Arsip Tag: Nawal Arafah Yasin

Ning Nawal Minta Ipemi Jateng Bina UMKM Perempuan

Lingkar.co – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin,M.S.I, meminta Ikatan Pengusaha Perempuan Muslimah (Ipemi), untuk melakukan pembinaan intensif terhadap pelaku UMKM perempuan.

Istri Wakil Gubernur ini meyakini, pelaku usaha perempuan memiliki andil besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menjalankan tugas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), Ning Nawal, panggilan kabarnya membeberkan, pertumbuhan ekonomi Jateng meningkat dari 4,95 persen pada 2024 menjadi 5,37 persen pada 2025.

“Harapannya Ipemi memberikan dampak positif, dan pergerakannya ini banyak berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi di Jawa Tengah ini,” katanya, seusai menghadiri acara Pemilihan Duta Muslimah Preneur Jawa Tengah 2026, di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Rabu (1/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Nawal juga memberikan arahan kepada jajaran Pengurus Daerah (PD) Ipemi dari Kabupaten Pati, Batang, Purworejo, Demak, Pekalongan, dan Kota Pekalongan, yang dikukuhkan secara serentak.

Dia berpesan, agar berbagai jenis usaha yang dimiliki anggota Ipemi terus dikembangkan. Di sisi lain, organisasi juga diharapkan mampu membina pelaku UMKM perempuan yang baru merintis, agar dapat naik kelas.

“Harapan saya bahwa usaha kecil menengah ini yang banyak dimiliki IPEMI ini nanti bisa berkembang. Kemudian yang sudah besar, membina UMKM-UMKM yang kecil, sehingga kita bisa melihat hari ini produknya sudah berkembang bukan hanya makanan,” beber Nawal.

Selain itu, Ipemi juga diminta mampu beradaptasi di tengah tantangan zaman dan situasi global. Langkah strategis dan adaptif perlu dilakukan agar ekonomi lokal tetap kuat, salah satunya melalui penguasaan digital marketing untuk memperluas akses pasar.

“Maka di sini perkembangan usaha apa pun diharapkan bisa mengikuti tren digital marketing, sebagai upaya untuk bisa memasarkan lebih luas,” ungkap Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng tersebut.

Nawal menekankan, masih banyak persoalan di Jateng yang perlu direspons oleh Ipemi, salah satunya kemiskinan. Meskipun angka kemiskinan menurun dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September 2025, intervensi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Terlebih, kata dia, Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin terus berupaya menurunkan angka kemiskinan, melalui berbagai program prioritas.

Lebih lanjut, Nawal berkomitmen untuk melibatkan Ipemi dalam berbagai kegiatan pelatihan usaha, bersama TP PKK, Dekranasda, dan BKOW, sebagai upaya pemberdayaan ekonomi perempuan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Jadi terima kasih untuk Ipemi, harapannya selalu berkontribusi untuk perkembangan kesejahteraan masyarakat di Jawa Tengah ini,” pungkas Ketua Tim Penggerak PKK Jateng tersebut.

Sementara itu, Ketua Ipemi Jawa Tengah, Lies Iswar Aminuddin melaporkan, dari 35 kabupaten/ kota di Jawa Tengah, sebanyak 22 PD Ipemi telah terbentuk, sementara 13 daerah lainnya masih dalam proses pemilihan ketua dan pengurus.

Dia berharap pada tahun ini Ipemi dapat terbentuk di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dan bersinergi secara optimal dalam meningkatkan perekonomian daerah.

“Mari gerak langkah kita mantapkan untuk tetap bersatu hati, bersatu langkah, bersama-sama, saling menopang dan memberikan kekuatan bagi kita untuk berkarya di Ipemi Jawa Tengah,” harap istri Wakil Wali Kota Semarang ini. (*)

Kunjungi Pengungsi Tanah Gerak, Ning Nawal Hibur Anak-anak dengan Berbagi Mainan

Lingkar.co – Kedatangan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Hj Nawal Arah Yasin, M. S.I, membuat sumringah anak-anak pengungsi korban tanah gerak di Dusun Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirompag, Kabupaten Brebes.

Istri Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen itu tak sekadar berkunjung. Tetapi membawa mainan buat menghibur anak-anak yang sudah dua bulan di pengungsian.

Adalah Dika, Jasmine, David, dan puluhan teman-temannya yang mendapat mainan dari Bunda PAUD Jawa Tengah itu.

Dika dan teman-temannya, adalah anak yang menjadi bagian dari warga terdampak tanah gerak di Dusun Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirompag, Kabupaten Brebes. Sudah dua bulan, anak-anak ini tinggal di lokasi pengungsian, di Ponpes Bahrul Quran Al Munawwir, desa setempat.

Dika memegang erat mainan yang didapat dari Ning Nawal.

“Mobil molen,” tunjuknya sembari merebahkan badan di pangkuan sang ibunda.

Sedangkan Rena dan Jasmin, yang mengambil boneka dan alat masak, langsung bermain-main bersama.

Ning Nawal, sapaan akrab Nawal Arafah Yasin, hadir mendampingi suaminya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen, mengunjungi posko pengungsian di Bojongsari, Jumat sore, 27 Maret 2026.

Tak segan, Ning Nawal bercengkerama dengan warga perempuan pengungsi, yang mengajaknya selfie.

Posko yang menampung 533 jiwa tersebut melayani kebutuhan keseharian warga pengungsi. Baik layanan kesehatan, maupun konsumsi, serta kebutuhan MCK.

Bencana tanah gerak, telah merusak bangunan rumah warga, pada 28 Januari 2026 silam. Ratusan rumah pelan-pelan roboh, hingga mengharuskan penghuninya meninggalkan bangunan untuk dievakuasi di posko pengungsi.

Total 143 rumah milik 176 KK harus ditinggalkan, karena membahayakan untuk hunian.

Kehadiran Wagub dan istri, menjadi momen yang dirindukan warga. Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih atas kedatangan para pemimpin daerah di posko pengungsian tersebut.

“Semoga kedatangan bapak dan ibu di lokasi pengungsian ini dapat menghibur dan mengobati rasa rindu kami,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Taj Yasin juga menyerahkan bantuan dari Baznas Jateng berupa sembako kepada para pengungsi. Gus Yasin, sapaan akrabnya, juga memastikan para pengungsi memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Menurutnya, saat ini pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengupayakan proses pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.

Dia mengatakan, huntara saat ini sedang dalam proses, karena menyangkut lahan yang akan dipergunakan sebagai lokasi adalah milik Perhutani.

Tanah Perhutani, kata dia, siap dipergunakan. Namun, harus hati-hati dengan tidak melakukan penebangan pohon.

“Kami akan sangat berhati-hati, sehingga lokasinya nanti akan disurvey, dan dilihat supaya tidak membahayakan lingkungan. Mari kita jaga bersama,” katanya.

Warga terdampak bencana berharap agar huntara segera dibangun.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama Ponpes Bahrul Quran yang bersedia menyediakan fasilitas sementara untuk tempat beristirahat. Harapannya, pembangunan huntara bisa dipercepat,” kata Asro.(*)

Keluh Getir, Difabel Langka di Rumdin Wagub: Sulit Bantuan, Dikucilkan Masyarakat, Hingga Minta Bantuan ke Luar Negeri

Lingkar.co – Di antara ratusan penyandang disabilitas yang bersilaturahmi di Rumah Dinas Wakil Gubernur Jawa Tengah’ Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), Rabu (25/3/2026), ada suara dari komunitas disabilitas langka (rare disorder) yang mencuat dengan getir. Selama ini mereka merasa hidup di ruang yang nyaris tak terlihat.

“Masalahnya hampir sama dengan yang lain, karena selama ini kami seperti tidak ada. Di Semarang komunitasnya baru terbentuk 2-3 tahun, anggotanya ada 16,” ujar Oriza Oktarina, perwakilan orangtua rare disorder, yang datang bersama komunitas difabel lainya.

Di antara mereka, hadir Al Ghiffari, anak berusia 12 tahun yang kondisinya masih seperti balita. Ia mengalami CHARGE Syndrome, kelainan genetik langka akibat mutasi yang memengaruhi berbagai organ tubuh, mulai dari penglihatan, pendengaran, hingga perkembangan fisik dan motorik. Dialah putra Oriza Oktarina.

Sejak kecil, Al Ghiffari harus menjalani berbagai perawatan dan pendampingan intensif. Kondisi seperti ini, menurut Oriza, tidak hanya menuntut ketahanan fisik anak, tetapi juga perjuangan panjang keluarga.

Kesulitan terbesar yang mereka hadapi adalah mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

“Kami sangat sulit dapat pengobatan, diagnosa. Biasanya menunggu CSR dari perusahaan, atau kebaikan dokter. Sampel darah anak saya bahkan pernah dikirim ke Prancis untuk memastikan diagnosa,” tuturnya.

Kisah itu menggambarkan betapa terbatasnya akses layanan kesehatan bagi penyandang penyakit langka di dalam negeri. Tak sedikit keluarga harus mencari bantuan hingga ke luar negeri demi memastikan kondisi anak mereka.

Di sisi lain, persoalan administratif turut memperberat keadaan. Tidak semua anak dengan kondisi tersebut terdata dalam sistem bantuan sosial.

“Masalah desil, banyak teman-teman kami tidak masuk DTKS dan tidak dapat BPJS,” katanya.

Padahal, kebutuhan perawatan mereka bersifat jangka panjang. Terapi menjadi salah satu kebutuhan utama, namun aksesnya juga terbatas.

“Soal terapi, banyak anak butuh terapi. Sekarang dibatasi hanya sampai usia 7 tahun. Kalau saya sendiri, biayanya bisa sampai Rp2 juta,” ujarnya.

Beban biaya yang besar sering kali harus ditanggung sendiri oleh keluarga, tanpa kepastian dukungan berkelanjutan dari negara.

Tak hanya soal medis, stigma sosial juga masih menjadi tantangan. Penyakit yang seharusnya dipahami sebagai kondisi genetik justru kerap disalahartikan.

“Di masyarakat kami disebut menular, padahal ini mutasi gen,” ungkapnya.

Ironisnya, di tengah keterbatasan di dalam negeri, sebagian bantuan justru datang dari luar.

“Indonesia juga banyak orang kaya, tapi kami sering justru mendapat pertolongan dari luar negeri,” katanya.

Dalam forum tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah bersama sang istri serta didampingi dinas terkait tampak menyimak langsung berbagai keluhan yang disampaikan.

Pemerintah provinsi menyatakan akan menindaklanjuti persoalan layanan kesehatan, termasuk berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan kementerian terkait.

“Ini akan kami sampaikan ke BPJS. Tapi BPJS juga tidak bisa memutuskan sendiri, harus koordinasi dengan kementerian terkait,” ujar Wakil Gubernur.

Ia juga menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam menjangkau kelompok difabel yang belum terakomodasi.

“Bukan soal desilnya, tapi bagaimana pemerintah hadir untuk kawan-kawan disabilitas,” katanya.

Bagi para orangtua, yang mereka perjuangkan bukan sekadar kebijakan. Mereka ingin anak-anak mereka diakui—hadir, dilihat, dan mendapat hak yang sama untuk hidup layak. (*)

Ning Nawal Bagikan Susu dan Buku untuk Anak-anak Korban Banjir di Pati

Lingkar.co – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Tengah, yang sekaligus Bunda PAUD Jateng, Hj. Nawal Arafah Yasin, datang mengunjungi korban banjir di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Rabu (21/1/2026).

Mendatangi posko pengungsian. Ia menyampaikan dan memberi semangat. Bahkan membawakan susu dan buku untuk anak-anak. Senyum pun mengembang dari anak-anak dan orang tuanya.

Ning Nawal, panggilan akrabnya, datang meninjau korban banjir mendampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, yang juga suaminya. Mereka menengok pengungsi di balai Desa Bumirejo dan Desa Doropayung kecamatan Juwana.

Dia berharap pemberian susu bisa menjaga asupan gizi anak-anak. Sementara buku bacaan diharapkan dapat menjadi hiburan, sekaligus sarana edukasi selama berada di pengungsian.

“Anak-anak tetap harus mendapatkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan maupun psikologis. Mereka perlu tetap merasa bahagia, meskipun sedang dalam situasi darurat,” ujar Ning Nawal.

Warga Doropayung, Suwarti mengaku senang dengan kunjungan tersebut. Dia menuturkan, warga dan anak-anak terlihat lebih ceria setelah menerima buku dan susu.

“Warga sudah dua minggu di pengungsian. Senang bisa mendapat perhatian dari pemerintah,” katanya.

Kunjungan tersebut diharapkan dapat memberi semangat bagi para korban banjir. Khususnya anak-anak, agar tetap kuat dan optimistis menghadapi situasi.

“Harapannya tidak ada lagi banjir di sini,” tandasnya.

Di desa tersebut, banjir sudah berlangsung lebih dari 10 hari. Hingga kini, air masih merendam pemukiman. Sehingga warga harus meninggalkan rumah mereka ke pengungsian. (*)

Tinjau Banjir di Pekalongan, Gus Yasin Minta Evakuasi Kelompok Rentan dan Penanganan Berlapis

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), meninjau langsung banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kota Pekalongan pada Senin, (19/1/2025). Tinjauan ini untuk memastikan keselamatan warga terdampak, serta kesiapan penanganan banjir secara berlapis.

Dalam kunjungan itu, Taj Yasin bersama istrinya Nawal Arafah Yasin tiba di Jalan Raya Tirto Raya, Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan saat genangan air masih mengepung kawasan permukiman. Ia berjalan di tengah genangan. Kemudian ia mengunjungi pengungsi yang ada di masjid setempat.

Kehadiran Wakil Gubernur disambut warga yang tengah berbenah dan mengungsi. Taj Yasin tampak berdialog dengan warga maupun dengan pejabat setempat terkait kondisi lapangan dan langkah penanganan lanjutan.

Di lokasi yang sama, Nawal Arafah turut menyapa para ibu pengungsi di area masjid, sekaligus membagikan buku kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan moril di tengah situasi banjir.

Mewakili gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Taj Yasin menegaskan, penanganan jangka pendek difokuskan pada mitigasi darurat dengan memprioritaskan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Sejumlah warga dengan kondisi kesehatan khusus, termasuk penderita stroke, telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

“Kita pastikan masyarakat aman, terutama lansia, anak, dan warga berkebutuhan khusus. Kemarin sudah ada yang kita angkut dan kita ungsikan,” kata dia.

Selain evakuasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. Dapur umum disiagakan untuk menjamin ketersediaan bahan pokok, makanan, serta kebutuhan kesehatan bagi para pengungsi.

Untuk penanganan jangka menengah, Taj Yasin menyoroti kondisi tanggul Sungai Bremi yang belum permanen dan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia menginstruksikan jajarannya untuk segera melakukan perhitungan teknis agar perbaikan dapat dilakukan lebih cepat.

“Ada salah satu tanggul yang belum permanen dan itu kewenangan kami. Hari ini langsung saya minta dihitung supaya penanganannya bisa lebih cepat,” tegasnya.

Sementara itu, penanganan jangka panjang akan difokuskan pada Sungai Bremi. Taj Yasin menyampaikan, proyek penanganan sungai tersebut telah dianggarkan oleh pemerintah pusat senilai sekitar Rp50 miliar dan direncanakan mulai dikerjakan pada 2026. Sehingga diharapkan banjir di wilayah Pekalongan Barat dan sekitarnya tidak terulang.

“Sungai Bremi itu sudah dianggarkan dari pusat, informasi BBWS ada Rp50 miliar, tetapi memang ini belum dikerjakan,” ujarnya.

Di lokasi pengungsian, Sujatmiko (60), salah satu warga terdampak, mengatakan, banjir dipicu jebolnya tanggul Sungai Bremi yang diperparah hujan. Akibatnya, air menggenang dan belum surut hingga saat ini.

“Penyebab banjir dari tanggul Sungai Bremi jebol. Air keluar, merambah, ditambahi hujan. Air mandek sampai sekarang. Rumah saya tenggelam, cuma kelihatan atapnya genteng tok,” ujarnya.

Sujatmiko mengaku tidak sempat menyelamatkan barang-barang miliknya karena air datang dengan cepat. Seluruh perabotan rumah tangga masih terendam di dalam rumah.

“Ada kasur, kasur busa, sepeda motor, kompor, masih di rumah semua. Ya pasrah total,” katanya.

Meski demikian, ia menyebut kondisi konsumsi dan obat-obatan di pengungsian relatif aman.

“Aman di sini, bisa saling bantu. Mudah-mudahan ke depan tidak banjir lagi, soalnya daerah Tirto ini dari dulu sudah langganan banjir. Tapi yang sekarang ini paling besar,” pungkasnya. (*)

Bukan Sekadar Hari Ibu, Tapi Hari Menghormati Peran Perempuan

Lingkar.co – Keterlibatan perempuan dalam membangun kepedulian sosial dan memperkuat hubungan antar komunitas, akan membentuk lingkungan yang inklusif. Perempuan memiliki peran yang besar dalam menciptakan lingkungan yang rukun dan berkelanjutan.

Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Tengah Hj Nawal Arafah Yasin, MSI mengatakan hal tersebut saat sambutan Peringatan Hari Ibu (PHI) ke – 97,Tingkat Provinsi Jawa Tengah pada hari Jumat (19/12/2025) di Gedung Gradhika Bakti Praja, Kota Semarang.

“Saat perempuan dilibatkan dalam gerakan sosial, ruang komunitas, serta kegiatan yang berbasis gotong-royong, maka terbentuklah lingkungan yang lebih inklusif, peduli dan saling mendukung,” katanya.

Sebagaimana Tema Hari Ibu Tahun ini, “Perempuan Peduli Masyarakat Harmoni”, kata Ning Nawal, sapaan akrabnya, Hari Ibu menjadi momentum untuk memperluas pemahaman masyarakat.

Hari Ibu, kata dia, bukan sekadar ‘Mother Day’ tetapi juga merupakan ‘Indonesia Women’s Day’, atau hari perempuan Indonesia. Hari untuk menghormati serta mengapresiasi peran, andil dan dedikasi perempuan di semua bidang kehidupan serta kesetiaan perempuan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal itu selaras dengan keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Yakni, dalam rangka memperingati diselenggarakannya Kongres Perempuan I di Yogyakarta, yang pada tanggal 22 – 25 Desember 1928. Kongres ini diikuti 30 organisasi perempuan, dan menghasilkan keputusan yang sangat penting dan relevan hingga saat ini .

Di antaranya, pembentukan organisasi Federasi Mandiri yang diberi nama Perikatan Perkumpulan Indonesia yang nantinya menjadi cikal bakal dari BKOW. Kemudian menerbitkan surat kabar yang diketuai Nyonya Hajar Dewantara, mendirikan studi found untuk membiayai pendidikan perempuan yang tidak mampu dan memperkuat pendidikan kepanduan putri.

“Hal lainnya adalah mencegah perkawinan anak memperbanyak sekolah-sekolah putri perempuan, bantuan keuangan untuk janda atau perempuan kepala keluarga dan anak-anak serta perlindungan hak-hak istri dalam perceraian,” urai Ning Nawal, yang juga kepanjangan tangan gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno, dalam sambutan mewakili Gubernur Jateng Taj Yasin Maemoen, mengemukakan, peran ibu dalam rumah tangga sangat besar. Pada saat ini sudah banyak perempuan yang memiliki karya, termasuk peran dalam menopang ekonomi keluarga.

“Berdasarkan data pelaku UMKM di Indonesia, 64 persen adalah perempuan. Sehingga, jika tema Hari Ibu adalah perempuan peduli, saya yakin, perempuan sudah peduli, dari dulu sangat peduli. Sehingga momentum kali ini menjadi pengingat bagi kita untuk menghargai jasa para ibu,” kata Sumarno.

Perempuan juga memegang peran penting dalam pendidikan anak. Menurutnya, pendidikan terbaik adalah dari keluarga. “Kalau kita ingin Indonesia Emas dengan SDM yang unggul, mari dimulai dari rumah, dari keluarga,” pungkasnya. (*)

Perangi Bullying dan Kekerasan di Sekolah, Ning Nawal Ajak Siswa Jadi Pejuang HAM

Lingkar.co – Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Nawal Arafah Yasin, mengajak para siswa untuk berani menjadi pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) di lingkungan sekolahnya masing-masing.

Di hadapan ratusan siswa SMAN 2 Kota Semarang, Nawal mengungkapkan rasa keprihatinannya atas maraknya fenomena bullying dan kekerasan, yang terjadi di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini.

Dia mengatakan, berdasarkan data Komnas Perempuan, sepanjang 2024, tercatat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk di sekolah. Sedangkan menurut KPAI, ada 2.057 kasus kekerasan terhadap anak, termasuk yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Atas fenomena itu, Nawal menekankan, pengetahuan dan literasi tentang HAM sangat penting ditanamkan kepada siswa di Jawa Tengah, untuk memerangi praktik bullying dan kekerasan.

“Ini salah satu hal yang mestinya kita respon untuk kita hadir di sekolah-sekolah, mengenalkan hak asasi manusia itu perlu kita pahami. Kita perlu edukasi pelajar untuk bisa memperjuangkan hak asasi,” kata dia, seusai membuka kegiatan Penguatan Kapasitas HAM bagi Pelajar SMAN 2 Semarang, Selasa (25/11/2025).

Nawal juga menyoroti keterlibatan pelajar dalam gelombang demonstrasi dan gerakan anarkisme di berbagai daerah pada 29 Agustus 2025 lalu, termasuk di Jateng. Bahkan, beberapa pelajar ada yang tertangkap aparat kepolisian.

Sesuai dengan arahan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, satuan pendidikan juga didorong untuk melakukan pembinaan terhadap para siswanya guna menciptakan kondusivitas wilayah.

“Sehingga kekerasan, ekstremisme, dan aksi-aksi bullying dan lain sebagainya itu, perlu adanya respon tentang pemahaman HAM bagi pelajar ini,” ungkap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Lebih lanjut, Nawal berharap kegiatan literasi tentang HAM di SMAN 2 Semarang pada hari ini, ke depannya benar-benar diimplementasikan, sehingga sekolah tidak hanya ramah anak, tetapi juga ramah HAM.

Ketua TP PKK Jateng ini mengatakan, guna mengedukasi tentang pencegahan bullying dan kekerasan bagi pelajar, pihaknya telah menggandeng Forum Generasi Berencana (Genre) yang memiliki program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R).

“Ini akan kemudian menyosialisasikan dan mengedukasi bukan hanya anti bullying, tapi juga tentang edukasi yang lain terkait misalnya reproduksi, terkait kemudian anti narkoba, dan sebagainya,” kata Nawal.

Pada kesempatan itu, Nawal mengapresiasi SMAN 2 Semarang yang telah membentuk Duta Anti Kekerasan dan Duta Literasi. Dia mendorong para duta di sekolah untuk menginternalisasikan nilai-nilai HAM.

“Harapannya bukan hanya siswa-siswi ini paham dan memiliki pengetahuan, tetapi juga bisa menginternalisasi sikapnya, membentuk sikap yang bisa mendukung sekolahnya itu, juga menjunjung tinggi hak asasi manusia,” tandas Nawal.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Semarang, Dian Milasari menyampaikan terima kasih kepada Nawal Arafah Yasin, yang telah memberikan motivasi kepada siswa. Dia berharap, kegiatan itu dapat memberikan perspektif baru tentang HAM.

Terkait upaya pencegahan kekerasan, pihaknya terus menanamkan sikap RRC kepada siswa di sekolahnya. RRC ialah sikap respect (menghargai) responbility (tanggung jawab), dan confident (percaya diri).

“Melalui kegiatan ini siswa diharapkan dapat menumbuhkan empati, kecerdarsan sosial, dan keberanian, untuk menjadi generasi kritis namun juga tetap santun,” harap Dian. (*)

Dukung Kecamatan Berdaya, Ning Nawal Bentuk Relawan Perunggu

Lingkar.co – Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah menggelar Pelatihan Paralegal selama dua hari, 22–23 November 2025, sebagai upaya memperkuat pendampingan korban kekerasan perempuan dan anak di Jawa Tengah.

Delegasi 50 peserta dari 38 organisasi anggota BKOW nantinya akan dibentuk relawan Pendamping Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (Relawan Perunggu).

Ketua Umum BKOW Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin (Ning Nawal) mengatakan, pelatihan itu menjadi salah satu program strategis, untuk menjawab tingginya angka kekerasan di Jawa Tengah. Menurutnya, keberadaan paralegal sangat dibutuhkan untuk mendampingi korban di tingkat komunitas.

“Pelatihan ini menjadi jawaban atas isu strategis, terutama tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kami melatih paralegal dari 38 organisasi anggota BKOW, karena ini potensi besar,” ujar Ning Nawal, saat Pembukaan Pelatihan Paralegal untuk membentuk relawan Pendamping Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (Relawan Perunggu), di Hotel Siliwangi, Sabtu (22/11/2025).

Dia menjelaskan, para lulusan pelatihan diharapkan dapat memberikan pendampingan dasar, mulai dari informasi hukum, rujukan layanan, hingga dukungan sosial bagi korban di lingkungan masing-masing. Pendampingan tersebut, lanjut Nawal, tidak boleh berhenti pada pelatihan, tetapi harus didukung ekosistem pemulihan yang berkelanjutan.

Istri Wakil Gubernur Jateng ini juga menyoroti pentingnya penguatan budaya yang lebih sadar terhadap isu kekerasan, pembentukan Pos Bantuan Hukum yang sudah diresmikan Kemenkumham di Jawa Tengah, serta pemahaman psikologi dan ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya menyeluruh.

“Ekosistem penanganan harus lengkap, mulai dari layanan hukum, pemulihan psikologis, sampai penguatan keluarga. Semua itu dibutuhkan, agar korban mendapatkan keadilan dan pemulihan yang layak,” tegasnya.

Sebagai informasi, pelatihan paralegal BKOW Jateng diikuti organisasi yang belum pernah menyelenggarakan kursus paralegal, belum pernah mengikuti pelatihan sejenis, serta organisasi dari sektor eks-karesidenan Semarang.

Keberadaan kader paralegal juga untuk mendukung peran Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) dalam program Kecamatan Berdaya, yang digagas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Bukan Sekadar Arisan, Ning Nawal Tekankan Peran Krusial Kader PKK dalam Pemberdayaan Keluarga

Lingkar.co – Kegiatan PKK seringkali diasumsikan sebagai arisan, atau kumpul-kumpul para emak. Padahal, banyak hal yang bisa dilakukan kader dan Tim Penggerak PKK bersama masyarakat.

Hal itu ditekankan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Nawal Arafah Yasin (Ning Nawal), saat Podcast bersama Jateng Online Radio bertema “PKK Bukan Sekadar Arisan”, di Ruang Kerja Wakil Gubernur Jateng, Senin (27/10/2025).

Nawal menyampaikan, kegiatan PKK bukan sekadar arisan. Namun, kader PKK memiliki peran krusial dalam pemberdayaan keluarga, melalui berbagai program unggulannya. Seperti, kader PKK turut membantu menguatkan ketahanan keluarga melalui pendampingan terhadap ibu hamil, yang diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan anak.

“Sebelum ibu hamil, kita sudah mempersiapkan bagaimana calon ibu ini menjadi ibu yang kemudian bisa kuat secara lahir batin, sampai dengan kematian ibu dan bayi menjadi urusan PKK juga,” kata istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Selain itu, TP PKK Jateng juga memiliki program penguatan karakter keluarga, melalui parenting dan pola asuh. Bahkan pihaknya memiliki modul parenting yang dijadikan panduan bagi ibu-ibu dalam mengasuh anak, di tengah pesatnya teknologi digital.

Program lainnya Aku Hatinya PKK (Amalkan dan Kukuhkan Halaman Asri, Teratur, Indah, dan Nyaman bersama PKK). Fokusnya, mengajak keluarga memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan, menambah pendapatan, serta menciptakan lingkungan yang indah dan nyaman.

“Kita juga banyak melakukan pelatihan-pelatihan bagaimana memberdayakan ekonomi keluarga, konsen juga terhadap pemberdayaan perempuan sebagai kepala rumah tangga, dengan memanfaatkan potensi daerah,” ungkap Nawal.

Untuk meningkatkan kesehatan keluarga, TP PKK Jateng memiliki program IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) tes sebagai deteksi dini kanker leher rahim. Hal itu diperkuat dengan Layanan Dokter Spesialis Keliling (Speling), yang menghadirkan dokter spesialis kandungan dan bidan ke masyarakat. Speling merupakan program unggulan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.

“Dan ibu-ibu ternyata lebih butuh dokter jiwa, psikolog, dan kebanyakan dari mereka itu keluhannya adalah depresi, anxiety (perasaan cemas). Jadi ini juga diturunkan dalam Speling kita,” beber Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah ini.

Dia membanggakan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang berhasil menurunkan angka kematian ibu dan balita di Jawa Tengah. Dalam program itu, kader PKK ditugaskan memantau ibu-ibu sejak masa prahamil, kehamilan, hingga nifas.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, hingga Agustus 2025, tercatat 270 kasus kematian ibu dan bayi. Angka itu menurun dari 2024 yang mencapai 427 kasus.

Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng terus diperkuat dengan menginisiasi Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil), yang menyediakan layanan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk memantau kondisi janin di dalam kandungan.

“Jadi kader PKK ini dia mendampingi, memonitoring bagaimana perkembangan ibu-ibu hamil. Inovasi yang akan kita lakukan kita kolaborasi dengan Dinas Kesehatan. Untuk layanan cek kesehatan gratis itu ada layanan USG di program Kencan Bumil,” tandas Nawal. (*)

Peduli Ibu dan Bayi, PKK Jawa Tengah Kenalkan Program ‘Kencan Bumil’

Lingkar.co – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Tengah telah menginisiasi program Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil).

Menurut Ketua TP PKK Provinsi Jateng, Nawal Arafah Yasin, program ini sebagai bentuk kepedulian terhadap ibu dan bayi sekaligus menyukseskan program Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin),

Selain itu, kata dia, program itu akan dioptimalkan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi (AKI/AKB) di Jateng.

Dijelaskan, Kencan Bumil ialah penyempurnaan dari program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. Dalam implementasinya, kader PKK dan kader Posyandu diarahkan untuk memantau kondisi dan perkembangan ibu hamil sebagai upaya menekan AKI/AKB.

“Nanti diharapkan yang akan kita inisiasi lagi terkait di Posyandu juga namanya Kencan Bumil untuk menurunkan AKI AKB,” kata Nawal seusai memberikan Mauidhoh Hasanah dalam kegiatan Silaturahmi TP PKK Kabupaten Tegal, di Balai Desa Setu, Kecamatan Tarub, Kamis (23/10/2025).

Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah ini lantas memaparkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, hingga Agustus 2025, total angka kematian ibu dan bayi di provinsi ini sebanyak 270 jiwa. Jumlah itu menurun dari 2024 yang mencapai 427 jiwa.

Nawal mengatakan, program Kencan Bumil merupakan salah satu upaya deteksi dini dengan melakukan pemantauan terhadap ibu hamil. Mulai dari fase prahamil, kehamilan, persalinan, hingga nifas.

“Kita harus memantau terus bagaimana cek, kemudian menemani tumbuh kembang daripada ibu-ibu hamil di sini,” ungkap istri Wakil Gubernur Jawa Tengah tersebut.

Dalam program Kencan Bumil, kata Nawal, juga disertai dengan layanan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) yang diintegrasikan dalam program Layanan Dokter Spesialis Keliling dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Jadi Kencan Bumil nanti disertai dengan layanan USG, yang kemudian kita integrasikan dengan cek kesehatan gratis dengan Dinas Kesehatan,” beber Ning Nawal, sapaan akrabnya.

Selain Kencan Bumil, Nawal juga meminta kepada kader PKK di seluruh Jateng, untuk menggiatkan program Gerakan Ibu dan Perempuan Menanam Pohon (Rabu Pon).

Program tersebut untuk memperkuat peran perempuan dalam mendukung ketahanan pangan dan ekonomi keluarga, serta kesejahteraan masyarakat, melalui kegiatan menanam pohon, budidaya ikan, serta peternakan.

“Kalau ini bisa masif sebenarnya ini bisa menjadi satu hal pendapatan keluarga, sehingga bisa mengurangi juga cost (pengeluaran) daripada keluarga untuk berbelanja,” tandas Nawal. (*)