Arsip Tag: Abdul Ghaffar Rozin

PWNU Ingatkan Tugas JQHNU Berjejaring dan Saling Menguatkan

Lingkar.co – Wakil ketua PWNU Jawa Tengah KH Mandzhur Labib mengingatkan bahwa tugas Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) sebagai organisasi untuk berjejaring dan saling menguatkan.

“Tugas JQHNU itu merawat para huffazh agar berjejaring dalam hal apapun,” katanya.

Gus Labib, sapaan akrabnya, mengingatkan hal itu saat mewakili KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) yang berhalangan hadir dalam pembukaan Konferensi Wilayah (Konferwil) JQHNU Jateng di aula Dinas Sosial Jawa Tengah, Sabtu (18/4/2026).

“Dalam bidang ekonomi agar para hamalatul Qur’an ekonominya bagus agar tenang menjaga Al-Qur’an karena ekonomi mapan,” jelasnya.

Selanjutnya, kata dia, berjejaring dalam pendidikan agar lahir pesantren-pesantren penghafal Al-Qur’an

Ia juga menyoroti maraknya orang yang berminat untuk menghafal Al-Qur’an, ” Para penghafal Al-Qur’an semakin hari semakin meningkat,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, dirinya juga mengapresiasi pemerintah dalam mendukung hal itu.”Tahfizh itu sudah mulai masuk dunia industri, masuk dalam program televisi Keberpihakan pemerintah juga bagus. Terbukti dengan adanya beasiswa pendidikan,” tuturnya.

Meski demikian, pengasuh Pesantren Sabilunnajah Penjalin Brangsong Kendal itu juga mengingatkan bahwa ahli Al-Qur’an adalah orang istimewa, orang yang dipilih oleh Allah SWT sebagai penjaga Al-Qur’an.

Hal itu, lanjutnya, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah menjaga Al-Qur’an melalui para penghafal dan ahli Al-Qur’an.

“Namun hal yang harus diwaspadai adalah niat menghafal Al-Qur’an. Tidak hanya karena mengejar beasiswa, tidak semata-mata untuk juara, tapi karena ikhlas menjaga Al-Qur’an,” tandasnya.

Menutup sambutan, ia mengungkapkan selamat untuk pelaksanaan Konferwil JQHNU Jateng.

“Selamat bermusyawarah, semoga melahirkan pemimpin organisasi Al-Qur’an yang memimpin para hamalatul Qur’an dengan baik,” pungkasnya. (*)

Serukan Idulfitri Penuh Makna, Ketua PWNU Jateng Utamakan Persaudaraan

Lingkar.co — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan Gus Rozin saat di Kantor PWNU Jateng, Jalan dr Cipto Nomor 180 Semarang, Jumat (20/3/2026). Dalam keterangannya, ia mengajak umat Islam menjadikan Idulfitri sebagai momentum kembali kepada kesucian serta mempererat persaudaraan.

“Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin, taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. Kami juga memohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima amal ibadah kita serta mengampuni segala khilaf,” ujar Gus Rozin.

Ia menuturkan, bulan Ramadan yang telah dilalui memberikan banyak pelajaran penting, mulai dari kesabaran, keikhlasan, hingga pengendalian diri dan peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Momentum Idulfitri, kata dia, hendaknya dimanfaatkan untuk mensucikan hati, mempererat silaturahmi, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

Lebih lanjut, Gus Rozin menekankan pentingnya kepedulian sosial di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat. Ia mengingatkan bahwa kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi, kebersamaan, dan solidaritas yang kuat. Mari kita saling tolong-menolong dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” tegasnya.

Ia juga mengimbau agar Idulfitri dirayakan dengan penuh kesederhanaan, tanpa berlebihan. Menurutnya, esensi perayaan bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada kembalinya manusia kepada fitrah.

“Rayakan Idulfitri secara substantif, dengan kesederhanaan, memperkuat silaturahmi, dan mensyukuri apa yang kita miliki,” tambahnya.

Mengakhiri pesannya, Gus Rozin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berikhtiar menghadirkan kebaikan bersama serta senantiasa memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.

“Semoga Allah senantiasa memperkuat persaudaraan dan persatuan kita semua sebagai anak bangsa,” pungkasnya.

Gus Rozin: Refleksi 1 Abad NU, Jejak Khidmah yang Terus Hidup dari Masa ke Masa

Lingkar.co — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan refleksi peringatan 100 tahun NU bukanlah sekadar penanda usia organisasi, melainkan refleksi atas jejak panjang pengabdian yang terus hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.

Menurut dia, satu abad NU adalah perjalanan spiritual, sosial, dan kebangsaan yang tidak pernah berhenti berkhidmah dari masa ke masa. Karena itu, ia mengajak seluruh warga NU (Nahdliyin) untuk menundukkan hati, memperbanyak doa, serta menghadirkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah SWT.

“Seratus tahun bukanlah perjalanan waktu. Ia adalah jejak panjang pengabdian dan khidmah yang terus hidup di tengah umat. Pada usia satu abad NU ini, marilah kita tundukkan hati, senantiasa berdoa, dan menghadirkan rasa syukur atas nikmat istiqamah, persatuan, dan keberlangsungan yang Allah berikan kepada NU,” ujar Gus Rozin dalam keterangan tertulisnya. Sabtu (31/1/2026).

Ia menegaskan, NU Jawa Tengah hadir bukan hanya sebagai organisasi formal, melainkan sebagai gerakan sosial-keagamaan yang tumbuh bersama masyarakat. NU hidup di tengah umat, menjaga agama, merawat tradisi, sekaligus memperkuat sendi-sendi kebangsaan.

Dalam bidang keilmuan, pesantren-pesantren NU disebutnya sebagai penjaga mata rantai keilmuan Islam Nusantara. Di sana, tradisi keilmuan dirawat dengan penuh kesungguhan, disertai kegembiraan dan kecintaan terhadap ajaran Islam yang moderat dan ramah.

Sementara di sekolah dan madrasah, NU menanamkan nilai-nilai ilmu pengetahuan, akhlak, serta cinta tanah air kepada generasi muda sebagai bekal membangun masa depan bangsa.

Gus Rozin juga menyoroti peran NU dalam situasi krisis. Menurutnya, dalam setiap bencana dan krisis kemanusiaan yang sering melanda, khususnya di Jawa Tengah, NU selalu hadir tanpa jarak.

“NU ada di barisan pertama, bergerak cepat untuk menolong masyarakat yang terdampak. Ini adalah wujud nyata dari khidmah NU kepada umat,” katanya.

Dalam bidang sosial dan ekonomi, termasuk ketahanan keluarga dan pangan, NU bekerja dengan hati, aksi, dan tanggung jawab. Seluruh unsur jam’iyah bergerak dalam satu napas pengabdian.

Ia menjelaskan, lembaga-lembaga NU menjalankan mandat sesuai bidang keahliannya, sementara badan otonom menjadi motor kaderisasi sekaligus kekuatan sosial umat yang terus bergerak di tengah masyarakat.

“Seratus tahun telah kita lalui dengan penuh syukur. Insyaallah, dengan rasa syukur itulah NU Jawa Tengah akan terus melangkah ke depan, mengabdi untuk umat, berkhidmah untuk bangsa, serta ikut menyiapkan masa depan Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat,” tegasnya.

Di akhir pesannya, Gus Rozin mengajak seluruh warga NU untuk merawat jam’iyah ini di abad kedua dengan penuh kecintaan dan kasih sayang.

“Mari kita rawat NU dengan rukun dalam kebersamaan, bersatu dalam ikatan jiwa dan raga. Mari senantiasa hadir, berkhidmah, dan bertumbuh bersama NU,” pungkasnya. (*)

Hadir di Pelantikan PW GP Ansor Jateng, Gibran Beri Pantun

Lingkar.co – Suasana pelantikan Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Tengah, Ahad (2/11/2025), mendadak cair dan hangat saat Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, membuka sambutannya dengan pantun motivasi.

“Pondok pesantren berdaya, Indonesia jaya,”
ucap Gibran lantang, disambut tepuk tangan ribuan kader Ansor dan Banser yang memenuhi arena acara.

Pantun sederhana itu menjadi pembuka pesan penting yang ia sampaikan tentang peran besar santri dan pesantren dalam membangun bangsa.

Dalam nada bersahabat, Gibran mengajak seluruh kader Ansor untuk terus berdaya dan menjadi motor penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Gibran: “Saya Datang Khusus untuk Ansor”

Dalam sambutannya, Gibran mengungkapkan bahwa kehadirannya di Jawa Tengah kali ini adalah khusus untuk menghadiri pelantikan PW GP Ansor Jateng.

Ia menegaskan kedekatannya dengan organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama itu sudah terjalin sejak lama.

“Saya sendiri sudah menjadi kader Ansor sebelum menjadi Wali Kota Solo,” ujarnya.

“Setelah saya menjabat wali kota, Solo menjadi salah satu kota paling toleran di Indonesia, dan itu berkat kontribusi kader-kader Ansor.”

Ucapan itu disambut riuh tepuk tangan dan seruan takbir dari para hadirin.

Soroti Isu Banjir dan Infrastruktur Semarang

Tak hanya bicara soal Ansor dan santri, Gibran juga menyinggung persoalan banjir di Kaligawe, Semarang. Ia mengaku sempat melihat langsung kondisi banjir di kawasan itu sebelum tiba di lokasi acara.

“Saya lihat kondisi Kaligawe masih banjir. Mudah-mudahan segera diselesaikan pembangunan kolam retensi untuk mengurangi banjir di Kota Semarang. Setelah itu, semoga bisa segera dibangun Giant Sea Wall,” kata Gibran.

Pernyataan itu menunjukkan perhatian Wapres terhadap pembangunan dan kesejahteraan warga Jawa Tengah, terutama wilayah pesisir yang rawan banjir.

Santri Harus Kuasai Teknologi

Dalam bagian lain sambutannya, Gibran menyampaikan kabar gembira: Presiden telah menyetujui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.

Langkah ini disebutnya sebagai “kado istimewa untuk Hari Santri” yang menandai perhatian pemerintah terhadap pengembangan pesantren, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun kesehatan.

Namun, Gibran juga menantang santri untuk melangkah lebih jauh.

“Kami ingin mencetak santri-santri yang ahli blockchain, AI, robotik, dan lainnya,” tegasnya.

“Santri sekarang harus siap bersaing di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.”

Titip Amanah untuk Ansor

Di akhir pidatonya, Gibran menitipkan pesan penting kepada para kader Ansor agar menjadi garda terdepan dalam memastikan program-program pemerintah berjalan tepat sasaran.

“Saya titip agar Ansor ikut menjaga program MBG, Sekolah Rakyat, dan Bansos supaya benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Bagi Gibran, Ansor bukan hanya organisasi kepemudaan, tetapi juga mitra strategis pemerintah yang punya kekuatan akar rumput untuk menggerakkan masyarakat menuju kesejahteraan.

“Pemerintah butuh mitra yang kuat dan mengakar di masyarakat, supaya bisa langsung terjun merealisasikan program kesejahteraan,” tambahnya.

Pelantikan PW GP Ansor Jawa Tengah kali ini bukan sekadar seremoni organisasi.

Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dengan pantun dan pesan-pesan inspiratifnya, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan gerakan pemuda dalam membangun negeri.

Dan seperti pantun yang ia ucapkan di awal, semangatnya sederhana namun bermakna, Pondok pesantren berdaya, Indonesia jaya!

PWNU Jateng Ajak Kawal Dirjen Pesantren, Tidak Boleh Memperkuat Hegemoni Pemerintah

Lingkar.co – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan pentingnya peran pesantren dalam mengawal pelaksanaan Undang-Undang Pesantren agar tidak melenceng dari tujuan aslinya.

Keberadaan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pesantren merupakan hadiah presiden dan momentum penting dalam sejarah kebijakan pemerintah. Sejalan dengan hal itu, Dirjen Pesantren, tidak boleh memperkuat hegemoni pemerintah terhadap pesantren.

Hal itu ia sampaikan Ketua Tanfidziah PWNU Jateng, KH. Abdul Ghaffar Razin dalam Halaqah Pengasuh Pesantren se-Jawa Tengah yang digelar di Gedung PGRI, Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (24/10/2025).

Menurutnya, kehadiran Dirjen Pesantren yang baru dibentuk berdasarkan perintah Presiden merupakan momentum penting dalam sejarah kebijakan pesantren di Indonesia.

“Dirjen Pesantren ini tidak boleh memperkuat hegemoninya negara terhadap pesantren. Negara hadir untuk memperkuat, bukan mengintervensi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sejak Undang-Undang Pesantren disahkan pada tahun 2019, banyak amanat besar yang belum terealisasi secara utuh. Dari tiga fungsi utama pesantren—pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat—baru fungsi pendidikan yang berjalan baik. Sementara dua fungsi lainnya, termasuk pengelolaan dana abadi pesantren, belum menjadi perhatian serius pemerintah.

Gus Rozin juga menyoroti pelaksanaan regulasi turunan di daerah. Berdasarkan pantauan PWNU Jateng, dari 90 daerah yang telah membuat peraturan daerah atau peraturan bupati tentang pesantren, sekitar 80 persen tidak sesuai dengan amanat undang-undang.

“Ini harus menjadi perhatian bersama agar Undang-Undang Pesantren berjalan sesuai relnya,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya rekognisi atau pengakuan negara terhadap ijazah pesantren. Santri yang lulus tidak boleh diperlakukan berbeda hanya karena ijazahnya tidak berasal dari lembaga formal.

“Lulusan pesantren tidak boleh ditolak hanya karena ijazahnya. Mereka harus diakui secara sah oleh negara, termasuk dalam pendaftaran P3K atau jabatan publik lainnya,” tegasnya.

Menurutnya, bantuan negara melalui APBN maupun APBD bersifat suplemeter, bukan komplementer. Artinya, pesantren harus tetap mandiri dan tidak bergantung sepenuhnya pada negara.

“Semakin pesantren mandiri, semakin baik. Negara hadir kalau diperlukan, tapi jangan sampai membuat pesantren kehilangan kemandirian,” imbuhnya.

Senada, Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menambahkan bahwa dalam menghadapi perubahan zaman, pesantren harus tetap berpijak pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para kiai dan guru terdahulu. Menurutnya, modernisasi dan inovasi penting dilakukan, namun tidak boleh menggeser ruh pesantren yang menjadi sumber kekuatan moral dan spiritual bangsa.

“Kita boleh punya metode baru dan cara baru, tapi jangan meninggalkan nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para guru kita. Kalau nilai-nilai itu ditinggalkan, arah pesantren bisa menyimpang,” pesannya.

Kiai Ubaid menegaskan bahwa kekuatan pesantren terletak pada keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Pesantren, katanya, harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial tanpa kehilangan jati diri.

“Transformasi boleh dilakukan, tapi nilai dasar harus tetap dijaga. Di situlah letak keistimewaan pesantren,” ujarnya.

Halaqah yang diikuti para pengasuh pesantren se-Jawa Tengah ini menjadi ajang refleksi dan konsolidasi bersama, agar pesantren tidak hanya mampu beradaptasi dengan dinamika kebijakan pemerintah, tetapi juga terus menjaga marwahnya sebagai benteng moral dan kebudayaan bangsa. (*)

Dari Pendidikan hingga Pertanian, PWNU Jateng Hadirkan Makna Substantif Peringatan Hari Santri Nasional 2025

Lingkar.co – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan Hari Santri Nasional 2025 sebagai momentum memperkuat prestasi, bukan sekadar euforia perayaan.

Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan rangkaian puncak Hari Santri 2025 PWNU Jateng di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (23/10/2025).

“Sudah saatnya Hari Santri kita rayakan dengan penuh makna, bukan hanya dengan keramaian. Tahun ini, kita rayakan dengan meneguhkan prestasi dan pencapaian yang telah kita hasilkan bersama,” ungkap Gus Rozin sapaannya.

Gus Rozin menjelaskan, dalam satu setengah tahun terakhir, PWNU Jawa Tengah bersama lembaga dan banomnya telah melakukan berbagai terobosan strategis di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah kerja sama LP Ma’arif PWNU Jateng dengan 39 perguruan tinggi di Tiongkok, yang membuka peluang beasiswa bagi siswa-siswa Ma’arif.

“Insya Allah semester depan, 20 siswa Ma’arif akan diberangkatkan ke Tiongkok untuk melanjutkan studi. Ini menjadi bukti nyata bahwa NU Jawa Tengah tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus memperluas jejaring pendidikan hingga ke tingkat global,” terang pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini.

Selain di bidang pendidikan, Gus Rozin juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Ia menilai, santri dan warga NU harus kembali menoleh ke sektor pertanian sebagai basis kekuatan bangsa.

“Sekarang ini, pemenang peradaban bukan lagi yang menguasai energi, melainkan yang menguasai pangan. Karena itu, NU harus kembali meneguhkan peran di bidang pertanian. Dengan dukungan pemerintah daerah dan semangat warga NU, kita bisa menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini dirancang lebih substantif. Selain bazar UMKM yang dari NU, pesantren maupun warga Semarang, malam ini ada Ngaji Bandongan bersama Gus Kautsar dan KH Ahmad Chalwani. Kemudian besok digelar pelatihan pertanian organik yang insyaallah akan diisi oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta konsolidasi pesantren se-Jawa Tengah yang akan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Basnang Said untuk menguatkan peran pesantren menghadapi isu-isu aktual. Kemudian resepsi puncaknya ada jalan sehat santri yang bertabur hadiah, ada sepeda motor hingga umroh gratis.

“Bagi NU, UMKM dan pesantren adalah dua pilar penting. Mayoritas warga kita hidup dari sektor usaha kecil, pertanian, dan pendidikan. Karena itu, acara ini menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan menampilkan hasil karya,” jelasnya.

Acara pembukaan turut dihadiri Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha, yang menyampaikan apresiasi atas peran aktif PWNU Jawa Tengah dalam mendukung kemajuan daerah.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang, kami berterima kasih kepada PWNU Jateng. Melalui kegiatan Hari Santri ini, masyarakat kami sangat terbantu, terutama lewat bazar UMKM yang memasarkan produk-produk lokal. Ada juga pelatihan pertanian yang memberi manfaat langsung bagi para petani,” kata Ngesti.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan NU terus berlanjut. “Semoga kerja sama ini terus memberi manfaat untuk kemajuan Kabupaten Semarang dan kesejahteraan masyarakatnya,” tandasnya.

Untuk diketahui rangkaian resepsi puncak peringatan Hari Santri 2025 ini digelar selama 3 hari, mulai Kamis-Sabtu (23-25/10/2025) bertempat di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas Semarang. (*)

HSN Tak Sebatas Euforia, Gus Rozin Ingatkan Diaspora Santri di Berbagai Bidang

Lingkar.co – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng) KH Abdul Ghaffar Rozin mengingatkan, peringatan Hari Santri Nasional tak sebatas euforia. Namun momen untuk mempertegas diaspora santri.

Ia mengingatkan hal itu mengingat mayoritas mayarakat non santri menganggap aktivitas personal santri hanya istighotsah, ngaji, dan tidak modern. Padahal santri saat ini sudah berdiaspora, mengikuti perkembangan zaman, mengawal peradaban, namun tetap mengedepankan akhlakul karimah. Tapi hal itu jarang diekspose.

“Santri sudah mengisi di beberapa pos. Ada yang di pemerintah, di politik, pendidikan, dunia usaha, profesional dan lain-lainnya,” ucap Gus Rozin, sapaan akrab Abdul Ghaffar Rozin di sela perayaan satu dasawarsa Hari Santri Nasional di Halaman kantor PWNU Jateng Jalan dr Cipto Kota Semarang, Rabu (22/10/2025).

Dalam perayaan Hari Santri kali ini, melibatkan ratusan siswa siswi SMKN 5 Kota Semarang yang lokasi sekolahnya berada tepat di depan kantor PWNU Jateng.

Bahkan, petugas upacara kali ini, dihandle semua oleh siswa-siswi SMKN 5 Kota Semarang. Hadir pula, Wakil Rois, jajaran Katib, pengurus PWNU Jateng, badan otonomi (Banom), pimpinan lembaga, maupun organisasi politik dan non politik.

Gus Rozin sapaan akrab ketua PWNU Jateng menuturkan, di Jateng total ada 4400 pesantren di bawah naungan Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) NU Jateng. Namun tantangan santri ini banyak, baik internal maupun eksternal.

“Karena itu, banyak yang tak kenal pesantren dan santri nya, menyalahpahami pesantren. Karena itu, perlu diangkat dan didakwahkan keluar seluruh kegiatan pesantren,” katanya.

Meski santri didera isu yang disampaikan Trans7 baru-baru ini, santri tetap samian wa thoatan (patuh dan taat) kepada kiai.

Menurutnya, isu yang berkembang akhir-akhir ini merupakan bagian dari tantangan untuk mengekspose kegiatan santri secara lebih terbuka. Sejauh ini, santri telah melakukan inovasi dan adopsi hal baru yang bermanfaat untuk pendidikan dan masa depan santri. Bahkan para santri juga diberikan pemahaman mengenai anti kekerasan atau bullying.

Ketika ditanya apakah santri juga dibekali pengetahuan bahasa? Gus Rozin dengan tegas menjawab, PWNU Jateng sudah memberikan kursus-kursus bahasa asing untuk para santri, melalui pondok pesantren di bawah RMI dan lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif.

“Santri para pendahulu kami, bisa berbagai bahasa asing. Baik Arab, Inggris, Mandarin, maupun bahasa lainnya. Karena itulah, PWNU Jateng juga melalui lembaga RMI NU Jateng, kami mendorong santri untuk mendalami bahasa Mandarin atau Tiongkok,” ujarnya.

Perlu dketahui, hari santri pertama dicanangkan pada tahun 2016. Pada satu dasawarsa Hari Santri kali ini, memang perlu dilakukan perenungan atau refleksi, tentang prestasi apa yang telah bisa diberikan kepada para muasis (Pendiri) NU, kepada bangsa dan negara Indonesia.

Sebab Hari Santri adalah bagian dari mempringati resolusi jihad 22 Oktober 1945. Adanya resolusi jihad tersebut, menyuntikkan semangat mempertahankan kemerdekaan pada peperangan 10 November 1945 di Surabaya.

“Ini bukan klaim santri, tapi ini disampaikan Panglima TNI pada Hari Santri tahun 2016. Ini artinya, peran santri sangat besar dalam memprtahankan kemerdekaan negara Indonesia,” tegasnya

Kita perlu membuat konsensus baru bahwa santri menjadikan bangsa Indonesia ini berperadaban dan berbudaya tinggi.

“Mari jawab tantangan zaman dengan prestasi dan akhlakul karimah,” tandasnya.

Masih menurut Gus Rozin, bahwa hari santri bukan hanya milik NU saja, melainkan milik semuanya.

“Hari santri bukan hanya milik NU, tapi juga milik Muhammadiyah, LDII, Al Irsyad dan ormas-ormas islam lainya, milik semuanya,” pungkasnya.

Peringatan upcara Hari Santri dilanjutkan dengan Istighotsah atau doa bersama dipimpin oleh KH Abdul Hamid dari Boyolali dan maudhah hasanah oleh KH Sofwan Fauzi. (*).

Dari Khataman Al Qur’an Hingga Jalan Sehat, Berikut Ini Rangkaian Kegiatan Hari Santri Nasional PWNU Jateng

Lingkar.co – Kegigihan santri dalam melawan penjajah telah diabadikan dengan adanya Hari Santri Nasional yang diperingati dengan berbagai kegiatan di setiap tahun. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah tengah bersiap menyambut Hari Santri Nasional tahun 2025 dengan menggelar serangkaian kegiatan besar. Ada banyak agenda telah disiapkan untuk menyemarakkan peringatan yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, KH Abdul Ghaffar Rozin, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri bukan semata seremoni tahunan, melainkan momentum strategis untuk menguatkan peran pesantren dan santri dalam menjaga agama, bangsa, dan negara.

“Santri memiliki warisan besar dari para pendahulu. Semangat resolusi jihad harus terus kita lanjutkan dengan kiprah nyata dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Gus Rozin saat press conference di Gedung PWNU Jateng, Jalan dr Cipto No 180, Semarang, Senin (13/10/2025).

Gus Rozin menambahkan, Hari Santri adalah ruang konsolidasi gerakan kultural NU sekaligus upaya memperluas peran pesantren sebagai pusat peradaban umat.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Santri 2025 PWNU Jateng, KH Ahmad Zaki Fuad, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Sabtu-Ahad (11–12/10/2025) melalui Pekan Madaris NU Jateng 2025 yang digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) di Pondok Pesantren Walisongo Jepara.

“Kegiatan ini menjadi yang pertama di Indonesia, dan saat ini baru dilaksanakan di Jawa Tengah. Alhamdulillah, mendapat sambutan positif dari berbagai pesantren,” tutur Gus Zaki, sapaan akrabnya.

Sebagai penanda dimulainya rangkaian kegiatan, PWNU Jateng menggelar Kick Off Hari Santri 2025 dengan pelaksanaan Khotmil Qur’an oleh Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU), yang mencatat sebanyak 3.500 kali khataman Al-Qur’an.

“Ini adalah bentuk ikhtiar spiritual kami. Semoga doa-doa para huffazh membawa keberkahan bagi masyarakat Nahdliyyin dan kemaslahatan bagi Jawa Tengah ke depan,” ungkap Gus Zaki.

Ia juga mengungkapkan, sejumlah agenda ke depan mencakup seminar, sarasehan, hingga halaqah keilmuan yang akan diselenggarakan di berbagai pesantren se-Jawa Tengah. Tema yang diangkat pun relevan dengan isu-isu aktual di lingkungan pesantren, termasuk penanganan bullying serta penguatan kapasitas para kiai dan pengasuh pesantren.

“Semua kegiatan ini menjadi bagian dari refleksi, konsolidasi, dan pergerakan bersama dalam meneguhkan peran pesantren di era modern,” pungkasnya.

Berikut Rangkaian Hari Santri 2025 PWNU Jawa Tengah:

  1. Pekan Madaris RMI PWNU Jateng, diikuti oleh peserta dari RMI PCNU se-Jawa Tengah, bertempat di Pondok Pesantren Walisongo Jepara pada Sabtu–Ahad (11–12/10/2025).
  2. Halaqah Pedagogi Guru Madin, diikuti guru-guru Madrasah Diniyah se-Jawa Tengah, juga bertempat di Pesantren Walisongo Jepara (11/10/2025).
  3. Kick Off Hari Santri 2025, diawali dengan Parade Tilawah dan Khataman Qur’an sebanyak 3.500 kali oleh PW JQHNU Jateng, bertempat di Gedung PWNU Jateng, Jl. dr Cipto No. 180 Semarang, Senin (13/10/2025).
  4. Sosialisasi rangkaian kegiatan Hari Santri 2025 bertempat di Gedung PWNU Jawa Tengah Senin (13/10/2025)
  5. Halaqah Pengasuh Pesantren dengan tema Pencegahan dan Penanganan Bullying dan Kekerasan Seksual, diikuti oleh pengurus pondok pesantren se-Jawa Tengah, bertempat di salah satu pesantren di Kabupaten Kudus, Selasa (14/10/2025).
  6. Halaqah Pengasuh Pesantren dengan tema Pelatihan Administrasi dan Akuntansi Pesantren, bertempat di pesantren di Kabupaten Demak, Rabu (15/10/2025).
  7. Pelatihan Manajemen Tour Leader, diikuti oleh pengurus pesantren se-Jawa Tengah, bertempat di Kantor RMI PWNU Jateng, Jumat (17/10/2025).
  8. Halaqah Pengasuh Pesantren bertema Eco–Pesantren, bertempat di pesantren di Kabupaten Pekalongan, Sabtu (18/10/2025).
  9. Halaqah Pengasuh Pesantren dengan tema Transformasi Pendidikan dan Kesehatan Mental di Pondok Pesantren, ditujukan kepada para musyrif dan musyrifah, bertempat di pesantren di Kabupaten Pati, Ahad (19/10/2025).
  10. Pelatihan Media Pesantren, diikuti tim media dari pesantren se-Jawa Tengah, bertempat di Pesantren Fadlu Fadlan Semarang, Ahad (19/10/2025).
  11. Pemeriksaan Kesehatan untuk 1.000 Santri di enam titik karisidenan, terpusat di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Senin (20/10/2025).
  12. Pelepasan Peserta Kemah Internasional, bertempat di Gedung PWNU Jateng, Senin (20/10/2025).
  13. Halaqah Pengasuh Pesantren bertema Arsitektur dan Infrastruktur Bangunan Pesantren, bertempat di pesantren di Kabupaten Boyolali, Selasa (21/10/2025).
  14. Go Ketahanan Bahari, diikuti oleh kader PW GP Ansor Jateng, bertempat di Karimunjawa, Jepara, Senin–Kamis (20–23/10/2025).
  15. Malam Tirakatan dan Doa Bersama, bersama Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jateng serta siswa-siswi Ma’arif NU, bertempat di Gedung PWNU Jateng, Selasa (21/10/2025).
  16. Upacara Peringatan Hari Santri 2025, bertempat di halaman Gedung PWNU Jateng, Rabu (22/10/2025).
  17. Halaqah Pengasuh Pesantren dengan tema Advokasi, bertempat di pesantren di Kabupaten Temanggung, Kamis (23/10/2025).
  18. Pelatihan Modern Farming, diikuti oleh santri se-Jawa Tengah, bertempat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Sabtu (25/10/2025).

Puncak Acara Hari Santri 2025 PWNU Jawa Tengah

  1. Ziarah Bersama ke Maqbarah Tokoh NU.
  2. Lomba Video Pendek Santri, dengan 1.000 peserta dari Kabupaten Semarang, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Kamis (23/10/2025).
  3. Pentas Seni Santri Jawa Tengah, bertempat di panggung utama Stadion Wujil, Ungaran, Kamis (23/10/2025).
  4. Bazaar UMKM Jawa Tengah, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Kamis (23/10/2025).
  5. Ngaji Bandongan dan Ijazah Kubro bersama KH Chalwani dan Gus Kautsar, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Kamis (23/10/2025).
  6. Halaqah Pengasuh Pesantren se-Jawa Tengah, menghadirkan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, bertempat di Pendopo Kabupaten Semarang, Jumat (24/10/2025).
  7. Seminar Pengembangan Ekonomi Pesantren dan Pertanian NU, menghadirkan Menteri Sosial RI H. Saifullah Yusuf dan Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono, bertempat di Aula PGRI Semarang, Jumat (24/10/2025).
  8. Wayangan Semalam Suntuk, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Jumat malam (24/10/2025).
  9. Jalan Sehat Santri, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Sabtu pagi (25/10/2025).
  10. Hiburan dan Pengundian Doorprize, bertempat di Stadion Wujil, Ungaran, Sabtu siang (25/10/2025).

Pesantren Sudah Pengalaman dalam Catering, Tidak Pernah Ada kasus Keracunan

Lingkar.co – Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan kesiapan pesantren dalam menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejauh ini di pesantren tidak pernah ada kasus keracunan makanan.

Gus Rozin juga menyampaikan hal itu merupakan hasil rapat pleno pengurus harian PWNU Jawa Tengah tentang kesiapan menerima program MBG. Dia menilai, kasus keracunan MBG di beberapa sekolah harus dihindarkan secara serius dengan adanya mekanisme yang jelas.

“Mungkin juga perlu ada mekanisme tersendiri bagi MBG-MBG yang kemudian kecelakaan keracunan itu. Tetapi saya kira dari hulu hingga hilir, mulai dari supplier, masak, pascamemasak, penyajian, dan macam-macam itu perlu mendapatkan pengawasan yang cukup melekat,” ujarnya dalam jumpa pers di ruang rapat lt 2 PWNU Jateng, Senin (13/10/2025) sore.

Setelah kejadian keracunan MBG pemerintah mulai menerapkan kewajiban sertifikasi. Namun demikian menurut dia, pengawasan langsung lebih penting daripada sertifikasi, “Ya, sertifikasi-sertifikasi itu mungkin cukup mendukung, tetapi pengawasan jauh lebih utama,” katanya.

Menurut dia, pesantren yang telah terbiasa menyediakan makanan bagi santri dalam jumlah besar setiap hari jauh lebih siap menerapkan program MBG jika dibandingkan dengan pihak lain yang belum terbiasa mengelola catering, “Pesantren jauh lebih siap. Karena sebelum ada MBG pun, dapur pesantren itu masak ribuan kali, tiga kali dalam sehari. MBG itu kan cuma sehari,” ucapnya.

“Jadi saya kira kalau kemudian MBG itu memiliki satu program khusus yang dedicated untuk pesantren itu akan sangat baik. Tentu dengan tanpa merubah standar yang selama ini diterapkan oleh MBG,” imbuhnya,

Standar tersebut, kata dia, seperti aturan tentang dapur dapur, gizi, akuntansi, karena program tersebut memakai ABBN, maka akuntabilitas itu menjadi sesuatu yang sangat penting.

“Dan selama ini, kalau kami melihat, MBG pesantren di Jawa Tengah ini belum banyak. Baru sekitar 11 atau 12 MBG berbasis pesantren. Saya kira itu bisa menjadi pertimbangan BGN (Badan Gizi Nasional) dalam hal ini,” paparnya.

Terkait standar gizi, menurut pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen ini menegaskan sangat siap menyajikan menu MBG dengan anggaran Rp10.000 per menu dalam sekali makan karena harga menu di pesantren yang ia asuh jauh lebih murah.

‘Anak-anak pesantren itu biasanya di tempat saya itu misalnya satu kali makan itu maksimal 3.400. Nah kirim ini dengan bajet 10.000 ini sudah sangat apa namanya sudah sangat bagus untuk mendukung santri karena selama ini kan santri itu cukup independen,” terangnya.

Menjawab tentang kapasitas MBG di pesantren, Gus Rozin menegaskan tidak ada masalah karena pengelolaan catering di pesantren sudah berjalan cukup lama dengan jumlah yang banyak. Ia pun menyontohkan Pesantren Sarang, Rembang dan Tegalrejo, Magelang yang bisa menjadi 4 MBG.

“Sarang itu satu komplek bisa sampai berapa itu, 20.000 atau 15.000 satu pesantren, itu 4 MBG sendiri disitu untuk satu pesantren, Tegalrejo juga bisa 15.000 dalam satu pesantren. Selama ini tanpa MBG gak ada yang keracunan, gak ada yang terluka juga,” tandasnya.

“Nah, konkretnya adalah kita menawarkan ada satu paket khusus ya dengan mekanisme tertutup untuk MBG pesantren. Karena yang terbiasa melakukan catering dalam jumlah besar dan basisnya harian itu kan tidak banyak kan. Itu kan catering tentara, catering polisi, cateringnya pondok pesantren,” jelasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Respons Kasus Bangunan Roboh di Sidoarjo Jawa Timur, PWNU Jateng Dampingi Pesantren Dengan Pelatihan Infrastruktur

Lingkar.co – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah melakukan pendampingan terhadap pesantren dengan menyiapkan program pelatihan arsitektur infrastruktur pesantren. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri Nasional 2025.

“Kemudian ada beberapa halaqah, seminar, sarasehan, yang dilakukan di beberapa pesantren di Jawa Tengah yang menyangkut beberapa tema penting di pesantren,” kata ketua panitia HSN PWNU Jateng, KH. Ahmad Zaki Fuad dalam jumpa pers Kick off Hari Santri Nasional PWNU Jateng di ruang rapat lt 2 PWNU Jawa Tengah, Senin (13/0/2025) sore.

Beberapa tema tersebut, lanjutnya, merupakan perhatian para kiai/ulama dalam mengatasi masalah bullying di pesantren, pelatihan administrasi pesantren, advokasi pesantren, “Kemudian yang menjadi sorotan saat ini adalah pelatihan arsitektur dan infrastruktur pembangunan gedung di pondok pesantren. Ini akan kita laksanakan sehingga pesantren bisa lebih aware tentang konstruksi,” ujar Gus Zaki sapaan akrabnya.

Selain itu, kata Gus Zaki, PWNU Jateng juga mengadakan pelatihan media pesantren agar media dakwah pesantren menjadi lebih luas. Tidak hanya itu, ia juga menyebut ada Pelatihan Modern Farming dan Pelatihan Tour Leader bagi santri.

Dijelaskan, Kick off Hari Santri pada tahun ini dimulai pada malam ini dengan khataman Al-Qur’an dan Parade Tilawah yang dimotori oleh Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Tengah sebagai badan otonom (Banom) NU yang mewadahi para ahli Al-Qur’an.

Namun demikian, kata dia, rangkaian kegiatan hari santri telah dimulai kemarin di Jepara dengan kegiatan Pekan Madaris yang dilaksanakan oleh Rabithah Masjid Islamiyah (RMI), sebuah lembaga yang menjadi asosiasi pesantren NU, dan beberapa kegiatan lain yang telah terlaksana pada beberapa hari sebelumnya.

Audit Pesantren Istilah Tak Tepat

Gus Rozin juga menanggapi wacana tentang audit di pesantren. Menurut dia, pengunaan kata audit tidak tepat karena banyak pesantren yang dibangun secara mandiri dari swadaya masyarakat, “Karena kan yang namanya audit itu kan dibiayai oleh negara, diaudit oleh negara. Nah pembangunan pesantren kan tidak semuanya dibiayai oleh negara. Jadi banyak yang dibangun sendiri-sendiri, jadi assesmen itu jauh lebih penting,” tegasnya.

Ia mengaku menyambut baik upaya assesmen yang dilakukan pemerintah terhadap lembaga pendidikan pesantren, baik melalui kementerian Pekerjaan Umum (PU) atau dari Menteri Koordinator (Menko) Pemerdayaan Masyarakat (PM). Namun demikian, ia berharap tidak hanya asesmen tanpa tindak lanjut yang jelas.

“Nah, monggo, silakan. Tetapi, tentu saja, satu harapannya, tidak berhenti hanya pada asesmen saja. Pasca asesmen bagaimana? Itu harus komplit,” ujarnya.

Menurut dia, musibah yang terjadi di Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Jawa Timur merupakan momentum bagi Nahdlatul Ulama untuk memperbaiki infrastruktur pesantren secara menyeluruh dan tuntas.

“Jangan sampai ini hanya menjadi satu respon saja, dua bulan, tiga bulan kemudian sudah lupa. Nah, ini yang kita tidak harapkan,” tegasnya.

Ia juga tidak setuju dengan adanya asesmen menjadi penghambat perkembangan pesantren dengan larangan membangun gedung, “Nah, juga kita tidak harapkan sampai asesmen kemudian menurut pemerintah, pesantren A berhenti membangun, pesantren B berhenti membangun, itu kita tidak setuju. Karena pesantren itu pembangunannya dari bawah swadaya masyarakat, kan begitu,” tandasnya.

“Nah, saya kira kalau kemudian berani melarang, ya maka kemudian juga harus berani menanggung konsekuensinya, membangunkan pesantren. Nah, maka saya kira pendampingan kepada pesantren yang sedang membangun itu jauh lebih penting,” ucapnya.

Dirinya berpendapat pemerintah bisa melibatkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)alam pendampingan pembuatan gedung, ‘Jadi begini, salah satu upaya misalnya pemerintah itu bisa menugaskan PTN-PTN yang mempunyai fakultas tekniknya, arsitektur, teknik sipil, itu untuk melakukan pendampingan. Dan itu enggak mahal, tidak memberatkan APBN,” jelasnya.

Di lain sisi, rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati ini menilai kampus yang mendampingi pembangunan gedung pesantren juga diuntungkan karena bisa menjalankan salah satu tri darma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat, “Saya kira itu bisa menyelesaikan masalah dengan cukup pendek dan tidak menjadi tupan pemerintah. Pendampingan itu begitu, sangat penting,” tegasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat