Iklan

Pushep Usul Harga B50 Dekati Solar Subsidi, Tak Jauh Beda dari BBM Lain

Inti berita

Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) mengusulkan agar harga biodiesel B50 tidak terpaut jauh dari harga solar bersubsidi.Direktur Eksekutif…

Pushep Usul Harga B50 Dekati Solar Subsidi, Tak Jauh Beda dari BBM Lain
Biosolar B50. (dok Istimewa)

Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) mengusulkan agar harga biodiesel B50 tidak terpaut jauh dari harga solar bersubsidi.

Direktur Eksekutif Pushep Bisman Bakhtiar menyebut langkah ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meringankan beban anggaran negara.

Menurut Bisman, formula harga ideal B50 berada di kisaran Rp9.000—Rp11.000 per liter. Angka tersebut dinilai rasional untuk menjembatani disparitas harga yang terlalu lebar antara solar subsidi dan nonsubsidi saat ini.

"Harga keekonomian B50, karena ini merupakan produk baru, maka posisinya harus jauh di bawah harga Pertadex dan di atas harga solar subsidi," ujar Bisman saat dihubungi, Sabtu (11/07/2026).

Saat ini harga Pertamina Dex (Pertadex) berada di angka Rp24.800 per liter, sementara Biosolar subsidi dijual Rp6.800 per liter.

Pushep menilai kesenjangan harga yang mencapai hampir empat kali lipat itu rawan memicu penyalahgunaan atau penyelewengan alokasi solar bersubsidi di lapangan.

Untuk itu, kehadiran B50 diharapkan menjadi opsi tengah yang kompetitif bagi konsumen tanpa membebani fiskal pemerintah secara berlebihan.

"Harus jauh di bawah Pertadex. Kenapa? Karena persepsi orang terhadap B50 itu juga mungkin masih ada keraguan. Kalau harga Biosolar B50 dapat bersaing, maka tentunya masyarakat akan lebih memilih menggunakan B50 untuk kendaraannya," tutur Bisman.

Dengan penetapan harga yang strategis, Pushep optimistis transisi energi ke B50 bisa berjalan mulus karena masyarakat mendapat insentif ekonomi untuk beralih ke bahan bakar lebih ramah lingkungan.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan formulasi perhitungan harga untuk implementasi mandatori B50.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiyani Dewi menjelaskan perhitungan harga B50 tidak jauh berbeda dengan varian biosolar yang sudah beredar.

Eniya menyebut masyarakat bisa memperkirakan sendiri harga B50 dengan memantau Harga Indeks Pasar (HIP) bahan bakar nabati yang dirilis setiap bulan.

"Kalau B50 kira-kira tinggal menghitung persentasenya saja. Sama seperti biosolar kemarin. Menghitungnya kan 50% saja, dikalikan 50%-nya," ujar Eniya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Senin (06/07/2026).

Eniya mencontohkan perhitungan berdasarkan HIP Juli 2026. Saat ini HIP biodiesel sekitar Rp14.000 per liter, tepatnya Rp14.562.

"Nah, biodiesel Rp14.000/liter, tepatnya Rp14.562. Berarti kalau 50%, ya taruhlah Rp7.000-an per liter. Rp7.000 sekian ditambah harga solar. Begitu saja menghitungnya," paparnya.

Ia memastikan program pencampuran B50 menyasar biosolar subsidi dan Dexlite, tidak untuk varian Pertamina Dex.

"Biosolar subsidi, Dexlite," tegasnya.

Dengan formulasi ini, harga akhir B50 di SPBU nantinya bergantung pada pergerakan HIP solar dunia yang dikombinasikan dengan 50% harga indeks pasar biodiesel domestik.

Sebagai informasi, Kementerian ESDM menetapkan HIP Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel Juli 2026 sebesar Rp14.562 per liter. Nilai itu turun Rp81 dibanding Juni 2026 yang sebesar Rp14.643 per liter.

Penetapan HIP dihitung dari rata-rata harga CPO PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara periode 25 Mei hingga 24 Juni 2026 sebesar Rp15.217 per kg, ditambah nilai konversi bahan baku US$85 per ton, faktor konversi 870 kg per meter kubik, rata-rata kurs tengah BI Rp17.895 per dolar AS, serta ongkos angkut.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu