Arsip Tag: IKA PMII

Gubernur Ajak PMII Berkolaborasi Jadi Penggerak Pembangunan di Jawa Tengah

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengajak Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk ikut berperan sebagai penggerak perubahan di Jawa Tengah.

Luthfi mengingatkan, tantangan pembangunan daerah semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Butuh seluruh elemen, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pola collaborative government

Di hadapan ratusan kader dan alumni PMII, Ahmad Luthfi menekankan bahwa pergerakan mahasiswa harus hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar mengikuti dinamika dari kejauhan.

“Jangan hanya menonton suatu perubahan, tetapi kita harus mengubah yang ada di Provinsi Jawa Tengah di pundak kita sekalian,” ujarnya saat menghadiri halal bihalal dan tasyakuran Hari Lahir ke-66 PMII di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (17/4/2026).

Ahmad Luthfi yang juga alumni PMII itu menilai, tantangan pembangunan daerah semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia mendorong seluruh elemen, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pola collaborative government.

“Kita harus membentuk super team. Pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat harus bergerak bersama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi memaparkan capaian penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah dari 9,58 persen menjadi 9,39 persen. Ia menegaskan, capaian itu merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor.

“Ini tidak bisa dilakukan satu institusi. Harus kita keroyok bersama-sama,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mendorong kader PMII terjun langsung dalam isu-isu konkret, termasuk penanganan bencana yang kerap terjadi di wilayah Jawa Tengah. Menurutnya, kehadiran nyata di lapangan menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah pergerakan.

“Kalau tidak terlibat, Anda hanya menonton perubahan. Pergerakan itu harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.

Bahkan, ia secara terbuka mengajak kader PMII untuk ikut ambil bagian dalam aksi-aksi sosial di lapangan.

“Semakin kotor Anda bersama kami di lapangan, semakin berhasil pergerakan itu,” ujarnya disambut riuh peserta.

Menutup sambutannya, Luthfi menegaskan komitmennya membuka ruang komunikasi seluas-luasnya bagi masyarakat dan organisasi kepemudaan.

“Rumah Gubernur adalah rumah rakyat. Siapa pun boleh datang kapan saja,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PB IKA-PMII, Fathan Subchi, menilai usia PMII yang telah mencapai 66 tahun menuntut kontribusi nyata dari kader dan alumni dalam pembangunan bangsa.

“PMII sudah cukup dewasa. Maka kita harus bicara tentang kontribusi, peran, dan partisipasi,” ujarnya.

Senada, Ketua PW IKA-PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi, menyebut momentum halal bihalal ini sebagai ajang konsolidasi untuk memperkuat sinergi antara alumni, kader, dan pemerintah.

“Ini adalah konsolidasi kekuatan, guyub, sinergi, dan kolaborasi. Potensi alumni kita besar dan harus dimaksimalkan untuk kemanfaatan masyarakat,” ungkapnya. (*)

Harlah 66 Tahun PMII Semakin Dewasa, Saatnya Bicara Kontribusi Bagi Pembangunan

Lingkar.co – Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Alumni (Ika) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Fathan Subchi menegaskan, sudah saatnya bicara kontribusi bagi pembangunan di usia 66 tahun PMII.

“Hari ini kita Harlah yang ke-66, kalau kita bicara usia PMII sudah cukup dewasa, sudah cukup kuat. Saat ini kita harus bicara tentang kontribusi kita, peran kita, partisipasi kita dalam pembangunan,” tegasnya.

Senior PMII yang kini menjadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) ini menegaskan hal itu saat Halal Bihalal dan Resepsi Hari Lahir (Harlah) ke-66 PMII di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (17/4/2026).

Ia menilai, kegiatan yang berlangsung pada sore ini merupakan forum untuk menyatukan potensi baik kader maupun alumni.

“Tentu ini adalah forum konsolidasi berbagai kekuatan, guyup, sinergi, kolaborasi,” ujarnya.

Untuk itu ia meminta kepada seluruh kader PMII untuk mendengarkan arahan Gubernur Jateng untuk menegaskan tekat membantu pemerintah dalam menekan dan mengentaskan kemiskinan di Jateng.

Menurut Fathan, PMII telah memiliki kekuatan di birokrasi maupun di dunia akademis bisa dimaksimalkan untuk mempertegas peran PMII dalam pembangunan, dalam mengentaskan kemiskinan.

Mantan anggota DPR RI ini lantas memaparkan terbentuknya Ika PMII hingga di Papua, hampir merata di seluruh Indonesia.

“Bagaimana Ika PMII ini menjadi medan pengabdian yang luar biasa,” tuturnya.

Ia bilang, para alumni sudah banyak yang duduk di lembaga eksekutif, dan legislatif,

“Bupati yang kita tulis itu ada sekitar 40 sampai 60 orang,” sebutnya.

Dalam kondisi keterbatasan fiskal, lanjutnya, butuh inovasi-inovasi generasi muda Nahdlatul Ulama, PMII sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan daerah.

Sebelumnya, Ketua PW Ika PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi menekankan pentingnya bersinergi dengan pemerintah, terlebih Gubernur Jateng saat ini juga alumni PMII.

“Sehingga kita patut mendukung agar program-program pembangunan di Jawa Tengah ini bisa berjalan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Terpenting, kata dia, adanya PMII dan Ika PMII di setiap kabupaten dan kota di Jawa Tengah bisa memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

“Semua pengurus cabang di kabupaten/kota saya harap bisa mengonsolidasi diri dengan sebaik-baiknya,” pesannya. (*)

IKA PMII Jateng Serius Dorong Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Batang Jadi Contoh Pertumbuhan Ekonomi

Lingkar.co – Penanggulangan kemiskinan ekstrem menjadi perhatian serius Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengentasan Kemiskinan Ekstrem yang digelar di Pendopo Kabupaten Batang, Jumat (26/12/2025).

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kabupaten Batang saat ini menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang positif dan menjadi salah satu daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi terbaik di Pulau Jawa.

“Batang termasuk salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling baik di Jawa, bahkan masuk 10 besar nasional. Target pertumbuhan 8 persen pada 2025 ini insya Allah tercapai, dan gini rasio kita juga terus menurun. Artinya ketimpangan dan kemiskinan semakin berkurang,” ujar Faiz.

Faiz menegaskan bahwa peran organisasi kemasyarakatan seperti IKA PMII sangat penting dalam proses pembangunan, termasuk dalam penguatan sumber daya manusia dan jejaring sosial.

“PMII adalah bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kalau tidak ada PMII, saya tidak akan menjadi Bupati Batang hari ini. PMII memberi pembentukan karakter, soft skill, hard skill, nilai, dan jejaring yang luar biasa,” katanya.

Ketua Panitia FGD, Abdul Hamid, menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran pengurus pusat dan daerah IKA PMII serta Pemerintah Kabupaten Batang dalam kegiatan tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Pak Bupati yang telah memfasilitasi kegiatan ini di tengah padatnya agenda akhir tahun. Kehadiran Ketua Umum PB IKA PMII juga menjadi kehormatan bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi, menjelaskan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan besar di Jawa Tengah sehingga perlu penanganan bersama secara sistematis dan berkelanjutan.

“Kami telah mencanangkan program pendampingan desa miskin, penguatan amil zakat IKA PMII, peningkatan kompetensi bahasa asing kader, hingga program penulisan 100 tokoh pesantren dan kiai Jawa Tengah. Semua ini adalah bagian dari ikhtiar sosial kami,” jelas Musahadi.

Ketua PB IKA PMII, Fathan Subchi, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi dan keberpihakan nyata kepada masyarakat miskin.

“Kita tidak boleh lupa akar perjuangan. Konsolidasi penting agar kader yang sudah ‘merdeka’ tetap punya komitmen sosial. Batang menjadi contoh bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seiring dengan pengurangan kemiskinan,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Batang yang dinilai berhasil menarik investasi strategis, mulai dari industri pangan, manufaktur, hingga pengembangan energi terbarukan seperti PLTS.

FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan program kolaboratif antara pemerintah daerah dan IKA PMII dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem, sekaligus memperkuat peran alumni PMII dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Jawa Tengah. (*)

Penulis: Husni Muso

Refleksi HUT ke-80 RI, IKA PMII Jateng Bedah Buku Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkai dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Membuka bedah buka, Adib, sapaan akrab M. Kholidul Adib memaparkan bahwa buku yang ia tulis merupakan implementasi deklarasi PW IKA PMII Jawa Tengah saat halal bi halal pada tanggal 24 April 2025 di Pendopo Bupati Blora. Saat itu, kata dia, IKA PMII Jateng melakukan deklarasi untuk bergerak menulis sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Proses pembuatan buku melibatkan penulis dari anggota IKA PMII di Jawa Tengah.

Menurutnya, buku tersebut mengupas sejarah perjuangan ulama sejak di era kesultanan Demak hingga era kemerdekaan. “Pada buku edisi pertama ini disusun dalam waktu dua bulan, yaitu Mei-Juni dan berisi 51 sejarah singkat ulama pejuang di Jawa Tengah dan insya Allah akan disusul edisi kedua,” kata Adib.

Lebih lanjut Adib menyebut budaya literasi untuk melanggengkan kontribusi dalam berjuang bukanlah satu-satunya tujuan dalam penulisan buku tersebut. Lebih dari itu menjadi pemetaan potensi pengajuan gelar pahlawan nasional.

“Tujuan penulisan buku ini ada tiga. Pertama literasi sejarah 100 ulama pejuang di Jawa Tengah. Kedua meneladani pejuangan para ulama untuk konteks kehidupan sekarang dan ketiga jika memenuhi syarat bisa diajukan sebagai pahlawan nasional,” ujarnya.

Kata dia, kegiatan bedah buku diadakan di Wisma Perdamaian karena berada di depan Tugu Muda yang dibangun untuk mengenang perjuangan masyarakat Semarang yang gigih berjuang melawan penjajah pada tanggal 15-19 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan istilah Pertempuran 5 Hari di Semarang.

IKA PMII Jateng Gelar Refleksi HUT ke-80 RI, Ketua MUI Jateng Sebut Ulama Sebagai Pelopor Perjuangan Melawan Penjajah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah menggelar refleksi kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di aula Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang, Jum’at, (22/8/2025) siang.

Kegiatan dirangkul dengan launching dan bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah. Buku tersebut merupakan karya pengurus IKA PMII, Dr. M. Kholidul Adib. Ia sejak aktif sebagai kader PMII memang sudah dikenal gemar berdiskusi dan menggali sejarah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Dr. KH Ahmad Darodji yang didaulat Keynote Speach memberikan pemantik bahwa sejak dahulu para tokoh Islam atau ulama merupakan pelopor perjuangan bangsa dalam melawan kolonialisme di Nusantara (Indonesia).

“Dari dulu yang gigih mempelopori perjuangan perlawanan terhadap penjajah itu ya ulama. Namun selama ini kiprah perjuangan para ulama belum banyak yang ditulis sehingga generasi muda sekarang belum banyak yang tahu,” kata Darodji.

Menurut Darodji, sebagai umat Islam yang berbangsa Indonesia harus bersyukur dengan nikmat kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan para orang tua terdahulu, terutama para ulama yang menjadi pelopor pejuangan melawan penjajah.

“Untuk itu, guna mengenang dan meneladani perjuangan para ulama sekaligus memupuk jiwa nasionalisme kita semua, terutama para generasi muda, maka refleksi kemerdekaan ke-80 dan launching buku ini menjadi sangat penting untuk kita apresiasi,” ujarnya.

Usai Darodji memberikan orasi kebangsaan, kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM dr. Ikhwan Hamzah, dan dilanjutkan dengan bedah buku.

Sebanyak 4 tokoh hadir sebagai narasumber bedah buku, yakni; Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag. (Ketua PW IKA PMII Jateng) Prof. Dr. H. Arief Junaidi M.Ag. (Ketua LP2M UIN Walisongo) Muslihah Setiasih mantan Plt. Kepala Kesbangpol Jateng dan Drs. KH. Ali Munir Basyir M.Pd (Pengasuh PP Alfirdaus YPMI Ngaliyan Semarang). Bedah buku dipandu moderator sekaligus penyunting buku Dr. M. Kholidul Adib.

Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum'at (22/8/2025). Foto: dokumentasi
Suasana bedah buku berjudul Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah Melawan Penjajah yang dilakukan IKA PMII Jateng di Wisma Perdamaian Semarang, Jum’at (22/8/2025). Foto: dokumentasi

Ajukan Gelar Pahlawan Nasional

Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Arief Junaidi menyatakan penulisan sejarah yang dilakukan PW IKA PMII Jawa Tengah ini sangat penting. Sebab, hal itu bisa jadi pijakan untuk merengkuh masa depan.

“Penulisan sejarah ini bagian dari upaya menapaki pijakan sejarah supaya kita dapat menempatkan sejarah dalam locus dan tempus tertentu. Untuk itu kita harus melengkapi diri kita dengan data-data sejarah yang banyak dan valid,” ujarnya.

IKA-PMII Jateng Dukung Komitmen Gubernur Ahmad Luthfi Dalam Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Lingkar.co – Ketua Umum PW IKA-PMII Jawa Tengah Prof. Dr. H. Musahadi M. Ag, menyatakan mendukung program Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam mengatasi kemiskinan ektrem di Jawa Tengah.

“Apa yang disampaikan Bapak Gubernur merupakan langkah-langkah nyata komitmen beliau untuk mengatasi kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah. Misalnya perbaikan 17 ribu rumah tidak layak huni (RTLH) dan melalui KUBE ini bagian dari upaya Pemprov Jateng dalam mengatasi kemiskinan dari aspek kegiatan pemberdayaan dan entrepreneurship melalui upaya penyelesaian masalah perekonomian yang dilakukan secara kelompok,” tandas Musahadi saat diterima audiensi dengan Ahmad Luthfi di kantor gubernur, Selasa (22/7/2025).

Lebih lanjut dia mengatakan PW IKA-PMII Jawa Tengah juga komitmen untuk ikut mengentaskan kemiskinan ekstrem. “Ke depan PW IKA- PMII Jawa Tengah akan ikut dalam pendampingan kelompok usaha ini agar benar-benar berjalan dengan baik sesuai harapan Bapak Gubernur,” terang Musahadi.

Pada kesempatan tersebut Prof. Dr. H. Musahadi M.Ag juga menyampaikan bahwa dalam rangka menyongsong peringatan proklamasi hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 PW IKA-PMII Jawa Tengah akan melaunching buku “Menyalakan Api Perlawanan Masterpiece Perjuangan Ulama Jawa Tengah dalam Melawan Penjajah” yang berisi biografi ringkas para ulama pejuang dalam melawan penjajah dari Jawa Tengah.

“Buku ini akan terbit dua jilid. Jilid pertama akan dilaunching pada bulan Agustus 2025 di Wisma Perdamaian yang menghadap bangunan Tugumuda sebagai monumen lokasi perjuangan masyarakat Semarang melawan penjajah dalam pertempuan mempertahankan kemerdekaan baik saat perang 5 hari melawan pasukan Jepang pada tanggal 15 – 19 Oktober 1945 maupun dalam pertempuran sesudah itu ketika masyarakat melawan pasukan Sekutu dan NICA Belanda,” jelas Prof. Musahadi.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi sangat mengapresiasi penerbitan buku tersebut dan berharap masyarakat Jawa Tengah khususnya para generasi muda dapat meneladani para pejuang kemerdekaan sehingga bisa mengisi kemerdekaan dengan meningkatkan prestasi dan meningkatkan pembangunan agar menjadi bangsa yang jaya, maju, adil dan makmur.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah komitmen pada pengentasan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah. Menurutnya, kunci pokok penanganan kemiskinan adalah tercukupinya kebutuhan sandang, papan, pangan ditambah pendidikan dan kesehatan.

Untuk mencapai hal tersebut, tegas Gubernur, dibutuhkan kolaborasi segala pihak baik Pemprov Jateng dengan dinas terkait, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, ataupun masyarakat untuk bersama-sama menangani daerah miskin dengan memberikan bantuan ataupun berbagai penanganan agar desa yang miskin bisa lebih berdaya.

Dijelaskan, angka stunting di Jawa Tengah termasuk tinggi sebanyak 485.893 balita, maka Pemerintah Provinsi melibatkan BKKBN dalam mengatasi masalah stunting. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menggenjot perbaikan 17 ribu rumah tidak layak huni (RTLH) dalam tahun 2025, beasiswa untuk siswa miskin dan Bansos PKH.

“Kemudian bantuan KUBE juga diberikan kepada anggota kelompok usaha masyarakat yang masing-masing berjumlah 10 orang yang berasal dari masyarakat miskin yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dimana tergolong dalam masyarakat miskin yang dibentuk, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsanya sendiri, saling berinteraksi antara satu dengan lain, dan tinggal dalam wilayah tertentu. Tiap KUBE mendapatkan bantuan sebesar Rp 20 juta di masing-masing Desa,” terang Ahmad Luthfi. (*)

IKA PMII Soroti Kenaikan Tarif PBB 250 Persen, Desak Pemkab Pati Kaji Ulang

Lingkar.co – IKA PMII Pati menyoroti kebijakan Pemkab Pati yang tiba-tiba menaikkan PBB 250 persen. Hal itu dituangkan dalam Surat Pernyataan Sikap IKA PMII Pati nomor 05 /PM.IKA.PMII/V/2025 yang ditandatangani oleh Ketua Umum PMII Pati Ahmad Jukari dan Sekretaris Sutrisno pada Rabu (21/5/2025).

Dalam pernyataannya, PC IKA PMII Kabupaten Pati mendorong Pemkab Pati untuk melakukan kajian terhadap kebijakan kenaikan pajak PBB dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Memastikan pembuatan kebijakan sudah memperhatikan asas umum pemerintahan yang baik sebagaimana diatur dalam UU No. 30 Tahun 2014, asas yang dimaksud adalah asas kepastian hukum, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas kemanfaatan, asas ketidakberpihakan/tidak diskriminatif, asas kecermatan, asas tidak menyalahgunakan kewenangan, asas pelayanan yang baik, asas tertib penyelenggaraan negara, asas akuntabilitas, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, dan asas keadilan.

2. Pemerintah Kabupaten Pati perlu menjelaskan kepada Publik mengenai proses pembuatan kebijakan. Termasuk bahwa pembentukan kebijakan tersebut sudah melalui proses yang melibatkan publik, termasuk mekanisme Musrenbang.

3. Pemerintah Kabupaten Pati perlu menjelaskan kepada Publik kebutuhan pembangunan yang mendesak sehingga menuntut kenaikan PBB cukup drastis, jangan sampai kebutuhan anggaran tersebut dialokasikan untuk program-program yang tidakrelevan dengan kepentingan mendesak rakyat banyak.

4. Pemerintah Kabupaten Pati perlu menjelaskan kepada publik apakah pendapatan yang diperoleh dari PAD diluar sektor PBB sudah maksimal, hal itu perlu dikaji karena kenaikan PBB berdampak lebih luas bagi masyarakat.

Dalam keterangannya, pernyataan sikap tersebut berdasarkan kajian awal yang melibatkan 32 anggota IKA PMII yang ada di berbagai unsur masyarakat, baik advokat, praktisi media, perangkat desa, dan akademisi. Diskusi mengkaji masalah tersebut telah dilaksanakan pada 20 Mei 2025. (*)

Penulis: Miftah

Tok, Samidi Pimpin Ika PMII Ushuluddin UIN Walisongo Semarang 2025-2030

Lingkar.co – Dr. Samidi terpilih secara mufakat sebagai ketua baru Pengurus Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Ushuluddin UIN Walisongo Semarang periode 2025-2030.

Mantan ketua Lembaga Taklif WAN Nasyrul Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kota Semarang ini secara bulat ditetapkan sebagai ketua dalam Musyawarah II IKA PMII Ushuluddin yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ar-Rois Cendekia, Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang Jawa Tengah pada Sabtu (10/5/2025) malam.

Usai ditetapkan oleh forum, Samidi merasa bersyukur atas amanah yang diberikan para alumni PMII Rayon Ushuluddin karena menurutnya, kader PMII Rayon Ushuluddin harus siap jika diberikan amanah.

“Saya bukanlah yang terbaik di antara kalian. Hanya saja, Alhamdulillah, ini suatu amanah bagi saya, karena kader rayon itu pantang menolak amanah yang diberikan,” ujarnya.

Setelah terpilihnya Ketua IKA-PMII Ushuluddin baru, pembahasan dilanjutkan dengan Sidang Komisi. Komisi pada periode ini terdiri dari Komisi I: Bidang Pengembangan SDM Alumni, Komisi II: Bidang Pengembangan Usaha, dan Komisi III: Bidang Pengembangan Kader PMII Rayon Ushuluddin. Selanjutnya, musyawarah ditutup dengan pembacaan doa bersama.

Sebelumnya, Ketua IKA-PMII Ushuluddin, Fatah Rosihan, mengatakan kepengurusan baru IKA-PMII Ushuluddin ini menjadi agenda istimewa yang membicarakan lintas angkatan, utamanya terkait pemberdayaan alumni PMII Rayon Ushuluddin ke depannya.

“Terima kasih atas inisiasi sahabat-sahabati semuanya, kita punya gap istimewa antar angkatan. Maka atas ini, ada agenda istimewa antar angkatan, mulai dari angkatan 1990-an, 2000-an bahkan ada yang dari 2020-an juga. Ini menjadi pluralitas antar angkatan, berbicara tentang antar angkatan, mau dibawa kemana alumni Rayon Ushuluddin,” ujar Fatah pada sambutan pertama.

Ketua Pengurus Cabang (PC) IKA-PMII Kota Semarang, Muhammad Ngainirrichadl mengakui bahwa kualitas kaderisasi PMII Rayon Ushuluddin memang luar biasa. Kata dia, kaderisasi itu berlangsung hingga membangun jejaring. Bahkan ia menyebutkan banyak kader rayon Ushuluddin yang menjadi ketua di berbagai lembaga.

“Rayon Ushuluddin bagi saya ini adalah Rayon yang luar biasa, mencetak kader-kader luar biasa, seperti ketua komisariat, ketua KOPRI Jateng, pemilik yayasan, bahkan ketua fraksi (DPRD) di usia yang cukup muda. Hal tersebut menunjukkan kualitas kaderisasi rayon, bagaimana proses kaderisasi bahkan membangun jejaring,” ungkapnya.

Lebih lanjut, politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Tengah ini mengharapkan IKA-PMII Ushuluddin mampu menfasilitasi pengembangan kader dan alumni PMII Rayon Ushuluddin. Ia pun mengingatkan, IKA PMII mampu menjadi wadah bermanfaat dalam mencetak kader yang menyongsong Indonesia Emas.

“IKA (PMII) diharapkan memfasilitasi dan menjembatani pengembangan kader. IKA ini betul-betul menjadi wasilah bagi sahabat-sahabati yang dulunya aktif. Menjadi ruang ngumpul yang berkah, bermanfaat, dan tentu ada hal-hal positif yang nanti bisa dikembangkan dalam menuju Indonesia Emas,” lanjutnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Menko PMK Pratikno Ajak Alumni PMII Jawab Tantangan Zaman

Lingkar.co – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia Pratikno mengajak para alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menjadi lokomotif untuk menjawab tantangan bangsa.

Menurut Pratikno, anggota Ikatan Alumni (IKA) PMII merupakan alumni Perguruan Tinggi, sehingga harus ikut berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Kita ingin IKA PMII menjadi lokomotif yang tidak berjalan sendiri. Tapi menarik gerbong yang panjang, dan berkontribusi menciptakan SDM unggul,” ungkapnya saat membuka Pra Munas VII IKA PMII di Hotel Patra Jasa Semarang, Sabtu (8/2/2025).

Pra Munas VII mengusung tema ‘Reaktivasi Genetika Unggul Nusantara untuk Indonesia Bermartabat’.

Sejalan dengan hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IKA PMII Akhmar Moqowam menyatakan bahwa banyak kader PMII yang berada di jajaran Eksekutif, Legislatif, Perguruan Tinggi.

“Namun yang selalu saya tekankan, bahwa jangan sampai senior selalu benar,” tandasnya.

Mantan anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini melanjutkan, topik genetika dibahas karena urusan peradaban ke depan harus terus diperjuangkan, sehingga ke depan bangsa ini terus memiliki SDM yang unggul.

Mantan anggota DPD RI dari Jawa Tengah ini juga mengingatkan bahwa IKA PMII juga terus membicarakan banyak hal, termasuk eksplorasi sumber daya alam, teknologi, maupun bonus demografi.

“Kita ingin peradaban ini menjadi wawasan baru,” katanya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Workshop Kader Penggerak Intelektual, Ika PMII Tegaskan Jihad Melawan Money Politics dan Korupsi

Lingkar.co – Pengurus Cabang (PC) Ikatan Alumni (Ika) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Demak menggelar kegiatan Workshop Kader Penggerak Intelektual Muslim di hotel Amantis, Minggu (10/11/2024).

Kegiatan yang dilaksanakan pada momentum peringatan Hari Pahlawan tahun 2024, para aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) ini mengusung tema workshop ‘Membangun Peradaban Searah Cita-cita Pendiri NKRI’.

Ketua Umum PC Ika PMII Kabupaten Demak, Hasan Hamid, S.Ag, MM dalam sambutan mengatakan, bangsa Indonesia berjuang dalam pertempuran Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru berumur 2,5 bulan.

Perjuangan tersebut, kata dia, tidak lepas dari adanya seruan berjihad dari Rois Akbar PBNU, KH Hasyim Asy’ari yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

“Pertempuran 10 Nopember tak lepas dari resolusi jihad yang dikumandangkan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sehingga mengundang kedatangan para ulama dan santri di Jawa dan Madura untuk datang ke Surabaya guna mengadakan pertempuran melawan tentara Sekutu,” katanya.

Karena kegigihan dan persatuan dalam pertempuran itu, Sekutu mpada akhirnya menyadari bahwa Indonesia tidak bisa diangggap enteng. “Rakyat Indonesia menunjukkan jiwa patriotisme yang pantang menyerah dan inilah nilai-nilai kepahlawanan yang harus kita teladani dan teruskan dalam rangka membangun Indonesia ke depan agar lebih baik,” tandasnya.

Sedangkan narasumber workshop, Dr. M Kholidul Adib menegaskan bahwa salah satu wujud komitmen kader PMII sebagai generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan adalah harus menginternalisasi nilai-nilai juang kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks perpolitikan saat ini, kata Adib, nilai perjuangan para pahlawan itu bisa berwujud jihad melawan money politics dan korupsi.

“Money politics dan korupsi adalah dua musuh bangsa ini yang saat ini semakin menggerogoti tujuan nasional bangsa kita yaitu Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur,” ujarnya.

Kedua masalah itu, lanjutnya, menjadi meggurita apalagi saat gelaran pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah yang hampir tidak bisa lepas dari budaya money politics dan dampaknya adalah angka korupsi yang semakin tinggi.

Menurut Adib, sistem politik liberal (proporsional terbuka dalam pemilu legislatif dan pemilihan presiden langsung dan pemilihan kepala daerah langsung) telah menyebabkan money politics menjamur. Hal itu mengakibatkan budaya Politik Transaksional tidak bisa dibendung.

Antara politisi dan masyarakat pemilih pun seolah sudah seperti pembeli dan penjual, sehingga terjadi transaksi jual beli suara.

“Biaya politik kita sudah sangat mahal. Hasil wawancara saya dengan sejumlah caleg saat pemilu legislatif tahun 2024 yang lalu, rata-rata caleg RI yang jadi habis antara 10 – 30 M. Caleg jadi provinsi antara 3-10 M. Caleg jadi kab/kota antara 1-3 M,” ungkapnya.

“Ada memang caleg jadi yang habis uang di bawah rata-rata angka tersebut tapi jumlahnya sangat kecil,” ucapnya.