Jabatan Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Rembang resmi berganti. Tisep Oven Harry mendapat tugas baru sebagai Kepala Rutan Kelas IIB Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Posisinya di Rembang kini ditempati Tomy Yulianto, yang sebelumnya menjabat Kepala Rutan Kelas IIB Bengkulu.
Serah terima jabatan sekaligus pisah sambut digelar di Aula Rutan Kelas IIB Rembang, Jumat (21/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Rembang Teguh Gunawarman yang mewakili Bupati Rembang Harno, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, perwakilan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah, Kepala UPT se-Karesidenan Pati, mitra kerja, Dharma Wanita, pegawai Rutan Rembang, serta tamu undangan.
Dalam kesempatan tersebut, Tisep menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran Rutan Rembang yang telah mendukung pelaksanaan tugas selama sekitar 10 bulan. Ia menilai berbagai program dan capaian selama kepemimpinannya merupakan hasil kerja bersama.
“Tidak akan cukup kalimat saya untuk menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pegawai Rutan Kelas IIB Rembang yang sudah mendukung dan bekerja sama atas pencapaian visi dan misi kami ketika pertama kali datang ke Rutan Kelas IIB Rembang,” ujarnya.
Menurut Tisep, keterbatasan sumber daya tidak seharusnya menjadi penghambat dalam meningkatkan pelayanan maupun pembinaan. Salah satu hal yang ditekankan selama masa tugasnya adalah memperkuat kerja sama dengan berbagai instansi.
Ia menyebut pembinaan warga binaan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Selain pembinaan di dalam rutan, warga binaan juga memerlukan dukungan dalam bidang keterampilan, kesehatan, administrasi kependudukan, hingga persiapan untuk kembali ke masyarakat.
“Senior-senior kami menyebutnya warga binaan itu harus dikeroyok. Membinanya harus keroyokan, karena kalau sendiri pasti ada celah-celah yang terlewat ataupun tidak tersentuh,” katanya.
Kolaborasi tersebut antara lain dilakukan bersama Dinas Tenaga Kerja melalui Balai Latihan Kerja, Dinas Perdagangan dan Koperasi, Dinas Kesehatan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta Dinas Pertanian dan Perkebunan. Sejumlah kerja sama diarahkan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan.
Sementara itu, Kepala Rutan Rembang yang baru, Tomy Yulianto, menyatakan siap melanjutkan program yang telah berjalan. Ia meminta dukungan dari pemerintah daerah, Forkopimda, aparat penegak hukum, serta jajaran UPT pemasyarakatan di wilayah Karesidenan Pati.
“Saya pribadi tidak mungkin bekerja sendiri, harus keroyokan. Oleh karena itu, mohon bantuan, mohon bimbingan, mohon arahan juga pada seluruh Forkopimda, seluruh UPT di sekitar Karesidenan Pati ini untuk bisa mengemban tugas dan amanah baru saya ini di Rutan Kelas IIB Rembang,” ujarnya.
Tomy menegaskan koordinasi dan kolaborasi akan menjadi bagian penting dalam menjalankan tugasnya, termasuk meneruskan program pembinaan warga binaan sesuai arahan pimpinan.
“Mulai dari hari ini, kita selalu berkolaborasi, berkoordinasi, dan memantapkan apa-apa yang menjadi nawacita dari pimpinan kita dan apa yang menjadi arahan dari pimpinan kita,” katanya.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Rembang Teguh Gunawarman mengapresiasi pengabdian Tisep selama bertugas di Rembang. Ia juga memastikan Pemkab Rembang siap melanjutkan kerja sama dengan Rutan di bawah kepemimpinan Tomy.
Menurut Teguh, salah satu bentuk sinergi yang telah dilakukan adalah pelatihan keterampilan bagi warga binaan. Saat masih menjabat Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, ia turut terlibat dalam pelaksanaan pelatihan otomotif di Rutan Rembang.
“Kami pernah memberikan pelatihan otomotif bagi warga binaan, Pak Tisep juga meneruskan hal itu. Ke depan kita bisa berkolaborasi atau saling sharing untuk meningkatkan kapasitas, karakter dan motivasi baru bagi warga binaan, sehingga setelah bebas, mereka sudah memiliki rencana, mau menjahit atau yang lainnya,” pungkasnya.
Pemkab Rembang berharap kerja sama dengan Rutan Kelas IIB Rembang terus diperkuat, terutama dalam meningkatkan keterampilan, kapasitas, dan kesiapan warga binaan agar dapat kembali ke masyarakat dengan bekal yang memadai.