Arsip Tag: Komitmen

Komitmen Ramah Lansia, Bupati Sumedang Tegaskan Pembangunan Harus Perhatikan Kelompok Lanjut

Lingkar.co – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumedang menjadi daerah ramah lansia. Untuk itu, ia tekankan pembangunan ke depan harus memberikan perhatian penuh kepada kelompok lanjut usia (Lansia) agar tetap sehat, bahagia, dan bermartabat.

“Kami ingin Sumedang menjadi kabupaten yang ramah Lansia. Negara harus hadir, memastikan para lansia hidup sehat, bahagia, dan memiliki ruang untuk terus beraktivitas serta berkontribusi,” ujarnya saat sambutan Halal Bihalal dan pelantikan Pengurus Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Kabupaten Sumedang di Gedung Negara Sumedang, Jawa Barat, Senin (6/4/2026).

Ia menilai, pendekatan pembangunan tidak hanya berorientasi pada usia produktif, tetapi juga harus menjangkau seluruh siklus kehidupan manusia, mulai dari lahir hingga lanjut usia.

“Perhatian kepada masyarakat itu harus minal mahdi ilal lahdi, dari buaian hingga liang lahat. Termasuk memastikan lansia mendapatkan fasilitas, pelayanan, dan perhatian yang layak,” tegasnya.

Bupati juga menekankan bahwa lansia bukan beban pembangunan, melainkan aset penting yang menyimpan pengalaman dan kebijaksanaan.

“Lansia adalah mata air kebijaksanaan, penjaga nilai, dan sumber inspirasi. Kita harus menghormati, melibatkan, dan memberdayakan mereka dalam pembangunan,” katanya.

Sementara, Ketua LLI Kabupaten Sumedang Zaenal Alimin menyatakan, kesiapan organisasinya untuk mendukung penuh visi Sumedang ramah Lansia.

“LLI hadir sebagai wadah untuk mengorganisir potensi lansia agar tetap aktif dan bermanfaat. Kami mengajak para lansia untuk mengisi masa usia dengan kegiatan positif dan amal kebaikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan dasar hukum Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998, keberadaan LLI menjadi bagian penting dalam mendorong kesejahteraan lansia secara terstruktur dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua LLI Provinsi Jawa Barat Nu’man Abdul Hakim menegaskan, lansia harus dipandang sebagai kekuatan, bukan kelompok yang terpinggirkan.

“Cara pandang terhadap lansia harus berubah. Mereka adalah bagian penting dari pembangunan. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka kualitas hidup lansia harus menjadi prioritas,” jelasnya.

Ia mengapresiasi langkah Sumedang yang mulai menempatkan isu lansia sebagai bagian strategis dalam kebijakan daerah. (*)

Terkenang Ibunda, Zakiyudidin Tegaskan Komitmen Pemkot Medan Benahi Fasilitas dan Layanan Rumah Sakit

Lingkar.co – Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Medan untuk membenahi fasilitas dan pelayanan rumah sakit milik pemerintah agar semakin optimal melayani masyarakat, termasuk bagi pasien penyakit ginjal.

Zakiyuddin pun terkenang almarhum ibundanya. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dengan layanan cuci darah karena ibunya pernah menjalani perawatan itu di masa ketika jaminan kesehatan belum sebaik saat ini.

“Kalau melihat ruang cuci darah ini, saya teringat almarhum ibu saya. Waktu itu belum ada BPJS, biayanya sangat besar. Sekarang kita bersyukur pemerintah hadir melalui BPJS sehingga masyarakat sangat terbantu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan kenangan tersebut saat menghadiri Peringatan Hari Ginjal Sedunia yang digelar di Instalasi Hemodialisa RSUD Dr. Pirngadi Medan, Sumatra Utara, Sabtu (4/4/2026).

Ia menyebutkan, saat ini Instalasi Hemodialisa RSUD Dr. Pirngadi telah didukung sekitar 40 mesin yang mampu melayani hingga 80 pasien per hari. Menurutnya, kapasitas tersebut sangat membantu, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.

Zakiyuddin menilai fasilitas yang ada masih perlu ditingkatkan. Pemkot Medan, katanya, telah menyiapkan rencana pengembangan RSUD Dr. Pirngadi secara menyeluruh, termasuk pembangunan gedung baru.

“Insya Allah dalam dua tahun ini Rumah Sakit Pirngadi akan dibangun dan akan berbeda. Akan ada gedung tujuh lantai dengan fasilitas parkir dua lantai. Kita ingin rumah sakit ini benar-benar bangkit,” katanya.

Selain pembangunan fisik, ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan sebagai prioritas utama. Menurutnya, pelayanan yang humanis menjadi kunci utama dalam proses penyembuhan pasien.

“Anggap pasien itu keluarga kita sendiri. Kalau kita sambut dengan baik, itu sudah separuh dari kesembuhan. Tapi kalau datang sudah disambut dengan wajah masam, itu justru menambah sakit,” tegasnya.

Zakiyuddin juga menyoroti masih tingginya kebutuhan layanan kesehatan di Kota Medan. Ia mengungkapkan, permintaan kamar rawat inap masih tinggi, bahkan kerap menerima langsung permintaan bantuan dari masyarakat.

Karena itu, Pemkot Medan akan menambah kapasitas tempat tidur, termasuk untuk pasien BPJS. Saat ini, RSUD Dr. Pirngadi baru memiliki sekitar 130 tempat tidur yang diperuntukkan bagi pasien BPJS.

Tak hanya itu, ia juga memastikan Pemkot Medan juga terus meningkatkan fasilitas penunjang, seperti kehadiran alat medis baru, termasuk CT Scan dan layanan laboratorium.

Zakiyuddin turut mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menjaga kebersihan rumah sakit agar kepercayaan masyarakat semakin meningkat.

“Bangunan boleh bagus, alat boleh canggih, tapi kalau pelayanan tidak baik, itu tidak ada artinya. Jadi kita benahi dulu pelayanannya,” ujarnya di hadapan Plt. Direktur Utama RSUD Dr. Pirngadi Medan Mardohar Tambunan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini serta memanfaatkan program Universal Health Coverage (UHC) yang memudahkan masyarakat berobat cukup dengan menggunakan KTP.

“Sekarang dengan KTP saja masyarakat sudah bisa berobat. Ini harus kita syukuri. Harapan kita ke depan, layanan kesehatan bisa semakin baik dan menjangkau seluruh masyarakat,” pungkasnya. (*)

Komitmen Jaga Jatidiri Daerah, Bupati Sumedang Tekankan Pentingnya Pelestarian Budaya

Lingkar.co – Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan komitmen menjaga jati diri daerah. Untuk itu ia menekankan pentingnya menggali dan melestarikan budaya sebagai fondasi karakter masyarakat Sumedang.

Menurut Dony, budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi hidup yang harus terus dirawat dan dikembangkan.

“Kami harus terus menggali budaya baru tanpa melupakan budaya yang sudah ada. Melestarikan budaya adalah bagian dari menjaga identitas dan jati diri sebagai masyarakat Sumedang,” ujarnya.

Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri Ekosistem Budaya Kasumedangan Vol 18 yang digelar di Geoteater Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).

Bupati juga mengapresiasi berbagai upaya pelestarian yang dilakukan masyarakat, termasuk melalui latihan berbagai tampilan seni budaya.

“Latihan dan pembiasaan seperti ini sangat penting agar budaya tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman,” tuturnya.

Ia bilang, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam memperkuat ekosistem budaya, sekaligus menjadikan budaya sebagai ruh pembangunan daerah yang berkarakter dan berkelanjutan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Camat dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga kegiatan ini terselenggara dengan baik. Semoga ke depan semakin kompak dan terus menghadirkan inovasi dalam pelestarian budaya,” katanya. (*)

Apresiasi Seniman, Wahyu Nyatakan Komitmen Pemkot Malang Lestarikan Warisan Budaya

Lingkar.co – Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Malang untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Jawa Timur dalam Kegiatan Apresiasi Seniman/Pelaku Budaya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan Penyerahan Tunjangan Kehormatan Juru Pelihara Cagar Budaya, serta Penyerahan Sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) di Taman Krida Budaya Jawa Timur (TKBJ) Kota Malang, Minggu (22/2/2025).

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, secara simbolis menyerahkan apresiasi kepada para seniman dan pelaku budaya, serta tunjangan kehormatan bagi para juru pelihara cagar budaya. Selain itu, Gubernur Jatim secara simbolis juga menyerahkan 46 Sertifikat WBTbI bagi 22 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Dalam sambutan selamat datangnya, Wali Kota Malang menegaskan bahwa budaya di Kota Malang tidak hanya dianggap sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas yang hidup dan terus berkembang. “Budaya yang ada di Kota Malang ini tidak hanya warisan masa lalu.

Selain tradisi yang dijalankan para seniman, kami juga memiliki cagar budaya yang terus kami jaga. Kota Malang tidak hanya dikenal karena wisata buatannya, tetapi juga karena heritage-nya,” paparnya.

Wahyu menambahkan, komitmen menjaga cagar budaya sejalan dengan tagline ‘Menolak Lupa’ yang digagasnya. Menurutnya, dengan menolak lupa, seluruh unsur pemerintah dan masyarakat Kota Malang diajak untuk menjaga dan merawat cagar budaya agar tetap lestari.

“Menolak lupa berarti sama dengan kita menjaga cagar-cagar budaya yang ada di Kota Malang. Alhamdulillah, ini juga berdampak pada meningkatnya kunjungan wisata. Pada momentum Nataru kemarin, Kota Malang menjadi salah satu destinasi wisata terbanyak setelah Bali. Ini berkat komitmen kita menjaga heritage yang menarik bagi wisatawan,” ungkapnya.

Pemkot Malang juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya penambahan tunjangan kehormatan bagi juru pelihara cagar budaya, yang dinilai sebagai bentuk perhatian nyata terhadap para penjaga warisan sejarah.

Tak hanya menjaga bangunan dan situs bersejarah, Kota Malang juga menaruh perhatian besar pada regenerasi pelaku budaya. Wali Kota pun menyampaikan bahwa geliat budaya di Kota Malang kini telah merambah generasi muda bahkan anak usia dini.

“Seniman dan pelaku budaya di Kota Malang tidak hanya mereka yang sudah senior. Anak-anak TK, usia lima tahun, sudah bisa bermain dan membuat topeng. Ini luar biasa. Kebudayaan di Kota Malang tetap dilestarikan, tidak tergerus budaya Barat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wahyu mengungkapkan bahwa fasilitas seperti Taman Krida Budaya menjadi ruang tumbuh dan berprosesnya para seniman, sekaligus wadah ekspresi budaya yang terus bertransformasi menjadi kekuatan pembangunan daerah.

Pada kesempatan itu, Wali Kota juga mengajak seluruh tamu undangan untuk menikmati wajah heritage Kota Malang, bernostalgia di kawasan bersejarah, serta merasakan atmosfer kota yang memadukan nilai sejarah dan unsur kekinian.

Pemerintah Kota Malang . “Kota Malang siap menjadi bagian dari jejaring destinasi budaya Jawa Timur, saling terhubung, saling mendukung, dan saling menguatkan. Semoga kehadiran Bapak/Ibu di Kota Malang tidak hanya membawa kesan baik, tetapi juga memperkuat komitmen bersama memajukan kebudayaan dan pariwisata Jawa Timur secara berkelanjutan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan apresiasi tinggi kepada para pelaku budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya Indonesia.

“Yang saya hormati, panjenengan yang menjadi bagian dari penguat Warisan Budaya Takbenda, mereka yang menjaga budayanya, mereka yang menjaga cagar budayanya, semua membangun sinergi dan kolaborasi yang baik dan indah,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah juga menginstruksikann wali kota dan bupati untuk menginventarisir seluruh Warisan Budaya Tak Benda yang ada di daerah masing-masing. “Warisan budaya harus terus tumbuh, sehingga dapat memberikan manfaat sosial serta ekonomi bagi masyarakat. Budaya menjadi identitas sekaligus kekuatan pembangunan Jawa Timur,” tegasnya.

Khofifah menjelaskan bahwa Sertifikat WBTbI yang diserahkan merupakan bentuk apresiasi dari Kementerian Kebudayaan RI. “Masing-masing kita gali bersama, setelah itu kita kuatkan manuskripnya. Kalau manuskrip itu dibuat digital, betapa kayanya budaya Jawa Timur, dan itu akan menjadi referensi budaya Indonesia dan dunia,” tutupnya. (*)

Buka Rumah Dinas, Wali Kota Robby Komitmen Bawa Potensi Seni Salatiga Hingga Kancah Internasional

Lingkar.co – Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, menegaskan dirinya berkomitmen membawa potensi seni dan budaya Kota Salatiga hingga ke kancah internasional. Ia yakin perkembangan sanggar seni merupakan potensi bagi Salatiga untuk mendunia.

“Saya yakin dengan kekayaan sanggar seni dan banyaknya sesepuh budayawan di Salatiga. Jika kita bersinergi, Salatiga bisa maju bahkan mendunia lewat budaya. Kita harus menciptakan inovasi agar seni budaya menjadi daya tarik wisata baik lokal, nasional, maupun internasional,” ujar Robby dalam acara Rembug Budaya yang digelar di Ruang Kaloka Lantai 4 Gedung Setda Kota Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (13/1/2026).

Didampingi Ketua TP PKK Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, Wali Kota berdialog langsung dengan para sesepuh, budayawan, pemilik sanggar, serta komunitas seni se-Kota Salatiga untuk merumuskan arah pengembangan budaya ke depan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua TP PKK Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, juga menekankan pentingnya filosofi ‘Seni Gotong Royong’. Menurutnya, seni adalah aset berharga yang tidak boleh dibiarkan ‘tidur’.

“Melalui 10 Program Pokok PKK yang di dalamnya mencakup aspek seni, kami ingin berkolaborasi agar semua pihak berdaya dan berdampak. Kami berencana menggandeng UMKM dan pegiat seni untuk menghidupkan halaman Rumah Dinas Wali Kota setiap Sabtu malam,” ujar Retno.

Dalam sesi dialog, salah satu pegiat seni, Yanto, mengusulkan pemanfaatan ruang publik seperti kanopi Pasar Raya 2 sebagai panggung seni yang terintegrasi dengan UMKM.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota menyampaikan wacana pembangunan Gedung Seni. Namun sebagai langkah cepat, ia menegaskan akan membuka pintu Rumah Dinas Wali Kota selebar-lebarnya bagi para seniman.

“Saya ingin Rumah Dinas bukan sekadar rumah jabatan, tetapi benar-benar milik rakyat. Ke depan, kita kemas acaranya santai gelar kloso agar interaksi antara warga, seniman, dan pemerintah lebih dekat. Masyarakat jangan sungkan datang ke Rumah Dinas,” pungkasnya. (*)

Wagub Banten Apresiasi NU Konsisten Jaga Keutuhan NKRI

Lingkar.co – Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah, menghadiri Istigasah dan Doa Bersama dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-103 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Banten, Jalan Raya Jakarta, Kemang, Kota Serang, Kamis (8/1/2026). Istigasah dipimpin oleh KH. Ahmad Rafiudin bin Abuya Munfasir.

​Pada kesempatan itu, Dimyati menyampaikan apresiasi yang tinggi atas peran strategis NU dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menilai, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU senantiasa konsisten memegang teguh nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945.

​”NU adalah organisasi terbesar di Indonesia yang keberadaannya harus kita syukuri. Kontribusi NU sangat luar biasa, baik saat perjuangan merebut kemerdekaan maupun saat ini dalam mengisi kemerdekaan melalui berbagai bidang pembangunan,” ungkap Dimyati.

​Lebih lanjut, Dimyati menekankan pentingnya sinergisitas antara ulama dan umara (pemerintah) dalam membangun daerah.

Ia berharap PWNU Banten dapat terus memberikan masukan, pandangan, serta pertimbangan konstruktif terhadap kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

​”PWNU perlu melakukan kajian-kajian terhadap apa yang dilakukan oleh Pemprov Banten. Sampaikan kepada kami agar terjadi sinkronisasi yang baik antara program umara dan aspirasi ulama,” tambahnya.

​Dimyati juga mendorong PWNU Banten untuk menyusun perencanaan yang matang, meliputi rencana strategis jangka pendek, menengah, dan panjang.

Hal ini diperlukan agar setiap langkah organisasi dapat berjalan secara terarah, terukur, dan menghargai efisiensi waktu.

​”Melalui rencana strategis yang jelas, kita dapat memastikan bahwa setiap program kerja memberikan dampak positif bagi umat dan masyarakat Banten,” ujar Dimyati.

​Menutup sambutannya, Dimyati berharap momentum Harlah ke-103 ini dapat memperkuat persatuan serta mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan para ulama.

​”Saya merasa senang dapat hadir di tengah keluarga besar NU. Semoga NU terus jaya, senantiasa memberikan inspirasi, serta menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkasnya.

​Pada kesempatan tersebut, Wagub Dimyati turut menyerahkan bantuan senilai Rp10 juta yang bersumber dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Pemprov Banten.

Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada PWNU Provinsi Banten dan diterima oleh KH Hafis Gunawan. (*)

UMK Malang Naik di Semua Sektor, Bupati Pesan; Jadikan Motivasi Kerja Lebih Baik dan Komitmen

Lingkar.co – Upah Minimum Kota (UMK) Malang tahun 2026 naik menjadi Rp3.736.101,00. Penetapan besaran UMK ini berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 100.3.3.1/937/013/2025 tanggal 24 Desember 2025 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun 2026

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyampaikan hal itu dalam Sosialisasi Upah Minimum Kota Malang Tahun 2026 yang digelar oleh Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker PMPTSP) Kota Malang di Hotel Savana, Senin (29/12/2025).

Sosialisasi ini diikuti peserta dari unsur Dewan Pengupahan Kota Malang yang terdiri dari perwakilan pengusaha, asosiasi usaha, serikat pekerja/buruh, akademisi, serta pemangku kepentingan ketenagakerjaan lainnya.

Wahyu menjelaskan bahwa besaran UMK Malang ditetapkan melalui mekanisme yang transparan dan partisipatif. Prosesnya melibatkan Dewan Pengupahan yang bersifat tripartit, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi ekonomi, inflasi, hingga kebutuhan hidup layak.

“Sebelum ditetapkan, dewan pengupahan yang terdiri dari unsur pekerja, pengusaha, dan akademisi telah duduk bersama dan menyepakati angka kenaikan sesuai dengan rentang yang ditetapkan pemerintah pusat,” jelasnya.

Kenaikan UMK ini disebutkannya menjadi wujud kehadiran pemerintah dalam menjembatani kepentingan pekerja dan pengusaha. Di satu sisi, kebijakan ini memberikan kepastian dan perlindungan bagi pekerja, sementara di sisi lain tetap memperhatikan keberlangsungan dunia usaha.

“Dengan kenaikan ini, pekerja merasa diperhatikan oleh pemerintah. Sementara bagi pengusaha, jangan melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai investasi jangka panjang,” tuturnya.

Wali Kota juga berpesan untuk menyikapi kenaikan ini sebagai motivasi untuk bekerja dengan baik dan berkomitmen terhadap perusahaan, maupun untuk meningkatkan kualitas hidup. Ia meyakini bahwa hubungan industrial yang harmonis akan berdampak langsung pada kinerja perusahaan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ketika pekerja diberi kepercayaan dan kesejahteraannya diperhatikan, maka produktivitas akan meningkat dan hasilnya juga akan dirasakan oleh perusahaan,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Disnaker PMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, mengungkapkan bahwa dalam proses penetapan UMK memang terdapat dinamika perbedaan pandangan antara pengusaha dan serikat pekerja.

“Alhamdulillah, baru tahun ini rekor, karena di tahun-tahun sebelumnya pasti ada tiga usulan, yaitu yang paling rendah, yang sedang, dan yang paling tinggi. Sekarang ini semua sepakat pada satu perhitungan di angka efisien 0,7, dengan kenaikan sekitar Rp200.000,” jelas Arif.

Ia melanjutkan, kesepakatan satu angka ini menunjukkan kematangan dialog sosial di Kota Malang serta komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlangsungan usaha. Pemkot Malang pun berperan sebagai fasilitator agar keputusan yang diambil tetap berpijak pada regulasi dan kondisi riil perekonomian daerah.

Selain itu, Arif juga menegaskan bahwa ketentuan UMK Malang Tahun 2026 berlaku untuk seluruh sektor usaha tanpa membedakan skala, baik UMKM maupun perusahaan besar.

Ia menjelaskan bahwa UMK Malang yang telah ditetapkan merupakan batas upah minimum yang wajib dipenuhi dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan upah pekerja yang sebelumnya telah menerima gaji di atas ketentuan tersebut.

“UMK ini kan upah minimal. Siapapun yang bekerja di Kota Malang, baik di UMKM maupun perusahaan besar, gajinya minimal Rp3,7 juta, yang sudah di atas itu jangan diturunkan,” pungkasnya. (*)

IKA PMII Jateng Serius Dorong Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Batang Jadi Contoh Pertumbuhan Ekonomi

Lingkar.co – Penanggulangan kemiskinan ekstrem menjadi perhatian serius Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jawa Tengah.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengentasan Kemiskinan Ekstrem yang digelar di Pendopo Kabupaten Batang, Jumat (26/12/2025).

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kabupaten Batang saat ini menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang positif dan menjadi salah satu daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi terbaik di Pulau Jawa.

“Batang termasuk salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi paling baik di Jawa, bahkan masuk 10 besar nasional. Target pertumbuhan 8 persen pada 2025 ini insya Allah tercapai, dan gini rasio kita juga terus menurun. Artinya ketimpangan dan kemiskinan semakin berkurang,” ujar Faiz.

Faiz menegaskan bahwa peran organisasi kemasyarakatan seperti IKA PMII sangat penting dalam proses pembangunan, termasuk dalam penguatan sumber daya manusia dan jejaring sosial.

“PMII adalah bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kalau tidak ada PMII, saya tidak akan menjadi Bupati Batang hari ini. PMII memberi pembentukan karakter, soft skill, hard skill, nilai, dan jejaring yang luar biasa,” katanya.

Ketua Panitia FGD, Abdul Hamid, menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran pengurus pusat dan daerah IKA PMII serta Pemerintah Kabupaten Batang dalam kegiatan tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Pak Bupati yang telah memfasilitasi kegiatan ini di tengah padatnya agenda akhir tahun. Kehadiran Ketua Umum PB IKA PMII juga menjadi kehormatan bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. Musahadi, menjelaskan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi tantangan besar di Jawa Tengah sehingga perlu penanganan bersama secara sistematis dan berkelanjutan.

“Kami telah mencanangkan program pendampingan desa miskin, penguatan amil zakat IKA PMII, peningkatan kompetensi bahasa asing kader, hingga program penulisan 100 tokoh pesantren dan kiai Jawa Tengah. Semua ini adalah bagian dari ikhtiar sosial kami,” jelas Musahadi.

Ketua PB IKA PMII, Fathan Subchi, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi dan keberpihakan nyata kepada masyarakat miskin.

“Kita tidak boleh lupa akar perjuangan. Konsolidasi penting agar kader yang sudah ‘merdeka’ tetap punya komitmen sosial. Batang menjadi contoh bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seiring dengan pengurangan kemiskinan,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi kinerja Pemerintah Kabupaten Batang yang dinilai berhasil menarik investasi strategis, mulai dari industri pangan, manufaktur, hingga pengembangan energi terbarukan seperti PLTS.

FGD ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan program kolaboratif antara pemerintah daerah dan IKA PMII dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem, sekaligus memperkuat peran alumni PMII dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Jawa Tengah. (*)

Penulis: Husni Muso

Kembali Nahkodai PBSI Cilacap, Syamsul Komitmen Perbaiki Kekurangan Periode Sebelumnya

Lingkar.co – Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, secara resmi terpilih kembali untuk memimpin Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Cilacap masa bakti 2025–2029. Keputusan ini ditetapkan dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) PBSI Cilacap yang digelar di Pendopo Wijayakusuma Cakti, Rabu (24/12/2025).

Dalam laporan Ketua Penyelenggara Muskab, Paimin menjelaskan bahwa agenda utama pertemuan ini adalah menetapkan tata tertib, mengevaluasi Laporan Pertanggungjawaban periode 2021–2025, menyusun program kerja baru, serta memilih pengurus untuk periode empat tahun ke depan.

“Peserta acara ini terdiri dari Pengprov PBSI Jawa Tengah, Disparpora, KONI, serta seluruh utusan klub anggota PBSI se-Kabupaten Cilacap,” katanya.

Dukungan terhadap juga disampaikan oleh Wakil Ketua KONI Cilacap, Sutikno yang berharap Muskab ini menjadi pijakan bagi PBSI untuk melahirkan lebih banyak prestasi.

“Silakan laksanakan Muskab seperti biasa, semoga hasil Muskab hari ini bisa membawa PBSI Kabupaten Cilacap ke arah yang lebih baik dan menghasilkan lebih banyak lagi prestasi,” ujarnya mewakili Ketua KONI Kabupaten Cilacap.

Apresiasi tinggi juga datang dari Pengprov PBSI Jawa Tengah melalui Koordinator Wilayah Banyumas, Taufik Wijatmoko.

Taufik menyebut Syamsul Auliya Rachman sebagai sosok istimewa yang mungkin menjadi satu-satunya Bupati di Indonesia yang menjabat sebagai Ketua PBSI saat ini. Taufik juga menilai pembinaan di Cilacap sangat berhasil, terutama dalam mencetak atlet usia dini yang mampu menembus klub-klub raksasa nasional seperti PB Djarum.

“Cilacap ini luar biasa karena peminat bulutangkis di sini banyak sekali, bahkan ada kepengurusan hingga tingkat kecamatan. Pembinaan itu berhasil apabila pemain-pemainnya diambil oleh klub-klub besar, dan itu sudah menjadi tanda pembinaan di Cilacap sukses,” kata Taufik.

Sementara dalam sambutannya, Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman yang juga merupakan Ketua PBSI Kabupaten Cilacap menyampaikan rasa terima kasih dan komitmennya untuk memperbaiki kekurangan di periode sebelumnya.

Baginya, bulutangkis adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya sejak kecil. Ia pun menegaskan akan terus melanjutkan inovasi kepengurusan di tingkat kecamatan untuk menjangkau potensi atlet di pelosok daerah.

“Kami berinovasi membentuk Pengurus Kecamatan dengan harapan bisa menjadi perpanjangan tangan kami untuk membimbing dan memfasilitasi klub-klub di wilayah. Saya menyadari memiliki keterbatasan waktu, sehingga perlu kebersamaan untuk membesarkan PBSI. Kami tidak sempurna, tetapi kami senantiasa akan terus memperbaiki diri demi kemajuan bulutangkis Cilacap,” pungkasnya. (*)

Komitmen Wujudkan Program Satu Desa Satu Sarjana, Pemkab dan Baznas Kendal Gandeng UIN Walisongo

KENDAL, Satu Sarjana,

Lingkar.co – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari terus berupaya menegaskan komitmen dirinya untuk mewujudkan program Satu Desa Satu Sarjana dengan berkolaborasi dengan Baznas dan sejumlah universitas. Salah satunya Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.

Program Satu Desa Satu Sarjana merupakan salah satu upaya dari Bupati Kendal, dalam mewujudkan Kendal Cerdas sebagai salah satu visi misi Pemerintahan Kabupaten Kendal dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berpendidikan dan berdaya saing.

“Untuk medukung program Kendal Cerdas yaitu untuk meningkatkan SDM melalui program Satu Desa Satu Sarjana. Dan kita berkolaborasi dengan Baznas memberikan beasiswa kepada 10 orang untuk belajar di UIN Walisongo Semarang,” kata Bupati Kendal usai menyaksikan penandatangan kerjasama antara Baznas Kendal dan UIN Walisongo Semarang di ruang Ngesti Widhi Pemkab Kendal, Rabu (17/12/2025) sore.

Disampaikan Bupati yang akrab disapa Mbak Tika, selain dengan Baznas dan UIN Walisongo pihaknya juga menggandeng Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) yang berada di Kawasan Industri Kendal.

“Karena untuk mewujudkan program ini kita tidak bisa hanya dibiayai oleh APBD saja, tetapi kita harus melakukan inovasi-inovasi,” ungkapnya

Ia berharap dengan adanya kolaborasi dan sinergitas dengan berbagai pihak ini program Satu Desa Satu Sarjana dapat mewujudkan masyarakat Kendal yang cerdas dan berdaya saing.

“Termasuk juga ada kelas khusus yaitu dua kelas yang kita wujudkan di Politeknik Polifurneka. Jadi tahun ini berarti 50 anak di Polifurneka dan 10 anak di UIN Walisongo. Harapan kita bisa Satu Desa Satu Sarjana. Dan kita prioritaskan bagi anak yang kurang mampu,” jelas Bupati Tika.

Ketua Baznas Kendal, Syamsul Huda menyampaikan program beasiswa dari Baznas ini diprioritaskan bagi para mustahik yang berprestasi. Pihaknya juga menerapkan syarat agar mahasiswa mendapatkan IPK minimal 3,5.

“Kita akan terus melakukan kontrol terhadap prestasi mahasiswa tersebut untuk memastikan sudah tepat atau belum beasiswa itu diberikan kepada mereka. Harapannya mereka serius belajar, lulus tepat waktu dan berprestasi,” harapnya,” ungkap Syamsul Huda.

Sementara salah seorang mahasiswa UIN Walisongo yang mendapatkan program beasiswa, Rafi Maulana warga Tamanrejo, Kecamatan Sukorejo mengaku bersyukur bisa mengikuti program Satu Desa Satu Sarjana dari Baznas Kendal.

“Saya sangat bersyukur bisa melanjutkan kuliah di UIN Walisongo melalui program beasiswa Baznas. Kalau dengan biaya sendiri rasanya tidak mungkin karena keterbatasan ekonomi. Saya akan manfaatkan sebaik mungkin, fokus kuliah, dan disiplin,” ujar Rafi. (*)

Penulis: Yoedhi W