TK Pertiwi II Jiken, Desa/Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, mendapat bantuan revitalisasi tahap II senilai Rp1,008 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Bantuan tersebut digunakan untuk menambah ruang kelas, merehabilitasi bangunan lama, hingga menata lingkungan sekolah agar lebih aman dan nyaman bagi siswa.
Kepala TK Pertiwi II Jiken, Sri Suwabtiningsih, mengatakan sekolahnya memiliki sekitar 80 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar (rombel). Setiap rombel diisi sekitar 13 hingga 14 anak.
Namun, jumlah siswa tersebut belum didukung ruang kelas yang memadai. Sebelum revitalisasi, sekolah hanya memiliki dua gedung. Salah satunya mengalami keretakan serius hingga membelah bangunan, sedangkan gedung lainnya belum dilengkapi plafon.
"Gedung yang berdiri sejak 2010 itu sudah ada retakan yang membelah, sehingga membahayakan siswa. Satu gedung lainnya masih bagus, tetapi belum ada plafon, sehingga terasa panas saat musim kemarau," ujar Sri, Jumat (9/10/2026).
Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar kurang nyaman. Untuk menampung seluruh siswa, ruang kelas harus dibagi menggunakan sekat bongkar pasang sehingga area belajar menjadi sempit.
"Dulu hanya ada dua ruang kelas dengan sistem sekat. Kalau satu ruangan dibagi dua, tentu menjadi sangat sempit," katanya.
Tambah Ruang Kelas hingga Fasilitas Sanitasi
Sri menjelaskan, bantuan revitalisasi diperoleh setelah pihak sekolah melaporkan kondisi bangunan dan keterbatasan ruang melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Melalui program tersebut, sekolah mendapat pembangunan dua ruang kelas baru dan rehabilitasi dua ruang kelas. Setelah pekerjaan selesai, TK Pertiwi II Jiken ditargetkan memiliki empat gedung dengan total lima ruang kelas yang dilengkapi sekat permanen.
Selain ruang kelas, proyek tersebut mencakup pembangunan ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), fasilitas sanitasi, penataan lingkungan, serta penyediaan alat permainan edukatif (APE).
Area bermain anak juga akan dipusatkan dalam satu lokasi menyerupai taman. Sementara itu, area yang sebelumnya digunakan untuk permainan akan dialihkan menjadi tempat parkir guru.
"Area bermain kita fokuskan di satu tempat supaya lebih rapi. Nantinya ada pohon mangga sebagai peneduh," jelasnya.
Penataan lingkungan turut dilakukan untuk mengantisipasi banjir. Selama ini, aliran air hujan melewati bagian belakang gedung sekolah sehingga berpotensi menggenangi lingkungan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pelaksana proyek membangun saluran air berukuran besar. Sekolah juga mendapat fasilitas penyediaan air dan keran dengan sumber air dari PDAM.
Sri berharap, fasilitas baru tersebut dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Selama pembangunan berlangsung, pihak sekolah mengatur penempatan siswa secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi bangunan dan petunjuk teknis.
Berdasarkan papan proyek di lokasi, revitalisasi tersebut merupakan program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. Pekerjaan berlangsung selama 120 hari kalender, mulai 27 Juli hingga 24 November 2026.
Mandor proyek, Mulyadi, mengatakan progres pembangunan telah mencapai sekitar 50 persen. Pekerjaan ditargetkan rampung pada akhir November 2026.
"Sekitar 20 pekerja dilibatkan. Sebagian besar warga setempat, sedangkan tenaga dari luar daerah juga didatangkan untuk memenuhi kebutuhan pekerja," kata Mulyadi.
Dia menjelaskan, ruang kelas baru berukuran 6 x 8 meter, sedangkan ruang UKS berukuran 3 x 8 meter. Untuk menjaga keamanan material, bahan bangunan disimpan di gudang milik desa setelah berkoordinasi dengan kepala desa setempat.
Salah seorang wali murid, Sri Wahyuni, menyambut baik revitalisasi tersebut. Dia mengaku telah dua kali menyekolahkan anaknya di TK Pertiwi II Jiken dan merasakan kondisi ruang belajar yang sebelumnya kurang memadai.
Menurutnya, ruang kelas yang sempit membuat anak-anak mudah berkeringat. Bahkan, anak pertamanya pernah mengikuti kegiatan belajar di teras sekolah.
"Senang sekolahnya sekarang jadi besar. Anak-anak tidak lagi umpel-umpelan. Dulu anak pertama saya bahkan pernah belajar di teras," ungkapnya.
Sri Wahyuni berharap, pembangunan tersebut tidak hanya membuat ruang belajar lebih luas, tetapi juga menyediakan tempat bermain yang aman untuk mendukung kreativitas dan tumbuh kembang anak.