Dr. KH Muhammad Adnan wafat pada Rabu (7/10/2026) malam. Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dua periode itu meninggal dunia di ruang ICU Rumah Sakit Samsoe Hidajat, Semarang, setelah menjalani perawatan.
Kabar duka tersebut disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, KH Anashom, sekitar pukul 20.48 WIB. Informasi itu kemudian dikonfirmasi Ahmad Jauhari, salah seorang yang dekat dengan almarhum, yang berada di rumah sakit saat Kiai Adnan menjalani perawatan.
Kepergian Kiai Adnan tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan warga Nahdliyin. Ia juga meninggalkan perjalanan panjang yang memperlihatkan bagaimana seorang kader NU tumbuh melalui berbagai ruang pengabdian.
Ada masa ketika ia berada di barisan aktivis mahasiswa. Ada periode ketika ia memimpin NU Jawa Tengah. Ada fase ketika ia bergulat dengan persoalan politik dan akademik. Dan pada bagian akhir hidupnya, ia mendirikan pesantren yang mempertemukan pendidikan agama dengan wawasan kebangsaan.
Empat ruang itulah yang kemudian membentuk sosok KH Muhammad Adnan.
1. Aktivis yang Ditempa dari Tradisi Kaderisasi
Sebelum menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, Kiai Adnan lebih dahulu melewati proses kaderisasi di lingkungan organisasi pelajar dan mahasiswa Nahdlatul Ulama.
Ia tercatat pernah menjadi Wakil Ketua IPNU Jawa Tengah.
Dari IPNU, perjalanan organisasinya berlanjut ke Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Di organisasi mahasiswa tersebut, Kiai Adnan dipercaya menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.
Fase ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter kepemimpinannya.
PMII tidak hanya menjadi ruang bagi Kiai Adnan untuk belajar mengelola organisasi. Di dalamnya ia bersentuhan dengan tradisi diskusi, pemikiran keislaman, dinamika politik, persoalan sosial, dan gerakan mahasiswa.
Pengalaman tersebut kelak tampak dalam cara Kiai Adnan memandang NU.
Ia tidak melihat NU hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bangsa.
Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa juga menjadi fondasi bagi perjalanan akademiknya.
Ia kemudian menekuni ilmu politik dan menjadi akademisi di Universitas Diponegoro.
Dengan demikian, perjalanan Kiai Adnan sejak awal telah mempertemukan dua dunia: tradisi pesantren dan tradisi intelektual mahasiswa.
2. Sepuluh Tahun di Puncak NU Jawa Tengah
Setelah melewati proses kaderisasi, Kiai Adnan memasuki struktur NU Jawa Tengah.
Pada Konferwil NU Jawa Tengah 2003, ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah untuk periode 2003–2008.
Ia berpasangan dengan KH Masruri Mughni, Lc., yang dipercaya sebagai Rais Syuriah.
Kepemimpinan Kiai Adnan berlangsung selama periode ketika NU menghadapi dinamika sosial dan politik yang sangat kuat.
Sebagai organisasi dengan basis massa besar, NU tidak dapat sepenuhnya menghindari tarik-menarik kepentingan politik.
Namun Kiai Adnan berusaha menempatkan kemandirian organisasi sebagai salah satu prinsip penting.
Baginya, warga NU memiliki hak politik masing-masing. Tetapi organisasi NU harus tetap memiliki ruang untuk menaungi seluruh warga Nahdliyin dengan pilihan politik yang berbeda.
Pandangan tersebut tidak hanya menjadi teori.
Pada 2008, Kiai Adnan sendiri masuk ke arena politik praktis.
Ia maju sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Tengah berpasangan dengan Bambang Sadono dalam Pilgub Jateng 2008.
Karena mengikuti kontestasi tersebut, ia mengambil langkah nonaktif dari jabatan Ketua PWNU Jawa Tengah.
Pengalaman politik itu menjadi bagian tersendiri dalam perjalanan hidupnya.
Namun setelah proses politik tersebut berlalu, Kiai Adnan kembali dipercaya memimpin PWNU Jawa Tengah.
Pada 2008, ia kembali terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah untuk periode 2008–2013.
Dengan demikian, total sepuluh tahun ia berada di pucuk kepemimpinan PWNU Jawa Tengah.
3. Pemimpin yang Memilih Regenerasi
Salah satu bagian penting dari perjalanan Kiai Adnan justru terjadi ketika ia meninggalkan jabatan.
Setelah menyelesaikan periode kedua pada 2013, ia tidak kembali mempertahankan posisi Ketua PWNU Jawa Tengah.
Pilihan tersebut berkaitan erat dengan pandangannya mengenai kaderisasi.
Organisasi, menurut prinsip yang ia jalankan, tidak boleh bergantung kepada satu figur.
Seorang pemimpin harus menyiapkan ruang bagi kader berikutnya.
Karena itu, ketika masa kepemimpinannya berakhir, tongkat estafet diberikan kepada generasi penerus.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari alasan namanya muncul dalam bursa kepemimpinan PBNU pada Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015.
Kiai Adnan membawa pengalaman sepuluh tahun memimpin PWNU Jawa Tengah sebagai bekal dalam gagasan mengenai kepemimpinan NU nasional.
Ia mendorong kaderisasi yang sistematis dan menempatkan pengalaman organisasi sebagai bagian penting dalam menentukan kepemimpinan.
Gagasan itu sebenarnya merupakan refleksi dari perjalanan hidupnya sendiri.
Ia tidak tiba-tiba menjadi pemimpin.
Ia tumbuh dari organisasi pelajar, bergerak di PMII, masuk ke struktur NU, lalu memimpin PWNU.
4. Akademisi yang Membaca Agama dan Politik
Setelah tidak lagi menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, ruang pengabdian Kiai Adnan semakin banyak berada di dunia akademik.
Ia menekuni kajian mengenai hubungan agama dan politik.
Radikalisme, terorisme, Islamisme, konflik agama, demokrasi, dan negara bangsa menjadi sejumlah tema yang banyak diperhatikannya.
Karya-karyanya antara lain "Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia", "Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia", "Konsepsi Tentang Terorisme", serta "Short Cut Paham Politik: Sekumpulan Konsep Pilihan dalam Politik."
Ia juga menulis kajian mengenai Nahdlatul Ulama dan Negara Bangsa, serta penelitian tentang Islam, Islamisme, dan demokrasi di Kota Surakarta.
Karya tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman organisasi Kiai Adnan kemudian diterjemahkan menjadi pemikiran akademik.
Ia tidak sekadar menjalani dinamika agama dan politik sebagai seorang organisator.
Ia juga mencoba membedahnya sebagai seorang ilmuwan.
Agama dan Negara Bangsa
Dalam pemikirannya, Kiai Adnan menempatkan Islam dan kehidupan kebangsaan dalam hubungan yang saling melengkapi.
Ia memandang komitmen terhadap NKRI dan Pancasila sebagai bagian dari kesepakatan kebangsaan yang harus dijaga.
Islam, dalam kerangka pemikirannya, tidak harus berhadapan dengan negara.
Nilai-nilai Islam dapat hadir dalam kehidupan bangsa melalui keadilan, kemanusiaan, toleransi, pendidikan, dan kemaslahatan.
Pandangan tersebut juga menjadi dasar perhatiannya terhadap radikalisme.
Menurut perspektif yang dikembangkannya, radikalisme tidak cukup dilawan dengan pendekatan keamanan.
Pendidikan dan pembentukan cara berpikir juga menjadi bagian penting.
Di sinilah pesantren kemudian menjadi ruang strategis.
5. Pesantren Kebangsaan dan Babak Terakhir Pengabdian
Pada 2023, Kiai Adnan mendirikan dan meresmikan Pesantren Mahasiswa Kebangsaan di kawasan Tembalang, Semarang.
Pesantren tersebut ditujukan kepada mahasiswa.
Konsep pendidikannya memadukan akidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dengan wawasan kebangsaan.
Mahasiswa tidak hanya diajarkan mengenai keagamaan, tetapi juga diajak memahami persoalan masyarakat, nasionalisme, moderasi beragama, radikalisme, literasi digital, dan kehidupan dalam masyarakat yang majemuk.
Pesantren itu menjadi titik temu berbagai pengalaman hidup Kiai Adnan.
Pengalaman aktivis mahasiswa dibawa ke dunia pendidikan.
Pengalaman akademik dibawa ke ruang pesantren.
Pengalaman memimpin NU diterjemahkan menjadi pendidikan kader.
Dan pengalaman melihat langsung dinamika politik diterjemahkan menjadi penguatan wawasan kebangsaan.
Jika dulu Kiai Adnan menjadi kader, di pesantren itu ia menjadi pengader bagi generasi berikutnya.
6. Buku yang Ditinggalkan untuk Generasi Akademik
Menjelang akhir hayatnya, Kiai Adnan masih menunjukkan perhatian terhadap keberlanjutan ilmu pengetahuan.
Pada Agustus 2025, ia menghibahkan sejumlah karya akademiknya kepada perpustakaan FISIP Universitas Diponegoro.
Buku-buku tersebut menjadi bagian dari warisan intelektual yang dapat dibaca dan digunakan oleh mahasiswa maupun peneliti.
Langkah itu menjadi simbol dari cara Kiai Adnan melihat ilmu.
Ilmu tidak berhenti pada orang yang menulisnya.
Ilmu harus diwariskan.
Karena itu, buku yang ditinggalkannya dapat terus menjadi bahan pembelajaran mengenai politik, agama, konflik, radikalisme, terorisme, demokrasi, dan kebangsaan.
Dari PMII ke PWNU, Lalu Kembali ke Pendidikan
Jika seluruh perjalanan hidup Kiai Adnan ditarik dalam satu garis, terdapat sebuah pola yang kuat.
Ia memulai dari IPNU.
Kemudian tumbuh dalam PMII dan dipercaya menjadi Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah.
Setelah itu ia memasuki struktur NU dan dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2003–2008.
Pada 2008, ia kembali dipercaya untuk periode 2008–2013.
Di antara perjalanan tersebut, ia sempat masuk politik praktis sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Tengah.
Setelah meninggalkan kepemimpinan PWNU, ia kembali memperkuat pengabdian melalui dunia akademik.
Kemudian ia membangun Pesantren Kebangsaan.
Dengan demikian, perjalanan hidup Kiai Adnan tidak bergerak dari organisasi menuju pensiun.
Sebaliknya, setiap fase menjadi jembatan menuju fase berikutnya.
Pengalaman organisasi membentuk pemikirannya.
Pengalaman akademik memperkaya organisasinya.
Pengalaman politik memperluas cara pandangnya.
Dan pengalaman tersebut akhirnya ia bawa ke pesantren.
KH Muhammad Adnan Wafat, Warisannya Berlanjut
Kini perjalanan itu telah berakhir.
KH Muhammad Adnan wafat pada Rabu malam, 7 Oktober 2026.
Jenazahnya disemayamkan di Kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Tembalang, Semarang.
Ia dijadwalkan dimakamkan pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.
Tempat itu menjadi saksi terakhir perjalanan hidupnya.
Pesantren yang dibangun untuk mahasiswa menjadi tempat jenazahnya disemayamkan sebelum dimakamkan.
Ada ironi sekaligus makna simbolis di sana.
Seorang tokoh yang dahulu ditempa sebagai aktivis mahasiswa akhirnya mendirikan pesantren untuk mahasiswa.
Seorang mantan Ketua PWNU yang pernah memimpin organisasi selama satu dekade akhirnya meninggalkan jabatan dan memilih menanamkan gagasan melalui pendidikan.
Dan seorang akademisi yang sepanjang hidupnya menulis mengenai agama, politik, dan kebangsaan akhirnya meninggalkan buku-buku sebagai warisan pemikiran.
Kiai Adnan telah wafat.
Namun empat ruang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya—kaderisasi, NU, akademik, dan pesantren—akan tetap menjadi jejak yang mengingatkan perjalanan pengabdiannya.
Dari IPNU ia belajar menjadi kader.
Dari PMII ia belajar bergerak dan berpikir.
Dari PWNU ia belajar memimpin.
Dari kampus ia mengembangkan gagasan.
Dan melalui Pesantren Kebangsaan, ia mencoba mewariskan semuanya kepada generasi setelahnya.
Itulah jejak panjang KH Muhammad Adnan: seorang kader yang tumbuh menjadi pemimpin, seorang pemimpin yang kembali menjadi pendidik, dan seorang pendidik yang meninggalkan warisan gagasan jauh melampaui masa jabatannya.