Arsip Tag: Pendidikan Akhlak

Tak Masuk Sekolah Negeri, Markarius Anwar Harapkan Pesantren Tampung Peserta Didik

Lingkar.co – Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, mengatakan, Pondok Pesantren (Ponpes) Dar Aswaja (Dar Ahlussunah Waljamaah) yang membuka cabang di Pekanbaru berpotensi menjadi solusi alternatif dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), terutama bagi anak-anak yang belum tertampung di sekolah negeri. Pemkot membuka peluang kerja sama agar lembaga pendidikan tersebut dapat menjadi pilihan bagi masyarakat.

“Ke depan, kami berharap pesantren ini dapat menampung anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri. Lokasinya yang berada di pinggiran kota tentu akan memudahkan akses dari perumahan warga,” ucap Markarius, Senin (13/4/2026)

Ia menegaskan, Pemerintah Kota Pekanbaru menyambut baik pencanangan pembangunan Ponpes Dar Aswaja sebagai upaya memperluas akses pendidikan agama Islam di Ibu Kota Provinsi Riau. Pemkot bersyukur atas hadirnya pesantren tersebut di Pekanbaru.

Menurut dia, keberadaan pesantren yang sebelumnya telah berkembang di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) itu diharapkan mampu menjadi wadah pendidikan agama Islam yang berkualitas bagi generasi muda. Pemko menyambut baik pembangunan cabang ponpes ini di Pekanbaru.

“Saya berharap prosesnya berjalan lancar dan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya dalam pembinaan pendidikan agama Islam,” harapnya.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Dar Aswaja Usman Saufi menyampaikan, pencanangan pembangunan telah dimulai tahun ini dengan dukungan tokoh masyarakat dan ulama setempat.

Kegiatan awal pesantren akan dipusatkan di masjid yang telah tersedia di lokasi. Masjid tersebut sementara difungsikan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan pembinaan, sembari menunggu proses pembangunan fisik ponpes rampung.

“Kami mulai dengan kegiatan kajian keagamaan untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Seluruh aktivitas sementara dipusatkan di masjid sambil pembangunan berjalan,” jelasnya.

Pembangunan ponpes ditargetkan dimulai tahun ini. Jika belum selesai, operasional penuh akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

Pembangunan pesantren ini berdiri di atas lahan wakaf seluas kurang lebih setengah hektare yang diberikan oleh Zaini Ismail, mantan Sekdaprov Riau. Lahan tersebut diharapkan menjadi amal jariyah yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

Damar Ajak Elemen Masyarakat Bersinergi Majukan Pendidikan di Kota Magelang

Lingkar.co – Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengajak seluruh elemen Kota Magelang bersinergi memajukan pendidikan. Ia pun mengapresiasi kegiatan halal bihalal ini sebagai sarana memperkuat kolaborasi.

“Silaturahmi bukan hanya tradisi, tetapi juga pondasi penting dalam membangun sinergi. Dari silaturahmi lahir kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh kolaborasi, dan dari kolaborasi kita dapat menghadirkan perubahan,” ujarnya, Ahad (5/4/2026).

Damar mengatakan hal itu saat menghadiri kegiatan Sarasehan dan Halal Bihalal Guru se-Kota Magelang, di GOR Samapta Sanden, Kota Magelang, Jawa Tengah

Turut hadir Wakil Wali Kota Magelang dr. Sri Harso, Pj Sekda Kota Magelang Larsita, dan seluruh kepala OPD lingkungan Pemkot Magelang.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan pendidikan yang sudah berdedikasi tinggi mendidik anak-anak Kota Magelang.

Dikatakan, pendidikan merupakan investasi strategis bagi pembangunan daerah, namun keberhasilannya tidak dapat dicapai secara parsial.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, sekolah tidak bisa berdiri sendiri, dan para guru tidak bisa berjuang sendiri,” kata dia.

Menurutnya, sinergi harus melibatkan pemerintah sebagai pengarah kebijakan, guru sebagai ujung tombak pembelajaran, orang tua sebagai pendamping utama anak, serta masyarakat sebagai lingkungan pembentuk karakter baik.

Damar melanjutkan, peran strategis guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan membentuk karakter generasi penerus.

“Di tangan Bapak/Ibu sekalian, masa depan Kota Magelang sedang dibentuk. Anak-anak yang cerdas secara akademik, berkarakter, berakhlak mulia, memiliki empati, peduli serta mampu menghadapi tantangan zaman,” paparnya.

Pemerintah Kota Magelang, imbuh Damar, berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat kapasitas tenaga pendidik, serta mendorong inovasi pembelajaran.

Kegiatan yang dihadiri ribuan guru dan tenaga kependidikan jenjang KB/PAUD/TK, SD/MI, SMP/Mts se-Kota Magelang ini berlangsung meriah dan kebersamaan yang hangat.

Selain sarasehan dan halal bihalal, acara juga diisi dengan penampilan kelompok seni dari pelajar, para guru bernyanyi bersama, serta pembagian berbagai hadiah doorprize kepada peserta. (*)

Anggap Program Expose Uncensored Trans7 Rendahkan Pesantren, Wakil Ketua DPRD Jateng Minta KPI Turun Tangan

Lingkar.co – Program ‘Expose Uncensored’ di Trans7 yang ditayangkan pada Senin, (13/10/2025) kemarin menuai protes dari sejumlah kalangan, terutama kalangan pesantren dan ormas keagamaan yang menilai tayangan tersebut merendahkan martabat kiai, santri dan pesantren.

Wajar jika mereka yang merasa sakit hati dengan program Expose Unsensored Trans7 membuat gerakan perlawanan dengan aksi tagar #boikottrans7 di media sosial. Gelombang protes juga dilayangkan ke lembaga negara seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kepolisian.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah menilai, tayangan tersebut tidak hanya melanggar prinsip penyiaran, tetapi juga melecehkan pendidikan pesantren dan para tokoh yang berkecimpung di dalamnya

“Konten itu tidak mencerminkan prinsip penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi serta keberagaman sebagaimana diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran,” ungkap Sarif, Rabu (15/10/2025).

Tayangan tersebut, menurutnya, juga dipenuhi dengan logical fallacy atau sesat pikir. Ini yang menyebabkan tayangan itu tidak lebih dari sebuah tindakan pencemaran nama baik bagi kiai, maupun pesantren secara umum.

“Alih-alih menarasikan kebenaran dengan jernih, tayangan di Trans7 ini malah berubah menjadi corong opini yang menggiring persepsi publik secara sepihak,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Pria yang akrab disapa Kakung ini menegaskan, pesantren memiliki ruh yang berbeda. Pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama, melainkan tempat membentuk manusia seutuhnya atau insan kamil, terutama dalam hal akhlak dan adab.

“Di sinilah letak kekhasan pesantren, yakni pendidikan yang hidup, mengalir, dan berlangsung sepanjang waktu, bukan hanya dalam ruang kelas,” terangnya.

Sikap hormat dan adab yang harus dijaga santri terhadap kiai tidak boleh dipandang sebagai sekadar formalitas, melainkan wujud penghormatan terhadap ilmu dan pemberi ilmu.

“Tindakan ini lahir dari kesadaran spiritual bahwa ilmu membutuhkan penghormatan. Santri melakukan itu bukan karena terpaksa, melainkan karena memahami bahwa keberkahan ilmu muncul dari adab,” terangnya.

Kakung menambahkan, pendidikan pesantren tidak berakhir pada ijazah atau wisuda, namun berlanjut seumur hidup. Seorang santri akan selalu menjadi murid, dan kiai akan selalu menjadi guru.

“Karena itu saat sowan membawakan hadiah, ini adalah ungkapan syukur dan penghormatan. Bagi santri, keberhasilannya adalah buah dari doa kiai yang mustajab,” tegas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.

Pesantren, lanjutnya, ingin melahirkan orang baik, bukan hanya orang pintar. Kegagalan bukan diukur dari nilai jelek, melainkan dari rusaknya akhlak.

“Karena itu ada maqolah yang berbunyi al-adabu fauqol ‘ilmi, yang artinya, adab atau akhlak berada setingkat lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Santri diajarkan untuk selalu menjaga hati, menghormati guru, dan tidak sombong meskipun memiliki banyak pengetahuan,” katanya.

Atas dasar itu, kata Kakung, lembaga penyiaran seperti televisi perlu diingatkan kembali tentang perannya sebagai penjaga kebenaran, bukan pencipta sensasi. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga harus turun tangan agar kejadian ini tidak terulang.

“Kasus ini sudah membuat gaduh dan kontraproduktif terhadap dunia penyiaran yang selama ini sudah mulai berjalan dengan baik,” tandasnya. (*)

Atasi Kasus Kreak atau Gangster di Semarang, Joko Santoso Perbaiki Akhlak Lewat Pendidikan dan Ajak Generasi Muda Aktif Berorganisasi

Lingkar.co – Calon Wakil Wali Kota Semarang nomor urut 02, Joko Santoso mengajak generasi muda untuk aktif berorganisasi untuk mengatasi, mencegah dan mengurangi aksi kreak atau gangster yang meresahkan masyarakat Semarang.

Selain aktif berorganisasi, pemerintah juga harus lebih memperhatikan pendidikan untuk memperbaiki akhlak agar anak tumbuh dengan kepribadian yang mulia (akhlak Karimah). Termasuk peran Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin).

“Akhlak akan kita perbaiki dahulu. Makanya prioritas program Yoyok-Joss itu sekolah digratiskan,” kata Joko dalam Sapa Milenial dan Gen Z yang digelar oleh Relawan X-tra J055 di kawasan BSB Jalan Ngaliyan -Mijen, Kota Semarang, Sabtu (26/10/2024).

“Kemudian mendorong pengembangan TPQ dan Madin, ini untuk membentuk karakter, membentengi generasi muda dari perilaku negatif atau aksi yang meresahkan masyarakat,” sambungnya.

Ia pun memberikan motivasi agar generasi milenial dan zilenial (Gen Z) untuk aktif berorganisasi. Sebab, menurut Joko, pemuda harus bisa menjadi pelopor pembangunan dalam mengisi kemerdekaan, karena permasalahan hari ini bisa selesai dari pemuda.

“Ada yang ikut PMII, ada yang ikut HMI, IMM, IPNU, SAPMA PP, dan sebagainya” ujarnya.Lebih jauh ia mengungkapkan sedikit proses dirinya ikut berorganisasi dari level paling bawah hingga bisa menjadi ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Semarang dan lanjut jadi ketua DPD KNPI Kota Semarang, sebuah organisasi tempat berhimpun bagi semua organisasi kepemudaan.

Bahkan, keberhasilan itu berlanjut ke legislatif dan saat dicalonkan maju di lembaga eksekutif kota Semarang sebagai Calon Wakil Wali Kota Semarang.

“Insya Allah tidak rugi kalau ikut organisasi, tapi manfaatnya tidak sekarang. Jangan tanya pragmatisme itu di depan. Jaringan itu penting, sahabat itu penting. Mereka akan menolong saat kita kesusahan,” pesannya.

Cawalkot Semarang nomor 02, Joko Santoso dalam Sapa Milenial dan Gen Z yang digelar oleh Relawan X-tra J055 di kawasan BSB Jalan Ngaliyan -Mijen, Kota Semarang, Sabtu (26/10/2024) Semarang nomor 02, Joko Santoso dalam Sapa Milenial dan Gen Z yang digelar oleh Relawan X-tra J055 di kawasan BSB Jalan Ngaliyan -Mijen, Kota Semarang, Sabtu (26/10/2024). Foto: Rifqi/Lingkar.co
Cawalkot Semarang nomor 02, Joko Santoso dalam Sapa Milenial dan Gen Z yang digelar oleh Relawan X-tra J055 di kawasan BSB Jalan Ngaliyan -Mijen, Kota Semarang, Sabtu (26/10/2024) Semarang nomor 02, Joko Santoso dalam Sapa Milenial dan Gen Z yang digelar oleh Relawan X-tra J055 di kawasan BSB Jalan Ngaliyan -Mijen, Kota Semarang, Sabtu (26/10/2024). Foto: Rifqi/Lingkar.co

Joko Joss, sapaan akrabnya juga mengingatkan jumlah pemilih muda yang lebih banyak dari generasi tua. Oleh sebab itu ia mengajak generasi muda untuk memandang penting pesta demokrasi.

“Ada sekitar 52 persen data pemilih di bawah usia 40 tahun, berarti yang menentukan kota Semarang akan menjadi seperti apa itu pemuda, makanya generasi muda harus memberikan masukan kepada pemimpinnya,” tuturnya.

Sejalan dengan hal itu, dirinya mengungkapkan program Hasta Karya untuk mewujudkan warga Semarang pandai dan sehat.

“Kita ada program yang namanya hasta karya, Semarang Pinter dan Sehat. Ini menjadi pondasi terbentuknya kota Semarang yang lebih maju dan bermartabat yang kalau saya singkat menjadi Semarang Mantab,” ungkapnya.

Joko bilang, jika menang dalam Pilwalkot Semarang akan memperhatikan generasi muda dengan adanya sarana berkumpul dan bersosialisasi untuk berekspresi diri secara positif.’Setiap kecamatan ada sebuah tempat untuk mengeksplorasi diri, baik itu kongkow, olahraga dan sebagainya, sesuai bakat dan minatnya,” kata Joko.

Wujudkan Visi Semarang Maju Bermartabat, Yoyok Sukawi dan Joko Santoso Bakal Libatkan Tokoh Agama

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang nomor urut 2, Yoyok Sukawi menegaskan, dia bersama calon Wakil Wali Kota Semarang, Joko Santoso bakal melibatkan peran kiai, habaib, serta tokoh agama untuk mewujudkan visinya menjadikan Semarang sebagai kota metropolitan yang maju dan bermartabat.

Yoyok Sukawi menyampaikan hal itu saat menerima audiensi puluhan kiai dan habaib di Omahe Bocahe Dewe Posko Pemenangan Yoyok-Joss di Srondol Kulon, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/10/2024).

Menurutnya, untuk mewujudkan Semarang sebagai kota yang maju dan bermartabat, butuh peran dan partisipasi dari kalangan kiai dan habaib serta tokoh agama. Pasalnya kiai dan habaib serta tokoh agama menjadi aktor utama sebagai pendidik moral dan karakter generasi muda Semarang.

“Kami punya cita-cita membawa Kota Semarang sebagai kota yang maju dan bermartabat. Ini tentu cukup berat, karena di dalam martabat ada integritas dan ada akhlak. Dan itu semua adalah kekuatan para ulama serta tokoh agama dalam melakukan pendidikan akhlak,” ujar Yoyok Sukawi.

Para kiai dan Habaib saat mendengarkan paparan visi-misi Yoyok Sukawi dalam memajukan pendidikan formal dan pesantren di posko pemenangan, Omahe Bocahe Dewe, Banyumanik Semarang. Foto: dokumentasi
Para kiai dan Habaib saat mendengarkan paparan visi-misi Yoyok Sukawi dalam memajukan pendidikan formal dan pesantren di posko pemenangan, Omahe Bocahe Dewe, Banyumanik Semarang. Foto: dokumentasi

Menurut pria bernama asli Alamsyah Satyanegara Sukawijaya ini, salah satu tantangan yang dihadapi Kota Semarang saat ini adalah pergaulan bebas dan kenalakan remaja. Sinergi bersama kiai, ulama, dan tokoh agama diharapkan membuat maraknya kelompok gengster atau kreak yang meresahkan warga bisa tertangani.

“Cita-cita besar sembilan partai politik pengusung Yoyok-Joss adalah kami ingin mengembalikan urusan pendidikan ini sebagai prioritas pertama. Banyak sekali urusan pendidikan yang akan ditingkatkan, pendidikan pesantren dengan Perda Pesantren, serta perda lainnya,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, pihaknya berkomitmen memberikan akses dan layanan pendidikan yang gratis dan merata bagi anak-anak di Kota Semarang. Tidak hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non-formal.

“Banyak program yang nanti bisa diakses dan bisa dikolaborasikan, khususnya dalam pendidikan. Kami ingin mengambalikan urusan pendidikan sebagai prioritas utama untuk mewujudkan Semarang maju bermartabat,” ungkapnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat