Arsip Tag: Agama

Analisa Peneliti C-Polsis: Isu Agama dan Parpol Mesin Politik Jadi Penentu Pilihan Masyarakat Pada Pilwalkot Semarang

Lingkar.co – Peneliti C-Polsis, Nur Syamsudin memberikan tanggapan tentang isi agama dan kekuatan partai politik sebagai mesin politik untuk memenangkan pasangan calon (Paslon) dalam Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwalkot) Semarang 2024..

Menurut Nur Syam, sapaan akrabnya, secara umum agama tidak menjadi faktor utama prefensi masyarkat dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Faktor yang mempengaruhi preferensi ini biasanya mencakup popularitas kandidat, program yang ditawarkan, serta isu-isu lokal yang relevan,” ujarnya saat dikonfirmasi Lingkar.co melalui aplikasi perpesanan WhatsApp pada Minggu (22/9/2024).

Ia lantas menjelaskan, agama bisa menjadi preferensi secara khusus apabila Agama dijadikan isu identitas politik. Artinya, agama dapat menjadi bagian penting dari identitas sosial, yang memengaruhi preferensi kandidat.

“Kedua, agama dijadikan program dan janji. Kandidat yang dianggap sejalan dengan nilai-nilai agama tertentu sering kali mendapatkan dukungan lebih,” paparnya.

Ketiga, lanjutnya, agama sebagai komunitas. Yakni mobilisasi dukungan dalam komunitas berbasis agama. Maka hal itu dapat berdampak pada hasil pemilihan.

Yang terakhir, agama menjadi isu moral sebagaimana lazimnya isu-isu yang berkaitan dengan moralitas dan etika, yang sering kali terkait dengan ajaran agama. “Ini juga bisa menjadi faktor penentu pilihan masyarakat,” jelasnya.

Sebagai informasi, saat ini ada dua kandidat yang resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang. Yakni pasangan Agustina Wilujeng Pramestuti dan Iswar Aminuddin atau Agustina-Iswar yang diusung oleh PDI Perjuangan. Ramai dalam perbincangan tentang Agustina yang beragama Katolik dari paroki St. Maria Fatima.

Kedua, Paslon Alamsyah Satyanegara (AS) Sukawijaya atau Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss) yang diusung semua partai parlemen di Kota Semarang. Antara lain: Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Nasdem, PKB, PAN, PKS, dan PPP.

Terkait partai pengusung, Nur Syam mengira PDI Perjuangan sebagai partai politik pengusung Agustina-Iswar telah berhitung dengan matang. PDIP tentu menjadi mesin politik kandidat yang efektif jika dilihat dari pengalaman pemilu selama ini.

Hasil Survei Y-Publica Ungkap Isu Agama Tak Berimbas Dalam Pilwalkot Semarang 2024, Tanggapan Pengamat: Pilwalkot Lebih Berkualitas Jika Adu Gagasan

Lingkar.co – Direktur Eksekutif Y-Publica, Rudi Hartono menganalisa hasil survei yang ia lakukan pada 7-12 September bahwa responden tidak mempersoalkan agama pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwalkot) Semarang 2024. Artinya latar belakang agama kandidat tidak berimbas pada calon pemilih

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, M. Kholidul Adib mengatakan bahwa isu agama sejatinya menjadi isu yang hangat dibicarakan oleh masyarakat.

“Salah satu isu yang ramai dibicarakan masyarakat adalah faktor agama yang dianut Agustina Wilujeng. Agustina merupakan wanita kelahiran Semarang, 11 Agustus 1971. Ia beragama Katolik dari paroki St. Maria Fatima,” kata Adib kepada Lingkar.co pada Jum’at (20/9/2024).

Kendati demikian, menurut Adib, PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis tentu berpendapat semua warga negara memiliki hak yang sama untuk diusung mengisi jabatan publik. Namun demikian belum tentu sama dengan pendapat masyarakat.

Tentu saja hal itu menjadi pertimbangan utama bagi penganut Islam dengan latar belakang pesantren atau taat kepada ulama atau bisa dikatakan sebagai bagian dari golongan yang konservatif. Namun golongan tersebut tidak terdeteksi dalam survei yang dilakukan oleh Y-Publica.

“Bagi kalangan muslim yang tingkat religiusitasnya tinggi, masih banyak yang menjadikan agama sebagai faktor yang menentukan pilihan politik. Hal yang demikian ini juga tampak dari hasil survey Y-Publica pimpinan Rudi Hartono,” ungkapnya.

Ia pun memaparkan rilis hasil survei Y-Publica yang menyatakan bahwa segmentasi agama tidak terlalu berpengaruh. Menurut hasil surveinya ada sekitar 59 persen sampel warga kota Semarang tidak mempersoalkan agama seorang kandidat.

“Secara tidak langsung hasil survei tersebut menyatakan bahwa ada sekitar 41 persen sampel responden Kota Semarang yang masih mempersoalkan agama dalam menentukan pilihan wali kota Semarang,” ujarnya.

“Dengan kata lain, jika menggunakan tipologi politik aliran, maka hasil survei tersebut hendak menegaskan jika angka 59 persen merepresentasikan jumlah pemilih dari kalangan nasionalis, sedangkan pemilih dari kalangan religius ada 41 persen,” lanjutnya.

Sejalan dengan hal itu, Adib mempertanyakan angka 59 persen pemilih dari kalangan nasionalis yang tidak mempersoalkan agama seorang kandidat tersebut secara otomatis akan memilih paslon Agustina–Iswar yang diusung PDIP.

“Tentu saja tidak, sebab paslon Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss) juga mendapatkan dukungan dari kalangan partai-partai nasionalis seperti Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Golkar, PSI dan Partai Nasdem,” tandasnya.

Hasil Survei Y-Publica Agustina-Iswar Unggul Jauh Atas Yoyok-Joss, Isu Agama Tidak Berimbas di Pilwalkot Semarang

Lingkar.co – Hasil survei Y-Publica pada 7-12 September 2024 menunjukkan, elektabilitas pasangan calon (Paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dan Iswar Aminuddin (Agustina-Iswar) unggul jauh atas Paslon Alamsyah Satyanegara (AS) Sukawijaya alias Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss).

Sebagaimana diketahui Agustina merupakan wanita kelahiran Semarang, 11 Agustus 1971. Ia beragama Katolik dari paroki St. Maria Fatima. Ia politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ia terakhir menjabat sebagai anggota komisi X DPR RI dari fraksi PDIP.

Menurut analisis Direktur Eksekutif Y-Publica, Rudi Hartono, isu agama tidak berimbas pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Semarang 2024. “Segmentasi agama tidak terlalu berpengaruh. Jadi kalau di survei kami itu ada sekitar 59 persen koma sekian, mereka tidak mempersoalkan agama kandidat,” ujarnya seusai acara rilis hasil survei di River View Cafe, Kota Semarang, Senin (16/9/2024).

“Tidak menjadi persoalan yang membuat mereka harus, misalnya yang istilahnya politik itu politik identitas. Mereka tidak terbawa,” sambungnya.

Menurutnya, meskipun pengumuman Agustina-Iswar baru terjadi pada akhir Agustus lalu, namun faktor pendongkrak elektabilitas Agustina-Iswar melambung karena awareness dan keberterimaan pasangan ini cukup tinggi.

“Ada 56,7 persen respons yang mengetahui Agustina-Iswar diusung oleh PDIP, sementara pasangan Yoyok-Joko diusung oleh 17 parpol diketahui oleh 55,6 persen. Tingkat persetujuan terhadap pasangan Agustina-Iswar 84,6 persen, sedangkan Yoyok-Joko 82,5 persen,” jelasnya.

Rudi melanjutkan, keberadaan mesin partai PDIP menjadi kunci percepatan sosialisasi pasangan Agustina-Iswar ke akar rumput.

Menurut Rudi, elektabilitas sebagian besar responden memilih calon wali kota/wakil wali kota karena alasan berpengalaman di pemerintahan (26,2 persen).

“Agustina meniti karir politik dari bawah, dari anggota DPRD kota Semarang, kemudian anggota DPRD Provinsi Jateng, lalu terpilih di DPR-RI. Sementara Iswar menjabat sebagai Sekretaris Daerah di Pemkot Semarang saat ini,” jelasnya.

Faktor lain yang jadi alasan responden memilih calon adalah peduli pada rakyat (20,9 persen), bebas dari korupsi (17,4 persen), visi misi kandidat (10,8 persen), religius (6,7 persen), dan tidak menjawab sebesar 8 persen.

Selain faktor itu, Rudi juga menganggap pasangan Agustina-Iswar mendapat efek dari tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja Pemerintah Kota Semarang.

Ia tegaskan hasil survei elektabilitas pasangan yang diusung oleh PDI Perjuangan, Agustina-Iswar unggul jauh atas pasangan yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju ditambah PPP, PKB, Partai Nasdem dan PKS (KIM plus), yakni Yoyok-Joss

“Elektabilitas Agustina-Iswar sebesar 35,4 persen, sementara Yoyok-Joko mendapat 29,7 persen. Namun, dinamika elektabilitas dua pasang kandidat masih bisa dinamis,” ujarnya.

Lewat LAZISNU, Majelis Telkomsel Taqwa Beri Beasiswa Kepada Puluhan Santri Temanggung

Lingkar.co – Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) Regional Jateng-DIY menyalurkan Beasiswa Santri Nusantara kepada 31 santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Tahdzibul Fuad, Kaloran, Temanggyng melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jawa Tengah dalam program NU Care

Penyaluran beasiswa dilaksanakan di Aula Ponpes Tahdzibul Fuad dan dihadiri oleh Pengasuh Ponpes, Direktur NU Care-LAZISNU Jateng serta Ketua dan Pengurus LAZISNU Kabupaten Temanggung, Selasa (13/08/2024) siang.

Direktur NU Care-LAZISNU Jawa Tengah, R. Wibowo menjelaskan, Beasiswa Santri Nusantara di Jawa Tengah bekerjasama dengan berbagai stakeholder, guna menjalin sinergitas dalam pemerataan akses pendidikan.

“Kesempatan ini, secara simbolis beasiswa diserahkan kepada 31 santri putra dan putri Pondok Pesantren Tahdzibul Fuad, Kabupaten Temanggung,” katanya dalam sambutan.

Wibowo melanjutkan, pada kesempatan tersebut para penerima beasiswa santri nusantara mendapatkan bantuan berupa dana pendidikan. Menurutnya penyaluran bantuan tersebut adalah rangkaian implementasi kerja sama antara pihaknya dengan MTT Regional Jateng-DIY yang berfokus pada 4 pilar program LAZISNU yakni, Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan serta Kebencanaan.

Perwakilan MTT Regional Jateng-DIY, Wahyu menambahkan bahwa penyaluran beasiswa pendidikan tersebut merupakan hasil zakat karyawan Telkomsel yang dihimpun oleh MTT kemudian disalurkan bersama dengan LAZISNU Jateng.

“Beasiswa pendidikan ini adalah bentuk pentasyarufan dana zakat dari karyawan Telkomsel, kemudian disalurkan oleh MTT dan Lazisnu”, paparnya.

Salah satu penerima beasiswa nusantara, Laila Oktavia yang masih menempuh pendidikan di pondok pesantren Tahdzibul Fuad, Kaloran, Temanggung mengungkapkan bahagia dengan beasiswa tersebut. Ia pun mengucapkan rasa syukur atas bantuan biaya pendidikan yang telah diberikan.

“Terima kasih Lazisnu dan MTT Telkomsel atas beasiswa santrinya”, ujar gadis 13 tahun ini.

Santriwati asal Kecamatan Kedu tersebut mengungkapkan bahwa dirinya saat ini sudah satu tahun berada di pesantren, Ia menuturkan dirinya baru belajar kitab-kitab dan nantinya akan belajar untuk menghafal Al-Qur’an.

Pemkot Dorong FKUB Jadikan Semarang Peringkat Tertinggi Kota Toleran di Harmony Award

Lingkar.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mendorong Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk lebih semangat dalam meraih peringkat tertinggi di ajang Harmony Award yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hal ini disampaikan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat menghadiri Rapat Koordinasi dengan Organisasi Keagamaan dan Ormas se-Kota Semarang pada Rabu (7/8/2024) di Hotel Grasia Semarang.

“Hari ini ada Rakor bersama FKUB dan Ormas Keagamaan se-Kota Semarang. Jadi dari berbagai agama semua hadir komplit lengkap dan dihadiri juga oleh Direktur Setara Institut. Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Semarang mendorong FKUB agar lebih semangat menjadikan kota Semarang meraih Harmony Award peringkat terbaik,” ujar Mbak Ita, sapaan akrabnya.

Harmony Award merupakan penghargaan kepada Pemerintah Daerah dan FKUB sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi dan kontribusi mereka dalam merawat dan menguatkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Menurut Mbak Ita, sejak tahun 2022, Kota Semarang terus melakukan peningkatan peringkat sebagai kota toleran di Indonesia.

“Alhamdulillah, sejak tahun 2022 ini semakin naik peringkatnya. Di 2022, Kota Semarang masih peringkat 10 besar, kemudian kami dorong, dan di 2023 naik ke peringkat 7,” ungkapnya.

Mbak Ita melanjutkan, pada tahun 2024 Kota Semarang masuk dalam lima besar kota toleran di Indonesia dan meraih anugerah Harmony Award.

“Saya menyampaikan kepada teman-teman FKUB dan organisasi keagamaan juga agar jangan berpuas diri. Sehingga prestasi ini bisa ditingkatkan lagi, tidak hanya berpuas diri di lima besar tapi bisa naik dan naik lagi. Harapannya bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat kota Semarang,” terangnya.

Di hadapan Direktur Institut Setara, Mbak Ita bahkan meminta masukan dan saran terkait kekurangan kota Semarang yang bisa dievaluasi ke depan dalam penilaian Harmony Award.

“Tadi dengan Direktur Institut Setara, kami tanyakan apa saja sih yang masih menjadi kekurangan-kekurangan. Padahal dari FKUB, organisasi keagamaan, organisasi masyarakat, dan masyarakatnya dinilai sudah saling toleran. Tetapi mungkin ada hal-hal lain seperti pencatatan, dokumentasi yang masih kurang,” kata dia.

Kekurangan tersebut, lanjutnya, akan dibedah dan menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi Pemerintah Kota Semarang bersama FKUB untuk segera memperbaiki.

Batas Akhir 12 Februari, 50 Persen Lebih Calon Jamaah Haji Kendal Belum Lunas

Lingkar.co – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kendal telah membuka pelunasan biaya perjalanan ibadah Haji tahun 2024, sejak tanggal 10 Januari dan akan berakhir tanggal 12 februari 2024. Namun, dari 928 calon jamaah haji, baru ada 338 yang telah melunasi.

Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Kabupaten Kendal, Ahmad Zainuddin menjelaskan, sejak hari pertama pelunasan hingga hari ini masih sekitar 338 calon jemaah Haji yang melakukan pelunasan. Menurutnya, hal itu termasuk lambat.

“Untuk calon jamaah haji yang melunasi belum ada 50 persen per hari ini, mungkin belum ada uang untuk melunasi. Namun biasanya setelah menjelang batas waktu akhir pelunasan banyak yang melunasi” jelasnya Zaenudin di ruang kerjanya, Rabu (24/1/2024)

Ia juga mengungkapkan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan sudah ada 885 calhaj yang sudah melakukan cek kesehatan, yang sudah melunasi ada 388, dan yang  sudah  istitha’ah ada 847 calhaj. Tersisa 18  orang belum istitha’ah. 

Dijelaskan, biaya Haji tahun 2024 sebesar Rp 58.562.008. Jumlah tersebut memang lebih tinggi dari tahun 2023, yakni sebesar Rp49.939.981.

Calon jamaah haji yang sudah mendapatkan porsi haji pada umumnya sudah membayar Rp25.000.000. Sehingga untuk melunasi harus menambah Rp31 juta sekian.

Alur pembayaran bagi calhaj yang mendaftar tanggal 1 April sampai 8 Agustus 2012 akan diberangkatkan tahun ini sebanyak 929 orang, sedangkan untuk  cadangan yang mendaftar  tanggal 8 Agustus 2012 sebanyak 334  orang. 

Calhaj  yang sudah masuk daftar berangkat pertama harus cek kesehatan, setelah dinyatakan lolos baru melakukan pelunasan. Selanjutnya, membuat paspor haji, dan akan mengikuti manasiknhaji. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Desa Plososari dan Kalirejo Jadi Kampung Moderasi Beragama, Ini Alasan Kemenag Kendal

Lingkar.co – Jelang akhir tahun 2024, Desa Kalirejo Kecamatan Singorojo dan Desa Plososari Kecamatan Patean Kendal secara resmi menjadi Kampung Moderasi Beragama. Launching dua kampung moderasi beragama itu dilaksanakan di Desa Plososari Kecamatan Patean Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (28/12/2023).

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kendal, KH Mahrus menuturkan, mulanya dua desa tersebut dalam kategori Desa Harmoni, kemudian ditingkatkan menjadi Kampung Moderasi Beragama. Sejalan dengan hal itu, dirinya berharap muncul hal serupa pada tiap tahun.

“Harapanya tiap tahun ada satu Kampung Moderasi. Ditargetkan nantinya semua desa di Kabupaten Kendal bisa jadi kampung moderasi. Sehingga masyarakat lintas agama bisa rukun saling menghargai, bahkan bisa saling bahu-membahu,” ujarnya.

Dijelaskan, kedua desa itu menjadi desa moderasi beragama sebab kehidupan di sana desa saling menghargai antar pemeluk agama.

Jumlah penduduk Desa Plososari sekitar 6.800 jiwa dengan mayoritas penduduk beragama Islam, selebihnya beragama Kristen, Katolik, Budha dan Hindu. Meski mereka berbeda keyakinan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan berlangsung baik. Mereka hidup rukun berdampingan satu sama lain, saling menghormati, dan tetep mengedepankan gotong royong.

Misalnya, ketika umat Islam merayakan Hari Raya, maka umat agama lain juga menghargai. Bahkan warga desa saling membantu kegiatan pengamanan hari besar keagamaan umat penganut agama di desa tersebut.

Sementara, Sekda Kendal, Ir. Sugiono, MT, mengapresiasi kerukunan antar umat beragama di dua desa tersebut. Salah satu contohnya ketika umat Nasrani melaksanakan misa Natal, Banser juga ikut menjaga keamanan, begitupula sdebaliknya dengan umat agama lainnya.

Sugiono berharap, budaya saling membantu yang ada bisa ditingkatkan, semisal jika ada salah satu umat beragama yang sedang membangun rumah ibadah, maka umat agama lain ikut membantu.

“Kabupaten Kendal sudah ada dua desa percontohan, yang tadinya desa harmoni sekarang meningkat jadi kampung moderasi beragama. Harapannya dengan adanya kampung moderasi ini bisa saling menghargai, saling guyup, rukun antar pemeluk agama,” ucapnya.

Kepala Desa Plososari, Supari menuturkan, desa yang ia pimpin bisa menjadi desa moderasi tidak lepas karena adanya dukungan dari masyarakat dan Kemenag Kabupaten Kendal. Ia berharap, peluncuran kampung moderasi beragama ini bisa meningkatkan kerukunan antar umat beragama.

“Harapan kami selaku kepala desa, dengan adanya Launching Kampung Moderasi ini bisa meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Dengan otomatis juga akan meningkatkan perekonomian di desa Plososari,” ujarnya.

“Kami ucapkan terimakasih pada Kemenag Kendal dan pemerintah kabupaten Kendal sudah memilih desa kami sebagai kampung moderasi beragama,” sambungnya.

Sebagai informasi, Kampung Moderasi Beragama dihidupkan oleh orang yang ada di desa tersebut. Kampung moderasi merupakan rumah bersama bagi semua umat beragama yang membawa kebaikan untuk bersama, saling mendukung, saling menguatkan, dan menggunakan agama.

Prosesi launching kampung moderasi dilakukan di halaman wihara dengan penandatangan prasasti oleh Sekda Kendal dan Kepala Kemenag Kendal. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

GP Ansor Jateng Dukung Imbauan Menag, Jangan Pilih Capres yang Pernah Gunakan Agama Sebagai Alat Politik

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Aly mengeluarkan pernyataan yang mendukung penuh imbauan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.

Gus Yaqut, sapaan akrab Menang, menyatakan agar masyarakat tidak memilih calon presiden yang pernah menggunakan agama sebagai alat politik.

Namun, pernyataan Menag menjadi polemik dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang telah mendeklarasikan pasangan Anies Baswedan dan Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Menurut Sholahuddin Aly atau Gus Sholah, pernyataan Menag sudah benar, yakni menekankan pentingnya tidak memilih pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik.

“Politik identitas merupakan politik ketinggalan jaman, di berbagai negara modern politik identitas sudah ditinggalkan. Karena mereka menyadari tidak bisa berdiri diatas identitas suku ras dan agama,” ungkap Gus Sholah di kantornya, Semarang, Selasa (3/10/2023).

Sebenarnya, katanya, para pendiri bangsa Indonesia memiliki cita-cita yang luhur, dan visi yang jauh kedepan. Komitmen Bangsa Indonesia berada diatas keberagaman. Bahkan menjunjung tinggi perbedaan dalam suku, ras, dan agama.

“Politisi jangan memainkan peran dalam politik identitas, baik berlatar belakang suku, ras, agama, budaya atau kedaerahan. Ini jelas-jelas namanya memecah belah bangsa Indonesia. Mereka sama saja memainkan politik jadul (jaman dulu-red) jauh dari semangat ke-Indonesia-an,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan politik identitas berdampak pada perpecahan bangsa Indonesia.

“Memang tujuan awal dari politik identitas hanya untuk mediskriminasikan sosok lawan politiknya saja. Tapi hal itu dapat berkembang menjadi diskriminasi kelompok lain, hal ini berpotensi perpecahan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Dampak perpecahan itu, lanjutnya, tidak akan langsung segera pulih, namun membutuhkan rekonsilaiasi yang panjang dan rasa memaafkan yang lama.

“Politik Identitas itu bagian dari strategi memainkan menanfaatkan perbedaan untuk mencari dukungan dengan rasa primordial. Hal ini yang paling bahaya karena dampak sosial politiknya bisa membekas dan memecah belah bangsa,” ujarnya.

Sebab, menurutnya, permainan politik identitas yang pernah terjadi beberapa kali Pilkada dan Pilpres tidak hanya begitu. Namun lebih dari itu, pelaku politik identitas akan kampanye hitam, berupa hoax, berita bohong dan fitnah.

“Mereka akan memainkan kabar yang tidak baik dengan menghalalkan segala cara dengan mementingkan tujuannya tercapai. Hal ini bukan politik yang elegan dan berkebangsaan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Gelar Upacara Peringatan HUT ke 78 RI, Masjid Syafruddin Semarang Satukan Antarumat Agama

Lingkar.co – Masjid Syafruddin Semarang menyatukan umat beragama melalui upacara bendera peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-78 Republik Indonesia (RI), Kamis (7/8/2023). Meski upacara tersebut diikuti oleh warga non muslim, namun mars Yalal Wathon setelah lagu Indonesia Raya tetap masuk dalam rangkaian upacara.

Ketua Takmir Masjid Syafruddin, KH. Drs. Chobirun Zuhdy, MPd mengajak masyarakat untuk bersyukur atas karunia Allah berupa kemerdekaan Indonesia dengan berperilaku positif dan produktif.

“Mari tingkatkan edukasi yang lebih baik, pengembangan teknologi, kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan membangun akhlaqul karimah,” ajaknya.

Menghadapi tantangan di tahun politik ini, ia mengingatkan bahwa Pemilu 2024 rawan perpecahan dengan peredaran berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian.

Oleh karena itu, ia meminta agar masyarakat menyikapi perbedaan pilihan partai politik dengan santun, bijaksana, dan mengedepankan persatuan bangsa.

“Tak peduli pendukung siapa, nomor berapa dan warna apa, kita tetaplah satu bangsa, satu tanah air dan satu tumpah darah,” tegasnya

Sementara, Ketua Ikatan Remaja Masjid Syafruddin (Irmasyaf), Yusa Dwi Nugroho mengungkapkan, upacara bendera HUT RI yang sudah berjalan rutin selama tiga tahun ini di masjid tersebut.

Tujuannya, untuk meningkatkan jiwa nasionalisme dan patriotisme pada diri remaja anggota irmasyaf dan generasi muda warga sekitar. Dengan jiwa tersebut, maka bisa modal dalam menjaga nilai persatuan dan kesatuan antarumat beragama di Plamongan Hijau.

Hal itu, menurutnya, sejalan dengan usaha untuk menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan cinta tanah air sesuai nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam, “Kegiatan upacara bendera ini juga sebagai sarana menyambungkan hubungan silaturahmi antara generasi tua dan generasi muda dalam bermasyarakat,” ucap Yusa

Senada, Octo Tilarso, warga RT 2 RW 8 yang ikut dalam upacara berharap kegiatan semacam itu dapat ditingkatkan karena menjadi penyemangat bagi orang tua untuk menjaga persatuan dan nasionalisme dalam bingkai religiusitas.

“Jujur, saya bangga karena masih ada generasi muda berbasis remaja masjid yang mempunyai jiwa patriotisme untuk menjaga rasa cinta tanah air,” ungkapnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Daftarkan 35 Bacaleg ke KPU, Hanura Demak Siap Dekati Ulama, Ormas Agama dan Ormas Nasionalis

Lingkar.co – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kabupaten Demak, Muhammad Yasin mengatakan, di Kabupaten Demak mayoritas warga NU (nahdliyin). Karenanya, pihaknya akan melakukan pendekatan kepada ulama, ormas islam dan nasionalis.

“Kita juga melakukan pendekatan ke warga NU, seperti dengan Persatuan Guru NU (Pergunu), Ansor, Banser, IPNU-IPPNU dan lainnya,” kata Yasin. menjawab pertanyaan media terkait strategi perolehan suara dalam pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Jawaban itu, ia sampaikan seusai mendaftarkan 50 bakal calon legislatif (Bacaleg) Hanura ke kantor Kpmisi Pemilihan Umum (KPU) Demak, Minggu (14/5/2023).

“Juga dengan Ormas-Ormas kepemudaan dan kemasyarakatan lainya di Demak. Ditingkatan Hanura Pusat, Ketua Umum Oesman Sapta Odang (OSO) gencar melakukan safari ke para ulama NU, begitu juga dengan Ketua DPD Hanura Jateng Bambang Raya. Kita juga akan meneruskan dan memaksimalkan safari ulama dan tokoh masyarakat di Daerah,” sambungnya.

Aktivis yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Demak Periode 2014-2019 itu juga mengimbau kepada seluruh pengurus mulai dari Cabang, Anak Cabang hingga Ranting untuk bekerja keras dan bekerja sama untuk menyukseskan pemilu 2024. 

“Kita jalin kolaborasi dengan berbagai kelompok masyarakat di Demak. Menyapa, komunikasi dan serap aspirasi warga di Kabupaten Demak, mulai kalangan tua hingga kalangan milenial untuk memenangkan Hanura di Kabupaten Demak,” urainya

Menurut Yasin, banyak tokoh masyarakat, tokoh pemuda, bahkan mantan tokoh parpol lain yang telah bergabung di Partai Hanura Demak. 

“Ini juga menjadi tambahan energi dan optimisme kami dalam menyongsong pemilu 2024 nanti. Tekad kami, mari bersama-sama membangun untuk kemajuan Demak Kota Wali bersama Partai Hanura,” pungkasnya. 

Ia jelaskan, ada 35 caleg yang masing-masing daerah pemilihan (Dapil) ada 7 Bacaleg dan sesuai aturan kuota 30 persen perempuan.

Terkait target kursi, ia berharap setiap daerah pemilihan (Dapil) bisa menghasilkan 1 kursi legislatif. 

“Di Kabupaten Demak ini ada 5 Dapil, masing-masing dapil kita kirim 7 kader. Target kami (DPC Hanura Demak, red) pada pemilu 2024 ini perdapil minimal dapat 1 kursi,” ujar Yasin optimis usai mendaftarkan caleg di KPU Demak

Pada kesempatan itu, ia didampingi Sekretaris DPC Partai Hanura Demak, Almadea Putri, dan bendahara Asip Failani Rohman beserta jajaran pengurus dan diterima oleh Ketua KPU Kabupaten Demak, Bambang Setya Budi beserta jajaran komisioner KPU Demak. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat