Bayangkan sebuah pagi ketika anak-anak bersiap berangkat belajar, tetapi air bersih justru menjadi sesuatu yang harus dihitung.
Bukan berapa banyak air yang digunakan untuk mandi. Bukan berapa kali keran dibuka. Melainkan apakah persediaan air masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu.
Begitulah kemarau perlahan mengubah kebiasaan warga di Dusun Geyongan, Desa Kandangan, dan Desa Lemah Ireng, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.
Sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan warga mengering. Air yang biasanya tersedia mulai sulit ditemukan. Kebutuhan dasar yang semestinya sederhana berubah menjadi persoalan sehari-hari.
Di tengah keadaan itu, sebuah kendaraan pengangkut air datang.
Bagi sebagian orang, kedatangannya mungkin hanya terlihat sebagai aktivitas distribusi bantuan biasa. Tetapi bagi warga yang tengah menunggu air, kedatangan tersebut membawa sesuatu yang jauh lebih penting: kesempatan untuk melewati hari tanpa terlalu cemas memikirkan kebutuhan air bersih.
Pada Selasa, 22 September 2026, Ansor-Banser melalui Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (BAGANA) bergerak ke dua wilayah terdampak kekeringan tersebut.
Sebanyak 28.000 liter air bersih didistribusikan. Sebanyak 21.000 liter dikirim ke Dusun Geyongan, Desa Kandangan, sedangkan 7.000 liter lainnya disalurkan ke Desa Lemah Ireng.
Air itu kemudian masuk ke penampungan warga.
Sebagian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagian lainnya menopang kebutuhan lembaga pendidikan yang juga harus tetap menjalankan aktivitas di tengah keterbatasan air.
Sebab kemarau tidak pernah membuat kegiatan belajar mengajar berhenti.
Anak-anak tetap datang. Guru tetap mengajar. Lingkungan sekolah harus tetap bersih. Fasilitas sanitasi tetap membutuhkan air.
Di situlah kekeringan menunjukkan wajahnya yang lain.
Bukan hanya tanah yang retak atau sumber mata air yang mengering, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang perlahan menjadi lebih sulit.
Perwakilan BAGANA Kabupaten Semarang, Nooryanto, mengatakan bantuan tersebut diberikan karena masyarakat menghadapi keterbatasan air bersih akibat kemarau yang berkepanjangan.
“Ketika musim kemarau berkepanjangan dan sumber mata air mulai kering, masyarakat tentu sangat membutuhkan air bersih. Karena itu, kami dari Ansor-Banser bersama BAGANA berusaha hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut,” ujar Nooryanto.
Menurut dia, kebutuhan air juga menyangkut keberlangsungan aktivitas lembaga pendidikan.
“Lembaga pendidikan juga membutuhkan air. Anak-anak tetap harus belajar, lingkungan sekolah harus tetap bersih dan kebutuhan dasar mereka harus terpenuhi. Jadi bantuan air ini bukan hanya soal mengisi penampungan, tetapi bagaimana aktivitas masyarakat dan pendidikan tetap bisa berjalan,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih besar.
Ketika air sulit didapat, kegiatan yang selama ini dianggap biasa mendadak membutuhkan perjuangan.
Mencuci tangan membutuhkan persediaan. Membersihkan ruang belajar membutuhkan air. Menggunakan toilet membutuhkan air. Memastikan anak-anak belajar dalam lingkungan yang sehat juga membutuhkan air.
Karena itu, bantuan air menjadi lebih dari sekadar bantuan sosial.
Ia menjadi penyangga agar kehidupan tetap berjalan ketika alam sedang tidak bersahabat.
Dari Laporan Menjadi Cerita Kemanusiaan
Dalam laporan kegiatan BAGANA, angka-angka itu tercatat sederhana: 21.000 liter untuk Geyongan dan 7.000 liter untuk Lemah Ireng.
Namun angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan rasa lega warga ketika penampungan kembali terisi.
Tidak pula mampu menggambarkan arti air bagi anak-anak yang tetap harus belajar.
Di balik 28.000 liter air tersebut, ada kerja para relawan yang bergerak sejak pagi hingga malam.
BAGANA bersama Ansor-Banser dan MLU Kabupaten Semarang menurunkan personel untuk mendistribusikan bantuan ke wilayah yang terdampak.
Mereka datang bukan untuk mengubah musim.
Mereka hanya berusaha memastikan bahwa di tengah kemarau, warga tidak sepenuhnya berjalan sendirian.
Nooryanto mengatakan keterbatasan kemampuan bukan alasan untuk membatasi kepedulian.
“Kami ingin Ansor-Banser benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kalau ada warga yang kesulitan air karena kekeringan, sebisa mungkin kami hadir dan membantu. Kemampuan kami mungkin terbatas, tetapi kepedulian jangan sampai terbatas,” ujarnya.
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang kerja kerelawanan.
Tidak semua persoalan bisa diselesaikan dalam sehari.
Distribusi air tidak serta-merta mengakhiri kekeringan. Hujan tetap menjadi jawaban yang paling ditunggu. Sumber mata air membutuhkan waktu untuk kembali pulih.
Tetapi bantuan itu memberi jeda.
Jeda bagi warga untuk bernapas.
Jeda bagi lembaga pendidikan untuk tetap menjalankan aktivitas.
Dan bagi anak-anak, jeda untuk tetap menjadi anak-anak—datang ke sekolah, belajar, bermain, tanpa harus terlalu jauh memikirkan bagaimana mendapatkan air untuk esok hari.
Di Geyongan dan Lemah Ireng, air akhirnya kembali mengalir ke penampungan.
Mungkin jumlahnya akan habis dalam hitungan hari.
Namun pesan yang dibawanya jauh lebih panjang.
Bahwa ketika kemarau membuat mata air mengering, masih ada orang-orang yang memilih datang membawa air.
Bahwa di tengah kesulitan, gotong royong masih menemukan jalannya.
Dan bahwa bagi mereka yang sedang menunggu hujan, setetes air bukan sekadar kebutuhan—ia adalah tanda bahwa harapan belum mengering.