Kuartal Pertama Tahun 2026; Ekspor Industri Kerajinan Capai USD165,27 Juta, Naik 4,08 Persen

Inti berita

Lingkar.co - Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I tahun 2026 mencapai USD165,27 juta atau sekitar Rp2,97 triliun…

Kuartal Pertama Tahun 2026; Ekspor Industri Kerajinan Capai USD165,27 Juta, Naik 4,08 Persen
Nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I tahun 2026 mencapai USD165,27 juta atau sekitar Rp2,97 triliun atau naik 4,08 Persen dari tahun sebelumnya. Foto: Lingkar.co ilustrasi AI by Google Gemini

Lingkar.co - Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I tahun 2026 mencapai USD165,27 juta atau sekitar Rp2,97 triliun. Capaian tersebut meningkat 4,08 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus mencerminkan semakin tingginya apresiasi pasar internasional terhadap produk kerajinan Indonesia.

“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah,,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut Agus, kekuatan industri kreatif terletak pada kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan para perajin, sehingga produk kriya Indonesia terus menunjukkan daya saing yang semakin kuat di pasar global.

Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan penguatan ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, dan perluasan akses pasar

Sejalan dengan hal itu, pengembangan industri kerajinan juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri dan mendukung penerapan ekonomi sirkular. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok industri sekaligus menciptakan peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Sementara, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menegaskan bahwa peningkatan daya saing industri kerajinan nasional memerlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan

“Pengembangan keterampilan, pemanfaatan bahan baku alternatif, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular menjadi faktor penting dalam menciptakan produk kerajinan yang bernilai tambah tinggi dan berkelanjutan. Melalui berbagai program pendampingan dan peningkatan kapasitas, Kemenperin terus berupaya agar menghasilkan produk-produk kreatif yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menyontohkan, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda menjalin kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. 

Kegiatan tersebut sebagai bagian program ekonomi hijau berbasis sawit untuk meningkatkan nilai ekonomi produk kerajinan melalui optimalisasi pemanfaatan limbah dan produk samping sawit di Industri Kecil dan Menengah (IKM) kerajinan di Kalimantan Utara .

Workshop diikuti oleh 30 pelaku usaha kerajinan yang berasal dari Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Para peserta memperoleh pembekalan teori serta praktik pembuatan kerajinan anyaman dan kertas seni dengan memanfaatkan limbah maupun produk samping kelapa sawit sebagai bahan baku utama. (*)

Berita terkait

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu