Arsip Tag: Anggaran

KD Banjarnegara Tahun 2026 Turun Rp165 Miliar dan Proyeksi di 2027 Belum Pasti, Begini Strategi Amalia Desiana

Lingkar.co – Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, Banjarnegara mengalami penurunan anggaran Transfer Kas Daerah (TKD) sebesar Rp165 miliar, sementara proyeksi pada tahun 2027 belum pasti.

Untuk itu ia memberikan arahan strategis dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Banjarnegara untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2027 yang digelar di Pendopo Dipayudha Adigraha, pada Kamis (26/3/2026) .

Bupati menekankan pentingnya sinergi dan kreativitas di tengah tantangan penurunan anggaran transfer daerah.

Selain itu, ia meminta seluruh jajaran OPD dan masyarakat untuk tidak saling menyalahkan. Namun harus melakukan modifikasi, penyesuaian, dan kreativitas anggaran agar program prioritas masyarakat tetap berjalan.

Meski anggaran turun, ia berkata, pemerintah tetap mengupayakan alokasi minimal Rp100 miliar untuk infrastruktur jalan. Angka tersebut jauh meningkat dibandingkan tahun 2023-2024 yang di bawah Rp.50 miliar.

Pada kesempatan itu, Amalia juga menegaskan bahwa kemajuan Banjarnegara tidak bisa dicapai oleh kepala daerah semata.

“Banjarnegara ini milik kita bersama, bukan hanya milik Bupati dan Wakil Bupati. Kesuksesan harus dicapai bersama dengan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap daerah,” tandasnya.

Oleh karena itu ia mengimbau agar masyarakat tidak sekadar terfokus pada angka anggaran, melainkan pada kekompakan untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk tujuan itu, Amalia bilang salah satu fokus utama adalah perbaikan data kemiskinan agar intervensi pemerintah tepat sasaran.

Amalia menyontohkan, dirinya telah memulai proyek percontohan perbaikan data di desa-desa untuk memastikan penerima Bansos adalah mereka yang benar-benar layak.

Masyarakat juga diminta jujur dalam memberikan data kepada BPS.

Ia bahkan menyoroti anomali di lapangan yang mana warga mengaku tidak mampu namun secara fakta memiliki aset (seperti kendaraan atau alat komunikasi).

Menanggapi angka pengangguran terbuka sebesar 5,39%, Bupati menyoroti rendahnya serapan tenaga kerja di sektor industri (seperti PT Pasi) akibat masalah etos kerja.

Pemerintah daerah akan memperkuat sektor ekonomi kreatif bagi masyarakat yang tidak ingin bekerja di pabrik, dengan dukungan dari asosiasi pengusaha seperti Apindo dan Hipmi.

Bupati memastikan bahwa arah pembangunan Banjarnegara tetap tegak lurus dengan Asta Cita Presiden RI dan visi-misi Gubernur Jawa Tengah. Isu strategis tahun 2027 yang meliputi Peningkatan infrastruktur dan pelayanan publik.Pemerataan ekonomi dan kualitas SDM.

Kelestarian lingkungan hidup dan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, Serta Transparansi dan Partisipasi Publik

Bupati mengibaratkan pemerintah sebagai ibu rumah tangga yang harus mengelola uang saku terbatas dari kepala keluarga (anggaran negara).

Masyarakat diminta tidak menggunakan prinsip “pokoke” (harus ada) tanpa melihat skala prioritas.

Seluruh rincian anggaran dapat diakses dan diunduh oleh masyarakat melalui akun resmi pemerintah daerah sebagai bentuk transparansi. (*)

Anggaran Pendidikan Non Formal Hanya Rp 134 Juta, Disdikbud Pati: Sangat Kecil

Lingkar.co – Anggaran pengembangan pendidikan non formal di Kabupaten Pati pada tahun 2024 dinilai sangat terbatas.Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Paud dan Dikmas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pati, Endang Sri Mulyani saat dikonfirmasi, Rabu (17/1/2024).

Ia mengungkapkan anggaran pengembangan pendidikan non formal yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati tahun 2024 hanya sebesar Rp 134 juta.

Dari anggaran sebesar itu, pihaknya setidaknya akan menggelar tiga pelatihan, yang nantinya diberikan kepada masyarakat.

“Anggaran itu masih sangat kecil sekali, karena masyarakat kabupaten banyak sekali. Pelatihan ini yaitu kecakapan hidup, kewirausahaan, dan sosialisasi pendidikan kerja dan pelatihan,” ujarnya.

Ia menjelaskan program tersebut meruoakan perintah Perpres Nomor 6 Tahun 2022 tentang Peningkatan Pendidikan Vokasi dan Pelatihan. Oleh karena itu, meskipun anggaran terbatas pihaknya tetap menjalankan program tersebut dengan maksimal.

“Dengan anggaran sekian itu cukup gak cukup harus kita laksanakan. Nanti kalau nggak cukup nanti kita usulkan dalam anggaran perubahan. Kalau tidak disetujui ya kita argumentasi penting tidaknya program non formal,” bebernya.

Menurutnya, masyarakat Pati kebanyakan masih berpendidikan rendah. Sehingga, dengan adanya pendidikan non formal diharapkan dapat membantu masyarakat memiliki keterampilan, yang bisa digunakan untuk mencari kerja.

“Yang melanjutkan ke jenjang ke perguruan tinggi juga terbatas. Tidak semua masyarakat mengenyam pendidikan tinggi, itu sasaran kami,” ujarnya.

Pelatihan tersebut, katanya, diprioritaskan bagi daerah atau desa yang kasus stuntingnya masih tinggi.

“Untuk pendidikan kecakapan hidup itu keterampilan membatik di desa lokus stunting hanya satu desa saja. Tetapi di tahun 2024 ini di Desa Soneyan yang lainnya untuk pendidikan kewirausahaan itu juga kita taruh di lokus stunting keterampilan membuat tas, di Tambakromo, di Desa Larangan, Sendangsoko Jakenan, dan Desa Ketanen Trangkil,” pungkasnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Anggaran Penanganan Bencana di BPBD Pati Hanya Rp 200 Juta

Lingkar.co – Anggaran penanganan bencana di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati pada tahun 2024 yang bersumber dari APBD tidak banyak. Hanya dialokasikan sekira Rp 200 juta.

Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetyo, Selasa (9/1/2024).

“Hanya sekira Rp 200 juta. Itu untuk kegiatan logistik pangan dan non-pangan, maupun kegiatan evakuasi dan pertolongan pertama pada bencana,” ujarnya.

Meskipun anggarannya terbatas, namun pihaknya tidak terlalu khawatir. Pasalnya, BPBD selalu dibantu pihak lain setiap terjadi bencana alam di Kabupaten Pati.

“Setiap kali ada bencana kita tidak berdiri sendiri. Kita juga banyak dibantu OPD-OPD teknis. Juga ada dari masyarakat dan CSR. Itu yang membantu kami,” kata Martinus.

Selain itu, pihaknya juga mendapatkan anggaran penanganan bencana yang bersumber dari Belanja Tak Terduga (BTT). Pada tahun 2023, total BPBD mendapatkan sekira Rp 300-400 juta.

BTT pada lalu, katanya, paling banyak digunakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat terdampak bencana.

“Kita kemarin disupport BTT cukup banyak, seperti untuk pembangunan jembatan yang jebol di Desa Kropak. Terbaru, itu penanganan tanggul jebol di Sungai Widodaren Desa Sumberejo, Kecamatan Jaken,” ungkapnya.

Selain perbaikan infrastruktur, pihaknya juga mendapatkan BTT untuk penyaluran air bersih ke warga yang terdampak kekeringan.

“Total ada sekira 85 tangki air yang kita salurkan, yang bersumber dari BTT,” bebernya.

Namun untuk mendapatkan BTT, katanya, harus memenuhi beberapa persayaratan. Salah satunya daerah dalam status tanggap darurat atau setidaknya siaga darurat bencana.

“Pj Bupati Pati sudah menetapkan siaga darurat bencana ini sampai Maret 2024,” ujarnya.

Sebelumnya, BPBD mencatat hampir semua wilayah di Kabupaten Pati berpotensi dilanda bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih waspada dan selalu menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah di sungai.

“Diperkirakan puncak musim hujan di bulan Januari-Februari. Mari jangan membuang sampah di sungai. Karena saat banjir besar itu luar biasa tumpukan sampahnya. Seharusnya air mengalir lancar malah tersumbat oleh sampah,” imbau Martinus. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Fraksi Amanat Nasional Cecar Pimpinan Sidang Paripurna DPRD Kendal Saat Bahas Prioritas Platform Anggaran Sementara

Lingkar.co – Fraksi Amanat Nasional mencecar pimpinan sidang dengan Interupsi saat Sidang Paripurna pembahasan Kesepakatan Kebijakan Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Platform Anggaran Sementara (KUA PPAS) tahun 2023 dan penyampaian raperda Kabupaten Kendal, Jum’at (1/9/2023).

Sidang Paripurna KUA PPAS perubahan tahun 2023, dipimpin oleh Ketua DPRD Kabupaten Kendal, Muhammad Makmun, dan dihadiri oleh Wakil Bupati, Windu Suko Basuki dan Sekda Kendal, Sugiono beserta seluruh OPD dan Kepala Dinas

Anggota Fraksi Amanat Nasional, Nasri mempertanyakan jumlah peserta yang tidak mencapai kuorum paripurna. Menurutnya, terkait dengan APBD jumlah kuorum adalah dua pertiga dari jumlah anggota.

Sekretaris Komisi C itu dalam interupsinya menyebut jika menggunakan aturan itu, maka seharusnya jumlah anggota dewan yang sidang minimal 30 orang. Sementara kalau di luar APBD kuorum yang digunakan adalah 50 persen plus satu dari jumlah anggota.

Sementara interupsi dari Haryanto, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kendal mempertanyakan tentang tahapan. Menurutnya, tahap pembahasan antara Badan Anggaran dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) terkait penyampaian KUA PPAS perubahan belum dilaksanakan.

“Apa yang tadi disampaikan saudara pimpinan untuk tahapan-tahapan pembahasan, pada hari Rabu, tanggal 30 Agustus 2023, kami seluruh anggota Badan Anggaran menungu-nunggu dilaksanakannya pembahasan penyimpulan KUA PPAS Perubahan Tahun 2023, yang sampai saat ini belum ada pembahasan. Apakah dengan adanya tahapan-tahapan yang belum terlampaui, bisa disahkan,” ujar wakil rakyat dari PAN itu mempertanyakan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kendal, Muhammad Makmun lantas membacakan pasal 135 huruf C, yaitu dihadiri lebih dari setengah atau seperdua jumlah anggota untuk rapat paripurna selain rapat yang dimaksud dalam huruf A dan huruf B.

“Jadi di penutupan Banggar di Yogyakarta, sudah kita sepakati di penyimpulan adalah digunakan untuk penyelarasan antara notulen dari Banggar dengan TAPD, sehingga tadi sudah dibacakan saudara Sekretaris Badan Anggaran,” jelas Makmun.

Dalam rapat badan anggaran terjadi perdebatan untuk kesempurnaan rancangan KUA PPAS perubahan Tahun 2023. Pada akhirnya rancangan KUA PPAS perubahan tahun 2023 dapat diterima dan disetujui setelah mengakomodir berbagai pertimbangan, dari segenap pimpinan dan Banggar serta TPAD Kabupaten Kendal, (*)

Penulis Wahyudi
Editor Ahmad Rifqi Hidayat
.

Wachid Gerindra Sebut Anggaran Untuk Guru Madin Sangat Sedikit, Butuh Diperjuangkan

Lingkar.co – Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Abdul Wachid mengungkapkan, anggaran untuk pendidikan keagamaan atau pendidikan agama pada umumnya masih kalah jauh dengan pendidikan umum (Pendidikan nasional).

Padahal pendidikan keagamaan, baik pondok pesantren (Ponpes), madrasah diniyah (Madin), TPQ di Indonesia berperan luar biasa.

“Pendidikan keagamaan dari sudut politik anggaran sangat sedikit dibandingkan dengan pendidikan nasional, ini perlu dan butuh diperjuangkan. Kami kedepan memperjuangkan anggaran untuk pendidikan islam bisa bertambah,” kata Wachid usai acara Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) di Hotel @Hom Kudus, Jumat (25/8).

Wachid lantas menyebut para pendiri bangsa telah menegaskan orientasi pendidikan yang tertuang dalam lagi Indonesia Raya, yakni bangunlah jiwanya yang artinya aspek religius atau pendidikan keagamaan, akhlak dan budaya. Setelah itu bangunlah raganya. Ia tegaskan, untuk menjadikan pelaksana negara ini baik, maka perlu dilandasi dengan agama.

“Pendidikan agama bisa mengurangi tindakan korupsi bagi pelaksana negara, mulai Presiden, DPR, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat sampai Lurah/Kades. Pendidikan agama bisa membangun karakter lebih baik,” paparnya.

Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah itu lantas mengungkapkan, dari sisi infrastruktur pembangunan lembaga pendidikan islam, seperti Madrasah Tsanawiyah, Aliyah yang dibantu pemerintah baru 15 persen.

Selebihnya, lembaga-lembaga pendidikan islam yang ada, disiapkan, dibuat, dibantu oleh masyarakat sendiri. Selain itu, honor untuk para guru/ustadz madrasah, madin, TPQ dan pesantren juga masih minim, jauh untuk memenuhi kebutuhan.

“Mereka butuh perhatian, supaya mereka ngajarnya biar bisa maksimal. Kalau perut kosong, kesejahteraannya kurang, tentu tidak bisa fokus dan maksimal dalam mengajar. Setidaknya mereka bisa dapat honor UMR (Upah minimum regional), inilah yang kita perjuangkan,” tegasnya

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Muhtasit mengajak kepada para peserta Ngopi dan masyarakat pada umumnya, jika masih mempunyai anak usia MTs (SMP) atau MA (SMA) untuk menitipkan putra-putrinya di Pondok Pesantren.

“Kudus ini gudangnya pesantren, banyak pesantren, baik yang spesialisasi Al Qur’an atau yang kitab kuning. Silahkan tinggal pilih, dengan mondok di pesantren insyaallah kelak bisa menjadi anak yang anak sholeh-sholehah dan sukses,” ucapnya. (*)

Penulis Ahmad Rifqi Hidayat

Bukan Tak Merawat, Disperkim Kota Semarang Justru Sebut Anggaran Perawatan Taman Kurang

Lingkar co – Bukan tak merawat, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali justru menyebut anggaran perawatan taman dari Pemerintah Kota Semarang masih kurang.

Ditemui Lingkar.co seusai Ground Breaking pembangunan Taman Siranda, bersama PT Wicaksana Indonesia, Rabu (8/3/2023), Ia jelaskan, anggaran perawatan masih kurang dibanding jumlah taman yang ada.

Dirinya pun memaparkan, pada tahun 2023, anggran perawatan taman sebesar Rp 25 miliar.\

Baca Juga: Gapura 23, Kuatkan Peran Pemandu Wisata

“Tidak ada kendala perawatan. Memang anggaran kurang. Misalnya, butuh kami Rp 50 miliar. Adanya Rp 25 miliar. Tinggal bagaimana kita menyikapi itu,” ujar Kepala Disperkim Kota Semarang tersebut.

Menurutnya, kurangnya anggaran perawatan taman yang utama terkait kebutuhan tenaga. Setiap hari, pihaknya harus membayar tenaga harian lepas yang melakukan perawatan taman.

“Itu kan butuh anggaran. Tiap hari kalau datang dibayar. Kalau anggarannya ada, tenaga kan siap,” ucapnya.

Oleh karena itu, sesuai arahan Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu melakukan optimalisasi anggaran yang tersedia untuk perwatan taman.

Baca Juga: Seorang Ibu Aniaya Anak Hingga Tewas Diamankan Polisi

Selain itu, pihaknya juga akan lakukan pantauan rutin, untuk melihat kondisi taman di Kota Semarang.

“Perawatan mulai 2023, kami antisipasj jangan sampai setelah dibangun tidak ada perawatan. Alhamdulillah, kami sudah ada perkembangan,” tutupnya. (*)

Penulis: Alan Henry
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Serapan Anggaran Rendah, Pemkab Demak Harus Ambil Langkah Konkrit

DEMAK, JAWA TENGAH, Lingkar.co – Realisasi anggaran penanganan Covid-19 yang rendah dikisaran 63.97% di Kabupaten Demak.

Pemerintah Daerah (Pemda) Demak harus mampu menyikapi hal ini tentunya Pemerintah dengan langkah konkrit.

Terlebih melihat kondisi penyebaran Covid-19 yang grafiknya fluktuatif pada musim pancaroba seperti saat ini.

Baca juga:
Petugas Kelelahan, Pemulasaran Jenazah Covid-19 Terlambat

Ketua Fraksi Partai Gerindra Demak, Danang Saputro mendorong Pemda agar melakukan upaya penanganan Covid-19 secara menyeluruh hingga tingkat desa.

Menurutnya, keuangan di tingkat Pemerintah Desa mungkin saja sudah habis untuk menanganani Covid-19.

Sebab sudah digunakan secara maksimal saat kasus Covid-19 meningkat sekitar akhir tahun 2020.

Baca juga:
Tren di Jepara Naik, Nakes Positif Covid-19 Tembus 580 Kasus

“Justru, wabah penyakit yang besar adalah saat ini dalam kondisi cuaca yang sedang ekstrim,” ungkapnya kepada Lingkar.co, Kamis (24/6).

Gangguan kesehatan seperti batuk dan pilek lanjutnya, akan sangat berpengaruh pada sikologi masyarakat yang takut ketika melakukan tes atau vaksin.

Isolasi di Tingkat Desa, Harapkan Mampu Minimalisir Persebaran Covid-19

Dengan kondisi sekarang ini, rumah sakit sudah over kapasitas dengan 10 pasien yang masuk di dua RSUD Demak setiap harinya.

Terlebih dengan kapasitas tempat tidur yang hanya ada pada kisaran 180 tempat tidur untuk setiap rumah sakit.

 “Hampir bisa kami pastikan, saat ini setiap rumah terdapat orang sakit seperti batuk atau flu. Ketika di cek, mereka banyak yang mungkin reaktif,” imbuhnya.

Baca juga:
Ratusan Orang Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Ahmad Mansur wakil ketua Fraksi Gerindra, juga mengungkapkan hal yang senada. Pemda Demak, harus mengambil langkah konkrit.

Sepertihalnya membuat tempat isolasi mandiri, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penanganan Covid-19.

Pihaknya berharap dengan adanya tempat isolasi yang ada di desa. Mampu untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.

Baca juga:
Kenali Gejala Varian Covid-19 Alpha, Beta, dan Delta Berikut Ini

“Karena jelas masyarakat tidak bakal mau ketika dibawa ke tempat layana kesehatan masyarakat,” ungkapnya yang juga anggota DPRD Komisi B tersebut.

Selain itu, pihaknya juga mendorong desa agar melakukan penyerapan anggaran sebesar 30% dari Dana Desa untuk penanggulangan Covid-19.

Ketika  desa mengalami kendala, DPRD Demak akan membantu ketika desa memang membutuhkan.

Baca juga:
Keraton Ratu Boko Tawarkan Paket Piknik Eksklusif

“Hal ini kami harap mampu untuk membantu memaksimalkan penanganan Covid-19. Terlebih dengan fungsi kita di bidang budgeting anggaran,” tutupnya. (mun/luh)

Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 Tahun 2020 di Kudus Capai Rp 55 Miliar

KUDUS, Lingkar.co – Realisasi anggaran penanganan Covid-19 tahun 2020 di Kudus sebesar Rp 55.424.190.168 dari rencana penganggaran sebesar Rp 82.333.474.390.

Jumlah tersebut tertulis melalui data dari Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus.

Adapun jumlah realisasi itu, terbagi dalam dua kategori penyaluran, untuk pencegahan dan penanganan Covid-19.

Selain itu juga untuk memberikan bantuan sosial juga pemulihan ekonomi kepada masyarakat yang terdampak Covid-19.

Untuk pencegahan dan penanganan Covid-19, rencana penganggaran sebesar Rp 54.827.274.390 dan berhasil terrealisasikan sebesar Rp 34.380.275.268.

Baca juga:
Tak Maksimal, Rp 48 Milliar Anggaran Covid-19 di Jepara Kembalikan ke Kas Keuangan Daerah

Sementara untuk pemberian bantuan sosial ekonomi kepada masyarakat yang terdampak Covid-19, rencana penganggaran sebesar Rp 27.506.200.000 dan berhasil terrealisasikan sebesar Rp 21.043.914.900.

Realisasi pada pencegahan dan penangan Covid-19, telah tersalurkan ke beberapa OPD yaitu Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH), dan RSUD dr. Loekmono Hadi.

Dewan Sebut Pembangunan Infrastruktur di Surakarta Masuk Daftar Anggaran Prioritas

SURAKARTA, Lingkar.co – Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta, YF Sukasno menyebutkan, pengembangan infrastruktur yang menjadi tugas di komisi miliknya, kini masuk daftar anggaran prioritas.

“Yaitu, fokus pada penataan kawasan Kota Solo,” katanya kepada Lingka.co, baru-baru ini. 

“Walaupun situasi dan kondisi di masa pandemi, tetapi pembangunan infrastruktur di Pemerintah Kota (Pemkot) Solo yang masuk APBD tahun 2021 ini tetap berjalan, alokasi anggaran masih tetap yang paling banyak diantara OPD-OPD yang lain,” lanjutnya.

Pihaknya telah menyepakati beberapa usulan dari OPD, terkait pembangunan di tahun 2020 yang belum selesai.

“Kelanjutan pembangunan infrastruktur tersebut seperti, melanjutkan koridor Jalan Insinyur Juanda, program Satu lubang, dan melanjutkan pembangunan Jalan Lingkungan.

Terusan Pembangunan Jalan Insinyur Juanda

Proyek penataan dan pembangunan trotoar koridor di Jalan Juanda,  Pucang Sawit,  Kelurahan Jebres, tahun lalu, di kategorikan sebagai proyek terbesar sepanjang 2020 yang menghabiskan dana 13 Milyar.

Dalam anggaran tahun 2021 ini, proyek Jalan Juanda masih menjadi prioritas dalam APBD 2021 senilai sekitar 7,1 Milyar yang merupakan Harga Perkiraan Sendiri (HPS), dalam proses lelang.

“Tahun kemarin sudah menyelesaikan koridor, drainase, dan pendistrian, kalau tahun ini nantinya akan di fokuskan pada pengaspalan jalan dan pemeliharaan awal untuk koridor tersebut,” ujar YF Sukasno.

Jika dihitung presentase proyek ini hingga sekarang, Sukasno menyebutkan sudah bisa dibilang lebih dari 50%. Pihaknya bekerjasama dengan  Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUPR) akan melanjutkan kembali proyek ini setelah proses lelang selesai.

“Karena jalan ini proyek kemarin, jadi harus segera di tuntaskan, mungkin dikerjakan bulan Mei atau Juni mendatang. Jalannya juga lumayan panjang dan luas, mungkin kami membutuhkan waktu yang lumayan lama,” imbuhnya.

Jika sebelumnya, penataan jalan dari barat ke pusat kota sudah dilaksanakan dengan baik dan sudah tertata rapi.

Kini Pemkot Surakarta, berganti melakukan penataan jalan dari arah timur ke pusat Kota Surakarta. Penataan ini dimaksudkan agar terjadinya pemerataan penataan kota sesuai syarat tata kota yang sudah ditetapkan.

Salah satu kondisi jalan di Surakarta yang rusak, belum lama ini. (GALUH SEKAR KINANTHI/LINGKAR.CO)
Salah satu kondisi jalan di Surakarta yang rusak, belum lama ini. (GALUH SEKAR KINANTHI/LINGKAR.CO)

Program Satu Lubang

Program satu lubang ini merupakan, program perbaikan dan pemeliharaan jalan kota dalam bentuk penembelan jalan. Anggaran untuk program ini sebesar 2,2 Milyar.

“Beberapa pasti akan ditambal, namanya anggaran satu lubang, jadi nanti dari DPUPR yang akan mengeksekusi, disurvei dulu jalan mana saja yang perlu penambalan,” terang Sukasno.

Pihaknya juga memastikan bahwa program ini untuk sekarang sudah dalam tahap inventarisasi dan persiapan.

“Ini masih di lelang, nanti kalau sudah deal baru tim kami akan menambal jalan jalan yang berlubang tersebut,” tuturnya.

Pembangunan Jalan Lingkungan

Selain dua proyek besar diatas, ada juga proyek penataan jalan-jalan di kampung, yang dinamakan dengan proyek Jalan Lingkungan.

Jalan lingkungan sendiri yang dimaksud adalah jalan yang ada dikampung yang perlu pembangunan dan perbaikan berupa pengaspalan jalan.

“Nanti sistemnya skala prioritas, disesuaikan dengan besaran anggaran dan akan di prioritaskan untuk daerah yang paling perlu pembenahan,” jelasnya.

Sukasno juga menambahkan, dalam proyek ini telah dianggarkan dana sebesar 6 Milyar, yang tentunya dengan dana sejumlah itu pihaknya tidak bisa menjamin seluruh jalan kampung bisa terselesaikan di tahun 2021 ini.

“Nangi kan bertahap, ya harus pinter-pinter membuat skala prioritas saja, kalau tidak selesai di tahun ini karena keterbatasan anggaran kan siapa tau di tahun depan bisa dilanjutkan kembali, tergantung bagaimana nanti anggarannya,” pungkasnya. (luh/aji)

Dukung Progam Vaksin Nasional, Kemenhub Realokasi Anggaran Sebesar Rp 12,4 Triliun

JAKARTA, Lingkar.co Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merealokasi anggaran 2021 sebesar Rp 12,44 triliun untuk mengamankan pelaksanaan pengadaan vaksin dan program vaksin nasional.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, refocusing dan realokasi ini bertujuan untuk penanganan COVID-19, perlindungan sosial dan percepatan PEN.

“Alokasi anggaran Kemenhub Tahun 2021 adalah sebesar Rp45,66 Triliun. Namun berdasarkan surat Menkeu No S-30/MK.02/2021 tanggal 12 Januari 2021, perihal Refocusing dan Realokasi Belanja K/L Tahun 2021, ada refocusing dan realokasi sebesar Rp12,44 triliun (27,22 persen) dari pagu awal sebesar Rp45,66 triliun. Sehingga alokasi anggaran Kemenhub menjadi Rp33,22 triliun, “katanya, Senin (25/1).

Ia menjelaskan, adapun rincian refocusing dan realokasi belanja Kemenhub tahun 2021 secara rinci per unit kerja di lingkungan Kemenhub antara lain, Ditjen Perhubungan Darat (semula Rp 7,63 miliar menjadi Rp5,64 miliar), Ditjen Perkeretaapian (semula Rp11 miliar menjadi Rp8,11 miliar), Ditjen Perhubungan Laut (semula Rp11,35 miliar menjadi Rp8,14 miliar), dan Ditjen Perhubungan Udara (semula Rp10,47 miliar menjadi Rp7,43 miliar).

“Kebijakan refocusing dan realokasi yang dilakukan yaitu, dengan melakukan penghematan pada belanja yang berasal dari rupiah murni, belanja barang dan belanja modal (belanja non operasional), belanja honorarium, perjalanan dinas, paket meeting, belanja jasa, bantuan kepada masyarakat/Pemda yang bukan arahan Presiden, pembangunan gedung kantor, pengadaan kendaraan dan peralatan/mesin, sisa dana lelang dan/atau swakelola, serta belanja modal di luar Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan Prioritas Nasional (PN),”tandasnya. (ara/aji)

Sumber: Koran Lingkar Jateng