Iklan

ESDM: Harga Pertamax Masih Ikuti Pasar Global, Belum Bisa Pastikan Turun Agustus

Inti berita

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Wamen ESDM Yuliot Tanjung menegaskan harga Bahan Bakar Minyak BBM jenis non subsidi seperti Pertamax masih…

ESDM: Harga Pertamax Masih Ikuti Pasar Global, Belum Bisa Pastikan Turun Agustus
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM), Yuliot Tanjung. (dok Istimewa)

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Wamen ESDM Yuliot Tanjung menegaskan harga Bahan Bakar Minyak BBM jenis non subsidi seperti Pertamax masih mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Karena itu ia belum bisa memastikan apakah harga Pertamax akan mengalami penurunan dalam waktu dekat.

Yuliot menjelaskan penetapan harga Pertamax dipengaruhi langsung oleh kondisi pasar global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat faktor geopolitik. Menurutnya, alih-alih turun, harga minyak di pasar internasional justru masih menunjukkan tren kenaikan.

"Untuk harga Pertamax ini kan kita mengikuti harga pasar, harga pasar ini kan kalau kita lihat kondisi secara geopolitik, jadi kan juga uncertainty-nya cukup tinggi. Jadi justru di pasar internasional kan harga naik," ujarnya saat ditemui di Jakarta, dikutip Rabu (29/7/2026).

Lebih lanjut Yuliot memaparkan mekanisme perhitungan harga Pertamax. Harga jual ke konsumen nantinya akan dihitung berdasarkan biaya pokok penyediaan BPP Pertamina ditambah margin keuntungan yang wajar. Dengan skema itu, naik-turunnya harga minyak mentah dunia akan langsung berdampak ke harga di SPBU.

Meski begitu, Kementerian ESDM memastikan akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan mengevaluasi harga keekonomian BBM secara berkala. Apabila rata-rata harga pasar mengalami penurunan dalam periode tertentu, maka Pertamina memiliki peluang untuk melakukan penyesuaian harga.

"Jadi nanti kami dari ESDM itu nanti akan mencoba melihat ya kira-kira harga yang ini keekonomian ya kira-kira bagaimana ya termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," ujarnya.

Harga Minyak Dunia Mulai Koreksi

Tren harga minyak mentah dunia pada Selasa 28/7/2026 terpantau mulai melemah. Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.05 WIB, harga Brent berada di US$87,86 per barel, turun 0,57% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$88,36 per barel. Sementara West Texas Intermediate WTI turun 0,77% ke US$81,97 per barel dari US$82,61 per barel.

Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi harga minyak. Sebelumnya Brent sempat ditutup di level US$96,78 per barel pada 24 Juli. Artinya dalam dua hari perdagangan terakhir, Brent telah kehilangan hampir 9%, sementara WTI turun lebih dari 8%.

Tekanan terhadap harga datang setelah pasar menilai peluang penyelesaian diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran semakin terbuka. Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan Washington sedang menjalankan pembicaraan yang "berjalan baik" dengan Teheran. Ia tetap mengingatkan serangan militer dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal, sedangkan Iran juga menyampaikan peringatan serupa mengenai kemungkinan aksi balasan.

Harapan terhadap jalur diplomasi ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah yang sempat menjadi pendorong utama reli harga dalam beberapa pekan terakhir.

Risiko Geopolitik Belum Hilang

Meski harga mulai terkoreksi, risiko di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi di Yaman masih dipandang berpotensi mengganggu pelayaran di Bab el-Mandeb, jalur strategis yang terhubung dengan Laut Merah.

Ancaman tersebut muncul di tengah kondisi arus pelayaran di Selat Hormuz yang masih jauh dari normal. Kedua jalur ini merupakan pintu utama distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi kembali mendorong harga naik.

Dengan dinamika tersebut, Kementerian ESDM dan Pertamina akan terus menghitung harga keekonomian BBM non subsidi setiap bulan. Penyesuaian harga Pertamax Cs pada Agustus nanti akan sangat tergantung pada rata-rata harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah sepanjang Juli 2026.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu