Arsip Tag: BPBD Kendal

Jelang Musim Kemarau, Kabupaten Kendal Waspadai Peta Rawan Kekeringan dan Karhutla

Lingkar.co – Musim kemarau diprediksi mulai terjadi pada Mei 2026, dengan puncaknya diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang. Sejumlah wilayah pun berpotensi mengalami kekeringan akibat kondisi cuaca yang semakin ekstrem.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Kendal, Iwan Sulistyo, mengungkapkan, wilayah yang rawan kekeringan umumnya berada di bagian atas Kendal, seperti Kecamatan Patean dan sekitarnya, serta wilayah Kecamatan Ringinarum. Sementara itu, wilayah Kendal bagian pantura relatif masih aman.

“Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, kekeringan rata-rata terjadi di Kendal bagian atas. Untuk wilayah kota relatif aman,” ujar Iwan, Kamis (23/4/2026).

Lebih jauh ia mengungkapkan, potensi kekeringan tahun ini diprediksi lebih parah akibat fenomena El Nino yang disebut “El Nino Godzilla”. Fenomena ini menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur dalam skala lebih besar dibandingkan El Nino biasa.

“Dampaknya bisa menyebabkan musim kemarau yang lebih panas, lebih panjang, dan lebih kering,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kendal telah menyediakan 100 tangki air bersih yang siap disalurkan kepada masyarakat terdampak. Setiap tangki memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter air.

Selain itu, BPBD juga menyiagakan tiga armada truk tangki berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah terdampak.“Saat terjadi kekeringan, armada ini siap memasok kebutuhan air warga,” tambahnya

Saat ini, lanjut Iwan, wilayah Kendal masih berada dalam masa pancaroba, yakni peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Pada fase ini, cuaca cenderung tidak menentu, dengan kondisi panas terik di siang hari yang kerap diikuti hujan pada sore atau malam hari.

“Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga akhir April sebelum masuk musim kemarau,” ujarnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi, salah satunya dengan menampung air saat hujan turun.“Warga bisa mulai menyiapkan tampungan air sebagai cadangan saat musim kemarau nanti,” imbaunya.

Potensi Karhutla

Sementara itu, Sekretaris BMKG, Guswanto, dalam rapat daring bersama jajaran Polri di Polres Kendal, juga mengingatkan potensi dampak dari fenomena El Nino yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurutnya, kondisi suhu yang lebih panas dan kering meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama di wilayah rawan.

“Fenomena ini pernah terjadi pada 2015 dan berdampak cukup luas, tidak hanya pada lingkungan tetapi juga sektor ekonomi, termasuk potensi kenaikan harga beras,” ungkapnya.

Kabag SDM Polres Kendal, Kompol Ryke Rhimadhila, menyatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan personel serta memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi dampak tersebut.

“Kami akan terus meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak terkait,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Administratur KPH Perhutani Kendal, Muhadi. Ia mengatakan pihaknya rutin melakukan patroli bersama aparat kepolisian untuk memantau titik rawan kebakaran hutan.

Selain itu, pihaknya juga mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Kami berkomitmen meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat sinergi dalam mengantisipasi dampak El Nino serta potensi karhutla di Kendal,” pungkasnya. (*)Penulis: Yoedhi W

Banjir di Kendal Meluas, Berikut Laporan Situasi Terkini

Lingkar.co – Banjir yang melanda kabupaten Kendal meluas menjadi lebih dari tujuh kecamatan. Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kendal, Muh Nurfathoni memaparkan laporan situasi terkini, Sabtu (17/1/2026).

Toni, sapaan akrabnya menyebut sejumlah titik banjir terjadi di kecamatan Ngampel, Kecamatan Pegandon, Kecamatan Brangsong, Kecamatan Kendal Kota, Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kecamatan Patebon, Kecamatan Rowosari, dan beberapa kecamatan lain.

Tingginya curah hujan di sebagian wilayah di kabupaten kendal sejak dari hari Rabu hingga Kamis (14-15/1/2026) menyebabkan beberapa limpasan sungai,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/1/2026).

Ia menyebut laporan dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) PMI mencatatkan limpasan aliran sungai masuk dan berdampak ke beberapa wilayah seperti limpasan Sungai Penut berdampak ke Desa Karangmulyo, Desa Banyu Urip, Desa Ngampel Kulon dan Ngampel Wetan.

Kemudian, lanjutnya, air Sungai Kendal meluap dan berdampak ke beberapa wilayah, diantaranya; Desa Trompo, Sijeruk, Langenharjo, Ngilir, Karangsari, Pekauman, Pegulon, Kobondalem, dan Patukangan.

“Limpasan aliran Sungai Waridin ke Desa Karang Tengah, Kumpulrejo, Kebonadem, Candiroto, Brangsong, Wonorejo, dan Krajan kulon. Sedangkan limpas aliran Sungai Aji berdampak ke Desa Plantaran, dan Desa Sarirejo,” urainya.

Pusdatin PMI Kabupaten Kendal juga mencatat, banjir tersebut mengakibatkan terputusnya akses transportasi darat dan kereta api.

“Dampaknya, banjir masuk ke permukiman warga dan mengganggu aktifitas warga, tercemarnya sumber air, akses ke daerah terdampak terhambat, dan jaringan listrik dan telekomunikasi terganggu,” ujarnya.

Selain itu, sambungnya, banjir juga mengakibatkan kerusakan lahan pertanian di wilayah terdampak, terhentinya aktifitas di beberapa titik pasar induk dan pasar lokal, terkendalanya kegiatan belajar mengajar di beberapa fasilitas pendidikan yang terdampak, dan terhambatnya kegiatan peribadatan di wilayah terdampak

Tidak hanya itu, kata Toni, banjir juga berpotensi menimbulkan beberapa penyakit dari dampak limpasan air sungai, terhambatnya pelayanan administratif di kantor desa atau kelurahan yang terdampak, dan terhentinya aktifitas di beberapa titik pusat kesehatan masyarakat di area terdampak.

Menurut Toni, laporan menyebut hasil asesmen terbaru sebanyak 2.552 KK atau 8.358 Jiwa, dan 2.126 unit rumah terendam air

Kemudian, lanjutnya, banjir juga berdampak pada 18 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas kesehatan, 7 unit perkantoran, 48 unit tempat ibadah.

Masih tingginya curah hujan juga disebut menjadi hambatan relawan melakukan asesmen dan mendistribusikan bantuan.

“Saat ini warga butuh air bersih, peralatan kebersihan, dan kebutuhan dasar seperti makanan dan air minum dalam kemasan,” paparnya.

Pusdatin PMI Kabupaten Kendal juga mencatat kebutuhan dasar bagi kelompok rentan, dan kebutuhan sanitasi.

“PMI memberikan pelayanan asesmen, membuka dapur umum, mendistribusikan bantuan logistik untuk dapur umum madiri, dan pelayanan kesehatan,” jelasnya (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Destana Kebondalem Dirikan Dapur Umum

Lingkar.co – Desa Tangguh Bencana (Destana) Kebondalem mendirikan dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan warga terdampak banjir di wilayah tersebut. Logistik dapur umum ini didukung oleh BPBD, PMI, Baznas, serta Dinas Sosial Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Ketua Destana Kebondalem, Widiastuti, menjelaskan dapur umum telah beroperasi sejak Kamis (16/1/2026) kemarin. Meski masih bersifat terbatas, dapur umum tersebut menyediakan makanan siap saji satu kali sehari bagi warga terdampak banjir.

“Pada hari pertama kami memproduksi sekitar 300 nasi bungkus, dan hari ini meningkat menjadi 400 nasi bungkus,” jelas Widiastuti saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Selain makanan siap saji, bagi warga yang belum terjangkau dapur umum, bantuan juga disalurkan dalam bentuk bahan makanan mentah seperti mi instan.

BPBD Kabupaten Kendal terus melakukan pemantauan di wilayah terdampak serta mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, banjir meluas dari lima menjadi tujuh kecamatan yang meliputi Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Brangsong, Kota Kendal, Ngampel, Pegandon, dan Rowosari dengan variasi ketinggian air dari 15 cm hingga 100 cm.

Salah seorang warga Desa Ketapang, Kecamatan Brangsong, Tono Ginzu, mengatakan banjir tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menduga banjir disebabkan luapan Sungai Trompo akibat pintu air yang tidak ditutup, sehingga air melimpas ke permukiman warga.

“Banjir tahun ini paling parah, air cepat naik dan langsung masuk rumah warga,” ujar Tono.

Sementara itu, di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal, hampir seluruh warga terdampak banjir. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena rumah mereka terendam air. (*)

Penulis: Yoedhi W

Diguyur Hujan Deras Jalan Poros Desa Cening Amblas 100 Meter

Lingkar.co – Jalan desa yang menghubungkan Dukuh Bumen dengan dukuh lainnya di Desa Cening, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, mengalami amblas dan longsor sepanjang sekitar 100 meter. Akibat kejadian tersebut, akses kendaraan roda empat terputus dan hanya dapat dilalui sepeda motor.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, meninjau langsung lokasi longsor yang merusak akses jalan penghubung antarwilayah di Desa Cening, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (5/1/2026).

“Selain mendukung akses pertanian, jembatan ini dibangun sebagai langkah mitigasi agar tidak lagi terjadi musibah akibat warga menyeberangi sungai secara langsung,” ujar Bupati Kendal.

Longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini menyebabkan badan jalan bergeser dan amblas, sehingga kendaraan roda empat tidak dapat melintas. Bahkan, material tanah sempat menutup jalan sebelum akhirnya dibersihkan secara gotong royong oleh warga setempat..

Salah seorang warga Desa Cening, Giyadi, mengatakan longsor terjadi pada malam hari saat hujan deras. Warga tidak sempat melakukan antisipasi karena tidak mengetahui kejadian tersebut secara langsung. Warga baru menyadari kondisi jalan pada pagi hari ketika akses sudah tidak dapat dilalui.

“Akibat hujan deras tiga hari lalu mengakibatkan jalan amblas dan longsor, warga berharap ini bisa segera di perbaiki sebab ini merupakan jalan poros desa”. Kata Giyadi

Menurut warga, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses utama desa, baik untuk kegiatan pertanian maupun perekonomian. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar aktivitas masyarakat kembali normal.

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Kendal didampingi organisasi perangkat daerah terkait, Camat Singorojo, serta Kepala Desa Cening.

Peninjauan dilakukan untuk memastikan langkah penanganan darurat sekaligus perencanaan perbaikan jalan yang terdampak longsor.

Saat ini, pemerintah daerah tengah berkoordinasi dengan dinas terkait. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan melakukan perhitungan teknis di lokasi. Perbaikan direncanakan menggunakan tiang pancang guna mencegah pergerakan tanah susulan. (*)

Penulis: Yoedhi W

8 Kecamatan di Kendal Terdampak Banjir hingga Longsor

Lingkar.co – Sebanyak 8 Kecamatan di Kendal terdampak banjir hingga longsor karena intensitas hujan deras yang cukup tinggi, Minggu (14/12/2025) petang.

8 kecamatan yang terdampak di antaranya di wilayah Kecamatan Pageruyung, Weleri, Ringinarum, Kangkung, Cepiring, Kendal, Limbangan dan Rowosari.

“Iya betul, itu karena hujan deras pada kemarin mengakibatkan beberapa titik terdampak bencana alam,” kata Sekretaris BPBD Kendal, Ahmad Huda Kurniawansah, Senin (15/12/2025).

Kecamatan Pageruyung

Huda menerangkan, di wilayah Kecamatan Pageruyung ada tanah longsor yang terjadi di dua desa, yakni Desa Getasblawong dan Watudono.

Di Desa Getasblawong, longsor terjadi pada senderan tanah dan menimpa dinding sebelah kiri rumah milik Basuki di Dusun Getas Lor RT 05/RW 02 Desa Getasblawong Kecamatan Pageruyung.

Dikatakannya, rumah yang terkena longsor itu sebelumnya tengah direnovasi pemilik rumah. Belum selesai renovasi, dinding rumah terkena longsoran.

“Rumah itu dihuni 9 orang, saat masih renovasi terkena longsor. Tapi tidak ada korban jiwa,” tuturnya.

Sedangkan di Desa Watudono, longsor terjadi di Surokonto Wetan yang membuat sebagian akses jalan sempat tertutup material longsor.

Huda mengatakan, saat ini material longsor telah dibersihkan dan jalan sudah bisa dilalui kembali.

“Itu menutup sebagian akses jalan, saat ini sudah ditangani dan bisa dilalui,” sambungnya.

Kecamatan Weleri

Sementara itu, di wilayah Kecamatan Weleri terdapat banjir limpasan sungai Kali Damar di Desa Sidomukti dan Manggungsari, serta pohon tumbang di Desa Jenarsari.

Huda menjelaskan, luapan Sungai Kali Damar itu sempat masuk ke permukiman warga sekitar pukul 17:00 WIB, dengan genangan air cukup tinggi.

“Untuk yang pohon tumbang itu terjadi di
jalan arteri Weleri Desa Jenarsari pada Minggu (14/12/2025) pukul 15.30 WIB dan membuat jalan sempat tertutup,”

“Sekitar sejam kemudian, arus lalu lintas di arteri Weleri kembali normal.” paparnya.

Kecamatan Ringinarum

Menurut Huda, di Kecamatan Ringinarum, terdapat 5 desa yang terdampak bencana alam di antaranya Desa Tejorejo, Wungurejo, Pagerdawung, Caruban dan Ngawensari.

Dia mengatakan, di Desa Ngawensari, Caruban, Wungurejo, dan Tejorejo terdapat sejumlah pohon tumbang dengan berbagai diameter.

“Yang tumbang ada pohon jati, lamtoro sama mangga. Paling besar diameternya itu 70 sentimeter, dan sudah tertangani semua,” sambungnya.

Selain itu, terdapat pula banjir limpasan sungai di Dusun Bojo Desa Tejorejo dengan genangan sekitar 20 sentimeter menggenangi permukiman warga.

Di Desa Pagerdawung, BPBD juga mencatat adanya angin puting beliung yang merusak rumah dan atap bangunan Pos Kesehatan Desa (PKD) sekitar pukul 16.30 WIB.

Kecamatan Kangkung dan Cepiring

Huda menambahkan, angin puting beliung juga melanda Desa Sendangdawung di Kecamatan Kangkung yang membuat rumah warga roboh dan atap rumah rusak.

Sementara itu, di Desa Kaliyoso hanya terjadi pohon tumbang yang sempat menutup akses jalan setempat.

Di Desa Gondang Kecamatan Cepiring, Huda juga mendapat laporan adanya pohon tumbang.

“Sudah langsung ditangani warga, sudah bisa dilalui lagi,” ujarnya.

Kecamatan Kendal

Huda menerangkan, wilayah yang terdampak bencana paling banyak ialah di Kecamatan Kendal akibat luapan Sungai Kendal.

Luapan sungai yang terjadi sejak Minggu (14/12/2025) dini hari itu, telah meluas ke 8 kelurahan, di antaranya Kebondalem, Kalibuntu, Langenharjo, Pekauman, Ngilir, Pegulon, Balok, Patukangan dan Trompo.

“Genangan banjir limpasan sungai ini ketinggiannya sekitar 20 sentimeter. Untuk yang di Langenharjo juga ada pohon tumbang,” tuturnya.

Kecamatan Limbangan dan Rowosari

Di sisi lain, Huda juga mendapat laporan adanya tanah longsor yang menutup sebagian jalan di Desa Sumberahayu Kecamatan Limbangan.

Kemudian ada pula kejadian pohon tumbang di Dusun Gono Barat dan Dusun Gono Timur Desa Gonoharjo yang mengakibatkan akses jalan sempat tertutup.

Pohon tumbang juga terjadi di Desa Kebonsari Kecamatan Rowosari yang menimpa rumah hingga mengalami kerusakan ringan.

“Sekitar pukul 16:15 WIB kemarin, dan sudah langsung ditangani semua,” tandasnya. (*)

250 Kepala Keluarga Terdampak Banjir Rob Selama 10 Hari di Kendal

Lingkar.co – Sebanyak 250 kepala keluarga di Dusun Ngebum, Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal, sudah dua pekan terakhir hidup dalam genangan banjir rob yang menggenangi permukiman.

Ketinggian air yang mencapai 50 sentimeter membuat aktivitas warga lumpuh dan memaksa sebagian dari mereka tidak bisa memasak maupun beraktivitas di dalam rumah.

Banjir rob yang datang pada pagi dan sore hari itu menggenangi hampir seluruh rumah warga. Aktivitas warga tersendat karena air masuk hingga ke ruang tamu dan dapur.

Banyak warga yang harus menghentikan kegiatan harian mereka, termasuk bekerja, memasak, dan membersihkan rumah.

Salah satu warga, Surianah, menjadi yang paling terdampak. Ia mengaku sudah 10 hari tidak bisa memasak, karena dapur dan kompor terendam air.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, ia dan keluarganya terpaksa membeli nasi bungkus. Rumah yang dihuni tujuh orang itu kini kesulitan memenuhi kebutuhan makan.

Surianah berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul yang jebol agar air rob tidak kembali masuk ke permukiman.

“Sudah sepuluh Hri banjir rob, belum ada bantuan dari pemerintah sementara mau masak tidak bisa terpaksa beli nasi bungkus untuk makan” jelas Surianah Minggu (16/11/2025).

Sementara itu, Kepala Desa Mororejo, Mustofa Kamal, menjelaskan bahwa rob yang terjadi hampir setiap hari dipicu oleh jebolnya tanggul Sungai Kerokan sepanjang 10 meter.

Air laut biasanya naik pada dini hari dan baru surut menjelang siang. Pihak desa disebut sudah berulang kali mengirim surat kepada Pusdataru dan Dinas PUPR Kendal untuk meminta perbaikan tanggul, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.

“Biasanya air rob naik dinihari, sebab ada tanggul yang jebol sehingga air masuk ke pemukiman warga, bahkan saya sudah lapor ke DPUPR Kendal tapi belum ada tindak lanjut” ungkapnya

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, turun langsung meninjau lokasi. Ia menyampaikan bahwa OPD terkait telah diperintahkan untuk mengecek kondisi tanggul dan menentukan langkah penanganan. Pemkab Kendal juga menyiapkan pompa penyedot air rob sebagai langkah awal untuk mengurangi genangan.

Setelah mendapatkan l;aporan saya langsung turun ke lapangan dan sudah saya perintahkan dinas OPD terkait segera mengecek dan menentukan langkah yang harus di ambil dengan cepat” jelas Bupati Tika

Banjir rob ini tidak hanya mengganggu aktivitas rumah UMKMtangga warga, tetapi juga memukul sektor ekonomi. Para pelaku UMKM di kawasan wisata Pantai Ngebum mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung selama dua pekan terakhir. Genangan rob yang mencapai pintu masuk hingga area parkir membuat wisatawan enggan datang. (*)

Penulis: Yoedhi W

29 Rumah di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari Kendal Terdampak Angin Kencang

Lingkar.co.- Sebanyak 29 rumah di Desa Gempolsewu Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal terdampak angin kencang, Jumat (14/11/2025) malam.

Angin menerjang di dua dusun, tepatnya Dusun Bulusan RT .01 RW.14, serta Dusun Tawang laut RT.02 dan RT 3 RW.17.

“Iya, tadi malam kejadiannya sekitar pukul 20:15 WIB,” kata Sekretaris BPBD Kendal, Ahmad Huda Kurniawansah, Sabtu (15/11/2025).

Huda menerangkan, terdapat 9 rumah yang terdampak angin kencang di Dusun Bulusan RT.01 RW.14, kemudian 12 rumah juga ikut terdampak di Dusun Tawang laut RT.02 RW 17.

Adapun di Dusun Tawang laut RT.03 RW 17 hanya terdapat 8 rumah yang terdampak angin kencang.

“Yang paling banyak di Dusun Tawang laut RT.02 RW 17, itu ada 12 rumah terdampak,” paparnya.

Huda mengatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun rumah-rumah yang terdampak itu mengalami kerusakan pada bagian atap.

“Tidak ada korban jiwa, kerusakan rata-rata pada sebagian atap rumah yang terbuat dari genteng,” terangnya.

Lebih lanjut, Huda menceritakan kejadian berawal saat hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Kendal pada Jumat (14/11/2025) malam.

Secara tidak terduga, angin berembus kencang dari barat laut yang kemudian mengarah menuju ke timur arah pemukiman penduduk Dusun Tawang laut.

“Dari pihak kecamatan tadi sudah melakukan pengecekan dan mendata rumah-rumah mana saja yang terdampak,” sambungnya.

Di sisi lain, Kasi Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo mengatakan pihaknya telah memetakan sejumlah titik rawan bencana hidrometeorologi mulai dari potensi banjir, longsor hingga angin kencang.

Data yang dipaparkan BPBD, wilayah rawan longsor berada di sekitar Siboli (Singorojo, Boja dan Limbangan).

Sedangkan wilayah yang rawan banjir berada di Kendal bagian bawah, termasuk area perkotaan dengan pemukiman padat penduduk.

Sementara itu, potensi angin kencang terjadi di wilayah Kecamatan Kangkung. Di lokasi itu, kerap kali dilanda angin kencang saat hujan deras mengguyur.

“Kalau sesuai data kejadian itu, Kecamatan Kangkung memang potensial dilanda angin kencang,” katanya.

Iwan mengungkap, seluruh wilayah di Kendal sebenarnya berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi sesuai topografi wilayah.

“Di Kendal itu seluruhnya titik rawan, cuma kembali lagi bencana kan ada banjir, tanah longsor, puting beliung. Itu masing-masing wilayah punya potensi bencana sendiri-sendiri,” sambungnya.

Sebagai langkah tanggap darurat, pihaknya telah mendirikan posko induk di kantor BPBD dengan petugas jaga yang dibagi dalam 3 shif.

Selain itu, pihaknya juga telah membuat grup WhatsApp tanggap bencana yang beranggotakan masing-masing camat. Grup itu berisi imbauan, informasi terkini, serta pengamatan titik kejadian di lapangan.

Selanjutnya, tiap camat akan memberi instruksi ke kepala desa untuk melakukan penanganan darurat.

“Untuk tim relawan penanganan dini juga terus standby dari masing-masing wilayah yang bertugas melakukan asesmen pertama ketika ada kejadian,” tandasnya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Tragedi Sungai Jolinggo: Enam Mahasiswa KKN UIN Walisongo Ditemukan Meninggal Dunia

Lingkar.co — Tim SAR gabungan akhirnya menuntaskan pencarian terhadap enam mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang hanyut di Sungai Jolinggo, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal. Korban terakhir, Nabila Yulian Dessi Pramesti (21), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sekitar 10 kilometer dari lokasi kejadian pada Rabu malam (5/11/2025) pukul 21.50 WIB.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Semarang, Budiono, membenarkan temuan tersebut.

“Benar, kami menerima laporan dari BPBD Kendal mengenai penemuan jasad oleh warga. Setelah dicek tim di lapangan, hasilnya A1 bahwa korban tersebut adalah Nabila, korban terakhir yang dicari,” ungkap Budiono.

Dengan ditemukannya Nabila, seluruh enam korban hanyut telah berhasil ditemukan. Pada hari yang sama, dua korban lain yakni Bima Pranawira dan Muhammad Jibril Asyarafi juga ditemukan di dua lokasi berbeda, masing-masing berjarak 150 meter dan 3,5 kilometer dari titik awal kejadian.

“Terima kasih untuk seluruh unsur SAR gabungan yang berjibaku tanpa henti hingga semua korban ditemukan. Semoga peristiwa ini menjadi pengingat agar kita semua lebih berhati-hati saat beraktivitas di sungai, terlebih di musim hujan,” ujar Budiono.

Sebelumnya, sebanyak 15 mahasiswa UIN Walisongo Semarang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Getas, Singorojo. Pada Selasa (4/11/2025) sekitar pukul 13.30 WIB, mereka bermain air di sungai tak jauh dari lokasi kegiatan. Tak lama berselang, debit air tiba-tiba meningkat akibat hujan deras di hulu sungai.

Sebanyak sembilan orang berhasil menyelamatkan diri, sementara enam lainnya hanyut terseret arus deras. Tiga korban pertama ditemukan tak jauh dari lokasi kejadian, sedangkan tiga lainnya baru ditemukan setelah proses pencarian intensif yang melibatkan Basarnas, BPBD Kendal, TNI, Polri, relawan, dan warga setempat.

Berikut data enam korban yang ditemukan meninggal dunia:

  1. Riska Amelia (21) – Pemalang
  2. Nabila Yulian Dessi Pramesti (21) – Bojonegoro
  3. Syifa Nadilah (21) – Pemalang
  4. Muhammad Jibril Asyarafi (21) – Jepara
  5. Bima Pranawira (21) – Gresik
  6. Muhammad Labib Rizqi (21) – Pekalongan

Tragedi ini menjadi peringatan penting bagi kegiatan mahasiswa di alam terbuka agar lebih memperhatikan faktor keselamatan dan cuaca ekstrem, terutama di wilayah pegunungan dan aliran sungai. ***

Dua Mahasiswa UIN Walisongo Korban Laka Air Ditemukan Tim SAR Gabungan

Lingkar.co – Dua korban mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang hanyut di perairan Tubing Genting Jalinggo, Desa Getas, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan, Rabu (5/11/2025).

Kedua korban yang ditemukan yakni Bima Pranawira asal Gresik dan Muhammad Jibril Asyarafi asal Jepara. Dengan ditemukannya dua korban tersebut, kini tinggal satu korban lagi yang belum ditemukan atas nama Nabila Yulian Desi Pramesti.

Peristiwa nahas ini terjadi saat enam mahasiswa UIN Walisongo yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Getas bermain air di sungai Tubing Genting Jalinggo pada Selasa siang sekitar pukul 13.50 WIB.

Awalnya kegiatan berjalan normal, namun tanpa disadari, hujan deras yang mengguyur wilayah Sumowono, Kabupaten Semarang, membuat debit air sungai tiba-tiba meningkat dan banjir datang secara mendadak.

Dari 15 mahasiswa yang bermain di sungai, sembilan orang berhasil menyelamatkan diri, sementara enam lainnya terseret arus deras. Karena derasnya aliran air, teman-teman korban tidak sempat memberikan pertolongan.

Hingga pukul 17.00 WIB, tiga korban pertama berhasil ditemukan, sementara pencarian tiga lainnya dilanjutkan keesokan harinya karena hari mulai gelap.
Pada hari kedua pencarian, dua korban tambahan berhasil ditemukan dan langsung dibawa ke RSUD dr. Soewondo Kendal untuk proses identifikasi dan penyerahan kepada keluarga.

Kedua jenazah kemudian disucikan dan dibawa pulang ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan.

Kapolres Kendal AKBP Hendri Susanto Sianipar yang terus memantau perkembangan pencarian sejak awal menyampaikan rasa duka cita mendalam atas musibah tersebut. Ia memastikan Polres Kendal bersama tim gabungan terus berkoordinasi dan memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban selama proses pencarian.

“Kami selalu mensuport pemerintah kabupaten kendal bahkan saya pantau langsung kemarin di tkp dilanjut menunggu penjemputan jenazah hingga pagi, pan siang ini saya masih tetap memantau dan memberikan pendampingan para keluarga korban dengan beberapa konselor agar bisa menghibur keluarga ketika melihat anaknya datang tidak bernyawa bisa tabah dan mengikhlaskan,” jelas kapolres

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kendal, Iwan Sulistyo, mengatakan bahwa hingga sore ini masih ada satu korban yang belum ditemukan. Namun, karena kondisi cuaca kurang bersahabat dan arus sungai cukup deras, pencarian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan kembali pada Kamis pagi.

“Saat ini pencarian tiga korban berhasil di temukan dua korban, saat ini pencarian masih di lanjutkan karena terkendala cuaca sementara kita menyusuri lewat uadara menggunakan dron dan darat” jelas Iwan

Iwan menambahkan, debit air sungai masih tinggi akibat hujan di wilayah atas. Ia berharap arus yang meningkat dapat membantu tim SAR menemukan korban yang tersisa. Saat ini, sejumlah personel dan perahu telah disiagakan di wilayah Bendung Juwero sebagai titik pemantauan utama. (*)

Penulis: Yoedhi W

Antisipasi Bencana Alam, Pemkab Kendal Simulasi TDB

Lingkar.co – Memasuki musim penghujan, Pemerintah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Menurut peta rawan bencana, kondisi geografis Kendal yang memiliki wilayah pesisir dan dataran tinggi membuat ancaman bencana semakin besar di musim hujan kali ini.

Sebagai langkah antisipasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal menggelar apel siaga dan simulasi kondisi Tanggapan Darurat Bencana (TDB).

Kegiatan ini bertujuan memastikan kesiapsiagaan seluruh unsur terkait, mulai dari personel BPBD, relawan, hingga perangkat daerah dalam menghadapi kemungkinan bencana banjir, longsor, maupun angin puting beliung.

Sekretaris BPBD Kendal, Ahmad Huda Kurniawan Syah, menjelaskan bahwa seluruh peralatan dan personel BPBD telah siap siaga. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah kecamatan di daerah rawan bencana juga terus diperkuat melalui pemetaan wilayah dan komunikasi rutin.

“Untuk peralatan BPBD Kendal sudah mencukupi dan siap digunakan, termasuk personel. Kami juga sudah menjalin koordinasi dengan tiap kecamatan serta melakukan pemetaan daerah rawan bencana,”
ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kendal Dyah Kartika Permana Sari menegaskan bahwa apel siaga bencana hidrometeorologi ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi potensi bencana, terutama banjir seperti yang pernah terjadi di awal tahun akibat jebolnya tanggul Sungai Bodri.

“Seluruh wilayah di Kabupaten Kendal, baik atas maupun bawah, memiliki potensi bencana. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh pihak sangat penting agar ketika bencana datang, kita bisa bertindak cepat dan tepat,”
tutur Bupati Kendal.

Bupati juga mengimbau masyarakat untuk selalu tanggap terhadap kondisi cuaca dan segera melaporkan kejadian bencana ke nomor darurat 112 agar dapat segera ditangani oleh petugas.

Dalam apel siaga ini juga digelar simulasi penanganan bencana angin kencang oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, PCS 119, PLN, TNI,POLRI serta para relawan tanggap bencana. Simulasi tersebut menunjukkan koordinasi dan kecepatan tim dalam menghadapi situasi darurat di lapangan. (*)

Penulis: Yoedhi W