Iklan

Limbah Kulit Pisang dan Tongkol Jagung Disulap Jadi Bahan Es Krim, Riset Dr Fahmi Dukung Hilirisasi Pangan Lokal

Inti berita

Limbah kulit pisang kepok dan tongkol jagung yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah ternyata dapat diubah menjadi bahan tambahan pangan bernilai ekonomi…

Limbah Kulit Pisang dan Tongkol Jagung Disulap Jadi Bahan Es Krim, Riset Dr Fahmi Dukung Hilirisasi Pangan Lokal
Es krim dengan CMC yang berasal dari kulit pisang kwpok dan tongkol jagung karya peneliti UNDIP, Dr Fahmi Arifan

Limbah kulit pisang kepok dan tongkol jagung yang selama ini kerap berakhir menjadi sampah ternyata dapat diubah menjadi bahan tambahan pangan bernilai ekonomi tinggi. 

Inovasi tersebut dikembangkan peneliti Universitas Diponegoro (UNDIP), Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng., melalui riset pemanfaatan limbah pertanian menjadi Carboxymethyl Cellulose (CMC) alami sebagai bahan penstabil es krim.

Dr. Fahmi Arifan mengatakan, penelitian ini lahir dari dua persoalan besar yang dihadapi industri pangan nasional, yakni tingginya ketergantungan terhadap bahan tambahan pangan (BTP) impor serta melimpahnya limbah biomassa pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Indonesia memiliki potensi limbah pertanian yang sangat besar, khususnya kulit pisang kepok dan tongkol jagung. Selama ini limbah tersebut belum memiliki nilai ekonomi yang optimal, padahal dapat diolah menjadi CMC alami yang aman digunakan sebagai bahan penstabil pangan," ujar Fahmi, Jum'at (30/7/2026).

Teknologi temuan Dr Fahmi tersebut telah memperoleh perlindungan hukum melalui Sertifikat Paten Sederhana Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Nomor IDS000013702 yang diterbitkan pada 20 Mei 2026. 

Paten tersebut menjadi bukti kebaruan metode ekstraksi CMC berbasis limbah biomassa hasil pertanian.

Fahmi menjelaskan, proses pengolahan dilakukan melalui tahapan ekstraksi selulosa dari kulit pisang kepok dan tongkol jagung sebelum dimodifikasi menjadi CMC yang memiliki karakteristik sesuai standar industri pangan.

Hasil penelitian menunjukkan rendemen CMC dari kulit pisang kepok mencapai 29,5 persen, sedangkan dari tongkol jagung sebesar 26,9 persen dengan tingkat keasaman netral sehingga aman diaplikasikan pada produk pangan.

"Formulasi terbaik menggunakan penambahan 1,5 gram CMC dengan waktu ageing selama 75 menit. Hasilnya mampu menghasilkan tekstur es krim yang lebih lembut, waktu leleh mencapai sekitar 16,7 menit, serta memperoleh tingkat penerimaan konsumen yang sangat baik berdasarkan uji organoleptik," jelasnya.

Selain meningkatkan kualitas produk, penggunaan CMC alami juga dinilai mampu menjadi alternatif pengganti bahan penstabil impor yang selama ini masih mendominasi industri pangan nasional.

Fahmi menilai inovasi tersebut sejalan dengan arah pembangunan Jawa Tengah yang mendorong hilirisasi hasil pertanian, ekonomi hijau, dan ekonomi sirkular.

"Melalui inovasi ini, limbah pertanian tidak lagi dipandang sebagai sampah, tetapi menjadi bahan baku industri bernilai tinggi. Ini sekaligus mendukung pengurangan limbah organik, memperkuat hilirisasi agroindustri, serta meningkatkan daya saing produk pangan lokal," katanya.

Ia menambahkan, jika teknologi ini diterapkan secara luas, pelaku UMKM khususnya produsen es krim dan makanan beku berpotensi menekan biaya pembelian bahan penstabil hingga 15–25 persen tanpa mengurangi kualitas produk.

Tak hanya berdampak pada sektor industri pangan, inovasi tersebut juga dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di sentra produksi jagung dan pisang melalui pengembangan rantai pasok limbah pertanian.

Fahmi berharap hasil riset yang dikembangkan di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat.

"Kami ingin hasil penelitian ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, limbah pertanian dapat menjadi sumber ekonomi baru, memperkuat UMKM, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus mendukung terwujudnya ekonomi hijau yang berkelanjutan," pungkasnya.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu