Lingkar.co – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Penataan Ruang (Distaru) terus memperkuat pengawasan terhadap kondisi lereng di kawasan Gombel Lama. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pematangan lahan dan perbaikan infrastruktur di kawasan tersebut berjalan aman tanpa menimbulkan risiko pergerakan tanah.
Pengawasan dilakukan melalui inspeksi lapangan yang melibatkan Distaru Kota Semarang bersama Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya memastikan stabilitas lereng tetap terjaga di tengah pekerjaan pematangan lahan kawasan komersial Pakuwon serta perbaikan Jalan Gombel Lama.
Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, menegaskan bahwa aktivitas yang saat ini berlangsung di kawasan tersebut belum memasuki tahap pembangunan pusat perbelanjaan. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan masih berfokus pada penguatan struktur tanah dan pengamanan lereng.
“Yang sedang berjalan saat ini adalah proses pematangan lahan untuk meningkatkan stabilitas tanah. Jadi belum masuk pembangunan mal, tetapi fokus pada pengamanan lereng agar kondisi kawasan tetap aman,” ujar Ferry.
Untuk mengantisipasi potensi pergerakan tanah, Distaru menerapkan sistem monitoring geoteknik berlapis yang telah beroperasi selama dua tahun terakhir. Sistem tersebut memanfaatkan berbagai instrumen pemantauan yang ditempatkan di sejumlah titik strategis kawasan Gombel Lama.
Sebanyak 20 titik pemantauan telah dipasang perangkat inclinometer dan piezometer yang berfungsi mendeteksi pergerakan tanah, mengukur muka air tanah, hingga memantau tekanan fluida di bawah permukaan.
Menurut Ferry, hasil pemantauan dari seluruh sensor tersebut dievaluasi secara berkala setiap dua minggu sekali. Dengan sistem tersebut, perubahan kondisi tanah dalam skala kecil sekalipun dapat diketahui lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat segera dilakukan.
“Deformasi sekecil apa pun dapat terdeteksi melalui sistem monitoring ini sehingga tindakan antisipatif bisa dilakukan sebelum terjadi pergerakan tanah yang lebih besar,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengawasan terpadu juga dilakukan untuk menyelaraskan pekerjaan penguatan lereng dengan proyek perbaikan Jalan Gombel Lama yang saat ini dikerjakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DIY.
Sementara itu, anggota Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung, Prof. Dr. Ir. Bambang Setioko, M.Eng, menjelaskan bahwa metode geoteknik yang diterapkan dalam proyek tersebut telah melalui kajian teknis yang komprehensif.
Menurutnya, teknologi yang digunakan dirancang untuk mengurangi risiko pergerakan tanah sekaligus meningkatkan stabilitas lereng dalam jangka panjang. Salah satu metode yang diterapkan adalah sistem borpile pada proses pematangan lahan.
“Teknologi yang digunakan sudah melalui kajian mendalam. Metode borpile yang diterapkan relatif aman dan mampu meningkatkan stabilitas lereng tanpa menimbulkan dampak signifikan bagi lingkungan sekitar,” kata Bambang.
Ia menilai penguatan lereng di kawasan Gombel Lama tidak hanya mendukung rencana investasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena dapat mengurangi potensi bencana pergerakan tanah yang selama ini menjadi perhatian warga.
“Kami berharap kawasan ini nantinya tidak hanya menghadirkan investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan keamanan kawasan dari risiko pergerakan tanah,” ujarnya.
Berdasarkan hasil kajian geologi, kawasan Gombel Lama memang memiliki karakteristik tanah yang rentan mengalami pergerakan, terutama saat intensitas hujan tinggi. Oleh karena itu, penguatan lereng menjadi tahapan krusial yang harus diselesaikan sebelum pembangunan kawasan komersial dilaksanakan.
Melalui pengawasan geoteknik yang dilakukan secara berlapis dan kolaborasi antara pemerintah, tim ahli, serta instansi terkait, Pemkot Semarang berharap proses pembangunan di kawasan tersebut dapat berlangsung aman, berkelanjutan, dan tetap mengedepankan keselamatan lingkungan maupun masyarakat sekitar. ***