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga A’wan Syuriyah PCNU Kendal ini mengingatkan hal itu saat menghadiri pelantikan serentak 8 Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor yang ada di Kabupaten Kendal serta pengukuhan pengurus Pimpinan Cabang (PC) Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kendal masa khidmat 2024–2028. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal, Jawa Tengah, Jumat (16/5/2025) malam.

Acara pelantikan serentak juga digelar dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda (GP) Ansor ke-91 tingkat Kabupaten Kendal. Adapun 8 PAC GP Ansor yang dilantik antara lain Kecamatan Patean, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Pageruyung, Kecamatan Rowosari, Kecamatan Cepiring, Kecamatan Kendal, Kecamatan Kaliwungu, dan Kecamatan Kaliwungu Selatan

Benny juga berharap sinergi antara GP Ansor dengan Pemerintah Kabupaten Kendal terus ditingkatkan. Sebab, menurut dia, hal itu sebagaimana GP Ansor secara nasional ikut mengawal visi besar Asta Cita Presiden, dan di Jawa Tengah turut mengawal arah kepemimpinan Gubernur. Oleh karena itu, berharapk GP Ansor bisa bersinergi mengawal program-program Pemerintah Kabupaten Kendal.

“Kami sangat yakin, semangat sahabat-sahabat Ansor akan menambah semangat kami dalam membangun Kendal. Ansor selalu menjaga ulama, menjaga NKRI, dan senantiasa tunduk kepada arahan para kiai,” tegasnya.

Wabup Kendal Benny Karnadi (baju putih) bersama istri, Niken Larasati saat pembukaan pelantikan serentak 8 PAC GP Ansor bersama pelantikan PC MDS Rijalul Ansor Kabupaten Kendal di Pendopo Tumenggung Bahurekso Kendal, Jawa Tengah, Jumat (16/5/2025) malam. Foto: dokumentasi/istimewa

Sementara, Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kendal, Mokh Izudin dalam sambutannya menegaskan bahwa baiat yang telah diucapkan kader Ansor bukanlah formalitas belaka, melainkan ikrar yang harus dipegang teguh dalam hati dan diwujudkan dalam aksi nyata.

“Panjenengan (Anda) semua adalah estafet perjuangan Nahdlatul Ulama. Maka tanggung jawab utama kader Ansor adalah menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, menjaga para kiai, dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengaderan berkelanjutan untuk menjaga eksistensi Ansor di masa depan. “Ansor harus terus hidup dan bangkit. Ini bisa tercapai jika kaderisasi berjalan secara kuantitas maupun kualitas,” imbuhnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dokter Hayyi Harapkan Yoyok-Joss Libatkan Elemen Masyarakat Dalam Kebencanaan, Terutama NU

Lingkar.co – Ketua Rumah Gerakan Dokter Hayyi Center (DHC) dr. Muhammad Hayyi Wildani berharap agar dalam penanganan kebencanaan yang dilakukan pemerintahan Yoyok-Joss melibatkan masyarakat, terutama Nahdlatul Ulama (NU).

“Harapan saya semoga Mas Yoyok dan Mas Joko jadi pemimpin di kota Semarang, kemudian dalam hal kebencanaan bisa melibatkan elemen masyarakat yang ada,” ujarnya seusai menemani Yoyok Sukawi dan Joko Santoso ziarah di makam Pangeran Terboyo, Kompleks Masjid Terboyo, Kaligawe, Gayamsari Kota Semarang, Sabtu (23/11/2024) pagi.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kota Semarang ini melihat banyak potensi yang harus digerakkan bersama dalam mengatasi banjir.

“Kebetulan dua bulan lalu ada perubahan kepengurusan di lembaga kebencanaan NU, saya diminta sebagai ketua,” ungkapnya.

“Karena itu, saya harapkan jangan sampai elemen masyarakat, terutama LPBINU ini digandeng untuk mengurus kebencanaan,” sambungnya.

dr. Muhammad Hayyi Wildani bersama Yoyok Sukawi dan Joko Santoso saat di makam Pangeran Terboyo, Kompleks Masjid Terboyo, Kaligawe, Gayamsari Kota Semarang, Sabtu (23/11/2024) pagi.
dr. Muhammad Hayyi Wildani bersama Yoyok Sukawi dan Joko Santoso saat di makam Pangeran Terboyo, Kompleks Masjid Terboyo, Kaligawe, Gayamsari Kota Semarang, Sabtu (23/11/2024) pagi. Foto: istimewa

Ia memaparkan, LPBINU sebagai lembaga NU mengakomodir semua badan otonom (Banom) yang ada di Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Oleh sebab itu, dari berbagai potensi yang ada bisa ikut membantu pemerintah dari mitigasi sampai rekonstruksi.

Kata Hayyi, peran Joko Santoso di Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Semarang Utara sudah bagus. Terbukti dari posisi a’wam menjadi mustasyar. “Sekarang kan Mas Joko di Semarang Utara naik jadi mustasyar atau penasihat, pembina, jadi lebih bisa mengembangkan NU agar lebih memasyarakat melalui kegiatan sosial,” jelasnya.

Dirinya juga mengapresiasi Yoyok-Joss yang telah berziarah ke makam salah satu tokoh dalam sejarah kota Semarang, yakni Pangeran Terboyo atau Kiai Adipati Surohardi Menggolo V.

Desain Pasar Johar dalam Rencana Pemkot Semarang Dilengkapi Museum

Lingkar.co – Pasar Johar Semarang merupakan salah satu dari saksi sejarah bangsa Indonesia, khususnya warga kota Semarang. Oleh karena itu, pasar tradisional ini akay didesain ulang dengan dilengkapi sebuah museum. Museum ini akan mengajarkan generasi muda bahwa pasar yang tidak jauh dari Masjid Agung Semarang ini bagian dari saksi bisu sejarah..

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilitasi Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Siti Arkunah memaparkan, Johar merupakan pasar tradisional yang sangat bersejarah.

Oleh karena itu ia berharap, pasar ini akan kian ramai. Sejalan dengan hal itu, pihaknya berupaya menghidupkan Pasar Johar seperti sediakala. Apalagi, Johar merupakan ikon Kota Semarang.

Rencananya pembangunan akan dianggarkan pada 2025 mendatang. Dirinya berharap, museum ini bisa menjadi tambagan destinasi di ibu kota Jateng.

“Memang belum kami anggarkan. Ini masih rencana. Kemarin sudah ada paparan dari tim yang mau mengadakan pameran. Sebenarnya, ada space di Pasar Johar yang dikhususkan untuk museum,” papar Ari, sapaannya, usai sosialisasi untuk pembeli pasar tradisional, di kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang, Senin (5/8/2024).

Ari melanjutkan, lokasi museum direncanakan di Johar Utara. Ada sebuah ruang kaca yang nantinya bisa untuk menempatkan dokumentasi-dokumentasi Johar dari masa ke masa. Dengan begitu, museum ini nantinya bisa menunjukan sejarah Johar dari tempo dulu hingga saat ini.

“Ada space yang mau dibuat sebagai museum. Akan menampilkan tempo dulu, pojok sovenir, gambaran video tetang Johar dari dulu terbakar sampai dibangun lagi. Akan menceritakan Johar dari dulu sampai sekarang,” jelasnya.

Ari juga memaparkan, Johar merupakan salah satu drstinasi sebagai pemberhentian bus wisata. Wisatawan turun di Johar diharapkan bisa mengunjungi museum dan berbelanja di pasarnya. Ia memastikan, perlahan lapak di Pasar Johan akan terisi penuh. Seluruh lapak sebenarnya sudah bertuan.

Ini Cara Bupati Arief Kenang Sejarah dan Jasa Para Bupati Blora Terdahulu di Rangkaian Hari Jadi Blora

Lingkar.co – Ini cara Bupati Blora, H. Arief Rohman mengenang sejarah dan jasa para Bupati Blora Terdahulu di setiap peringatan hari jadi Blora. Yakni, dengan menziarahi makam, dan juga mendoakan para Bupati Blora terdahulu. Selain juga anjangsana ke Bupati Blora Sepuh.

Seperti dalam menyambut usia Kabupaten Blora yang ke -274 tahun 2023 ini. Bupati Arief Rohman mempunyai cara tersendiri untuk mengingat, mengenang, sejarah dan jasa para leluhur yang telah membangun Kabupaten Blora, hingga kini bisa menjadi daerah yang lebih maju.

Jumat (8/12/23), Bupati yang akrab dipanggil Mas Arief itu melangsungkan serangkaian ziarah di sejumlah lokasi makam Bupati Blora terdahulu. Diawali dari Makam Tirtonatan, Ngadipurwo, dilanjutkan ke Makam Sunan Pojok, lalu TPU Giri Mulyo Cepu, dan Makam Mbah Janjang di Jiken.

Tidak ketinggalan, Bupati juga bersilaturahmi atau anjangsana ke kediaman Bupati Blora sepuh, yakni RM Yudhi Sancoyo.

“Alhamdulillah ziarah leluhur Kabupaten Blora dalam rangka menyambut Hari Jadi ke 274 di Komplek Makam Tirtonatan Ngadipurwo pagi tadi berjalan lancar. Dengan mengenakan beskap landung tanpa keris, kami bersama Forkopimda menziarahi makam Bupati tempo dulu,” terang Bupati Arief

Rangkaian ziarah juga diikuti oleh Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setyowati, ST, Forkopimda Blora, Kepala Kemenag Blora, Sekretaris Daerah, para kepala OPD, Camat hingga para Kades dan Lurah.

Selain ziarah di dalam daerah, lanjut Bupati Arief, ziarah ke makam Bupati luar daerah yang telah wafat juga dilaksanakan sebelumnya oleh jajaran pejabat Pemkab Blora. Seperti di Tuban, Semarang, Temanggung, Yogyakarta, dan Solo.

Di setiap lokasi ziarah, Bupati Arief dan rombongan melakukan pembacaan tahlil, doa, dan tabur bunga di pusara makam para leluhur dan Bupati yang sudah meninggal.

“Terimakasih atas seluruh dedikasi dan pengabdiannya selama memimpin dan membersamai pembangunan Blora semasa hidup. Semoga semuanya husnul khotimah,” ungkap Bupati mendoakan

Tokoh Penting

Bupati Blora, Arief Rohman saat melakukan ziarah dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Blora. Foto: dokumentasi

Salah satu lokasi ziarah adalah Makam Sunan Pojok. Sunan Pojok atau Pangeran Sedah merupakan salah satu leluhur Blora, panglima perangnya Sultan Agung Hanyokrokusumo (Sultan Mataram Islam, yang memerintah selama 32 tahun, 1613-1645 M).

Sebelum menetap di Blora, ia menjabat sebagai Adipati Tuban selama 42 tahun (1619-1661). Setelah turun tahta dari Adipati Tuban, ia memilih menetap di wilayah Blora untuk menyebarkan agama islam. Dimana saat itu Blora masih bagian Kadipaten Tuban.

Namun, karena lama kelamaan Blora semakin ramai, maka Sultan Mataram menjadikan Blora sebagai Kadipaten terpisah dengan Tuban (sebelum terbentuknya Kabupaten). Sunan Pojok pun tidak mau menjadi Adipati lagi, sehingga Mataram menjadikan Raden Tumenggung Joyodipo putra Sunan Pojok sebagai Adipati Blora pertama saat itu.

Bupati Arief mengungkapkan, bahwa Sunan Pojok, merupakan salah satu tokoh penting dalam terbentuknya Kabupaten Blora.

“Sunan Pojok dan Raden Tumenggung Joyodipo dimakamkan di selatan Alun-alun yang kini dikenal sebagai Makam Gedong Sunan Pojok. Jadi bisa dikatakan Sunan Pojok adalah salah satu pendiri cikal bakal Kabupaten Blora,” papar Bupati Arief.

Lanjutnya, baru pada 11 Desember 1749 Raden Tumenggung Wilatikta diangkat oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Mataram) sebagai Bupati Blora dan diyakini sebagai awal mula terbentuknya Kabupaten Blora.

“Tumenggung Wilatikta kini makamnya ada di Tuban, dan kemarin telah diziarahi juga oleh Pemkab,” tandasnya

Lokasi ziarah selanjutnya adalah makam Keluarga Tirtonatan di Desa Ngadipurwo, yang mana merupakan tempat pemakaman para Bupati Blora terdahulu.

Antara lain dimakamkan R. Tumenggung Djajeng Tirtonatan Bupati 1762-1782, R. Tumenggung Tirto Koesoemo Bupati 1782-1809, R. Tumenggung Arjo Mertonegoro Bupati 1809-1812, R. Tumenggung Prawirojoedo Bupati 1812-1823, R. Tumenggung Tirtonagoro Bupati 1823-1842, 1843-1847, R. Tjokronegoro I Bupati 1842 (hanya 5 bulan), R.T. Pandji Notowidjojo Bupati 1847-1857.

Lalu, R.M.A.A. Tjokronegoro II Bupati 1857-1885, R.M.A.A. Tjokronegoro III Bupati 1886-1912, R.M.A.A. Said Abdul Kadir Djaelani Bupati 1913-1926 (Bupati yang juga seorang Kyai). Selain itu juga terdapat makam Sayyid Idrus Al Jufri seorang penasehat Bupati Blora, Makam R.M. Sujud Kusumo Ningrat, R.M. Tejo Noto Kusumo Ningrat.

Ziarah juga dilakukan di TPU Giri Mulyo untuk ziarah ke makam almarhum Bupati Ir. H. Basuki Widodo (Bupati Blora 1999-2007).

Selanjutnya, ziarah dilakukan di Makam Mbah Janjang (Jati Kusumo – Jati Sworo), Jiken. Keduanya merupakan putra pangeran Pajang sekaligus ulama penyebar agama yang pesareannya ada di atas bukit Desa Janjang, Kecamatan Jiken. (Adv)

MoU Pengembangan Pariwisata dan Budaya Semarang dengan Solo, Ita Harap Ungkap Kisah Keterikatan di Era Kasultanan

Lingkar.co – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu berharap, kerja sama dengan Pemerintah Kota Solo tidak sebatas pada persoalan pariwisata saja. Namun lebih dari itu juga pendidikan yang mencakup penelitian dan penggalian situs-situs warisan budaya di Semarang dan Solo.

“Kami juga akan bekerja sama dalam hal penelitian sejarah situs-situs warisan budaya dari Kota Semarang dan Solo,” kata sapaan akrab Hevearita usai penandatanganan kesepahaman bersama atau Memorandum of Understanding (MoU), di Balai Kota Semarang, Selasa (21/3/2023).

MoU tersebut berisikan tentang kesepahaman bersama untuk melakukan kerja sama dalam pengembangan pariwisata dan budaya antara kedua kota di Jawa Tengah.

“Karena sebenarnya, sejarah Kota Semarang ini tidak lepas dari kasunanan Surakarta dan Kasultanan Mataram, sehingga kami nanti berencana akan membuat story telling antara keterkaitan solo dan Semarang,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Ita juga menyampaikan rasa syukur karena pandemi Covid-19 telah berlalu, sehingga Pemkot Semarang bisa menggelar kembali budaya Dugderan dan karnaval atau kirab jelang bulan Ramadhan dengan meriah.

“Alhamdulillah Dugderan sudah bisa dilakukan secara penuh pada tahun ini,” kata Ita,

“Jadi tadi ada kegiatan dan alhamdulillah juga dilengkapi penandatanganan terkait pariwisata antara pemerintah Kota Solo dan Pemerintah Kota Semarang,” imbuhnya.

Menurut Ita, kegiatan Kirab Dugderan ini menjadi lebih lengkap karena dilanjutkan penandatanganan MoU dengan Wali Kota Solo, Gibran Rakabumingraka.

“Sehingga kegiatan (Dugderan) kali ini menjadi komplit,” ucapnya.

Terkait pelaksanaan kegiatan di bulan Ramadhan, Ita mengimbau agar masyarakat tidak melaksanakan buka ataupun sahur bersama di jalan raya.

“Kami juga mengimbau pada masyarakat agar dalam melaksanakan kegiatan buka dan sahur bersama harus melaksanakan sesuai dengan titik-titik lokasi yang ditentukan Pemkot Semarang,” pesannya.

“Kami mengimbau agar dalam kegiatan sahur dan buka bersama tidak dilakukan di jalanan, karena sudah ada Peraturan Wali Kota yang melarang itu,” tegasnya.

Sementara itu, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka berharap agar kedepan sektor budaya dan pariwisata di kedua Kota Besar Jawa Tengah itu hidup dan saling mendukung karena terhubung dari sisi transportasi dan kebudyaaan.

“Harapannya kegiatan-kegiatan kebudayaan dan pariwisata bisa dilaksanakan oleh Pemkot Solo dan Pemkot Semarang, kan sudah ada tol yang menghubungkan Semarang dan Solo jadi dekat,” ucapnya.

Selain itu, Gibran juga berharap melalui MoU tersebut, tidak ada lagi event-event yang jadwalnya saling berbenturan sehingga tidak membingungkan masyarakat.

“Harapannya bisa sinergi, terutama terkait jadwal event agar tidak bertabrakan antara Solo dan Semarang,” imbuhnya. (*)

Penulis: Alan Henry
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat