Arsip Tag: RMI NU

RMI PWNU Jateng Soroti Kesehatan Mental Santri

Lingkar.co– Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis santri di tengah tantangan zaman modern, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bekerja sama dengan RMI PCNU Banyumas menggelar Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren bertema “Mental Health Awareness: Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Santri” di Pondok Pesantren Al Falah, Mangunsari, Banyumas, Rabu (29/10/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh para pengasuh dan perwakilan pondok pesantren serta pengurus RMI se-Karesidenan Banyumas. Para peserta diajak memahami pentingnya kesehatan mental di lingkungan pesantren, serta membangun kesadaran bahwa kesejahteraan psikologis merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan keagamaan.

Ketua Lembaga Kesehatan (LK) PWNU Jawa Tengah, Alek Jusran, dalam pemaparannya menegaskan bahwa isu kesehatan mental di pesantren harus mendapat perhatian serius. Ia menjelaskan, PBNU telah memberikan arahan kepada wilayah-wilayah di Jawa, Bali, dan Sumatera untuk memperkuat layanan kesehatan melalui pendirian klinik di setiap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

“PBNU mendorong agar setiap wilayah memiliki klinik yang terintegrasi dengan pesantren. Kami di LK PWNU Jateng sudah menyiapkan panduan pendirian klinik dan rumah sakit, agar kesehatan santri dapat terjamin secara menyeluruh,” ungkap Alek.

Ia menjelaskan, pesantren memiliki karakter unik karena menjadi lingkungan boarding dengan santri yang tinggal 24 jam di bawah pengasuhan kiai dan pengurus. Kondisi ini menuntut pengelolaan kesehatan fisik dan mental yang lebih sistematis, sebab masa remaja santri merupakan fase penting perkembangan emosi, sosial, dan spiritual.

“Kesehatan santri bukan hanya soal tubuh yang kuat, tapi juga jiwa yang tenang. Banyak persoalan muncul karena aspek mental tidak terkelola dengan baik. Maka dari itu, pembahasan kesehatan jiwa ini sangat penting bagi pesantren,” tegas Direktur Amino Hospital ini.

Alek juga menyoroti perbedaan karakter generasi santri saat ini dibanding masa lalu. Menurutnya, santri generasi Z dan Alfa hidup di era digital yang serba cepat, individualistis, dan sangat tergantung pada teknologi.

“Zaman dulu, santri terbentuk oleh keterbatasan dan kesederhanaan. Tapi sekarang, santri kita lahir di era digital — mereka belajar cepat, kreatif, tapi mentalnya lebih rentan terhadap tekanan sosial. Maka cara mengasuh dan mendidik juga harus menyesuaikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pondok pesantren harus menjadi tempat yang aman dan ramah bagi pertumbuhan psikologis santri. Sistem senioritas, tata nilai, dan kultur internal pesantren perlu dikelola agar tidak menimbulkan tekanan atau bahkan kekerasan psikis bagi santri baru.

“Di pesantren besar biasanya ada semangat korsa atau solidaritas namun seringkali itu berlebih. Kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi tekanan sosial. Karena itu, perlu pendampingan yang adil bagi semua santri,” tambahnya.

Menangani Korban dan Pelaku Kekerasan

Dalam kesempatan tersebut, Alek juga menekankan pentingnya pesantren untuk memiliki mekanisme penanganan kasus kekerasan atau perundungan (bullying). Ia menegaskan bahwa pendekatan harus mencakup dua pihak: korban dan pelaku.

“Selama ini kita fokus ke korban, padahal pelaku juga perlu ditangani. Kalau pelaku tidak dibimbing, ia bisa menjadi ‘predator baru’ di tempat lain. Maka pesantren harus punya sistem terapi dan pembinaan agar keduanya pulih secara psikologis,” ujarnya.

Alek berharap pondok pesantren di Jawa Tengah mulai membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga pelatihan kerja (BLK) dan lembaga pendidikan tinggi agar santri memiliki keterampilan, kemandirian, serta ketangguhan mental.

“Sebagai Direktur Amino Hospital yang menangani kejiwaan ataupun di LKNU kami siap membantu jika pesantren membutuhkan pendampingan atau kerja sama dalam penanganan kesehatan mental santri,” pungkas Alek.

Turut hadir sebagai narasumber halaqah, Nailul Fauziah, dosen psikologi Universitas Diponegoro Semarang. Ia menjelaskan bahwa santri masa kini yang berusia antara 12 hingga 18 tahun tergolong dalam generasi Z dan Alfa — generasi yang lahir dan tumbuh bersama kemajuan teknologi digital.

“Generasi ini cerdas, cepat belajar, dan adaptif. Tapi mereka juga rentan terhadap gangguan kesehatan mental karena hidup dalam tekanan sosial media dan budaya instan,” jelas Fauziah.

Ia menguraikan, meski generasi santri kini lebih terbuka dan kreatif, mereka menghadapi tantangan besar berupa rendahnya ketahanan emosional. Pesantren, menurutnya, berperan penting dalam membangun resiliensi — ketangguhan menghadapi tekanan hidup.

“Pesantren membentuk karakter, tanggung jawab, dan integritas moral. Nilai-nilai ini justru menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus digital dan gaya hidup bebas,” lanjutnya. (*)

Halaqah RMI PWNU Jawa Tengah Segera Berlakukan Standarisasi Infrastruktur Pesantren

Lingkar.co – Pemberlakuan standarisasi infrastruktur dan tata ruang pondok pesantren mendesak untuk segera dilakukan agar musibah yang terjadi di Pesantren Al Khoziny tidak berulang.

Hal ini ditegaskan dalam Halaqah Pengasuh Pesantren yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah di Ponpes Nurul Qur’an, Simo, Boyolali, Selasa (21/10/2025). Acara tersebut bertema :Arsitektur, Desain, Tata Ruang, dan Infrastruktur Pesantren’.

Salah satu narasumber, Dr. KH. Abu Choir, M.A. perwakilan RMI PWNU Jateng mengatakan bahwa sarana merupakan bagian 2 arkanul ma’had yang dikristalkan dalam UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yaitu Asrama dan Masjid.

“Kedua aspek ini memiliki nilai filosofis yang tidak hanya sekedar bangunan. Bahkan asrama santri, masjid, dan rumah kiai ibarat pertemuan simbolik interaksi manusia menuju kebaikan hakiki,” ujarnya.

Gus Dur, lanjut Abu Choir, pernah mengilustrasikan cerita pewayangan, dimana santri ialah para salik yang beriyadhah menuju baik dan Kiai ialah para mursyid yang membimbingnya, sedangkan masjid adalah medan Kurusetranya.

Oleh karena itu keberadaan asrama santri, rumah/dalem Kyai, Masjid dan infrastruktur pesantren lainnya tidak boleh sampai kehilangan makna sebagai tempat pendidikan.

“Namun demikian, tetap harus memperhatikan nilai-nilai dasar ilmu teknik pembangunan, sehingga menjamin santri aman, sehat, dan nyaman,” demikian tegasnya.

Lebih lanjut, Abu Choir menyampaikan bahwa penting bagi pesantren menjaga kemandirian agar nilai sarana dapat mendukung pendidikan holistik santri, namun tetap harus memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan bagi santri.

“Pesantren adalah lembaga mandiri yang harus tetap menjaga nilai-nilai dan tradisinya. Namun kemandirian itu tidak berarti mengabaikan standar keselamatan dan kelayakan bangunan,” ujarnya.

Kemudian Ir. Ashar Saputra, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa pembangunan pesantren idealnya melalui empat tahap penting: perencanaan, konstruksi, operasional dan pemeliharaan, serta evaluasi bangunan.

Setiap tahap, menurutnya, memerlukan keterlibatan tenaga ahli agar bangunan yang dihasilkan sesuai dengan fungsi dan aman digunakan dalam jangka panjang.

“Banyak pesantren membangun secara swadaya tanpa perencanaan teknis. Padahal, keamanan dan kelayakan bangunan menjadi bagian dari tanggung jawab moral pengasuh,” jelasnya.

Selain membahas persoalan teknis, halaqah ini juga mengidentifikasi sejumlah kendala administratif, seperti kesulitan mengurus IMB di lahan wakaf atau tanah yang masuk zona hijau, serta minimnya akses terhadap arsitek dan kontraktor yang memahami karakter pesantren.

Sebagai tindak lanjut, forum ini merekomendasikan agar RMI PWNU Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan asosiasi profesional seperti Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), dll.

Bahkan bisa juga berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi dalam riset dan PKM pada bidang sarana tersebut. Kolaborasi ini diharapkan membantu pesantren melakukan pembangunan secara swakelola dengan biaya yang lebih efisien.

RMI juga didorong untuk memetakan konsultan dan kontraktor dari kalangan santri, serta mengadvokasi pemerintah agar memberikan pembebasan biaya IMB/PBG bagi pesantren untuk bangunan baru dan bangunan lama yang belum memiliki izin.

Selain itu, perguruan tinggi mitra yang memiliki fakultas teknik sipil dan arsitektur diharapkan dapat berkontribusi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di pesantren.

Halaqah ini menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Tahun 2025 sekaligus sebagai bagian upaya RMI dalam memperkuat kapasitas kelembagaan pesantren, tidak hanya di bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga dalam pengelolaan infrastruktur yang aman, sehat, dan nyaman secara berkelanjutan.

“Kami ingin pesantren menjadi tempat belajar yang nyaman, tertata, dan tetap berakar pada nilai-nilai tradisi pesantren dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah,” tutur Abu Choir menutup sesi diskusi.

Forum ini diikuti para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang selama ini menghadapi beragam persoalan dalam pengelolaan infrastruktur, mulai dari izin mendirikan bangunan (IMB), status tanah wakaf, hingga keterbatasan tenaga teknis. (*)

Tingkatkan Peran Santri di Era Digital, Gus Yusuf Ajak Gunakan Gadget Sebagai Alat Jihad

Lingkar.co – Di era digital ini, peran media sangat vital untuk media dakwah bagi pondok pesantren (Ponpes). Melihat peran yng strategis itu, pengasuh Ponpes Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang KH M Yusuf Chudlori mengajak para santri untuk menggunakan gadget yang dimiliki sebagai salah satu alat jihad.

“Kalau dulu jihad dengan pedang atau senjata, saat ini gadget bisa digunakan sebagai alat untuk menegaskan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah,” ujar Gus Yusuf sapaan akrab KH M Yusuf Chudlori.

Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Bincang Media Santri “Membangun Peran Santri dalam Era Dunia Digital” yang digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah di rumah dinas Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah di Semarang Tengah, Kota Semarang, Selasa (21/10/2025).

Gus Yusuf menegaskan santri harus selalu menjadi benteng bagi pesantren dan kiai yang selama ini memuliakan ilmu. Menurut Gus Yusuf, tayangan dalam sebuah stasiun televisi belum lama ini sudah mengarah kepada sebuah framing negatif.

“Memang kita harus terus menjelaskan tanpa henti, karena itu butuh pejihad-pejihad media,” jelas Gus Yusuf.

Gus Yusuf mengakui untuk menjelaskan kepada yang belum paham pesantren masih bisa dipahamkan. Namun kepada pihak yang tidak suka pesantren butuh kerja keras.

“Karena untuk menjelaskan kepada yang tidak suka, bisa kita ibaratkan menjelaskan indahnya pelangi kepada orang yang buta,” bebernya.

Namun upaya itu, katanya, tak boleh berhenti. Utamanya untuk menangkal framing-framing jahat yang ditujukan kepada pesantren.

“Karena sebuah kebenaran jika diframing bisa akan dianggap sebagai sebuah kesalahan, begitu pula sebaliknya,” jelasnya.

Gus Yusuf mengakui, pesantren tetap butuh kritik, seperti meningkatkan kebersihan dan kesehatan.

“Tapi kemudian ada tayangan di televisi dengan gambar simbah War (KH Anwar Manshur pengasuh Ponpes Lirboyo), dan diframing bahwa gara-gara terima amplop kiai menjadi kaya raya, maka kita harus jelaskan tanpa henti,” tegasnya.

Gus Yusuf menambahkan saat dirinya nyantri di Lirboyo Kediri Jawa Timur sekira tahun 1985, Kiai Anwar sering dia lihat menjemur gabah setelah mengaji. Kemudian mengurusi pabrik tahu dan es batu.

“Minggu lalu saya sowan, rumahnya juga tidak berubah. Mbah War sudah selesai dengan urusan keduniaan,” terangnya.

Atas dasar itu, jelas Gus Yusuf, tayangan itu membuat para santri marah besar.

“Lalu ada soal kerja santri yang kalau di pesantren dikenal dengan roan. Itu bukan kerja paksa tapi tabarukan mencari berkah,” terangnya.

Saat roan, seperti dirinya pernah lakukan, santri selalu menyambut dengan gembira. Karena sudah pasti kegiatan mengaji libur dan mendapatkan makanan bergizi.

“Roan itu juga tidak setiap hari, bisa hanya sebulan sekali,” katanya.

Tradisi roan, jelas Gus Yusuf, juga mendidik santri agar tidak jumud atau statis. Bahkan menjadi sebuah inspirasi.

“Bahwa santri melihat sawahnya kiai, melihat usaha kiainya, maka setelah selesai mondok kita juga setidaknya meniru berbagai usaha yang dilakukan kiai itu,” paparnya.

Roan juga memunculkan sikap kepedulian bersama, dan tanggap lingkungan., “Mosok santri hanya tengak-tenguk saja di kamar saat ada kerja bakti,” tandasnya.

Sementara itu, koordinator bidang media RMI PWNU Jawa Tengah, Ahmad Fahrurrozi menuturkan kegiatan kegiatan bincang media santri dan dilanjut pelatihan media santri ini dilaksanakan untuk menyemarakkan hari santri nasional (HSN) 2025. Kegiatan kali ini diikuti oleh santri pondok pesantren di Semarang Raya dan perwakilan media RMI NU se-Jawa Tengah dengan total peserta 65 santri.

“Ini (pelatihan media santri, red) untuk wilayah Semarang Raya sebagai muqaddimah (pembuka), nanti akan berlanjut di 5 karasidenan lain di Jawa Tengah, dan Pak Sarif (Wakil Ketua DPRD Jateng) siap membersamai kita,” akunya

Fahrur melanjutkan, dari pelatihan ini, santri diharapkan melek media, mampu memaksimalkan peran media untuk citra positif pesantren.

“Belum lama ini ada framing negatif terhadap pesantren. Maka dari situ, santri-santri bisa membuat konten positif tentang pesantren untuk disampaikan kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Pesantren Sudah Pengalaman dalam Catering, Tidak Pernah Ada kasus Keracunan

Lingkar.co – Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan kesiapan pesantren dalam menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejauh ini di pesantren tidak pernah ada kasus keracunan makanan.

Gus Rozin juga menyampaikan hal itu merupakan hasil rapat pleno pengurus harian PWNU Jawa Tengah tentang kesiapan menerima program MBG. Dia menilai, kasus keracunan MBG di beberapa sekolah harus dihindarkan secara serius dengan adanya mekanisme yang jelas.

“Mungkin juga perlu ada mekanisme tersendiri bagi MBG-MBG yang kemudian kecelakaan keracunan itu. Tetapi saya kira dari hulu hingga hilir, mulai dari supplier, masak, pascamemasak, penyajian, dan macam-macam itu perlu mendapatkan pengawasan yang cukup melekat,” ujarnya dalam jumpa pers di ruang rapat lt 2 PWNU Jateng, Senin (13/10/2025) sore.

Setelah kejadian keracunan MBG pemerintah mulai menerapkan kewajiban sertifikasi. Namun demikian menurut dia, pengawasan langsung lebih penting daripada sertifikasi, “Ya, sertifikasi-sertifikasi itu mungkin cukup mendukung, tetapi pengawasan jauh lebih utama,” katanya.

Menurut dia, pesantren yang telah terbiasa menyediakan makanan bagi santri dalam jumlah besar setiap hari jauh lebih siap menerapkan program MBG jika dibandingkan dengan pihak lain yang belum terbiasa mengelola catering, “Pesantren jauh lebih siap. Karena sebelum ada MBG pun, dapur pesantren itu masak ribuan kali, tiga kali dalam sehari. MBG itu kan cuma sehari,” ucapnya.

“Jadi saya kira kalau kemudian MBG itu memiliki satu program khusus yang dedicated untuk pesantren itu akan sangat baik. Tentu dengan tanpa merubah standar yang selama ini diterapkan oleh MBG,” imbuhnya,

Standar tersebut, kata dia, seperti aturan tentang dapur dapur, gizi, akuntansi, karena program tersebut memakai ABBN, maka akuntabilitas itu menjadi sesuatu yang sangat penting.

“Dan selama ini, kalau kami melihat, MBG pesantren di Jawa Tengah ini belum banyak. Baru sekitar 11 atau 12 MBG berbasis pesantren. Saya kira itu bisa menjadi pertimbangan BGN (Badan Gizi Nasional) dalam hal ini,” paparnya.

Terkait standar gizi, menurut pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen ini menegaskan sangat siap menyajikan menu MBG dengan anggaran Rp10.000 per menu dalam sekali makan karena harga menu di pesantren yang ia asuh jauh lebih murah.

‘Anak-anak pesantren itu biasanya di tempat saya itu misalnya satu kali makan itu maksimal 3.400. Nah kirim ini dengan bajet 10.000 ini sudah sangat apa namanya sudah sangat bagus untuk mendukung santri karena selama ini kan santri itu cukup independen,” terangnya.

Menjawab tentang kapasitas MBG di pesantren, Gus Rozin menegaskan tidak ada masalah karena pengelolaan catering di pesantren sudah berjalan cukup lama dengan jumlah yang banyak. Ia pun menyontohkan Pesantren Sarang, Rembang dan Tegalrejo, Magelang yang bisa menjadi 4 MBG.

“Sarang itu satu komplek bisa sampai berapa itu, 20.000 atau 15.000 satu pesantren, itu 4 MBG sendiri disitu untuk satu pesantren, Tegalrejo juga bisa 15.000 dalam satu pesantren. Selama ini tanpa MBG gak ada yang keracunan, gak ada yang terluka juga,” tandasnya.

“Nah, konkretnya adalah kita menawarkan ada satu paket khusus ya dengan mekanisme tertutup untuk MBG pesantren. Karena yang terbiasa melakukan catering dalam jumlah besar dan basisnya harian itu kan tidak banyak kan. Itu kan catering tentara, catering polisi, cateringnya pondok pesantren,” jelasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Respons Kasus Bangunan Roboh di Sidoarjo Jawa Timur, PWNU Jateng Dampingi Pesantren Dengan Pelatihan Infrastruktur

Lingkar.co – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melakukan pendampingan terhadap pesantren dengan menyiapkan program pelatihan arsitektur infrastruktur pesantren. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional 2025.

“Kemudian ada beberapa halaqah, seminar, sarasehan, yang dilakukan di beberapa pesantren di Jawa Tengah yang menyangkut beberapa tema penting di pesantren,” kata ketua panitia HSN PWNU Jateng, KH. Ahmad Zaki Fuad dalam jumpa pers Kick off Hari Santri Nasional PWNU Jateng di ruang rapat lt 2 PWNU Jawa Tengah, Senin (13/0/2025) sore.

Beberapa tema tersebut, lanjutnya, merupakan perhatian para kiai/ulama dalam mengatasi masalah bullying di pesantren, pelatihan administrasi pesantren, advokasi pesantren, “Kemudian yang menjadi sorotan saat ini adalah pelatihan arsitektur dan infrastruktur pembangunan gedung di pondok pesantren. Ini akan kita laksanakan sehingga pesantren bisa lebih aware tentang konstruksi,” ujar Gus Zaki sapaan akrabnya.

Selain itu, kata Gus Zaki, PWNU Jateng juga mengadakan pelatihan media pesantren agar media dakwah pesantren menjadi lebih luas. Tidak hanya itu, ia juga menyebut ada Pelatihan Modern Farming dan Pelatihan Tour Leader bagi santri.

Dijelaskan, Kick off Hari Santri pada tahun ini dimulai pada malam ini dengan khataman Al-Qur’an dan Parade Tilawah yang dimotori oleh Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Tengah sebagai badan otonom (Banom) NU yang mewadahi para ahli Al-Qur’an.

Namun demikian, kata dia, rangkaian kegiatan hari santri telah dimulai kemarin di Jepara dengan kegiatan Pekan Madaris yang dilaksanakan oleh Rabithah Masjid Islamiyah (RMI), sebuah lembaga yang menjadi asosiasi pesantren NU, dan beberapa kegiatan lain yang telah terlaksana pada beberapa hari sebelumnya.

Audit Pesantren Istilah Tak Tepat

Gus Rozin juga menanggapi wacana tentang audit di pesantren. Menurut dia, pengunaan kata audit tidak tepat karena banyak pesantren yang dibangun secara mandiri dari swadaya masyarakat, “Karena kan yang namanya audit itu kan dibiayai oleh negara, diaudit oleh negara. Nah pembangunan pesantren kan tidak semuanya dibiayai oleh negara. Jadi banyak yang dibangun sendiri-sendiri, jadi assesmen itu jauh lebih penting,” tegasnya.

Ia mengaku menyambut baik upaya assesmen yang dilakukan pemerintah terhadap lembaga pendidikan pesantren, baik melalui kementerian Pekerjaan Umum (PU) atau dari Menteri Koordinator (Menko) Pemerdayaan Masyarakat (PM). Namun demikian, ia berharap tidak hanya asesmen tanpa tindak lanjut yang jelas.

“Nah, monggo, silakan. Tetapi, tentu saja, satu harapannya, tidak berhenti hanya pada asesmen saja. Pasca asesmen bagaimana? Itu harus komplit,” ujarnya.

Menurut dia, musibah yang terjadi di Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Jawa Timur merupakan momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk memperbaiki infrastruktur pesantren secara menyeluruh dan tuntas.

“Jangan sampai ini hanya menjadi satu respon saja, dua bulan, tiga bulan kemudian sudah lupa. Nah, ini yang kita tidak harapkan,” tegasnya.

Ia juga tidak setuju dengan adanya asesmen menjadi penghambat perkembangan pesantren dengan larangan membangun gedung, “Nah, juga kita tidak harapkan sampai asesmen kemudian menurut pemerintah, pesantren A berhenti membangun, pesantren B berhenti membangun, itu kita tidak setuju. Karena pesantren itu pembangunannya dari bawah swadaya masyarakat, kan begitu,” tandasnya.

“Nah, saya kira kalau kemudian berani melarang, ya maka kemudian juga harus berani menanggung konsekuensinya, membangunkan pesantren. Nah, maka saya kira pendampingan kepada pesantren yang sedang membangun itu jauh lebih penting,” ucapnya.

Dirinya berpendapat pemerintah bisa melibatkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)alam pendampingan pembuatan gedung, ‘Jadi begini, salah satu upaya misalnya pemerintah itu bisa menugaskan PTN-PTN yang mempunyai fakultas tekniknya, arsitektur, teknik sipil, itu untuk melakukan pendampingan. Dan itu enggak mahal, tidak memberatkan APBN,” jelasnya.

Di lain sisi, rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati ini menilai kampus yang mendampingi pembangunan gedung pesantren juga diuntungkan karena bisa menjalankan salah satu tri darma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat, “Saya kira itu bisa menyelesaikan masalah dengan cukup pendek dan tidak menjadi tupan pemerintah. Pendampingan itu begitu, sangat penting,” tegasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Buntut Bangunan Roboh, Gus Yasin Ungkap Tradisi Roan Dalam Pembangunan Pesantren

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, H Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa beberapa peristiwa, seperti runtuhnya bangunan di Sidoarjo kemudian Lampung dan lainnya, kerap disalahpahami dengan tuduhan yang tidak tepat terhadap tradisi ‘Roan’ dalam pembangunan pesantren.

Buntut dari peristiwa tersebut, tidak jarang pesantren dituding abai terhadap keselamatan karena dianggap melibatkan santri dalam pekerjaan konstruksi.

Gus Yasin, sapaan akrab Wagub Jateng ini pun mengaku terimbas dengan berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada dirinya.

“Pertanyaan datang bertubi-tubi kepada saya, apalagi saya dikenal sebagai santri. Mereka tanya, apakah santri ikut bangun pondok? Saya jelaskan, pembangunan itu ada aturannya. Pengecoran misalnya, tidak boleh putus, waktunya ketat. Itu bukan kata kiai, tapi kata ahli konstruksi,” ujarnya.

“Pertanyaan datang bertubi-tubi kepada saya, apalagi saya dikenal sebagai santri. Mereka tanya, apakah santri ikut bangun pondok? Saya jelaskan, pembangunan itu ada aturannya. Pengecoran misalnya, tidak boleh putus, waktunya ketat. Itu bukan kata kiai, tapi kata ahli konstruksi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan hal itu saat membuka secara resmi Pekan Madaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah di Pondok Pesantren Walisongo Pecangaan, Jepara, Sabtu (11/10/2025).

Atas beredarnya beragam opini publik yang negatif itu, dirinya menyampaikan keprihatinan sekaligus memberikan klarifikasi atas maraknya opini publik yang mengaitkan musibah robohnya bangunan yang dikaitkan dengan pesantren.

Menurutnya, tradisi roan atau gotong royong yang dilakukan santri kerap disalahartikan. Santri, kata dia, hanya membantu melangsir material karena keterbatasan akses kendaraan besar seperti truk molen ke area pesantren dan itu tidak semuanya santri. Bukan berarti pesantren abai terhadap teknis pembangunan.

“Tidak semua pondok bisa dimasuki alat berat. Maka santri diminta bantu melangsir semen atau pasir, agar pengecoran selesai dalam satu malam. Itu bagian dari kebersamaan, bukan pelanggaran,” tegasnya.

Nah ini yang dilakukan oleh pondok pesantren, makanya saya pingin agar kita bersama-sama menerangkan kepada masyarakat sehingga nilai-nilai keberkahan yang ada di pesantren itu bisa dirasakan oleh masyarakat, bisa diketahui dan dipahami oleh masyarakat tentang kalimat roan, kalimat barokah, terang pengasuh pesantren Al Anwar Sarang Rembang ini.

Lebih lanjut, Gus Yasin mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan PWNU dan Baznas telah memberikan pelatihan konstruksi kepada para santri. Pelatihan tersebut pernah digelar di Pekalongan dan Solo, dan banyak peserta yang diterima bekerja di perusahaan-perusahaan konstruksi profesional, bahkan hingga luar negeri.

“Artinya ilmu itu bisa dipelajari. Pondok pesantren berbasis ilmu agama, tapi kami juga ingin santri memiliki pengetahuan umum lainnya,” ujarnya.

Ia mencontohkan bangunan yang ada di Sarang itu sebagai mandor langsung di bawah pengawasan KH Maimoen Zubair pada 1991. Meski tanpa cor modern, bangunan tersebut hingga kini tetap kokoh tanpa retakan, menjadi bukti bahwa tradisi pesantren mengandung kearifan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“PR kita masih banyak. Kita harus terus bersinergi, berkoordinasi, dan memberikan informasi agar pesantren terlindungi dan tidak disalahpahami,” pungkasnya. (*)

Tegaskan Komitmen PWNU Jateng Tolak Sekolah Lima Hari, Gus Rozin Serukan Pengurus di Daerah Lakukan Advokasi

Lingkar.co – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghofar Rozin, menegaskan komitmen kuat Nahdlatul Ulama dalam menolak kebijakan sekolah lima hari.

Sebab, menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan madrasah diniyah (madin). Padahal, kata dia, Madin selama ini menjadi bagian penting dalam pembinaan akhlak dan penguatan dasar keilmuan santri.

Gus Rozin menyerukan kepada seluruh pengurus NU di tingkat cabang untuk aktif melakukan advokasi dan audiensi di daerah masing-masing.

“Kita juga melakukan audiensi dalam penolakan sekolah lima hari di setiap kabupaten/kota, karena dampaknya sangat besar terhadap eksistensi madrasah diniyah,” tegasnya dalam pembukaan Pekan Madaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Tengah yang digelar di Pondok Pesantren Walisongo Pecangaan, Jepara, Sabtu (11/10/2025),

Ia meyakini bahwa pesantren dan madrasah diniyah adalah benteng utama dalam menjaga generasi bangsa dari krisis moral dan perubahan zaman yang kian kompleks.

“Pesantren dan madin harus kita jaga sebagai benteng akhlakul karimah di tengah badai yang melanda umat, baik di lembaga pendidikan maupun di lingkungan sosial,” sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Rozin juga memberikan apresiasi kepada kafilah Jawa Tengah yang berhasil meraih juara umum dalam Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional (MQKN) 2025 di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

“Saya ucapkan selamat kepada kafilah Jawa Tengah yang sudah mencatatkan hattrick di MQKN 2025. Semoga Pekan Madaris ini menjadi ajang lahirnya bibit-bibit unggul untuk MQK selanjutnya,” ungkapnya. (*)

RMINU Jateng Akan Gelar Naharul Ijtima di Pesantren Darul Amanah Kendal, Simak Agenda Lengkapnya!

Lingkar.co – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jateng akan menggelar naharul ijtima di Ponpes Darul Amanah Ngadiwarno, Sukorejo, Kendal pada Sabtu, (25/1/2025) mendatang.

RMINU sebagai sebuah lembaga yang menjadi asosiasi pondok pesantren NU memiliki beragam program kerja, salah satunya naharul ijtima (pertemuan ulama di siang hari). Dengan demikian, ribuan kiai dan bu nyai dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah diperkirakan akan hadir

Ketua RMINU Jateng, KH Ahmad Fadlullah Turmudzi, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-102 NU menurut kalender hijriah atau penanggalan dalam Islam.

Revitalisasi Pesantren: Penguatan Spiritualitas untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 diusung sebagai tema kegiatan tersebut. “Kiai, ibu nyai, dan santri memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan bangsa dan memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Fadhlullah dalam siaran pers yang diterima oleh redaksi Lingkar.co pada Rabu (22/1/2025).

Oleh karena itu dirinya berharap naharul ijtima dalam rangka memperingati hari lahir NU menjadi momen strategis untuk memperkuat peran pesantren sebagai benteng spiritualitas bangsa dan pusat pendidikan generasi unggul masa depan.

Pesan Nasionalisme

Sementara, pimpinan Ponpes Darul Amanah, Kiai Muhammad Fatwamenegaskan bahwa acara ini akan menjadi perekat semangat nasionalisme bagi pesantren.

“Dengan berkumpulnya ribuan kiai dan ibu nyai NU se-Jawa Tengah, kita terus membuktikan bahwa pesantren adalah garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI,” ungkapnya.

Harapkan Guru NU Go Internasional, PWNU Jawa Tengah Luncurkan Program Beasiswa Bahasa Inggris di Pare, Ini Ketentuannya!

Lingkar.co – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Razin (Gus Rozin) berharap guru di sekolah maupun pesantren NU bisa melanjutkan belajar hingga luar negeri atau ‘Go internasional’.

Oleh karena itu, PWNU Jawa Tengah menggandeng Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang. Kerja sama itu dimulai dengan peuncuran program dilaksanakan di SMA Nasima, Jl Yos Sudarso 17 Tawangsari Semarang Barat l, Kota Semarang, Rabu (23/10/2024) pagi.

“Harapannya guru mempunyai akses studi lanjut sampai luar negeri,” kata Gus Rozin.

Ia juga berharap guru atau ustadz yang telah mengikuti program beasiswa bisa menjadi influencer para santri untuk percaya diri, “Bisa menularkan kepercayaan diri kepada anak didiknya,” sambungnya.

Dengan keterampilan bahasa, menurut Gus Rozin, agenda besar agar santri tidak tertinggal dalam membangun peradaban dunia. “Kemampuan bahasa ini menjadi dasar untuk membuka pintu peradaban, membuka pintu kemajuan, salah satunya melalui penguasaan bahasa Inggris, bahasa Arab ini sudah tentu, dan bahasa Mandarin,” jelasnya.

Menurutnya, program peningkatan kapasitas berbahasa Inggris ini sebuah kesempatan berharga, “Ini kesempatan yang baik bagi kita untuk membangun peradaban,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia berharap agar para pengasuh pesantren dan kepala sekolah untuk mendukung program tersebut.

“Saya minta kepala sekolah atau pengasuh pesantren mohon disupport jika ada guru yang ingin mengikuti agenda ini,” pintanya

PWNU Jawa Tengah dan YPI Nasima saat peluncuran program beasiswa bahasa Inggris bagi ustazh dan guru NU di SMA Nasima Semarang. Foto: Rifqi/Lingkar.co
PWNU Jawa Tengah dan YPI Nasima saat peluncuran program beasiswa bahasa Inggris bagi ustazh dan guru NU di SMA Nasima Semarang. Foto: Rifqi/Lingkar.co

Bahkan, dirinya tidak ingin pengasuh pesantren dan kepala sekolah terkesan menghambat dengan alasan tidak ada ustazah atau guru pengganti.

“Ini mungkin tidak tiap tahun tapi bertahap. Jangan sampai dihambat dengan alasan tidak ada guru penggantinya,” pesannya.

Rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati ini tidak lupa mengapresiasi YPI Nasima yang telah memberikan kesempatan agar kader NU bisa lebih berkembang menghadapi tantangan zaman

“Terima kasih kepada jajaran pengurus Nasima atas kesempatannya, semoga memberikan berkah bagi segenap keluarga besar Nasima,” tuturnya.