Arsip Tag: BKOW Jateng

Perangi Bullying dan Kekerasan di Sekolah, Ning Nawal Ajak Siswa Jadi Pejuang HAM

Lingkar.co – Ketua Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Nawal Arafah Yasin, mengajak para siswa untuk berani menjadi pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) di lingkungan sekolahnya masing-masing.

Di hadapan ratusan siswa SMAN 2 Kota Semarang, Nawal mengungkapkan rasa keprihatinannya atas maraknya fenomena bullying dan kekerasan, yang terjadi di lingkungan pendidikan akhir-akhir ini.

Dia mengatakan, berdasarkan data Komnas Perempuan, sepanjang 2024, tercatat 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk di sekolah. Sedangkan menurut KPAI, ada 2.057 kasus kekerasan terhadap anak, termasuk yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Atas fenomena itu, Nawal menekankan, pengetahuan dan literasi tentang HAM sangat penting ditanamkan kepada siswa di Jawa Tengah, untuk memerangi praktik bullying dan kekerasan.

“Ini salah satu hal yang mestinya kita respon untuk kita hadir di sekolah-sekolah, mengenalkan hak asasi manusia itu perlu kita pahami. Kita perlu edukasi pelajar untuk bisa memperjuangkan hak asasi,” kata dia, seusai membuka kegiatan Penguatan Kapasitas HAM bagi Pelajar SMAN 2 Semarang, Selasa (25/11/2025).

Nawal juga menyoroti keterlibatan pelajar dalam gelombang demonstrasi dan gerakan anarkisme di berbagai daerah pada 29 Agustus 2025 lalu, termasuk di Jateng. Bahkan, beberapa pelajar ada yang tertangkap aparat kepolisian.

Sesuai dengan arahan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, satuan pendidikan juga didorong untuk melakukan pembinaan terhadap para siswanya guna menciptakan kondusivitas wilayah.

“Sehingga kekerasan, ekstremisme, dan aksi-aksi bullying dan lain sebagainya itu, perlu adanya respon tentang pemahaman HAM bagi pelajar ini,” ungkap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Lebih lanjut, Nawal berharap kegiatan literasi tentang HAM di SMAN 2 Semarang pada hari ini, ke depannya benar-benar diimplementasikan, sehingga sekolah tidak hanya ramah anak, tetapi juga ramah HAM.

Ketua TP PKK Jateng ini mengatakan, guna mengedukasi tentang pencegahan bullying dan kekerasan bagi pelajar, pihaknya telah menggandeng Forum Generasi Berencana (Genre) yang memiliki program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R).

“Ini akan kemudian menyosialisasikan dan mengedukasi bukan hanya anti bullying, tapi juga tentang edukasi yang lain terkait misalnya reproduksi, terkait kemudian anti narkoba, dan sebagainya,” kata Nawal.

Pada kesempatan itu, Nawal mengapresiasi SMAN 2 Semarang yang telah membentuk Duta Anti Kekerasan dan Duta Literasi. Dia mendorong para duta di sekolah untuk menginternalisasikan nilai-nilai HAM.

“Harapannya bukan hanya siswa-siswi ini paham dan memiliki pengetahuan, tetapi juga bisa menginternalisasi sikapnya, membentuk sikap yang bisa mendukung sekolahnya itu, juga menjunjung tinggi hak asasi manusia,” tandas Nawal.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Semarang, Dian Milasari menyampaikan terima kasih kepada Nawal Arafah Yasin, yang telah memberikan motivasi kepada siswa. Dia berharap, kegiatan itu dapat memberikan perspektif baru tentang HAM.

Terkait upaya pencegahan kekerasan, pihaknya terus menanamkan sikap RRC kepada siswa di sekolahnya. RRC ialah sikap respect (menghargai) responbility (tanggung jawab), dan confident (percaya diri).

“Melalui kegiatan ini siswa diharapkan dapat menumbuhkan empati, kecerdarsan sosial, dan keberanian, untuk menjadi generasi kritis namun juga tetap santun,” harap Dian. (*)

Dukung Kecamatan Berdaya, Ning Nawal Bentuk Relawan Perunggu

Lingkar.co – Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah menggelar Pelatihan Paralegal selama dua hari, 22–23 November 2025, sebagai upaya memperkuat pendampingan korban kekerasan perempuan dan anak di Jawa Tengah.

Delegasi 50 peserta dari 38 organisasi anggota BKOW nantinya akan dibentuk relawan Pendamping Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (Relawan Perunggu).

Ketua Umum BKOW Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin (Ning Nawal) mengatakan, pelatihan itu menjadi salah satu program strategis, untuk menjawab tingginya angka kekerasan di Jawa Tengah. Menurutnya, keberadaan paralegal sangat dibutuhkan untuk mendampingi korban di tingkat komunitas.

“Pelatihan ini menjadi jawaban atas isu strategis, terutama tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kami melatih paralegal dari 38 organisasi anggota BKOW, karena ini potensi besar,” ujar Ning Nawal, saat Pembukaan Pelatihan Paralegal untuk membentuk relawan Pendamping Korban Kekerasan Perempuan dan Anak (Relawan Perunggu), di Hotel Siliwangi, Sabtu (22/11/2025).

Dia menjelaskan, para lulusan pelatihan diharapkan dapat memberikan pendampingan dasar, mulai dari informasi hukum, rujukan layanan, hingga dukungan sosial bagi korban di lingkungan masing-masing. Pendampingan tersebut, lanjut Nawal, tidak boleh berhenti pada pelatihan, tetapi harus didukung ekosistem pemulihan yang berkelanjutan.

Istri Wakil Gubernur Jateng ini juga menyoroti pentingnya penguatan budaya yang lebih sadar terhadap isu kekerasan, pembentukan Pos Bantuan Hukum yang sudah diresmikan Kemenkumham di Jawa Tengah, serta pemahaman psikologi dan ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya menyeluruh.

“Ekosistem penanganan harus lengkap, mulai dari layanan hukum, pemulihan psikologis, sampai penguatan keluarga. Semua itu dibutuhkan, agar korban mendapatkan keadilan dan pemulihan yang layak,” tegasnya.

Sebagai informasi, pelatihan paralegal BKOW Jateng diikuti organisasi yang belum pernah menyelenggarakan kursus paralegal, belum pernah mengikuti pelatihan sejenis, serta organisasi dari sektor eks-karesidenan Semarang.

Keberadaan kader paralegal juga untuk mendukung peran Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) dalam program Kecamatan Berdaya, yang digagas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dari Bahan Daur Ulang, Produk UMKM Binaan Dewan Kerajinan Ini Tembus Pasar Global

Lingkar.co – Pameran dalam rangka Peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah pada 20 – 22 Agustus 2025, menawarkan beragam produk UMKM dari berbagai kabupaten/kota di provinsi ini.

Ada salah satu gerai pada pameran tersebut yang memikat perhatian para pengunjung, yaitu gerai yang dikelola oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Deskranada) Kabupaten Semarang. Sebab, di gerai tersebut memamerkan aneka produk UMKM yang dibuat dari bahan daur ulang, mulai dari souvenir, sandal, masker, dan lainnya.

Bahkan produk-produk tersebut dibuat oleh siswa-siswi SMK yang menjadi binaan Deskranada Kabupaten Semarang.

Salah seorang pengelola gerai Deskranada Kabupaten Semarang, Kokos mengatakan, beragam produk berbasis daur ulang itu diminati pasar global atau luar negeri. Mulai dari souvenir kecil hingga olahan limbah bernilai jual tinggi.

“Ada yang harga kecilnya 5 dolar, ada juga yang bisa laku 10 dolar. Souvenir kecil dengan ukuran ringan, Jadi yang penting adalah kreativitas dan kemasan,” jelas Kokos saat ditemui disela pameran pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Produk-produk yang dipamerkan di gerai itu juga memikat perhatian Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin dan istrinya untuk berkunjung. Tak ayal, Tak Yasin juga langsung memberikan apresiasi atas kreativitas yang dipamerkan di gerai tersebut.

“Keren kan modelnya, Produknya ini dijual dalam dolar. Modalnya hanya Rp30 ribu, tapi bisa dijual sampai 15 dolar. Bahkan minggu lalu sudah ada yang dipesan dari Amerika,” ujarnya.

Menurut sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini, produk yang dipamerkan oleh Deskranada Kabupaten Semarang itu, membuktikan bahwa kreativitas anak muda bisa jadi modal besar untuk bersaing di pasar global.

“Harganya dianggap murah, jadi justru menarik. Produk yang sederhana dari kampung pun bisa diminati (mancanegara),” katanya.

Lebih jauh, Gus Yasin berharap pameran ini tak sekadar ajang jual beli, tapi juga ruang belajar bagi generasi muda yang terlibat.

“Ini bisa menjadi ruang belajar untuk anak-anak, sekaligus pengalaman berharga buat mereka. Anggap saja sebagai pembekalan sebelum terjun ke dunia kerja atau bisnis,” ucapnya.

Sebagai informasi, pada pameran dalam rangka HUT ke 80 Jawa Tengah ini menampilkan berbagai produk khas daerah, mulai dari kuliner, produk karajinan, fashion, dan lain sebagainya.

Gerai-gerai pameran itu meliputi: 30 gerai kampung halal dan BUMD, 35 gerai kampung Dekranasda Expo, 50 gerai kampung kuliner dan jamu, 77 gerai kampung program, 16 gerai kampung Nostalgia Era 70-an, 20 gerai kampung UMKM milenial Bank Jateng, dan 7 mobil pelayanan. (***)

Dukung Pemprov Jateng, Ning Nawal Ajak BKOW Sukseskan Program Satu Kecamatan Satu Rumah Perlindungan

Lingkar.co – Ketua BKOW (Badan Kerjasama Organisasi Wanita) Jawa Tengah, Ny. Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., mengajak jajarannya untuk menyukseskan program-program di pemerintahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Salah satunya program ‘Satu Kecamatan Satu Rumah Perlindungan’ di tiap kecamatan di Jawa Tengah. Ning Nawal, panggilan akrabnya, menginginkan nantinya BKOW dapat mewujudkan sekaligus mengembangkannya menjadi rumah kreatif.

“Perlu ada ruh di situ, kita nanti akan bergerak di situ juga ya untuk bagaimana kita bisa menguatkan korban-korban kekerasan perempuan dan anak di Jawa tengah ini,” ucapnya saat membuka Rapat Kerja III Tahun 2025 BKOW Jateng, di Aula Cendrawasih Kantor Kesbangpol, Senin, (17/3/2025).

Nawal optimis dalam lima tahun ke depan, tidak sulit bagi BKOW yang sebelumnya telah Ia pimpin untuk terus meningkatkan kinerja baiknya.

“Program-program yang telah kita buat, alhamdulillah telah banyak diadopsi. Termasuk program Destara (Desa Sejahtera Peduli Perempuan dan Anak),” ucapnya.

Ning Nawal mengatakan, program bagus yang telah dikerjakan akan diteruskan. Sejalan dengan program-program baru yang tentunya berfokus pada pengentasan kemiskinan, perempuan dan anak.

“Kemudian pernikahan anak, tidak hanya langkah preventif tapi kita MoU-kan dengan pengadilan agama. Jadi kita ikut mengawal kebijakan dispensasi, sehingga kemudian tidak ada mempermudah dispensasi tanpa alasan yang jelas,” tegas istri Wagub Taj Yasin ini.

Sebagai informasi, BKOW terdiri dari sedikitnya 40 organisasi perempuan di Jawa Tengah.

Organisasi ini bergerak untuk penanggulangan kemiskinan terkait kelompok rentan, perempuan di daerah pinggiran, dan penanggulangan stunting.

“Saya menerima segala masukan dan saran, dan mudah-mudahan apa yang kita kerjakan bisa membuat perubahan bagi kesejahteraan di Jawa Tengah ini,” tandasnya.

Siti Zubaidah Haerudin sebagai Mantan Plt. Ketua BKOW Provinsi Jawa Tengah menyerahkan Memori Jabatan dan di terima dengan penuh 100%. (*)

Konsisten Bangun Isu-isu Perempuan, Bintang Puspayoga Apresiasi Semangat Jateng

Lingkar.co – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, mengapresiasi Provinsi Jawa Tengah. Menteri yang akrab disapa Bintang Puspayoga ini menilai perempuan Jateng konsisten mendukung isu-isu perempuan di Indonesia, yang karena hal itu menjadi tuan rumah pelaksanaan Kongres Perempuan Nasional 2023 ini.

“Saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ketua panitia dari BKOW yang sudah menginisiasi (isu) secara konsisten, komit ya,” kata Menteri PPPA usai menghadiri kongres di Auditorium Fakultas Teknik UNDIP Semarang, Kamis (24/8/2023).

“Tentunya apa yang menjadi tujuan daripada (kongres) ini untuk menjawab PR-PR kita. Tadi kami juga sudah sampaikan apa yang disampaikan oleh ketua panitia apa yang menjadi tujuan daripada kongres hari ini,” sambungnya.

Menurutnya, kongres bertema Demokrasi dan Kepemimpinan Menuju Satu Abad Indonesia ini sangat penting, sehingga dirinya merasa perlu hadir meski banyak agenda kegiatan. Ia juga berkepentingan untuk menjawab semangat para perempuan yang hadir di Kongres Perempuan Nasional di Jateng tersebut.

“Sebenarnya hari ini, hari yang tidak mungkin saya bisa hadir di sini (kongres perempuan nasional). (Saya hadir) Untuk menjawab semangat ini, kerja keras yang dilakukan, kita harapkan (hasil kongres) menjadi rujukan rekomendasi tidak dilakukan di Jateng saja tapi juga bisa menjadi rujukan rekomendasi untuk perempuan Indonesia,” ujarnya.

Menteri Bintang Puspayoga mengingatkan, dalam kongres yang digelar selama tiga hari tersebut akan mendiskusikan beberapa isu mengenai perempuan. Salah satunya, mengenai keterwakilan perempuan pada kontestasi Pemilu 2024 mendatang.

Oleh karenanya, diperlukan upaya bersama berbagai pihak agar isu-isu yang dibahas nantinya bisa menghasilkan gagasan bagi kaum perempuan.

“Kita harapkan apa yang menjadi rekomendasi ini tidak sebatas lembaran kertas, ya kita akan bergerak bersama untuk implementasi nyata dari rekomendasi. Karena isunya kan memang isu yang di era kekinian, yang krusial yang dihadapi oleh perempuan yang tentunya kita harus bergerak bersama untuk isu ini,” tandasnya.

Sementara, Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Jateng, Nawal Nur Arafah Yasin, mengatakan menuju satu abad kemerdekaan Indonesia, masih banyak isu-isu terkait perlindungan perempuan dan anak yang perlu diselesaikan.

Menteri PPPA didampingi Wagub Jateng dan Ketua BKOW Jateng saat menerima awak media. Foto: istimewa

Melalui kongres ini ia berharap seluruh pegiat perempuan dapat terkoneksi dan saling bersinergi menghadapi tantangan pekerjaan terkait demokrasi dan kepemimpinan perempuan dengan budaya, media, lingkungan, hukum dan HAM, serta prioritasnya adalah mengenai keterwakilan perempuan dalam kontestasi Pemilu 2024.

“Ini penting, menurut saya, menghadapi di tahun 2045 satu abad kemerdekaan Indonesia. Bagaimana perempuan ini saling terkoneksi, bisa menghasilkan ide dan gagasan yang nanti bisa jadi solusi untuk pemberdayaan perempuan,” kata Nawal.

Kongres ini diikuti sebanyak 1000 peserta dari 24 provinsi. Kongres tersebut dibuka secara langsung oleh Menteri Bintang Puspayoga didampingi Ketua BKOW Jateng Nawal Arafah Yasin, Ketua Penggerak PKK Jateng Siti Atiqoh Ganjar Pranowo, serta Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.

Wagub Taj Yasin menambahkan, jika Jawa Tengah sangat mendukung perempuan turut membangun negeri ini. Bahkan ia menyebut banyak perempuan yang menjadi bupati/wali kota. Selain itu, banyak ASN perempuan di lingkungan Pemprov Jateng yang menduduki jabatan strategis.

Wagub juga menegaskan dirinya bersama Gubernur Ganjar Pranowo sangat mendukung upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Berbagai program seperti Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dan Jo Kawin Bocah, dicanangkan untuk menangani beberapa persoalan, diantaranya stunting, serta kematian ibu dan anak.

“Kami di Pemprov Jateng, saya mendampingi Mas Ganjar betul-betul merasakan bahwa perempuan ini juga kita hormati betul,” tuturnya.

“Mulai dari perda kita tentang Ketahanan Keluarga itu juga (mengandung) terhadap perlindungan. Kita kalau bicara kematian ibu dan anak, kita ada program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. Kita jemput bola kepada para ibu (hamil) supaya angka KIA bisa kita tekan,” paparnya.

Terakhir, Wagub berpesan, hasil kongres perempuan perlu disuarakan secara masif. Agar, masyarakat juga semakin sadar akan peran perempuan di negeri ini. Ia mendukung perempuan agar bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Supaya di masa yang akan datang, mereka mampu menjadi pemimpin. Oleh karenanya, Pemprov Jateng berupaya menekan pernikahan anak.

“Artinya ini memberi peluang kepada para perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Kami mendorong itu. Karena bagaimanapun juga peran perempuan kami rasakan betul. Kita di Jateng kalau tidak ada ketua PKK dan ketua BKOW, ya rasanya program kami tidak akan terselenggara, tersampaikan ke masyarakat,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Konsisten Turunkan Kemiskinan di Jateng, BKOW Gelar Pelatihan Destara

JEPARA, Lingkar.co – Ketua Badan Kerja sama Organisasi Wanita, Nawal Arafah Yasin memaparkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 sebesar 5,96 persen, turun 0,52 persen poin ketimbang dengan Agustus 2020.

Hal itu, ia sampaikannya pada Rapat Koordinasi ke-2 Desa Sejahtera (DESTARA) dan Pelatihan Ekonomi/Keterampilan Kelompok Usaha Perempuan di 3 Desa secara virtual, Rabu (27/10/2021).

Selain TPT, jumlah penduduk miskin, juga mengalami sedikit penurunan, dari 11,84 persen (4,12 juta orang) pada bulan September 2020 menjadi 11,79 persen (4,11 juta orang) pada bulan Maret 2021. Bahkan per April 2021 ada 15 Kabupaten/ Kota yang masuk kategori miskin.

“Meskipun angka pengangguran dan kemiskinan sedikit menurun, angka tersebut masih jauh dari harapan kita semua, dalam upaya kita mewujudkan Jawa Tengah sejahtera dan berdikari,” ucap Ning Nawal sapaan akrabnya.

Untuk itu, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah yang sebagai wadah 39 organisasi wanita serta berjejaring dengan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) se-Jawa Tengah berpartisipasi aktif mendukung pengentasan kemiskinan.

Istri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen itu, mengatakan, bahwa pengentasan Kemiskinan tersebut, akan ia lakukan melalui program Destara (Desa Sejahtera).

Program yang ia usung itu, akan berisi tentang pelatihan ekonomi dan keterampilan usaha bagi kelompok perempuan di 3 desa.

“Untuk kelompok perempuan usaha di Desa Ketro kita beri pelatihan ekonomi/ ketrampilan usaha pengolahan dan pengemasan ikan, di Desa Bantarbolang pembuatan dan pengemasan sirup rambutan, sedangkan di Desa Kebon Batur gelar pelatihan pengolahan dan pengemasan kunyit,” paparnya.

Dirinya berharap, dengan pelatihan itu akan menambah keterampilan perempuan dalam mengolah potensi dan sumber daya yang ada di masing-masing desa.

Dengan begitu, akan menambah sumber penghasilan serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Targetnya, akan terbentuk kelompok usaha ekonomi produktif dengan aktor perempuan melalui produksi pengolahan komoditas sesuai potensi desa masing-masing hingga terwujud desa sejahtera perempuan dan anak,” harapnya.

Penulis : Rezanda Akbar D.
Editor : Muhammad Nurseha

Ketua BKOW Jateng: Wanita Indonesia Berperan Penting dalam Bernegara

SEMARANG, Lingkar.co – Ketua Badan Kerjasama Organisasi dan Wanita (BKOW) Jawa Tengah, Nawal Nur Arafah Taj Yasin, menceritakan tentang kepahlawanan wanita Indonesia.

Selain itu, ia juga bercerita tentang peran wanita Indonesia yang memiliki peran vital dalam bernegara.

Cerita itu ia sampaikan pada acara Webinar Kebangsaan dengan tema Perempuan Sebagai “Agent of Change” dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Kamis (19/8/2021).

Dia mengatakan, pahlawan wanita di Indonesia memiliki peran penting dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Mereka berperang melawan kolonialis dan imperialis diantaranya Cut Nyak Dien dan Nyi Ageng Serang,” ungkap Ning Nawal, sapaan akrabnya.

“Tidak hanya itu, yang berperan penting dalam meningkatkan pendidikan perempuan, yakni R.A Kartini dari Jepara dan ada juga Dewi Sartika dari Bandung,” lanjutnya.

Betapa pentingnya peran wanita Indonesia, pernah dituliskan Soekarno dalam buku Sarinah, “bahwa soal wanita adalah soal masyarakat, kita tidak dapat menyusun negara dan menyusun masyarakat jika tidak mengerti wanita”.

“Begitu penting sekali soal wanita ini, menjadi bahan penyusunan masyarakat dan Negara,” kata Ning Nawal.

Sehingga, menurut dia, pemahaman atas persoalan perempuan menjadi salah satu pijakan dalam membangun gerakan perempuan.

Baca Juga:
Akses Jalan ke Kampung Tambakrejo, Jadi Prioritas Pembangunan Tahun 2022

AGEN PERUBAHAN

Selain itu, Ning Nawal mengatakan, pada saat pandemi Covid-19 saat ini, wanita harus berperan sebagai agen perubahan (Agent of Change).

“Masa pandemi Covid-19 ini, perempuan harus mengambil peran untuk senantiasa “eling lan ngelingke” masyarakat untuk disiplin protokol kesehatan 5M,” jelasnya.

Terkait vaksinasi, ia mengatakan, wanita hendaknya menjadi teladan, agar mendorong masyarakat yang belum vaksin, segera mendatangi sentra vaksinasi untuk vaksin.

“Berikan informasi yang benar terkait vaksinasi, karena dengan vaksinasi akan sangat mengurangi dampak/gejala apabila terpaksa terpapar Covid-19,” kata Ning Nawal.

NIng Nawal mengajak masyarakat, khususnya kaum perempuan untuk memekarkan rasa kemanusiaan (sense of crisis) pada masa pandemi ini.

“Terus edukasi masyarakat untuk bijak dan santun dalam bermedsos. Buat iklim yang sejuk dan menenteramkan dalam keguyuban, perempuan harus menjadi ‘part of solution’ Jateng,” pungkasnya.*

Penulis : Rezanda Akbad D

Editor : M. Rain Daling

Nawal Arafah Yasin Lakukan Bakti Sosial di Tambaklorok Semarang

SEMARANG, Lingkar.co Istri Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah (Jateng) sekaligus Ketua Umum Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng Nawal Arafah Yasin melakukan bakti sosial serta memberikan bantuan sembako, makanan ringan dan nasi kotak untuk warga Tambaklorok Semarang. Pada saat melakukan bakti sosial, Nawal merasakan tingginya semangat warga sekitar untuk kembali bangkit. Saat ini, warga sekitar berhadapkan dengan dua keterbatasan yakni potensi bencana gelombang laut (rob) dan kondisi ekonomi.

Nawal Arafah Yasin menilai, semangat mengatasi kondisi ekonomi, terlihat dari hampir di setiap rumah terdapat ibu-ibu yang tengah mengupas kerang hijau untuk dijual. Adapula yang membudidayakannya, dari kegiatan itu mereka bisa menambah penghasilan keluarga dan meningkatkan ekonomi daerahnya.

Selain itu, sebagian masyarakat juga sudah meninggikan rumahnya sebagai upaya untuk beradaptasi tinggal di lingkungan yang sering rob. Bahkan, juga terdapat posko bencana gelombang laut di RT 01/RW 15. “Degradasi lingkungan yang perlahan, menurut saya membuat warga di sini bisa survive dan bertahan untuk beradaptasi. Buktinya terlihat dari adanya beberapa rumah yang alasnya tinggi. Mereka juga memanfaatkan lahan yang ada genangan air untuk budidaya kerang hijau,” tutur Nawal.

Menurut Nawal Arafah Yasin, kehidupan yang dialami warga Tambaklorok bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak. Pelajaran untuk mengubah keterbatasan menjadi energi yang besar untuk bangkit dan bertahan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Retno Sudewi yang ikut mendampingi Nawal  menambahkan, pemberdayaan ekonomi kaum ibu di Tambaklorok sudah termasuk baik.

Namun, pihaknya menerima informasi ada kasus pernikahan usia dini di Tambaklorok. Maka, pihaknya akan memberi perhatian untuk melakukan pencegahan pernikahan dini melalui program ‘Jo Kawin Bocah’.

“Meski boleh menikah dengan usia sesuai yang disyaratkan undang-undang (No. 16 Tahun 2019), tetapi untuk melahirkan sesuai kesehatan reproduksi yakni di usia 21 tahun. Untuk laki-laki 25 tahun biar mereka bisa mandiri dari segi ekonomi, dan psikisnya. Jadi semua harus terencana,” jelas Retno. (ito/one)

Lewat Program Desa Sejahtera, BKOW Jateng Fokus Pemberdayaan Ekonomi di Tengah Pandemi

SEMARANG, Lingkar.co – Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah melakukan pemberdayaan ekonomi daerah melalui Program Desa Sejahtera di tengah pandemi COVID-19.

“Prioritas pada program kerja ini untuk mencermati kondisi pandemi COVID-19 yang berdampak besar pada ekonomi masyarakat,” kata Ketua Umum BKOW Jateng Nawal Nur Arafah Yasin di Semarang.

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat saat ini harus bersinergi untuk bersama-sama dalam mengatasi pandemi COVID-19.

Pada tahun ini, kata dia, Program Desa Sejahtera akan dilaksanakan di tiga kabupaten yang dipilih sebagai “pilot project”. Dua di antaranya Kabupaten Klaten dan Sragen, sedangkan satu kabupaten lagi belum ditentukan.

“Indikator pemilihan daerah akan berbasis data, yakni dengan kategori tingkat kemiskinannya tinggi,” ujarnya.

Ia menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada Program Desa Sejahtera adalah pelatihan, pendampingan, fasilitasi alat dan pemberdayaan ekonomi. Nawal mencontohkan, pelatihan yang bisa diselenggarakan adalah pengolahan buah nangka.

“Saya menemukan di satu desa di Kabupaten Klaten banyak sekali potensi dari pohon nangka. Mereka tidak bisa mengolahnya dan hanya untuk ternak,” katanya.

Dengan adanya prioritas program kerja BKOW Jateng ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, ia berharap bisa menurunkan angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.(ara/lut)

Sumber: Koran Lingkar Jateng