Upaya yang dilakukan Pemerintah
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menanggapi tingginya harga minyak dunia. Dirinya mengatakan, pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman di tengah dinamika geopolitik global.
"Alhamdulillah udah banyak langkah dari pemerintah yang sudah dilakukan kami juga melakukan komunikasi dengan Rusia dan ini pendekatan yang sangat luar biasa yang dilakukan oleh kepala negara (Presiden Prabowo Subianto)," kata Dyah saat berkunjung ke SPBE Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (14/9/2026).
Pendekatan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia agar berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dapat membuahkan hasil.

Dyah berharap berbagai upaya tersebut dapat menjaga pasokan energi tetap aman di tengah kondisi geopolitik yang berkembang saat ini.
"Kita berupaya agar pasokan dalam kondisi aman dan semoga bisa bertahan dalam kondisi geopolitik yang ada saat ini," ujarnya.
Dengan upaya berbagai langkah, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan energi nasional sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah dinamika geopolitik global.
"Dan pesan Pak Prabowo agar dapat mencari solusi yang selalu terbaik," kata Dyah.
Harga Minyak Dunia Beri Beban Kompensasi Subsidi BBM
Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto menyatakan kenaikan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel memberikan beban kompensasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) agar tak naik harga serta inflasi.
“Meskipun kenaikan harga minyak ini sifatnya temporer dan sangat bergantung dari tensi geopolitik AS-Israel vs (versus) Iran, namun tentu akan berdampak ke inflasi, beban kompensasi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) demi menjaga BBM bersubsidi tidak naik harga, serta inflasi,” ucapnya.
Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober menembus angka 100 dolar AS per barel per Kamis (10/9/2026).
Harga WTI untuk pengiriman Oktober sempat menyentuh level 100,88 dolar AS per barel, naik 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dari Rabu (9/9). Angka ini menandai level tertinggi untuk kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.
Menurut Eko, harga BBM bersubsidi yang dijamin tak naik sepanjang tahun ini memerlukan anggaran kompensasi subsidi komoditas tersebut, apalagi di tengah kenaikan harga minyak mentah global. Pemerintah terus melakukan berbagai upaya dan memperbaiki kebijakan demi menjaga stabilitas harga BBM.
"Beberapa upaya untuk memperbaiki kebijakan subsidi BBM, (yaitu) ke arah penerima yang sesuai menggambarkan bahwa subsidi BBM ini penting untuk terus diupayakan efisien agar tak membengkakkan APBN saat harga minyak melonjak,” ujar dia.
Terkait inflasi, juga dinilai berisiko terjadi kenaikan harga seiring industri dan sektor-sektor distribusi logistik untuk BBM nonsubsidi. Selain itu, bahan baku yang berasal dari minyak bumi turut berisiko kembali naik, seperti plastik.
“Soal potensi harga BBM, kalau nonsubsidi akan menyesuaikan harga pasar sehingga masih mungkin terjadi kenaikan-kenaikan berikutnya,” ungkap ekonom tersebut.