Arsip Tag: Kerukunan Beragama

Jaga Semarang Tetep Guyub dan Toleran, Yoyok-Joss Komitmen Wujudkan Perda Kerukunan Umat Beragama

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi mengungkapkan kerukunan umat beragama menjadi pilar utama persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu ia bersama Calon Wakil Wali Kota Semarang, Joko Santoso alias Joko Joss ingin menjaga Semarang yang toleran dan guyub warganya.

Untuk itu, ia tegaskan masa kepemimpinan Yoyok-Joss berkomitmen akan mewujudkan Peraturan Daerah (Perda) Kerukunan Umat Beragama.

Hal itu diungkapkan pria bernama lengkap Alamsyah Satyanegara Sukawijaya tersebut saat Talk Show Pluralisme dalam Menyongsong Pilkada 2024 bertajuk “Merawat Keberagaman, Selaras dalam Kebhinekaan” yang dihadiri ratusan umat Katolik di Quest Hotel Jalan Plampitan Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (19/10/2024).

“Semarang masuk peringkat kelima kota toleran se-Indonesia, ini yang harus dibanggakan karena Kota Semarang multietnis, multikultural,” kata Yoyok, dalam talk show yang diselenggarakan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang itu.

Menurutnya, Semarang yang telah dikenal sebagai kota multietnis dan multikultur itu, harus menjadi kebanggaan bersama. Dengan begitu, Yoyok menyebut Ibu Kota Jateng dapat menjadi rujukan keberagaman beragama di Indonesia.

Hal itu, bagi Yoyok harus diperkuat dengan adanya Perda Kerukunan Umat Beragama sebagai media payung hukum semua umat beragama di Kota Semarang dalam beribadah maupun berkegiatan.

Inisiasi aturan daerah itu juga berdasarkan hasil rententan kajian dan diskusi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang, serta tokoh-tokoh masyarakat.

Yoyok Sukawi saat Talk Show Pluralisme dalam Menyongsong Pilkada 2024 bertajuk "Merawat Keberagaman, Selaras dalam Kebhinekaan" di Quest Hotel Jalan Plampitan Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (19/10/2024). Foto: dokumentasi
Yoyok Sukawi saat Talk Show Pluralisme dalam Menyongsong Pilkada 2024 bertajuk “Merawat Keberagaman, Selaras dalam Kebhinekaan” di Quest Hotel Jalan Plampitan Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (19/10/2024). Foto: dokumentasi

“Yang ditakutkan FKUB kalau pemimpin baru dan punya kebijakan baru. Tetapi kami akan membuat Perda Kerukunan Umat Beragama sebagai payung hukum, supaya ini bisa melindungi seluruh agama di Kota Semarang,” tuturnya.

Hal lain yang menjadi perhatiannya adalah terkait perizinan rumah ibadah. Dia menyatakan sudah tidak saatnya mempersulit umat beragama mendirikan tempat ibadah di Ibu Kota Jateng.

“Perda Kerukunan Umat Beragama, dan inilah semangat bocahe dewe,” kata Politikus Partai Demokrat tersebut yang disambut tepuk tangan meriah dari umat Katolik dan ratusan kader PSI yang hadir.

Dalam talk show tersebut, menghadirkan Guru Besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof FX Sugianto dengan dimoderatori oleh Dewan Pakar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Dewi S Budiharjo.

Sambut Hangat Yoyok-Joss, Pemeluk Hindu Semarang Titipkan Pesan Perda Kerukunan Umat Beragama

Lingkar.co – Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menyambut hangat kehadiran pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang nomor 02, AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss). Mereka menitipkan pesan adanya Peraturan Daerah (Perda) tentang Kerukunan Umat Beragama kepada kedua calon pemimpin ibu kota Jawa Tengah ini

Ketua PHDI Kota Semarang, Nengah Wirta Dharmayana menyampaikan pesanl itu saat berdiskusi dengan Yoyok-Joss di Madya Mandala, kompleks Pura Agung Giri Natha, Jumat (4/10/2024).

Ada beberapa masukan dan saran kepada Yoyok-Joss dalam diskusi itu. Mereka berharap, Yoyok-Joss dapat merealisasikan terbitnya Perda tersebut ketika menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang kelak. Sebab, menurut mereka, Semarang harus memiliki peraturan itu karena menjadi daerah berpredikat Kota Toleran nomor lima se-Indonesia versi Setara Institut.

“Sangat penting karena menjadi penilaian tertinggi dalam kota toleran, Kota Semarang memang belum membuat aturan-aturan seperti Perda Kerukunan Umat Beragama, itu sebagai satu dari nilai indeks Kota Toleran,” kata Nengah.

Nengah mengatakan, Perda Kerukunan Umat Beragama menjadi pekerjaan rumah atau PR Yoyok-Joss ketika memimpin Kota Semarang mendatang. Dia menyebut sudah sepantasnya Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) memiliki perda tersebut.

“Apalagi Kota Semarang sudah empat kali mendapat Harmoni Award berturut-turut dari Kementerian Agama. Ini menjadi hal yang harus diperhatikan, bagaimana mempertahankan torehan-torehan tersebut,” ujarnya.

Lain hal lagi, Nengah pun menyampaikan beberapa masukan dan saran terkait kemajuan dan pembangunan Kota Semarang. Satu di antaranya adalah menuju Kota Metropolitan yang ramah destinasi wisata.

“Membangun, menata Semarang sebagai kota metropolitan. Termasuk juga mewujudkan Kota Semarang sebagai destinasi wisata kemudian maju, tidak mempersoalkan dikotomi minoritas, tetapi menjadi kota milik bersama,” katanya.

Semua yang disampaikan oleh umat Hindu diperhatikan oleh Yoyok Sukawi dan Joko Santoso. Keduanya menaruh perhatian serius terhadap masukan dan saran tersebut.

“Kami akan segera menginisiasi Perda Kerukunan Umat Beragama ini memayungi semua umat beragama dalam beribadah,” kata lelaki bernama lengkap Alamsyah Satyanegara Sukawijaya tersebut.

Menurutnya, dengan adanya Perda Kerukunan Umat Beragama pemerintah bisa mengatur dengan baik agar toleransi terus terjaga di Kota Semarang.

Dia bersama Joko Santoso akan mengajak seluruh elemen masyarakat tak terkecuali pemuka agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk membahas perda tersebut.

“Semua akan kami bahas bersama FKUB dan pemuka-pemuka agama untuk bersama membuat aturan supaya saling menghormati, dan saling menghargai,” katanya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Terima Kunjungan Gus Yasin, Pengusaha Tionghoa Magelang Titip Pertahankan Pluralisme

Lingkar.co – Pengusaha Toko Mas terbesar di Magelang, HK Slamet Santoso menitipkan pesan kepada Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin agar tetap menjaga pluralisme dan keberagaman saat kembali menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah.

HK Slamet Santoso menyampaikan pesan itu saat menerima kunjungan Gus Yasin di kantornya HK Mustika Group, di Jl Pemuda Magelang, Rabu, (2/10/2024) kemarin.

“Matur nuwun Gus kerso rawuh, kami titip tetap menjaga keberagam Jawa Tengah supaya Damai dan aman,” kata pemilik 17 toko emas di kota/kabupaten Magelang ini.

Menurut Ketua PSMTI Kota Magelang dan Juga Wakil Ketua PSMTI Jawa Tengah (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) ini menambahkan, warga Tionghoa sebenarnya tidak pernah minta macam-macam kepada pemerintah. Yang diinginkan hanya jaga pluralisme karena sebuah kenyataan yang harus di jaga.

“Kami cuma minta itu aja Gus, karena kami tidak pernah minta proyek dan pekerjaan apapun ke pemerintah.,” imbuhnya.

Gus Yasin mengaku senang mendengar masukan warga Tionghoa di Magelang. Karena keberagaman itu sebuah kenyataan.

“Matur nuwun Pak HK atas masukan-masukan yang diberikan, menjadi catatan penting bagi kami ke depan,” jelasnya.

Pasangan Cagub Ahmad Luthfi itu juga berterimakasih kepada warga Tionghoa yang sudah menjaga kedamaian dan memberikan dukungannya.

“Salut dan apresiasi yang tinggi kepada PSMTI yang banyak membantu masyarakat dengan kegiatan sosialnya. Saya titip salam untuk kawan-kawan,” katanya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Hadiri Diklatsar Banser, Iswar Beri Pesan Jaga Kerukunan dan Toleransi

Lingkar.co – Bakal Calon Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin berpesan kepada puluhan calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk terus menjaga kerukunan dengan menguatkan toleransi dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar manusia). Ia meminta jangan mendiskriminasi saudara sesama manusia karena perbedaan agama.

“Kita ini saling bersaudara, seduluran, bolo kabeh (sahabat semua). Jadi tolong jaga persaudaraan dan kerukunan antar lintas agama dan suku, terutama yang ada di Semarang,” ujarnya saat dikonfirmasi Lingkar.co pada Sabtu (7/9/2024).

Iswar menyampaikan itu saat menghadiri kegiatan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 8 September 2024. Kedatangan Iswar dikawal ketat oleh pasukan Banser saat memasuki area Diklatsar.

Ia lantas menerangkan, persaudaraan adalah poin penting dalam pembangunan. Apalagi, menurut Iswar, Kota Semarang memiliki potensi besar untuk maju. “Kita ini, Kota Semarang, punya potensi besae jadi kota yang maju,” tuturnya.

Oleh karenanya, Iswar melanjutkan, untuk membangun pondasi kemajuan tersebut, toleransi dan persaudaraan jadi poin penting.

“Maka dari itu, pondasi utama kemajuan sebuah daerah adalah kerukunan dan toleransi,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Iswar juga menyatakan bahwa selama ini Ansor dan Banser adalah garda depan dalam menjaga toleransi.

“Sejarah sudah membuktikan, Ansor dan Banser berhasil mengawal demokrasi dan menjadi garda terdepan toleransi,” tuturnya.

Iswar lantas menyontohkan pada Pemilu 2014 dan 2019 yang sangat kental isu agama dengan nuansa radikal karena banyaknya kelompok-kelompok intoleran, Ansor dan Banser yang berhasil mengalahkan mereka.

“Ingat saat 2014 dan 2019. Banyak sekali kelompok-kelompok radikal yang tumbang karena dikalahkan Ansor dan Banser,” tuturnya.

Di akhir, Iswar meminta agar Ansor dan Banser konsisten dengan ideologi Aswaja serta Islam Rahmatan Lil Alamin agar terwujud alam demokrasi yang toleran dan penuh rasa persaudaraan.

“Ayok kita terua istiqomah (konsisten) menjalankan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dan Islam Rahmatan Lil Alamin agar terwujud toleransi dan rasa persaudaraan,” tutupnya. (*)

Penulis: Bojes
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Pemkot Dorong FKUB Jadikan Semarang Peringkat Tertinggi Kota Toleran di Harmony Award

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mendorong Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk lebih semangat dalam meraih peringkat tertinggi di ajang Harmony Award yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hal ini disampaikan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat menghadiri Rapat Koordinasi dengan Organisasi Keagamaan dan Ormas se-Kota Semarang pada Rabu (7/8/2024) di Hotel Grasia Semarang.

“Hari ini ada Rakor bersama FKUB dan Ormas Keagamaan se-Kota Semarang. Jadi dari berbagai agama semua hadir komplit lengkap dan dihadiri juga oleh Direktur Setara Institut. Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Semarang mendorong FKUB agar lebih semangat menjadikan kota Semarang meraih Harmony Award peringkat terbaik,” ujar Mbak Ita, sapaan akrabnya.

Harmony Award merupakan penghargaan kepada Pemerintah Daerah dan FKUB sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi dan kontribusi mereka dalam merawat dan menguatkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Menurut Mbak Ita, sejak tahun 2022, Kota Semarang terus melakukan peningkatan peringkat sebagai kota toleran di Indonesia.

“Alhamdulillah, sejak tahun 2022 ini semakin naik peringkatnya. Di 2022, Kota Semarang masih peringkat 10 besar, kemudian kami dorong, dan di 2023 naik ke peringkat 7,” ungkapnya.

Mbak Ita melanjutkan, pada tahun 2024 Kota Semarang masuk dalam lima besar kota toleran di Indonesia dan meraih anugerah Harmony Award.

“Saya menyampaikan kepada teman-teman FKUB dan organisasi keagamaan juga agar jangan berpuas diri. Sehingga prestasi ini bisa ditingkatkan lagi, tidak hanya berpuas diri di lima besar tapi bisa naik dan naik lagi. Harapannya bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Semarang,” terangnya.

Di hadapan Direktur Institut Setara, Mbak Ita bahkan meminta masukan dan saran terkait kekurangan kota Semarang yang bisa dievaluasi ke depan dalam penilaian Harmony Award.

“Tadi dengan Direktur Institut Setara, kami tanyakan apa saja sih yang masih menjadi kekurangan-kekurangan. Padahal dari FKUB, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, dan masyarakatnya dinilai sudah saling toleran. Tetapi mungkin ada hal-hal lain seperti pencatatan, dokumentasi yang masih kurang,” kata dia.

Kekurangan tersebut, lanjutnya, akan dibedah dan menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi Pemerintah Kota Semarang bersama FKUB untuk segera memperbaiki.

Desa Plososari dan Kalirejo Jadi Kampung Moderasi Beragama, Ini Alasan Kemenag Kendal

Lingkar.co – Jelang akhir tahun 2024, Desa Kalirejo Kecamatan Singorojo dan Desa Plososari Kecamatan Patean Kendal secara resmi menjadi Kampung Moderasi Beragama. Launching dua kampung moderasi beragama itu dilaksanakan di Desa Plososari Kecamatan Patean Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (28/12/2023).

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kendal, KH Mahrus menuturkan, mulanya dua desa tersebut dalam kategori Desa Harmoni, kemudian ditingkatkan menjadi Kampung Moderasi Beragama. Sejalan dengan hal itu, dirinya berharap muncul hal serupa pada tiap tahun.

“Harapanya tiap tahun ada satu Kampung Moderasi. Ditargetkan nantinya semua desa di Kabupaten Kendal bisa jadi kampung moderasi. Sehingga masyarakat lintas agama bisa rukun saling menghargai, bahkan bisa saling bahu-membahu,” ujarnya.

Dijelaskan, kedua desa itu menjadi desa moderasi beragama sebab kehidupan di sana desa saling menghargai antar pemeluk agama.

Jumlah penduduk Desa Plososari sekitar 6.800 jiwa dengan mayoritas penduduk beragama Islam, selebihnya beragama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Meski mereka berbeda keyakinan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan berlangsung baik. Mereka hidup rukun berdampingan satu sama lain, saling menghormati, dan tetep mengedepankan gotong royong.

Misalnya, ketika umat Islam merayakan Hari Raya, maka umat agama lain juga menghargai. Bahkan warga desa saling membantu kegiatan pengamanan hari besar keagamaan umat penganut agama di desa tersebut.

Sementara, Sekda Kendal, Ir. Sugiono, MT, mengapresiasi kerukunan antar umat beragama di dua desa tersebut. Salah satu contohnya ketika umat Nasrani melaksanakan misa Natal, Banser juga ikut menjaga keamanan, begitupula sdebaliknya dengan umat agama lainnya.

Sugiono berharap, budaya saling membantu yang ada bisa ditingkatkan, semisal jika ada salah satu umat beragama yang sedang membangun rumah ibadah, maka umat agama lain ikut membantu.

“Kabupaten Kendal sudah ada dua desa percontohan, yang tadinya desa harmoni sekarang meningkat jadi kampung moderasi beragama. Harapannya dengan adanya kampung moderasi ini bisa saling menghargai, saling guyup, rukun antar pemeluk agama,” ucapnya.

Kepala Desa Plososari, Supari menuturkan, desa yang ia pimpin bisa menjadi desa moderasi tidak lepas karena adanya dukungan dari masyarakat dan Kemenag Kabupaten Kendal. Ia berharap, peluncuran kampung moderasi beragama ini bisa meningkatkan kerukunan antar umat beragama.

“Harapan kami selaku kepala desa, dengan adanya Launching Kampung Moderasi ini bisa meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Dengan otomatis juga akan meningkatkan perekonomian di desa Plososari,” ujarnya.

“Kami ucapkan terimakasih pada Kemenag Kendal dan pemerintah kabupaten Kendal sudah memilih desa kami sebagai kampung moderasi beragama,” sambungnya.

Sebagai informasi, Kampung Moderasi Beragama dihidupkan oleh orang yang ada di desa tersebut. Kampung moderasi merupakan rumah bersama bagi semua umat beragama yang membawa kebaikan untuk bersama, saling mendukung, saling menguatkan, dan menggunakan agama.

Prosesi launching kampung moderasi dilakukan di halaman wihara dengan penandatangan prasasti oleh Sekda Kendal dan Kepala Kemenag Kendal. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Ajak Santri Perkuat Toleransi, Kiai Rofiq Ingatkan 3 Prinsip Persaudaraan

Lingkar.co – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Arrois Cendekia Kota Semarang Kiai Rofiq Mahfudz mengajak para santri untuk memperkuat toleransi terhadap pemeluk agama lain. Ia pun meningatkan 3 prinsip persaudaraan.

Menurutnya, menjalin persaudaraan menjadi salah satu prinsip ajaran agama Islam. Bukan hanya pada sesama Islam, namun juga bagi seluruh makhluk hidup di dunia ini.

Ia menyampaikan hal tersebut saat menerima kunjungan rombongan dari Gereja Katolik Santo Yusup Gedangan Kota Semarang di Ponpes Arrois Cendekia Semarang, Selasa (18/4/2023).

“Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sudah selayaknya bergandengan tangan untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam. Baik kepada sesama muslim, non muslim bahkan kepada seluruh makhluk Allah,” tuturnya.

Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU),Jawa Tengah tersebut lantas menerangkan tiga prinsip persaudaraan yang ia yakini.

Prinsip tersebut yakni, ukhuwah islamiah atau persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah basyariah atau persaudaraan antar sesama manusia, serta ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan dalam ikatan kebangsaan.

Ketiga prinsip tersebut ia ajarkan kepada para santri dan disaksikan langsung oleh para rombongan dari Gereja Santo Yusup Gedangan. Ia pun berpesan kepada santri agar bisa memegang erat prinsip tersebut.

“Santri harus punya pendirian untuk saling menghargai dan tidak memandang manusia hanya dari segi agamanya saja. Dengan begitu, nilai-nilai Islam yang sejuk, damai dan menentramkan bisa memberikan manfaat bagi kehidupan manusia,” pungkasnya.

Sementara itu, Frater Wahyu SJ, pimpinan rombongan Gereja Katolik Santo Yusup Gedangan mengaku, pihaknya sangat senang bisa berkunjung ke pondok pesantren Arrois Cendekia Semarang.

Terlebih, ini merupakan kali pertama pihaknya mengunjungi pondok pesantren.

Ia juga mengaku sangat setuju tentang pandangan Kiai Rofiq tentang makna persaudaraan. Sehingga ia berharap persaudaraan antar lintas iman bisa terus terjalin dan semakin menyebar luas.

“Perbedaan itu pasti ada, tapi ketika sudah berbicara tentang persaudaraan maka semuanya melebur menjadi satu. Saya berharap nantinya kiai dan santri juga berkenan untuk anjangsana ke gereja untuk mempererat persaudaraan yang telah di bangun ini,” ucapnya.

Penulis: Ahnad Rifqi Hidayat
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Jelang Imlek, Warga Gotong-royong Bersihkan Rupang Klenteng

KENDAL, Lingkar.co – Puluhan warga melakukan gotong royong di Klenteng Tri Dharma. Mereka ikut melakukan tradisi membersihkan (memandikan) puluhan rupang atau patung dewa di area altar klenteng.

Ada banyak patung dewa seperti patung Dewa Baron Sekeber, patung Budha, Dewa Bumi, hingga patung Dewi Kwan Im.

Beginilah keguyuban warga Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal Jawa Tengah dalam menjaga kerukunan umat beragama. Mereka tidak segan bergotong royong membersihkan Klenteng Tri Dharma, jelang perayaan Tahun Baru Imlek 2574.

Pengurus Klenteng Tri Dharma Weleri, David kepada Lingkar.co Minggu (15/1/2023) mengatakan, warga setempat sering mengikuti tradisi bersih bersih klenteng, setidaknya sepekan sebelum perayaan tahun baru imlek.

“Hari ini saatnya pencucian patung patung semua, isinya tidak ada, satu minggu setelah perayaan nantinya patung akan terisi kembali,” kata David.

Puluhan warga melakukan gotong royong di Klenteng Tri Dharma. Mereka ikut melakukan tradisi membersihkan (memandikan) puluhan rupang atau patung dewa di area altar klenteng.
Dua orang warga sekitar Klenteng Tri Dharma Weleri saat membersih salah satu bagian dalam gotong-royong jelang imlek (Foto: Wahyudi/Lingkar.co)

Menariknya, meski kelenteng tersebut berdampingan dengan mushala, namun mereka tampak guyub rukun, dan saling toleran.

Ketua Yayasan Tri Dharma, Weleri, Riyanto menambahkan, perayaan imlek di kabupaten Kendal tahun ini hanya digelar secara sederhana. Begitu pula dalam perayaan Cap Go Meh mendatang. Meski begitu, tidak membuat surut semangat masyarakat Tionghoa di Weleri.

Riyanto berharap, di Tahun Kelinci Air ini, masyarakat Kendal bisa selalu guyub rukun, saling toleran, dan mendapat keberkahan, “Tahun imlek ini, semoga bisa bersatu, rukun semuanya,” ucapnya.

“Kegiatan di klenteng hari ini bersihkan semua patung, nantinya ada sembahyangan yang mau melakukan silahkan,” ujarnya.

Usai membersihkan patung dewa, kemudian mengembalikan lagi ke tempat semula. Meski perayaan imlek digelar sederhana, namun Klenteng Tri Dharma tetap membuka secara umum bagi siapa saja yang ingin berkunjung untuk mengikuti perayaan tahun baru imlek. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Ganjar: Ada Banyak Cara Gerakan Kerukunan Umat Beragama

SEMARANG, Lingkar co – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Jawa Tengah menggelar jalan sehat kerukunan dan deklarasi umat beragama di Kota Semarang, Sabtu (14/1/2023) pagi.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo hadir pada kesempatan itu. Ganjar mengatakan, ada banyak cara untuk menggerakkan kerukunan umat beragama. Salah satunya seperti Jalan Sehat inisiatif Kanwil Kemenag Jateng.

“Ini bagus. Jadi programnya jalan sehat dan yang hadir adalah tokoh-tokoh dari berbagai agama sehingga bagaimana kita membina kerukunan dalam berbagai kegiatan yang diinisiasi Kemenag. Ini serentak di seluruh Indonesia,” kata Ganjar seusai jalan sehat bersama masyarakat lintas agama di Stadion Diponegoro, Semarang.

Jalan sehat itu setidaknya diikuti 2.400an orang. Mereka membaur menyusuri rute Stadion Diponegoro, Jalan Ki Mangunsarkoro, Jalan KH Ahmad Dahlan, Simpanglima, Jalan Ahmad Yani, dan finish di Stadion Diponegoro. Sepanjang jalan Ganjar bersama peserta lain terlihat guyub dan tertawa bersama.

“Kita bisa menunjukkan kepada masyarakat, umat beragama di Indonesia khususnya yang hari ini ada di Jawa Tengah itu yo ngene iki (ya seperti ini), rukun. Terus kemudian dalam kegiatan keseharian mereka saling bergotong royong, ketika mereka menjalankan ibadah semua saling menghormati dan ini bisa dijadikan gerakan,” ungkap Ganjar.

Proyek Perubahan

Ganjar juga menyoroti program Kanwil Kemenag Jawa Tengah dalam membina kerukunan umat beragam di Jawa Tengah. Program tersebut bernama Merah Marun atau menyemai ramah untuk masyarakat rukun.

Program tersebut telah terlaksana hingga tingkat paling bawah dalam struktur sosial kemasyarakatan. Program yang menjadi proyek perubahan dari Kemenag itu juga mendapat sambutan sangat baik di masyarakat.

Gunernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat mengikuti Jalan Sehat Kerukunan Umat Beragama (dokumentasi)

“Program yang dibuat Pak Musta’in (Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah) ini dijadikan salah satu proyek perubahan yang dilakukan di Kemenag sampai keluarnya Pergub,” ujarnya.

“Ternyata ketika ini dilaksanakan sampai tingkat di bawah, sambutan masyarakat justru beragam dan makin kreatif. Jadi sebenarnya masyarakat kita itu ya masyarakat yang toleran, saling menghormati, yang suka bekerja sama. Nilai-nilai inilah yang terus dikembangkan,” jelasnya.

“Dengan jalan sehat ini mereka bertemu, berkumpul, keceriaannya ada. Hampir kita tidak bisa mengenali lagi ketika hal-hal yang sifatnya negatif itu sering muncul di media, nggak kelihatan di sini. Mereka bisa bercanda di antara umat beragam, foto bareng-bareng, gandengan begitu. Ini yang terus menerus harus kita lakukan,” lanjut Ganjar.

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Musta’in Ahmad menambahkan kegiatan jalan sehat kerukunan umat untuk Indonesia hebat itu sebagai komitmen bahwa agama harus tampil dalam wajah yang rukun. Gerakan Merah Marun yang digalakkan di Jawa Tengah memiliki spirit yang sama dengan tema sentral itu.

“Melalui Merah Marun, kita bersama stakeholder yang lain, para penyuluh agama yang jumlahnya 4.800 ini, hadir di tengah masyarakat, mengajak bicara santai, berdialog enak tentang agama yang mencerahkan. Agama yang membawa pada suasana yang damai dan rukun itu,” jelasnya.

Menurut Musta’in, saat ini di Jawa Tengah sudah ada 340an rukun tetangga (RT) yang menyebutkan kerukunan umat beragama (KUB) di dalamnya. Misalnya Seksi Agama dan KUB atau Seksi kerohanian dan KUB. Ratusan RT itu tersebar di 19 desa sadar kerukunan di Jawa Tengah dan masih akan terus dikembangkan lagi.

“Nanti akan terus kita kembangkan sehingga masyarakat terbiasa. Begitu bicara agama di dalamnya rukun, jadi seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Agama pasti endingnya rukun. Kalau endingnya rukun maka kita bisa mengkonsolidasikan energi kita untuk mendapatkan Indonesia yang hebat itu. Itu yang sekarang kita lakukan seperti dijelaskan Pak Gubernur tadi,” jelas dia. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

FKUB Jateng Tanam Pohon Zaitun di Unika Soegijapranata

SEMARANG, Lingkar.co – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah, melakukan penanaman bibit pohon zaitun di pelataran Pastoran Johanes Maria Unika Soegijapranata, Senin (4/10/2021).

Penanaman bibit pohon zaitun itu, dalam rangka memperingati HUT Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Dies Natalis ke-39 Unika Soegijapranata.

Dalam kesempatan tersebut, penanaman delapan bibit pohon zaitun dengan maksud memperingati penutupan momen penciptaan.

“Dalam rangka memperingati HUT Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Dies Natalis ke-39 Unika Soegijapranata yang perayaannya beberapa waktu lalu. Prof G Winarno yang dulu ikut merintis FTP menghadiahi 30 bibit pohon zaitun. Saya mendapat bagian 10 bibit,” jelas Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, Rabu (6/10/2021).

Dari sepuluh bibit tersebut, ia menanam delapan bibit bersama dengan para pemuka dari lintas agama yang tergabung dalam FKUB.

Selain itu, dalam tingkat global, lanjutnya, terdapat gerakan momentum session of creation (momen penciptaan).

Peringatan itu sebagai gerakan tahunan, mulai 1 September serta berakhir 4 Oktober. Pelaksanaan peringatan sejak 1995.

“Saya manfaatkan momen tersebut untuk menanam dalam semangat persaudaraan dengan makna, jika kita ingin menabur kebaikan, kerukunan dan persaudaraan, kita boleh percaya panenannya juga kebaikan, kerukunan dan persaudaraan hidup bersama,” lanjutnya.

Baca Juga:
HUT TNI, Taj Yasin Kenang Jasa Kiai Zubair Bersama TNI

Ia menjelaskan, pohon zaitun adalah pohon yang istimewa. Dalam ajaran Kristianitas, menjadi pohon kehidupan karena umurnya yang panjang sampai ribuan tahun.

“Sangat tepat dan ternyata pohon zaitun tidak hanya dimaknai dalam konteks satu agama saja tapi bisa membawa berkah dalam rangka membawa kerukunan, kehidupan dan kebaikan bagi semua agama,” terang Romo Budi.

BUKTI KERUKUNAN BERAGAMA

Sementara itu, Ketua FKUB Jawa Tengah, Taslim Syahlan, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan suatu gerakan bukti kerukunan beragama pada daerah ini.

“Kegiatan di pastoran Unika ini memang luar biasa, yaitu menanam pohon zaitun, yang prosesnya dilakukan oleh para pemuka lintas agama,” ucap KH Taslim.

Menurutnya, kegiatan ini sebagai pertanda umat beragama saling meneguhkan cinta terhadap bumi pertiwi.

Selain itu, dapat mengambil hikmah bersama pohon yang berusia ribuan tahun tersebut.

“Dari pohon zaitun itu secara filosofis, kita bisa belajar bahwa dibawah pohon ini kita bisa berteduh, maka diharapkan pada masa mendatang suasana kerukunan beragama di Indonesia bisa meneduhkan dan menyejukkan,” tandas Taslim.

Penulis: Rezanda Akbar D

Editor : M. Rain Daling