Masalah kesehatan mental tidak selalu ditandai dengan kesedihan, tangisan, atau menarik diri dari lingkungan sosial. Seseorang yang tetap bekerja, tersenyum, dan terlihat produktif juga bisa mengalami tekanan psikologis yang berat.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa perubahan kondisi mental dapat dikenali melalui aspek emosional, kognitif, perilaku, dan fisiologis.
"Masalah kesehatan mental tidak selalu terlihat dalam bentuk menangis, bersedih, atau menarik diri. Ada individu yang tetap bekerja, tersenyum, bahkan terlihat sangat produktif, tetapi sebenarnya sedang mengalami tekanan psikologis yang cukup berat," kata Efnie.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu mengatakan, mengenali masalah kesehatan mental tidak cukup hanya dengan melihat ekspresi atau aktivitas seseorang. Kondisi emosional, kemampuan berpikir, interaksi sosial, hingga kesehatan fisik juga perlu diperhatikan.
"Karena itu, jangan hanya bertanya apakah seseorang terlihat baik-baik saja. Cobalah mengenali apakah ia masih mampu menjalani kehidupannya dengan baik secara emosional, kognitif, sosial, dan fisik," ujarnya.
Empat Perubahan yang Perlu Diwaspadai
Dalam perspektif bio-neuropsikologi, Efnie menjelaskan bahwa tanda masalah kesehatan mental dapat muncul melalui empat aspek.
Pertama, perubahan emosional. Kondisi ini dapat ditandai dengan seseorang yang menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, mengalami kecemasan berlebihan, sering menangis, merasa hampa, atau kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.
Kedua, perubahan kognitif atau pola pikir. Tanda-tandanya meliputi kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, sulit mengambil keputusan, terus-menerus berpikir negatif, hingga merasa pikirannya dipenuhi berbagai persoalan.
Ketiga, perubahan perilaku. Seseorang mungkin mulai menjauh dari lingkungan sosial, kehilangan motivasi, mengalami perubahan produktivitas, atau menunjukkan kebiasaan yang berbeda dari kondisi biasanya.
Keempat, perubahan fisiologis atau kondisi fisik. Gejalanya dapat berupa gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan berkepanjangan, sakit kepala, serta ketegangan otot. Keluhan tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.
Meski demikian, Efnie menegaskan bahwa munculnya satu atau dua tanda tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental tertentu.
Keluarga dan orang terdekat perlu memperhatikan apakah perubahan yang terjadi cukup signifikan dibandingkan kebiasaan sebelumnya, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
"Yang perlu diperhatikan keluarga adalah perubahan yang cukup signifikan dari kondisi biasanya, berlangsung menerus, atau mulai mengganggu fungsi kehidupannya," katanya.
Ia menyarankan individu yang mengalami perubahan kondisi mental secara menetap, terutama sekitar dua minggu atau lebih, untuk mendapatkan evaluasi dari tenaga profesional. Pertolongan juga perlu segera dicari apabila gejala semakin berat.
Efnie mengingatkan, keluarga tidak boleh menunda mencari bantuan jika seseorang menunjukkan tanda bahaya, seperti keinginan menyakiti diri sendiri, keputusasaan ekstrem, atau berbicara tentang keinginan mengakhiri hidup.
Dalam kondisi tersebut, orang terdekat perlu segera memberikan dukungan dan membantu individu mengakses layanan kesehatan mental profesional tanpa harus menunggu hingga dua minggu.