Direktur Utama Rumah Edukasi, Mulia Anton Mandiro menyebut istri Wakil Wali Kota Semarang, Hj. Listyati Purnama Rusdiana atau Lies Iswar Aminuddin merupakan sosok yang berfikiran maju dan brilian.
Anton, sapaan akrab Muiia Anton Mandiro mengapresiasi peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2026 yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Semarang di Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, Kota Semarang termasuk sangat cepat dalam merespons kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dan bahkan bisa disebut mencuri start dalam pembelajaran coding bagi anak usia dini.
"Pembelajaran coding ini kan sudah menjadi kebijakan dari pemerintah pusat. Kemarin itu awal-awalnya mulai dari tingkat SD sampai SMA. Kemudian sekarang mau berlanjut mulai dari TK,ulai dari usia dinilah," ujarnya.
"Jadi di Semarang ini termasuk salah satu yang boleh dibilang curi start dibanding kota-kota lain, ini sudah mulai lebih dahulu karena ide dari Ibu Wawali (istri Wakil Wali Kota,-red) ini sangat brilian, sangat berpikiran maju ke depan," sambungnya.
Coding tanpa komputer atau coding robotik yang tengah dikembangkan oleh Rumah Edukasi memiliki perbedaan dengan robot dalam bentuk remote control.
Anton bilang, permainan coding robotik mengarahkan anak untuk bermain mengenal sistem, pola berpikir untuk memecahkan permasalahan-permasalahan melalui sistem yang diatur dalam scan.
Ia menjelaskan, anak belajar merakit beragam robot seperti pemadam kebakaran, robot pinguin, robot kucing, robot kura-kura dan sebagainya. Kemudian, mereka belajar menerapkan pola jalan maju, mundur, memutar melalui program.
"Robot bisa didesain, terus dijalankan menggunakan program itu. Jadi kita program robotnya, ya menggunakan istilahnya namanya koding gitu," paparnya.
Menurut dia, jika seorang anak mulai sejak usia dini sudah menerapkan pola tersebut, nantinya pasti menjadi anak-anak generasi emas Indonesia yang kita inginkan, yang bisa menyelesaikan masalah.
Waktu Intan
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Semarang, Hj. Listyati Purnama Rusdiana mengingatkan agar para orang tua tidak melarang pembelajaran teknologi, tetapi harus selalu mendampingi mengawal pembelajaran, khususnya coding.
Dirinya mengaku pembelajaran coding dengan cara praktek langsung sederhana yang diberikan oleh Rumah Edukasi cukup simpel dan mudah diterima oleh anak usia dini.
Ia berharap, para orang tua yang hari ini mengikuti kegiatan tersebut dapat menerapkan di rumah karena tanggung jawab pengembangan anak tidak hanya tugas guru di sekolah.
Bahkan justru orang tua yang harus berperan, tadi pun saya mengatakan bahwa keluarga harus menerapkan jam intan, jam Interaksi Orang Tua Anak (Intan) supaya anak-anak itu tetap merasakan kasih sayang orang tua," ujarnya.
Ia menilai, sekarang ini banyak keluarga yang menitipkan anak kepada keluarga, tetangga, atau tempat penitipan anak karena bapak ibunya sibuk bekerja, dan pulang dalam kondisi sudah lelah. Hal itu berdampak pada waktu untuk bertemu dan mendampingi belajar anak tidak maksimal.
Padahal, kata Lies, mereka yang mengasuh mungkin tidak punya pemikiran yang sama dengan orang tua.
"Keinginan kami jam intan harus diperhitungkan betul, yaitu 7 jam sehari, itu harus diperhitungkan, karena sekarang era digital, ya gunakan pola komunikasi digital, zoom atau video call," tuturnya.
jadi, lanjutnya, jam Intan tidak harus harus bertatap muka, tapi bisa juga memanfaatkan perkembangan teknologi
"Jangan sampai kasih sayang hilang, karena anak-anak itu bersiap menjadi emas. Kalau mulai sekarang dia sudah merasakan kasih sayang dari orang tua tidak ada, nanti keatasnya itu menjadi semakin berat," ucapnya. (*)