Iklan

Rumah yang Dulu Jadi Tempat Pulang, Kini Membuat Warga Gombel Lama Takut Terlelap

Inti berita

Ada masa ketika suara dari luar rumah menjadi tanda bahwa kehidupan sedang berjalan.Suara anak-anak bermain. Suara kendaraan melintas. Atau suara orang-orang…

Rumah yang Dulu Jadi Tempat Pulang, Kini Membuat Warga Gombel Lama Takut Terlelap
Seorang warga Gombel Lama Semarang tunjukkan tembok rumah yang retak karena proyek Pakuwon Mall

Ada masa ketika suara dari luar rumah menjadi tanda bahwa kehidupan sedang berjalan.

Suara anak-anak bermain. Suara kendaraan melintas. Atau suara orang-orang berbincang di depan rumah.

Namun, bagi warga RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, suara mesin proyek kini memiliki arti berbeda.

Ketika suara pengeboran terdengar dari kawasan pembangunan Mal Pakuwon di Jalan Gombel Lama, sebagian warga mengaku tidak lagi bisa sepenuhnya tenang.

Pandangan mereka spontan beralih ke dinding.

Retakan diperhatikan.

Lantai diperiksa.

Kusen pintu dan jendela kembali dilihat.

Sebab, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini dipenuhi tanda-tanda kerusakan yang oleh warga diduga berkaitan dengan aktivitas pembangunan proyek.

Ada dinding yang terbelah retakan panjang.

Ada lantai yang menggelembung seperti polisi tidur.

Ada kusen yang bergeser.

Bahkan, di salah satu rumah, retakan pada tembok disebut cukup lebar hingga jari tangan orang dewasa dapat masuk ke dalamnya.

Di situlah cerita warga Gombel Lama bukan lagi semata tentang pembangunan sebuah pusat perbelanjaan.

Ini tentang rasa aman yang perlahan hilang dari rumah sendiri.

Dari Retak Rambut Menjadi Retakan yang Membuat Cemas

Imam Sutono masih mengingat bagaimana suasana permukiman itu sebelum pekerjaan pengeboran berlangsung.

Rumah-rumah warga, menurut dia, memang pernah memiliki retakan kecil.

Tetapi retakan tersebut hanya sebatas retak rambut.

Tidak membuat penghuni rumah merasa perlu setiap saat memeriksa dinding.

Tidak pula membuat mereka memikirkan kemungkinan terburuk setiap kali suara alat berat terdengar.

Sekitar empat bulan lalu, menurut Imam, situasi mulai berubah.

Pekerjaan pengeboran proyek berlangsung.

Getaran alat berat mulai dirasakan warga.

Dari sana, retakan pada sejumlah rumah disebut semakin besar.

“Kalau dulu paling hanya retak rambut. Tapi setelah pengeboran dimulai, banyak rumah mengalami retak besar, lantai ambles, kusen miring, bahkan getarannya seperti gempa saat alat bor mengenai batu,” ujar Imam.

Bagi warga, getaran itu bukan hanya suara yang lewat sebentar.

Getaran dirasakan sampai ke rumah.

Dan ketika suara mesin berhenti, bekas kekhawatiran tetap tinggal.

Menurut Imam, sedikitnya 19 rumah di lingkungan tersebut telah melaporkan kerusakan yang mereka duga berkaitan dengan aktivitas pembangunan Mal Pakuwon.

Jumlah itu, kata dia, masih dapat bertambah karena proyek pembangunan hingga kini masih berlangsung.

Ketika Anak Sulit Belajar dan Balita Sulit Tidur

Dampak yang dirasakan warga juga tidak berhenti pada kondisi bangunan.

Aktivitas proyek disebut ikut mengubah ritme kehidupan sehari-hari.

Debu beterbangan di sekitar permukiman.

Suara mesin terdengar keras.

Aktivitas pengecoran bahkan disebut berlangsung hingga malam.

Bagi keluarga yang memiliki anak kecil, kondisi itu menjadi persoalan tersendiri.

Anak-anak kesulitan belajar ketika suara pengeboran terdengar.

Balita disebut tidak nyaman beristirahat pada siang hari.

Warga bahkan harus menyiram jalan untuk mengurangi debu.

“Anak-anak susah belajar, balita tidak bisa tidur siang karena suara bor sangat bising. Debunya juga luar biasa sampai warga harus menyiram jalan sendiri,” tutur Imam.

Kampung itu akhirnya seperti hidup di antara dua dunia.

Di satu sisi, pembangunan terus bergerak dengan mesin, alat berat dan aktivitas pekerja.

Di sisi lain, kehidupan warga harus tetap berlangsung.

Anak-anak harus belajar.

Orang tua harus bekerja.

Balita harus tidur.

Dan rumah harusnya tetap menjadi tempat untuk beristirahat.

Tetapi menurut pengakuan warga, ketenangan itu kini tidak lagi mereka rasakan sepenuhnya.

Parjono dan Rumah yang Kehilangan Bentuknya

Di antara rumah-rumah yang dilaporkan mengalami kerusakan, rumah milik Parjono disebut menjadi salah satu yang paling memprihatinkan.

Koordinator Forum Advokasi Rakyat (FAR), Eko Hariyanto, mengatakan kondisi rumah tersebut memperlihatkan kerusakan yang menurutnya tidak bisa dianggap sebagai persoalan kecil.

Lantai di dalam rumah menggelembung.

Tembok mengalami retakan lebar.

Pada bagian tertentu, retakan bahkan disebut dapat dimasuki jari tangan orang dewasa.

“Salah satu rumah yang mengalami kerusakan paling parah adalah milik Pak Parjono. Lantai di dalam rumahnya menggelembung seperti polisi tidur, sedangkan retakan pada temboknya sangat lebar hingga jari tangan bisa masuk,” kata Eko, Jumat malam (7/8/2026).

Rumah itu menjadi gambaran bagaimana perubahan fisik bangunan dapat membawa perubahan lain yang jauh lebih sulit diukur.

Rasa nyaman berubah menjadi waswas.

Rasa aman berubah menjadi pertanyaan.

Dan rumah yang dahulu dipandang sebagai tempat paling kokoh justru membuat penghuninya bertanya-tanya tentang kondisi bangunan tersebut.

Warga Menolak Sekadar Menutup Luka

Menurut Eko, pihak pengembang sebelumnya telah melakukan pendataan terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan.

Pengembang juga disebut sempat menawarkan perbaikan melalui vendor yang ditunjuk.

Namun, sebagian besar warga menolak tawaran tersebut.

Bukan semata karena tidak ingin rumahnya diperbaiki.

Warga khawatir persoalan tidak berhenti pada retakan yang sudah ada.

Bagi mereka, menambal dinding tidak otomatis menghilangkan kecemasan jika aktivitas pembangunan masih berlangsung.

“Warga tidak menginginkan rumahnya hanya diperbaiki. Mereka meminta ganti untung karena khawatir kerusakan akan terus berulang selama proyek masih berlangsung,” ujar Eko.

Karena itu, tuntutan warga berkembang menjadi permintaan ganti untung yang layak.

Bahkan, apabila proyek tetap berjalan, warga berharap pengembang mempertimbangkan membeli rumah-rumah yang terdampak.

Bagi mereka, yang dipersoalkan bukan lagi sekadar berapa biaya untuk memperbaiki tembok.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting.

Yakni keyakinan bahwa rumah tersebut masih aman untuk ditinggali.

FAR Bersiap Membawa Suara Warga ke Pengadilan

Persoalan tersebut kemudian dibawa ke jalur advokasi.

Eko mengatakan FAR telah menempuh langkah administratif untuk memperjuangkan kepentingan warga.

Namun, apabila tidak ada penyelesaian yang dianggap adil, pihaknya menyiapkan langkah hukum.

“Kami sudah menempuh langkah administratif. Jika tuntutan warga tidak direspons, kami akan mengajukan Citizen Lawsuit atau gugatan warga negara sebagai upaya hukum terakhir,” tegasnya.

Eko juga menilai belum terlihat langkah konkret dari Pemerintah Kota Semarang maupun pihak pengembang untuk menyelesaikan persoalan yang dikeluhkan warga.

Warga berharap pemerintah tidak hanya menghitung pembangunan dari nilai investasi, pusat ekonomi baru, atau perubahan wajah kawasan.

Mereka meminta kehidupan masyarakat yang berada tepat di sekitar proyek juga diperhitungkan.

Sebab, bagi warga, pembangunan bukan hanya soal apa yang akan berdiri di atas tanah itu beberapa tahun mendatang.

Ada kehidupan yang sedang berlangsung di sekelilingnya.

Ada rumah yang sudah ditempati bertahun-tahun.

Ada keluarga yang tumbuh di dalamnya.

Ada anak-anak yang belajar di sana.

Ada orang tua yang berharap bisa menua dengan tenang.

Dan ada kenangan yang tidak mungkin dihitung hanya dengan nilai rupiah.

Kini, setiap retakan di rumah warga Gombel Lama seperti menyimpan cerita sendiri.

Tentang suara bor yang datang beberapa bulan terakhir.

Tentang getaran yang dirasakan di dalam rumah.

Tentang debu yang masuk ke lingkungan permukiman.

Tentang anak-anak yang kesulitan belajar.

Tentang balita yang terganggu tidurnya.

Dan tentang rasa aman yang perlahan terkikis.

Pembangunan mungkin akan terus bergerak.

Bangunan baru akan berdiri.

Kawasan itu mungkin akan berubah.

Tetapi di tengah perubahan tersebut, warga hanya ingin satu hal yang sederhana: tetap bisa pulang ke rumah tanpa rasa takut.

Karena bagi mereka, rumah bukan sekadar dinding, lantai, kusen dan atap.

Rumah adalah tempat terakhir untuk merasa aman.

Dan ketika tempat itu mulai membuat penghuninya cemas, yang retak bukan hanya temboknya.

Rasa percaya dan ketenangan di dalam rumah pun ikut retak.

Bagikan artikel ini

Sebarkan ke teman atau simpan tautannya.

Baca juga

Rekomendasi untuk kamu