
Sebanyak 516 santri dan siswa di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan massal akibat menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026).
Tak sedikit yang mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas terkait insiden tersebut, supaya tak ada lagi korban keracunan akibat MBG. Setelah sebelumnya terjadi keracunan serupa di beberapa wilayah di Indonesia hingga Papua pun sudah menjadi korban.
Bermula saat jam makan siang santri, Peristiwa ini terjadi saat ratusan santri mengonsumsi paket makanan dari program MBG sekitar pukul 13.00 WIB, usai menunaikan salat zuhur. Menu yang disajikan saat itu terdiri dari nasi, telur orak-arik (dadar), tempe bumbu bali, serta tumis sayur. Awal mulanya sesaat setelah para santri memakannya, kondisi masih terlihat normal. Namun, memasuki waktu Ashar atau sekitar pukul 15.30 WIB, satu per satu santri mulai mengeluhkan pusing dan mual. Namun tak berselang lama, banyak laporan siswa yang sakit dari berbagai asrama putra maupun putri.
"Habis Asar ada yang bolak-balik ke kamar mandi karena perut sakit. Menjelang Maghrib, situasi semakin mengkhawatirkan," kata Hasan menambahkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmita Herawati mengungkapkan jumlah korban keracunan massal santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, mencapai 664 orang.
Dari jumlah tersebut, 581 korban sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi kesehatan dipastikan membaik. Masih ada 77 santri yang menjalani perawatan dan 6 pasien dalam tahap observasi.
"Total 664 pasien, MRS 77 pasien, KRS 581 pasien, Observasi 6 pasien," ujar dr Lakhsmi kepada JawaPos.com, Kamis (3/9).
Lakhsmi mengungkapkan kondisi santri yang masih menjalani perawatan berada dalam kondisi stabil. Sehingga mereka belum diperbolehkan pulang karena masih harus mendapat pengawasan tim kesehatan.
"Secara umum (kondisi pasien yang masih menjalani perawatan) stabil," kata dr Lakhsmi.
Meski jumlah korban keracunan lebih dari 600 orang, Pemkab Sidoarjo dan Dinkes Sidoarjo memilih lebih berfokus dengan membentuk Tim Kesehatan untuk menangani kejadian ini.