Arsip Tag: Kerukunan

Pengurus MLKI Kabupaten Pemalang Resmi Dilantik, Wujud Nyata Pengakuan Eksistensi Penghayat Kepercayaan

Lingkar.co – Pengurus Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Pemalang periode 2026–2031 resmi dilantik di Sasana Bhakti Praja Pemalang, Sabtu (18/04/2026).

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pemalang, Joko Ngatmo mewakili Bupati, menyampaikan, pelantikan kepengurusan MLKI memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga sebagai momentum penting dalam memperkuat pembinaan, pelestarian, serta pengembangan nilai-nilai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di tengah kehidupan masyarakat.

Melalui sambutan tertulis, Bupati juga menegaskan bahwa pelantikan ini merupakan wujud nyata pengakuan terhadap eksistensi penghayat kepercayaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, keberagaman keyakinan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat harus dipandang sebagai kekayaan bangsa yang wajib dihormati, dilindungi, serta dipelihara bersama.

Ia melanjutkan, Pemkab Pemalang, berkomitmen menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, persatuan, dan penghormatan terhadap seluruh elemen masyarakat guna mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis dalam bingkai keberagaman.

Selanjutnya, kata dia, Bupati berharap, kepengurusan MLKI yang baru, dapat menjalankan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab dan bisa berperan aktif dalam menjaga serta melestarikan nilai-nilai luhur kepercayaan dan kearifan lokal, meningkatkan kerukunan antarumat, memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, serta berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan pembangunan daerah menuju terwujudnya Pemalang yang bercahaya.

Sementara, Ketua Presidium MLKI Dewan Musyawarah Wilayah Provinsi Jawa Tengah, KRT. Rosa Mulya Aji mengapresiasi Pemkab Pemalang atas dukungan yang telah diberikan, sehingga MLKI dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik di tengah masyarakat.

Dalam acara itu, Ia mengingatkan pentingnya peran pengurus MLKI sebagai teladan bagi masyarakat dengan melalui penguatan nilai budi pekerti, peningkatan sinergi dengan pemerintah, serta optimalisasi pendataan dan pelayanan bagi warga penghayat kepercayaan, guna menjamin terpenuhinya hak-hak sipil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan dilantiknya kepengurusan MLKI Kabupaten Pemalang periode 2026–2031, diharapkan dapat semakin memperkuat koordinasi, pembinaan, serta pelayanan kepada masyarakat penghayat kepercayaan, sekaligus memperkokoh nilai-nilai persatuan dalam keberagaman sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Sebagai informasi, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Pemalang merupakan wadah organisasi bagi komunitas penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kabupaten Pemalang.

MLKI dalam pelaksanaan tugas dan kegiatannya berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah melalui Badan Kesbangpol serta instansi terkait lainnya, khususnya dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. (*)

Kompak Jaga Harmoni, FKUB Pati Masuk Tiga Besar Nasional

Lingkar.co – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Pati meraih peringkat ketiga Harmony Award 2025 di Jakarta pada Jumat (28/11/2025) lalu.

Ketua FKUB Kabupaten Pati, Ahmad Manhajussidad Shonhaji menyampaikan bahwa prestasi ini adalah bukti kuatnya kerukunan di Pati, sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk terus merawat dan menjaga toleransi dan harmoni antarumat beragama di Kabupaten Pati.

Ia mengungkapkan bahwa FKUB Kabupaten Pati berhasil meraih peringkat ketiga kategori Kinerja Terbaik FKUB Kabupaten dalam ajang bergengsi Harmony Award 2025. Penghargaan tersebut, katanya, diberikan di Hotel DoubleTree by Hilton Jakarta Kemayoran dan menjadi pencapaian penting bagi upaya menjaga harmoni antarumat beragama di Kabupaten Pati.

“Bahwa prestasi ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus amanah besar bagi seluruh masyarakat Pati,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Manhajussidad juga menekankan bahwa pengalaman FKUB Pati selama ini merupakan perjalanan panjang dalam menjalin harmoni dan sinergi dengan berbagai pihak.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari peran para pemimpin daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Pati.

Shonhaji juga menyampaikan kebanggaannya atas sambutan luar biasa dalam malam penganugerahan tersebut.

“Tadi malam dalam penyerahan Harmony Award, Kabupaten Pati mendapatkan simpati dan perhatian yang sangat mencengangkan. Alhamdulillah, dengan kekompakan, kerja sama, dan kolaborasi kami, FKUB Kabupaten Pati berhasil menorehkan sejarah baru dalam perjuangan menjaga kerukunan umat beragama,” tutupnya.

Bupati Pati, Sudewo, pun turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa prestasi ini merupakan bukti nyata bahwa Kabupaten Pati mampu menjaga stabilitas sosial dan toleransi secara berkelanjutan.

“Penghargaan ini bukan hanya milik FKUB, tetapi milik seluruh masyarakat Pati. Ini menunjukkan bahwa Pati adalah daerah yang mampu menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, dan mengutamakan dialog. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi kita bersama untuk terus memperkuat toleransi dan menjaga keharmonisan di Kabupaten Pati,” ujar Bupati.

Lebih lanjut, Sudewo mengatakan, bahwa keberhasilan FKUB meraih peringkat ke-3 Harmony Award dalam kategori FKUB Kabupaten Terbaik merupakan sebuah prestasi yang luar biasa.

“Lebih dari itu, ini adalah tanggung jawab bagi kita semua masyarakat Kabupaten Pati untuk terus menjaga, untuk terus memagari kerukunan yang telah kita ciptakan selama ini,” ujarnya.

Ia pun menegaskan pentingnya upaya bersama dalam mencegah potensi konflik.

“Jangan sampai ke depan masih ada konflik yang berbau SARA, konflik yang bernuansa antarumat beragama, hal itu sangat buruk untuk kita semua,” pungkasnya. (*)

Peringatu HAB ke-79, Kemenag: Jadi Momentum Perkuat Kerukunan di Rembang

Lingkar.co – Seluruh jajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rembang mengikuti upacara Hari Amal Bhakti (HAB) ke-79, Jumat (3/1/2025).  Kegiatan yang dipusatkan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Rembang itu dipimpin langsung oleh Kepala Kemenag Rembang M. Mukhson selaku inspektur upacara.

Kepala Kemenag Rembang, M. Mukhson, saat membacakan sambutan Menteri Agama Republik Indonesia, KH. Nasaruddin Umar mengatakan tema peringatan HAB ke-79 yakni Umat Rukun Menuju Indonesia Emas.

”Ini merupakan wujud nyata dari misi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran yang mengamanatkan betapa Indonesia Emas dapat terwujud jika umat hidup rukun dan harmonis. Sebaliknya, Indonesia emas akan sulit diwujudkan sekiranya umat tidak rukun dan tidak harmonis,” imbuhnya.

Ia menjelaskan perlunya hidup rukun dan damai karena Indonesia merupakan negara besar dengan 17.508 pulau, 1.340 suku bangsa, 715 bahasa daerah, dan beragam agama.

Kondisi ini merupakan salah satu keajaiban dunia dan anugerah Tuhan. Untuk itu peran moral kerukunan perlu kita suarakan di berbagai forum dan saluran informasi.

Terlebih Kemenag tidak hanya mengurusi permasalahan agama Islam saja. Tapi juga agama-agama lain yang diakui di Indonesian dan itu menunjukkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler atau negara yang memperbolehkan propaganda antiagama.

Mukhson mengakui, bahwa sejauh ini di Rembang belum pernah ada keluhan tentang kerukunan antar umat beragama. Pasalnya, Rembang ini sudah alami. Perbedaan itu sudah tidak menjadi masalah. Mereka berinteraksi setiap hari juga dengan berbagai latar belakang tidak terjadi masalah. Sudah kohesif.

“Di Lasem itu bentuk konkretnya. Orang di Warung Kopi bisa bertemu dengan berbagai latar belakang. Suasana seperti itu sudah terwariskan sejak dulu. Maka kita tinggal merawatnya” ujarnya.

Program yang dilakukan oleh Kemenag Rembang menurut Mukhson agar antar umat beragama rukun dan harmonis dengan mempertemukan tokoh-tokoh agama bersama Forum Kerukunan Umat Beragama. Melalui penyuluh yang tergabung dalam Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia dan Penyelenggara (Gara) melakukan penyuluhan kepada para pemeluk agama masing-masing.

Dalam rangka untuk memeriahkan HAB ke-79 kementerian untuk semua agama itu, di Rembang digelar bakti sosial, lomba-lomba, pengajian dan pada Sabtu (4/1) dimeriahkan jalan sehat kerukunan, di Alun-alun Kota Rembang. Bagi peserta yang beruntung disediakan hadiah utama berupa 1 sepeda motor dan 7 voucher umroh. (*)

Penulis: Miftah

Sambut Hangat Yoyok-Joss, Pemeluk Hindu Semarang Titipkan Pesan Perda Kerukunan Umat Beragama

Lingkar.co – Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menyambut hangat kehadiran pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang nomor 02, AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss). Mereka menitipkan pesan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Kerukunan Umat Beragama kepada kedua calon pemimpin ibu kota Jawa Tengah ini

Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayana menyampaikan pesanl itu saat berdiskusi dengan Yoyok-Joss di Madya Mandala, kompleks Pura Agung Giri Natha, Jumat (4/10/2024).

Ada beberapa masukan dan saran kepada Yoyok-Joss dalam diskusi itu. Mereka berharap, Yoyok-Joss dapat merealisasikan terbitnya Perda tersebut ketika menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang kelak. Sebab, menurut mereka, Semarang harus memiliki peraturan itu karena menjadi daerah berpredikat Kota Toleran nomor lima se-Indonesia versi Setara Institut.

“Sangat penting karena menjadi penilaian tertinggi dalam kota toleran, Kota Semarang memang belum membuat aturan-aturan seperti Perda Kerukunan Umat Beragama, itu sebagai satu dari nilai indeks Kota Toleran,” kata Nengah.

Nengah mengatakan, Perda Kerukunan Umat Beragama menjadi pekerjaan rumah atau PR Yoyok-Joss ketika memimpin Kota Semarang mendatang. Dia menyebut sudah sepantasnya Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) memiliki perda tersebut.

“Apalagi Kota Semarang sudah empat kali mendapat Harmoni Award berturut-turut dari Kementerian Agama. Ini menjadi hal yang harus diperhatikan, bagaimana mempertahankan torehan-torehan tersebut,” ujarnya.

Lain hal lagi, Nengah pun menyampaikan beberapa masukan dan saran terkait kemajuan dan pembangunan Kota Semarang. Satu di antaranya adalah menuju Kota Metropolitan yang ramah destinasi wisata.

“Membangun, menata Semarang sebagai kota metropolitan. Termasuk juga mewujudkan Kota Semarang sebagai destinasi wisata kemudian maju, tidak mempersoalkan dikotomi minoritas, tetapi menjadi kota milik bersama,” katanya.

Semua yang disampaikan oleh umat Hindu diperhatikan oleh Yoyok Sukawi dan Joko Santoso. Keduanya menaruh perhatian serius terhadap masukan dan saran tersebut.

“Kami akan segera menginisiasi Perda Kerukunan Umat Beragama ini memayungi semua umat beragama dalam beribadah,” kata lelaki bernama lengkap Alamsyah Satyanegara Sukawijaya tersebut.

Menurutnya, dengan adanya Perda Kerukunan Umat Beragama pemerintah bisa mengatur dengan baik agar toleransi terus terjaga di Kota Semarang.

Dia bersama Joko Santoso akan mengajak seluruh elemen masyarakat tak terkecuali pemuka agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk membahas perda tersebut.

“Semua akan kami bahas bersama FKUB dan pemuka-pemuka agama untuk bersama membuat aturan supaya saling menghormati, dan saling menghargai,” katanya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Terima Kunjungan Gus Yasin, Pengusaha Tionghoa Magelang Titip Pertahankan Pluralisme

Lingkar.co – Pengusaha Toko Mas terbesar di Magelang, HK Slamet Santoso menitipkan pesan kepada Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin agar tetap menjaga pluralisme dan keberagaman saat kembali menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah.

HK Slamet Santoso menyampaikan pesan itu saat menerima kunjungan Gus Yasin di kantornya HK Mustika Group, di Jl Pemuda Magelang, Rabu, (2/10/2024) kemarin.

“Matur nuwun Gus kerso rawuh, kami titip tetap menjaga keberagam Jawa Tengah supaya Damai dan aman,” kata pemilik 17 toko emas di kota/kabupaten Magelang ini.

Menurut Ketua PSMTI Kota Magelang dan Juga Wakil Ketua PSMTI Jawa Tengah (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) ini menambahkan, warga Tionghoa sebenarnya tidak pernah minta macam-macam kepada pemerintah. Yang diinginkan hanya jaga pluralisme karena sebuah kenyataan yang harus di jaga.

“Kami cuma minta itu aja Gus, karena kami tidak pernah minta proyek dan pekerjaan apapun ke pemerintah.,” imbuhnya.

Gus Yasin mengaku senang mendengar masukan warga Tionghoa di Magelang. Karena keberagaman itu sebuah kenyataan.

“Matur nuwun Pak HK atas masukan-masukan yang diberikan, menjadi catatan penting bagi kami ke depan,” jelasnya.

Pasangan Cagub Ahmad Luthfi itu juga berterimakasih kepada warga Tionghoa yang sudah menjaga kedamaian dan memberikan dukungannya.

“Salut dan apresiasi yang tinggi kepada PSMTI yang banyak membantu masyarakat dengan kegiatan sosialnya. Saya titip salam untuk kawan-kawan,” katanya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Hadiri Diklatsar Banser, Iswar Beri Pesan Jaga Kerukunan dan Toleransi

Lingkar.co – Bakal Calon Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin berpesan kepada puluhan calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk terus menjaga kerukunan dengan menguatkan toleransi dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar manusia). Ia meminta jangan mendiskriminasi saudara sesama manusia karena perbedaan agama.

“Kita ini saling bersaudara, seduluran, bolo kabeh (sahabat semua). Jadi tolong jaga persaudaraan dan kerukunan antar lintas agama dan suku, terutama yang ada di Semarang,” ujarnya saat dikonfirmasi Lingkar.co pada Sabtu (7/9/2024).

Iswar menyampaikan itu saat menghadiri kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 8 September 2024. Kedatangan Iswar dikawal ketat oleh pasukan Banser saat memasuki area Diklatsar.

Ia lantas menerangkan, persaudaraan adalah poin penting dalam pembangunan. Apalagi, menurut Iswar, Kota Semarang memiliki potensi besar untuk maju. “Kita ini, Kota Semarang, punya potensi besae jadi kota yang maju,” tuturnya.

Oleh karenanya, Iswar melanjutkan, untuk membangun pondasi kemajuan tersebut, toleransi dan persaudaraan jadi poin penting.

“Maka dari itu, pondasi utama kemajuan sebuah daerah adalah kerukunan dan toleransi,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Iswar juga menyatakan bahwa selama ini Ansor dan Banser adalah garda depan dalam menjaga toleransi.

“Sejarah sudah membuktikan, Ansor dan Banser berhasil mengawal demokrasi dan menjadi garda terdepan toleransi,” tuturnya.

Iswar lantas menyontohkan pada Pemilu 2014 dan 2019 yang sangat kental isu agama dengan nuansa radikal karena banyaknya kelompok-kelompok intoleran, Ansor dan Banser yang berhasil mengalahkan mereka.

“Ingat saat 2014 dan 2019. Banyak sekali kelompok-kelompok radikal yang tumbang karena dikalahkan Ansor dan Banser,” tuturnya.

Di akhir, Iswar meminta agar Ansor dan Banser konsisten dengan ideologi Aswaja serta Islam Rahmatan Lil Alamin agar terwujud alam demokrasi yang toleran dan penuh rasa persaudaraan.

“Ayok kita terua istiqomah (konsisten) menjalankan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dan Islam Rahmatan Lil Alamin agar terwujud toleransi dan rasa persaudaraan,” tutupnya. (*)

Penulis: Bojes
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

PHDI Sebut Ganjar Mampu Jaga Kerukunan di Jawa Tengah Selama 10 Tahun Memimpin

Lingkar.co – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menyebut, Ganjar Pranowo mampu menjaga kerukunan antarumat beragama selama 10 tahun memimpin Jawa Tengah.

Hal ini dikatakan Ketua PHDI Semarang, I Nengah Wirta Darmayana, seusai menerima kedatangan Gubernur Ganjar Pranowo di komplek Pura Agung Girinatha, Semarang, Jumat (1/9/2023).

Menurutnya dalam dua periode memimpin Jateng, Ganjar bisa mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Ia menilai, Ganjar punya pendekatan sosial yang baik kepada masyarakat.

“Kalau kita melihat dua periode ini memang Pak Ganjar cukup baik, jadi bagaimana beliau untuk mengatasi permasalahan-permasalahan personal maupun pendekatan sosialnya kepada masyarakat,” katanya.

Nengah lantas menegaskan, hasilnya dapat dilihat dari sepuluh tahun memimpin tidak ada hal yang berarti mengganjal pemerintahan Ganjar Pranowo. Bahkan, menurutnya, kerukunan di Jawa Tengah meningkat.

“Menurut kami sudah sangat baik di Jawa Tengah, terbukti Jawa Tengah ini ada empat daerah yang mendapatkan Harmoni Award di Indonesia. yaitu Kota Semarang, Salatiga, Solo kemudian satu lagi Magelang. Ini luar biasa terkait masalah kerukunan,” ujarnya.

Sementara, Gubernur Ganjar Pranowo menuturkan jelang masa purnatugasnya pada 5 September berusaha memastikan seluruh pekerjaan selesai. Ia katakan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di Provinsi Jateng juga berkomitmen menyelesaikan targetnya masing-masing.

“Setidaknya di akhir tahun sebagai sebuah pertanggungjawaban saya nanti dan kawan-kawan, alhamdulillah mereka semuanya berkomitmen untuk menyelesaikan PR-PR itu,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Capres PDI Perjuangan ini juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang turut menyukseskan pemerintahannya. Tak terkecuali para tokoh agama dan masyarakat. Ia pun sengaja berkeliling di akhir masa jabatannya menemui para tokoh untuk berpamitan.

“Bagian dari relasi sosial yang mesti kita rawat selama bulan Agustus saya berkeliling ketemu banyak tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu-nya belum nanti kita akan sowan ke sana termasuk tokoh-tokoh masyarakat, yang kita harapkan silaturahmi ini terjaga,” tandasnya. (*)

Penulis Ahmad Rifqi Hidayat

Benahi Kerukunan Beragama di Ibu Pertiwi, Jadi PR Besar Menag Yaqut Cholil

JAKARTA, Lingkar.co – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menunjuk Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama (Menag) di Kabinet Indonesia Maju untuk menggantikan Fachrul Razi.

Yaqut bersama lima menteri baru dalam reshuffle kabinet rencananya dilantik Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Rabu (23/12) siang.

Sebagai menteri agama yang baru, sejumlah pekerjaan rumah sudah menanti Gus Yaqut, sapaan akrab Yaqut. Salah satunya, terkait persoalan menahun yakni mengenai toleransi beragama di negara yang berdasarkan Pancasila dan bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika ini.

Berdasarkan riset Setara Institute, berbagai insiden pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan (KKB) dan ekspresi intoleransi menunjukkan peningkatan intensitas pada setahun periode Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

Beberapa insiden yang dicatat Setara antara lain, pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas pendeta di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) Kecamatan Napagaluh, Kabupaten Aceh Singkil, yang terjadi pada 1 September 2020.

Setara juga mencatat, peristiwa gangguan sekelompok orang intoleran atas ibadah terhadap jemaat HKBP KSB di Kabupaten Bekasi, penolakan ibadah dilakukan sekelompok warga Graha Prima Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor terhadap jemaat dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) hingga pelarangan ibadah bagi umat Kristen di Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Sementara jika merujuk catatan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) sepanjang 2020, organisasi nonpemerintah (ornop) itu menemukan setidaknya terjadi 48 peristiwa pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan beribadah di 17 Provinsi di Indonesia.

Tiga provinsi dengan angka tertinggi adalah Jawa Barat dengan 10 peristiwa, Jawa Timur 6 peristiwa, dan Jawa Tengah 5 peristiwa.

Peristiwa pelanggaran itu didominasi serangan, pembatasan, diskriminasi yang dilakukan oleh satu kelompok masyarakat terhadap suatu aktivitas agama dan ibadah yang dilakukan kelompok lainnya.

Seiring isu toleransi itu, Yaqut juga punya pekerjaan rumah soal radikalisme. Menko Polhukam Mahfud MD, belum lama ini mengatakan aksi-aksi dan paham-paham radikalisme memang mulai kembali bermunculan di Indonesia.

Menurutnya, keutuhan ideologi Indonesia saat ini sedang dihadapkan dengan segala bentuk radikalisme. Terkait radikalisme itu, Yaqut pun memiliki pekerjaan rumah untuk membersihkan citra Kemenag terkait mitigasi radikalisme yang justru kerap kali menimbulkan polemik saat Menag masih dijabat Fachrul Razi.

Sebagai informasi, Fachrul Razi, sejak menjadi menteri agama pada Kabinet Indonesia Maju pada 2019 silam pun diketahui membawa Kemenag menaruh perhatian besar pada upaya menekan radikalisme yang masuk lewat syiar agama.

Salah satunya, pada 25 November lalu, Fachrul yang juga dikenal pernah menjadi Wakil Panglima TNI itu sempat mengatakan tindakan kekejian dan kekerasan yang mengatasnamakan agama atau seolah-olah sebagai perintah agama marak terjadi akhir-akhir ini.

Fachrul mengatakan tindakan tidak terpuji itu selalu dimulai dari intoleransi, kemudian dilanjutkan dengan ujaran kebencian untuk menghasut tindak kekerasan yang dibalut dengan ajaran agama.

Atas dasar itu, Kemenag pun menelurkan sebuah kebijakan yang lalu berpolemik sehingga dievaluasi terkait mengikisi risiko radikalisme seperti sertifikasi ulama hingga penyusunan naskah khotbah jumat untuk digunakan di masjid-masjid.

Tak lepas dari itu, Fachrul juga kerap beberapa kali mengeluarkan pernyataan terkait radikalisme yang memicu polemik di tingkat masyarakat dari mulai penggunaan cadar, celana cingkrang, hingga terakhir adalah terkait menyusupnya radikalisme ke masjid-masjid lewat anak muda berpenampilan baik (good looking) dan hafiz.

Pekerjaan rumah lainnya yang menanti Gus Yaqut adalah terkait penyelenggaran haji. Untuk diketahui, Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia telah membuat penyelenggaraan haji pada 2020 terkendala.

Di tengah belum pastinya informasi dari Arab Saudi ihwal penyelenggaraan haji pada tahun depan, Kemenag punya pekerjaan untuk membahas-membahas kemungkinan-kemungkinan skema penyelenggaraan haji di tengah pandemi.

Terkait penyelenggaraan haji, Menag sebelumnya, Fachrul Razi sempat dikritik DPR, sebab keputusannya membatalkan keberangkatan ibadah haji tahun 1441 Hijriah/2020 M disebut tanpa melibatkan legislatif.

Tak hanya itu, Kemenag dan tentunya kementerian terkait lainnya, juga punya pekerjaan rumah memastikan penyelenggaraan di sektor pendidikan islam berjalan dengan baik dan aman dari penularan Covid-19.

Data dari Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) hingga 11 Desember, tercatat 207 ulama pengasuh pondok pesantren telah meninggal dunia karena terpapar Covid-19.

Ketua RMI PBNU Abdul Ghofarrozin menyebut peristiwa itu menjadi tanda bahwa negara belum hadir saat badai pandemi Covid-19 menghantam pondok pesantren. Ia mengungkap sosialisasi dan edukasi Covid-19 di pesantren masih minim.

Selain itu, ia menilai komunikasi publik pemerintah kurang baik saat terjadi klaster Covid-19 di pesantren. Pondok pesantren juga kesulitan mengakses bantuan tes PCR.

Selain ulama yang meninggal itu, kasus santri yang terpapar Covid-19 juga marak terjadi di beberapa daerah. Data PBNU hingga Oktober, ada sekitar 4.000 santri terpapar Covid-19 dan 100 lebih pesantren menjadi klaster penularan.

Yaqut sendiri, telah menyampaikan sedikit program yang akan ia jalankan selama menjabat sebagai Menag. Salah satunya adalah mendorong kemajuan pendidikan agama, termasuk pondok pesantren.

Yaqut berharap agar pondok pesantren bisa mandiri dan pada akhirnya melahirkan kader terbaik bangsa.

“Bagaimana pondok pesantren bisa didorong mandiri dan pada akhirnya akan melahirkan kader-kader terbaik bangsa, yang bisa beri sumbangsih terbaiknya untuk bangsa dan negara,” kata Yaqut di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (22/12). (ara/aji)