Bagi sebagian orang, gelar doktor adalah puncak pencapaian akademik. Namun, bagi Dr. Linda Indiyarti Putri, gelar itu justru menjadi awal dari ikhtiar panjang untuk menjawab satu kegelisahan: apakah calon guru madrasah di Indonesia sudah benar-benar siap membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman?
Pertanyaan itulah yang mengiringi langkah Linda hingga akhirnya berdiri di Aula Lantai 3 Gedung Sugeng Mardiyono, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (30/7/2026).
Di hadapan para penguji, ia menuntaskan perjalanan intelektualnya pada Program Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) UNY dengan mempertahankan disertasi yang lahir dari kepeduliannya terhadap kualitas pendidikan dasar Islam.
Bukan sekadar mengejar gelar, Linda memilih meneliti persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian. Ia menyoroti kemampuan numerasi mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), mereka yang kelak akan berdiri di depan kelas dan membimbing anak-anak Indonesia mengenal logika, data, hingga cara mengambil keputusan berdasarkan fakta.
Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, ia mengumpulkan data dari 1.319 mahasiswa PGMI di 30 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai daerah. Perjalanan itu bukan hanya tentang menyusun angka, tetapi juga memahami potret nyata kualitas calon pendidik Indonesia.
Dari penelitian tersebut lahirlah NU-ReMA (Numeracy Reasoning Multicontextual Assessment), sebuah instrumen asesmen yang dirancang untuk mengukur kemampuan numerasi secara lebih komprehensif. Inovasi ini diharapkan menjadi pijakan bagi perguruan tinggi dalam memetakan sekaligus meningkatkan kompetensi mahasiswa calon guru.
Namun, hasil penelitian itu justru menyisakan pekerjaan rumah yang besar.
Linda menemukan bahwa hanya 16,60 persen mahasiswa yang memiliki kemampuan numerasi pada kategori tinggi. Sebanyak 43,21 persen berada pada kategori sedang, sementara 40,18 persen lainnya masih berada pada kategori rendah.
Angka-angka itu tidak membuatnya berkecil hati. Sebaliknya, temuan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pendidikan guru membutuhkan perhatian yang lebih serius agar mampu melahirkan pendidik yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kemampuan bernalar dalam menghadapi persoalan kehidupan nyata.
"Kemampuan numerasi calon guru tidak cukup diukur dari kemampuan menghitung semata. Mereka harus mampu menafsirkan data, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan kuantitatif dalam kehidupan nyata. Temuan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa penguatan calon guru harus dilakukan secara berkelanjutan," ujar Dr. Linda.
Baginya, membangun kualitas guru berarti sedang membangun masa depan bangsa. Seorang guru yang mampu berpikir kritis akan melahirkan peserta didik yang tidak mudah terjebak informasi keliru, mampu membaca data dengan benar, dan berani mengambil keputusan secara rasional.
Prosesi ujian terbuka dipimpin Dr. Sukarno, S.Pd., M.Hum. bersama Prof. Dr. Aman, M.Pd., dengan bimbingan Prof. Dr. Heri Retnawati, S.Pd., M.Pd. dan Prof. Dr. Amat Jaedun, M.Pd.. Kehadiran penguji tamu Dr. Anidi, M.S.I., M.H. dari Universitas Muhammadiyah Kendari serta Prof. Dr. Ir. Edy Supriyadi, M.Pd. menjadi bagian dari proses ilmiah yang mengantarkan Linda meraih gelar doktor.
Di penghujung sidang, suasana berubah menjadi lebih emosional. Dengan penuh rasa syukur, Linda menyampaikan terima kasih kepada keluarga, para promotor, dosen, dan seluruh sivitas akademika UNY yang telah membersamainya selama perjalanan akademik.
"Terima kasih kepada promotor, ko-promotor, seluruh dosen, dan civitas akademika UNY. Saya sangat bangga menjadi bagian dari keluarga UNY. Semoga ilmu yang saya dapatkan selama menempuh studi ini dapat membawa manfaat, berkah, dan berdampak nyata bagi dunia pendidikan Indonesia," tuturnya.
Di balik toga yang dikenakan hari itu, tersimpan sebuah pesan sederhana: kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah atau canggihnya teknologi pembelajaran. Masa depan bangsa justru berawal dari kualitas guru yang setiap hari menyalakan cahaya pengetahuan di ruang-ruang kelas. Dan bagi Dr. Linda Indiyarti Putri, perjuangan untuk menyiapkan guru-guru berkualitas baru saja dimulai.