Arsip Tag: Ramah Difabel

Tietha Soewarto Minta Pemprov Jateng Genjot Sosialisasi Kesetaraan, Ubah Stigma terhadap Difabel

Lingkar.co – DPRD Jawa Tengah menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci penting dalam menentukan masa depan kaum difabel. Selama ini, keterbatasan akses yang dialami penyandang difabel tidak hanya disebabkan oleh sistem, tetapi juga oleh stigma dan minimnya pemahaman publik.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Tietha Ernawati Soewarto menegaskan bahwa upaya sosialisasi tentang kesetaraan hak difabel harus terus digencarkan. Menurutnya, masih banyak pihak yang belum memahami bahwa difabel memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.

“Kalau tidak disosialisasikan, kasihan mereka ke depan. Kesempatannya jadi semakin terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, DPRD bersama berbagai elemen, termasuk organisasi dan komunitas, berupaya menyebarluaskan pemahaman bahwa difabel bukan kelompok yang harus dikasihani, melainkan individu yang memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang.

Dalam berbagai kesempatan, pihaknya juga menerima masukan dari komunitas difabel terkait masih adanya hambatan dalam memperoleh pekerjaan. Bahkan, terdapat kasus di mana penyandang difabel yang telah lolos seleksi kerja justru dibatalkan, yang menunjukkan bahwa stigma masih memengaruhi kebijakan di tingkat teknis.

Menurut Tietha, kondisi tersebut memperkuat urgensi sosialisasi kepada instansi pemerintah maupun masyarakat luas agar tidak lagi memandang difabel secara diskriminatif. Ia juga mendorong agar seluruh lembaga, termasuk Badan Kepegawaian Daerah (BKD), memiliki pemahaman yang sama dalam menerapkan kebijakan inklusif.

Selain itu, DPRD turut mendorong peningkatan keterampilan bagi difabel sebagai bagian dari upaya membuka peluang yang lebih luas. Namun, ia menekankan bahwa tanpa perubahan cara pandang, berbagai program tersebut tidak akan berjalan maksimal.

“Intinya bagaimana kita sama-sama membuka pikiran, bahwa mereka juga bisa dan punya hak yang sama,” tegasnya.

Dengan penguatan sosialisasi yang masif, DPRD berharap masyarakat Jawa Tengah semakin inklusif dan mampu memberikan ruang yang adil bagi difabel untuk berkembang, sehingga masa depan mereka tidak lagi dibatasi oleh stigma. (*)

Penulis: Husni Muso

Fokus Membina Penyandang Disabilitas, Wabup Sleman Apresiasi Ohana Training Center

Lingkar.co – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menghadiri grand opening gedung (kantor dan warehouse) OHANA Training Center, Jl. Harjobinangun Ngawen, RT 03/ RW 16, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (30/3/2026).

Wabup mengapresiasi para pegiat yang memanfaatkan tempat tersebut sebagai pusat pelatihan dan layanan yang aksesibel dan profesional.

Danang menilai kontribusi OHANA sangat besar dalam upaya pemberdayaan masyarakat difabel, khususnya di Kabupaten Sleman.

Dengan adanya warehouse dan training service di Kabupaten Sleman, diharapkan juga akan membawa dampak positif yang bisa dirasakan masyarakat di Kabupaten Sleman.

“Kalau melihat kursi roda secara umum, mungkin kita menganggapnya semua sama saja. Ternyata di OHANA ini, kursi roda itu ada berbagai macam tipe karena disesuaikan dengan kultur bentuk tubuh dan kebutuhan. Bahkan untuk atlet juga beda. Kami bersyukur warehouse dan training service ini ada di Kabupaten Sleman,” katanya.

Sementara, Direktur Eksekutif OHANA, Risnawati Utami, menyebut bahwa Training Center yang baru diresmikan ini dapat difungsikan sebagai pusat layanan dan pelatihan komprehensif, yang berfokus pada layanan fungsional kursi roda adaptif, pemberdayaan ekonomi perempuan disabilitas, dan advokasi kebijakan inklusif.

“OHANA Training Center ini diharapkan menjadi solusi untuk mereduksi stigma dan diskriminasi yang dialami oleh penyandang disabilitas, yang selama ini kerap terabaikan dan negara belum hadir dalam mengatasi semua ini,” jelasnya.

Sejak berdiri pada tanggal 6 Juli 2012, lanjut Risnawati, OHANA bekerja di antara celah-celah sistem yang belum sepenuhnya berpihak kepada penyandang disabilitas.

Ia menyebut seperti masih banyaknya penyandang disabilitas masih memakai kursi roda yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas mereka. Bagi anak dengan disabilitas ganda, akses terapi yang berkualitas pun masih sangat terbatas.

“Sehingga kerja-kerja advokasi yang kami kembangkan harus terus mendorong terciptanya disability justice dalam pemenuhan hak kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga kebijakan dan akses terhadap adaptasi perubahan dinamika di masyarakat,” urainya. (*)

Tantangan PSM Sendangguwo Dirikan Komunitas Difabel Hingga Temukan Bakat dan Berprestasi

Lingkar.co – Setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda. Hal itu termasuk anak yang memiliki keterbatasan fisik atau yang lebih dikenal dengan istilah penyandang disabilitas atau kaum difabel.

Tidak mudah menemukan bakat atau kelebihan yang dimiliki oleh anak yang terlahir ‘istimews’ tersebut seperti yang dilakukan oleh komunitas difabel Harsa Abipraya (Hasbi), Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pendiri Hasbi sekaligus ketua Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Sendangguwo, Tutik Wahyuningtyas mengatakan bahwa setiap anak memiliki bakat tersendiri seperti para difabel yang ia dampingi.

“Kita pertama pendekatan dengan orang tuanya. Setelah mengikuti berbagai kegiatan ternyata punya bakat tersendiri, tinggal bagaimana orang tua mendidik. Karena bagaimanapun juga kita kan hanya pendamping,” tandas Tyas, sapaan akrabnya, disela kegiatan pertemuan dengan para penyandang disabilitas di balai Kelurahan Sendangguwo, Sabtu (17/1/2026) sore.

Sejak berdiri pada 29 September 2021, dirinya berhasil konsisten mengadakan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) bagi difabel setiap Jum’at akhir bulan.

“Jadi waktu itu launching ada Bu Tia (Krisseptiana Hendi), ketua TP PKK Kota Semarang waktu itu terus kita langsung gerak dan rutin mengadakan pemeriksaan kesehatan,” bebernya.

Tyas bilang, proses mendirikan komunitas tersebut tidak mudah, setidaknya butuh waktu 10 bulan melakukan sosialisasi secara intens, baik secara personal dari rumah ke rumah maupun dalam forum PSM.

Lebih jauh ia mengaku, tidak mudah dalam mendampingi keluarga anak penyandang disabilitas yang bersifat tertutup atau sengaja menutupi kondisi anaknya karena mungkin merasa malu.

“Memang ada keluarga yang tertutup, tidak mengizinkan anaknya keluar dan berinteraksi dengan orang lain. Alhamdulillah niat baik, kita lakukan, insya Allah pasti ada jalan,” jawabnya.

Hal sama dirasakan juga oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Tembalang, Dwi Supratiwi saat sosialisasi dan mencari kader peduli difabel untuk kelurahan.

“Malah ada yang disembunyikan selama 15 tahun tidak pernah ketemu orang. Pas kita edukasi juga susah banget. Iki kan anak, anakku dewe, ya takuruse dewe, (Anak ini, anakku sendiri, ya biarlah aku urus sendiri),” bebernya.

Namun, lanjutnya, orang tua tersebut bisa terbuka setelah melihat sendiri komunitas yang sudah terbentuk.

“Meskipun tidak bisa 100 persen tapi sudah mulai terbuka, alhamdulilah anaknya kadang juga ikut kegiatan bersama,” tuturnya.

Juara Bulu Tangkis

Sebagai informasi, kegiatan yang dilaksanakan oleh PSM Sendangguwo tersebut mengajak serta komunitas difabel Kinasih Mataram Semarang Tengah, dan Komunitas Kecil (Komcil) Petelan Semarang Tengah, total ada 50 lebih anak difabel yang ikut bernyanyi dan bermain bersama.

Komunitas Hasbi juga telah menghasilkan produk telur asin yang diproduksi oleh para penyandang disabilitas. Secara terpusat berada di rumah warga RW 07 Sendangguwo. Juga memiliki kegiatan untuk melatih motorik seperti bermain alat musik angklung.

“Ada yang bakat bermain drum, ada yang bisa bikin telur asin, kalau menyanyi rata-rata bisa ya, meskipun suara dan intonasinya tidak begitu jelas. Angklung ini pernah diundang tampil di acara Pemkot, dan pernah juga diundang bermain di Solo,” ucap Tyas.

Tyas menyampaikan terima kasih kepada para orang tua anak berkebutuhan khusus yang bersedia untuk berkegiatan bersama hingga bisa meraih prestasi. Salah satunya, Ani Riwayati yang memiliki anak disabilitas tuli.

Anaknya yang bersekolah di SLB Negeri Semarang atau yang populer dengan sebutan SLB Negeri Elang karena terletak di Jalan Elang Raya No 2 Kecamatan Tembalang. Ani mengaku bangga pada putranya yang kini berusia 15 tahun sudah pernah meraih juara 3 dalam turnamen bulutangkis di Magelang.

“Pernah juara 3 di Magelang. Tidak tahu kabupaten apa kota ya, saya lupa, yang jelas juara 3 turnamen khusus difabel. Tidak diterusin latihan karena anaknya minta tinju. Kalau tinju kan agak mahal. Belum ada biaya,” ungkapnya.

Ia bersyukur bisa belajar bahasa isyarat secara otodidak sehingga bisa memahami keinginan si buah hatinya. Apalagi, keterbatasan tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap kecerdasan.

“Alhamdulillah kan cuma itu masalahnya. Jadi ada dua anak yang disendirikan di sekolah karena memang tidak ada hambatan dalam menerima pelajaran,” ucapnya.

Ia juga mengaku telah dua kali mendapatkan bantuan berupa alat bantu dengar dari pemerintah. Meski begitu, anaknya merasa lebih senang tanpa alat bantu dengar dengan alasan tidak nyaman.

“Pertama dulu dikasih mantan wali kota Pak Hendi (Hendrar Prihadi saat menjabat wali kota), sudah rusak, terus kemarin dapat lagi dari kelurahan sudah dipakai dua hari terus gak dipake, katanya enggak nyaman,” jelasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Batik Pegon Rumah Inklusif Kebumen Tembus Pasar Dunia, Ning Nawal Dukung Difabel Terus Berkarya

Lingkar.co – Produk batik k penyandang disabilitas dari Rumah Inklusif Kebumen, berhasil menembus pasar dunia. Salah satu produk unggulannya, batik pegon, telah dipamerkan dalam berbagai ajang nasional hingga internasional, seperti Singapura dan Turki.

Keberhasilan Rumah Inklusif Kebumen dalam memberdayakan kelompok difabel, mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah (Jateng) yang juga Bunda Forum Anak Nasional (FAN) Jateng, Nawal Arafah Yasin.

Bahkan saat mengunjungi Rumah Inklusif yang berlokasi di Kampung Panggel, Desa Kembaran, Kecamatan Kebumen, Selasa (16/9/2025), Nawal memborong beberapa produk busana, dengan beragam motif aksara pegon atau Jawa Kuno.

Dalam kunjungannya, Nawal mengapresiasi Rumah Inklusif Kebumen, yang sejak 2009 terus konsisten menjadi wadah pemberdayaan keluarga penyandang disabilitas. Mulai dari kegiatan pendidikan, pengembangan seni, dan kewirausahaan.

“Rumah Inklusif ini telah mendampingi banyak anak disabilitas, berdampak untuk bagaimana mendampingi mereka, dari mulai pendidikan mereka, sampai mereka juga diajari, dilatih untuk memiliki satu karya yaitu batik. Di sini batik khasnya adalah batik pegon,” kata Ning Nawal, sapaan akrabnya.

Yang lebih membuat Nawal kagum, batik pegon tersebut memiliki motif khusus yang memuat filosofi dan pesan penting, tentang anti-bullying dan kekerasan.

“Di batiknya ada gambar tangan yang di dalamnya ada tulisan anti-bullying. Jadi memang untuk kemudian melahirkan budaya anti-bullying itu harus dibentuk dari rumah, misalnya Rumah Inklusif,” ungkap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut.

Pada kesempatan itu, Nawal kembali dibuat kagum, dengan peragaan busana yang melibatkan anak-anak difabel. Mereka berjalan dengan lenggak-lenggok, tampil percaya diri bak model yang mengenakan hasil karya mereka sendiri.

Tidak sekadar berkunjung, di Rumah Inklusif Kebumen, Nawal juga melakukan bedah buku Pesantren Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual, yang ditulis sendiri. Dia berharap, budaya anti-bullying ini juga bisa diterapkan di lingkungan difabel.

Lebih lanjut, Ketua TP PKK Jateng ini juga mendukung difabel untuk terus semangat berkarya, di tengah keterbatasan yang dimiliki. Pihaknya pun siap memfasilitasi berbagai program pemberdayaan.

“Dengan jaringan yang ada seperti Difabel Zone, harapannya anak-anak bisa memberikan satu karya, memiliki usaha kecil menengah, dan kemudian mereka bisa berdaya, itu harapannya,” harap Nawal.

Koordinator Rumah Inklusif Kebumen, Muinatul Khairiyah menceritakan, yayasan yang dia kelola adalah wadah bagi para penyandang disabilitas mengembangkan potensi diri, sehingga bisa menjadi pribadi yang berdaya dan mandiri, meski memiliki keterbatasan.

Pihaknya memiliki beberapa program pelatihan dan pemberdayaan. Seperti pembuatan batik pegon, seni dan budaya, kewirausahaan, bahkan pertanian. Rumah Inklusif Kebumen telah membina lebih dari 100 penyandang disabilitas.

Ditambahkan, salah satu produk unggulan Rumah Inklusif adalah batik pegon yang saat ini koleksinya sudah 16 motif. Produk ini telah dipasarkan dan dipamerkan di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Bahkan kata Iin, sapaan akrabnya, batik pegon karya kelompok difabel ini pernah dipamerkan dalam event pameran berskala internasional, seperti di Tukri pada 2022, dan fashion show di Singapura pada 2023.

Pihaknya pun merasa senang dengan kunjungan Nawal Arafah Yasin. Menurut dia, kegiatan ini kian menambah spirit dalam pemberdayaan disabilitas, dan menciptakan lingkungan masyarakat yang inklusif.

“Kami para orang tua berharap, anak-anak kami nanti ke depannya bisa menjadi anak yang mandiri dan sukses,” harap Iin. (*)

IPARI Kemenag Kendal Santuni Ratusan Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas

Lingkar.co – Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kendal memberikan santunan kepada ratusan anak yatim dan penyandang disabilitas, Rabu (9/7/25).

Mereka mendapatkan bingkisan berupa alat sekolah, dan santunan uang tunai, serta hiburan dalam kegiatan Lebaran Anak Yatim dan Penyandang Disabilitas.

Mengusung tema ‘Satu Kesetaraan, Sejuta Harapan Meraih Keberkahan’, kegiatan sosial tahunan tersebut kali ini digelar di Kolam Renang Trisobo Park, Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah.

Kegiatan ini menjadi wujud komitmen IPARI untuk terus berbagi kebahagiaan dan keberkahan kepada anak-anak yatim dan kelompok rentan lainnya.

Ketua panitia pelaksana, Nur Ariyanto, mengatakan bahwa kegiatan santunan ini telah rutin dilakukan selama enam tahun terakhir dan selalu bergilir lokasi antara wilayah atas dan bawah di Kabupaten Kendal. Hal ini dimaksudkan agar manfaat bisa dirasakan secara merata di seluruh wilayah.

“Kami ingin anak-anak yatim di semua wilayah bisa merasakan kebahagiaan, sekaligus mempererat silaturahmi antarwilayah,” ujar Nur Ariyanto.

Menurutnya, anak-anak yatim dan piatu merupakan sosok yang harus mendapat perhatian khusus. Mereka disebut sebagai anak-anak istimewa yang layak mendapatkan perlakuan istimewa pula.

“Sementara anak-anak lain masih memiliki kedua orang tua, mereka mungkin hanya punya satu bahkan tidak punya sama sekali. Maka mereka perlu mendapat hiburan dan kasih sayang lebih,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak berenang, dihibur dengan atraksi badut, makan bersama, dan mendapatkan bingkisan berupa alat tulis, uang saku, serta makanan.
Salah satu peserta, Fahri, siswa kelas tiga SD asal Boja, mengaku sangat senang bisa bermain air dan berkumpul bersama teman-temannya.

“Senang sekali bisa berenang dan lihat badut, apalagi dapat bingkisan,” kata Fahri.
Faisal, peserta lainnya, juga mengungkapkan kegembiraannya. Ia merasa bahagia bisa mengikuti kegiatan yang menyenangkan dan penuh hadiah.

“Asyik, bisa berenang dan dikasih hadiah. Ada buku tulis, uang, dan makanan,” ujarnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kendal, Zaenal Fatah, menyatakan bahwa kegiatan tersebut menghadirkan 100 anak yatim-piatu dari seluruh kecamatan yang ada di Kendal. Masing-masing kecamatan diwakili oleh lima anak.

“Jumlah penerima manfaat sebenarnya lebih dari itu, tapi yang kami hadirkan hari ini hanya 100 anak. Sisanya akan kami salurkan bantuan ke alamat masing-masing,” terang Zaenal.

Zaenal juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif IPARI Kemenag Kendal dalam kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional Kementerian Agama RI untuk mendukung kesejahteraan anak yatim dan kelompok rentan.
“Ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari Kemenag melalui para penyuluh agama. Semoga terus berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat,” tutupnya.

Penulis: Yoedhi

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Wisudawan Ini Penuh Inspirasi, Hanya Ada Satu di UIN Walisongo Semarang

Lingkar.co – Hanya ada satu wisudawan yang penuh inspirasi di UIN Walisongo Semarang. Ialah Muhammad Amin Hambali. Ia mencuri perhatian publik lantaran keterbatasan yang ia miliki tidak bisa menghalangi untuk meraih gelar strata satu di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

Amin adalah seorang penyandang disabilitas tuna netra yang berasal dari Desa Jlumpang, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Ia lahir dari keluarga almarhum Muchlasin dan Marijati.

Keterbatasan Amin tidak menjadi penghalang untuk terus berkreatifitas. Bisa dikata, ia penuh dengan inspirasi dan memanfaatkan kelebihan itu dengan aktif menulis. Bahkan, ia berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan cerpen kategori tulisan paling menyentuh, serta juara kedua untuk tulisan favorit pembaca.

Amin juga aktif menulis di cerpen dan buletin maupun website LPM Missi. Dengan semangat dan keteguhan, Amin Hambali menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai impian.

Amin diwisuda bersama 557 wisudawan lain yang dilaksanakan pada Sabtu(2/11/2024) di Auditorium dua kampus tiga Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Amin mendapatkan beasiswa dari sahabat mata. Program studi KPI saat itu menjadi pilihannya dan yang menerima mahasiswa difabel di UIN Walisongo. Kemampuan Amin terus berkembang. Dalam tugas akhirnya Amin juga berharap bisa berkontribusi dan memberikan semangat bagi teman teman difabel. Skripsi Amin berjudul “Website Kartunet.com sebagai Media Difabel Netra dalam Mengekspresikan Diri Lewat Karya Tulis Bermuatan Islam”.

Awalnya, Amin memiliki ketertarikan untuk belajar psikologi, dengan harapan dapat memahami pola pikir dan tingkah laku manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ilmu komunikasi juga sangat penting dan saling terkait.

“Belajar tentang komunikasi memberikan saya pemahaman yang lebih baik untuk menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain,” ungkapnya kepada lingkar.co pada Selasa (5/11/2024).

Muhammad Amin Hambali, wisudawan tuna netra jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang. Foto: istimewa
Muhammad Amin Hambali, wisudawan tuna netra jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang. Foto: istimewa

Sebagai seorang difabel, Amin menghadapi berbagai tantangan selama masa kuliahnya. Salah satu kesulitan terbesar adalah navigasi saat dikampus. Momen paling menantang muncul ketika ia harus menyusun tugas akhir. Di saat teman-temannya juga disibukkan oleh proyek mereka, Amin merasa terisolasi saat mencari referensi dan berdiskusi.

“Meskipun teknologi memudahkan pencarian informasi, kadang saya merasa terputus dari orang lain,” jelasnya.

Namun, pengalaman paling berkesan bagi Amin terjadi saat PBAK. Di momen itu, ia merasakan kehangatan dan dukungan dari teman-teman barunya, yang mengubah pandangannya yang sebelumnya pesimis terhadap interaksi sosial.

Tak Ingin Ada Diskriminasi Penyandang Disabilitas di Kota Semarang, Yoyok Sukawi: Harus Ada Pelayanan Khusus

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang Nomor Urut 2, AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi ingin penyandang disabilitas bisa mendapatkan mendapatkan hak yang sama sebagai warga Kota Semarang. Karena tak ingin ada diskriminasi terhadap disabilitas maka dari itu harus ada akses pelayanan khusus agar mereka dapat dengan mudah menggunakan fasilitas umum dan pelayanan-pelayanan milik pemerintah.

Yoyok Sukawi menyampaikan hal itu saat bertemu dengan penyandang disabilitas di kediaman Suwanto pemilik bengkel motor khusus penyandang disabilitas Kampung Jangli RT 08 RW 02, Candisari, Kota Semarang, Kamis (3/10/2024).

Yoyok menyebut jika saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) mengenai penyandang disabilitas. Hanya saja, masih ada aspirasi-aspirasi yang belum sepenuhnya terlaksana di Perda itu.

“Sudah ada Perda tentang difabel, nah ini nanti akan kita ikuti, jika terpilih kami akan menerbitkan peraturan sebagai payung hukum untuk legalitas dan juga sebagai teknis di lapangan. Mulai dari tempat ibadah, pelayanan publik, dan lain sebagainya harus ramah difabel,” katanya.

“Terutama di pelayanan-pelayan Pemerintah Kota Semarang itu harus kita siapkan. Para difabel ini bagaimana pun juga menurut undang-undang juga harus dilindungi, jadi pemerintah harus hadir di semua segmen lapisan masyarakat,” tuturnya.

Yoyok menyebutkan, jika saat ini yang masih menjadi keperluan para penyandang disabilitas yakni peluang pekerjaan dan keterlibatan mereka. Oleh karena itu, Yoyok bakal menggandeng semua pihak agar dapat diakui keberadaannya.

“Ini harus hadir pemerintah dan harus mengurus sedemikian rupa, sehingga difabel ini tidak merasa sendirian dan difabel merasa terlindungi kepentingannya, juga ada usaha lain. Tadi ada difabel yang mengeluh masalah pekerjaan, masalah peluang kerja, dan sebagainya. Ini yang akan kita perbaiki semuanya,” terangnya.

Sementara itu, Suwanto mengucapkan terima kasih atas perhatian yang sudah diberikan kepada penyandang disabilitas. Dirinya yakin cita-cita ini bisa terwujud ketika Yoyok Sukawi dan Joko Santoso menjabat sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang.

“Dan kami sudah sampaikan kartu disabilitas dan tanggapanya bagus sekali, dan kami sangat berharap sekali tentang kartu itu,” tandasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Dokter Hayyi Optimis Yoyok-Joss Menang, Bisa Wujudkan Semarang Ramah Difabel

Lingkar.co – Ketua Rumah Gerakan Dokter Hayyi Center (DHC), dr. Muhammad Hayyi Wildani optimis pasangan calon (Paslon) Alamsyah Satyanegara (AS) Sukawijaya atau Yoyok Sukawi-Joko Santoso (Yoyok-Joss) bisa mewujudkan kota Semarang sebagai kota yang ramah difabel jika menang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Semarang 2024..

“Saya optimis Mas Yoyok dan Mas Joko bisa menang dan punya kemampuan untuk mewujudkan sebagai kota yang inklusi atau kota ramah difabel,” kata Hayyi saat ditemui di kediamannya, gang Masjid Terboyo, Gayamsari, Kota Semarang, Rabu (2/10/2024)

Sebab, menurutnya, kedua tokoh yang kini diusung oleh hampir semua partai politik di parlemen kota Semarang ini tidak sebatas wacana dalam merawat anak penyandang disabilitas. “Mas Yoyok dan Mas Joko mengalami sendiri bagaimana dinamika merawat anak yang berkebutuhan khusus. Butuh kesabaran, ketelatenan tersendiri,” ujarnya.

Dokter Hayyi berharap, program Semarang Tentrem juga bisa menjadi andalan dalam mencari solusi konkret mewujudkan Semarang yang ramah difabel. “Kami berharap para difabel bisa mendapatkan pendidikan yang lebih layak dan memiliki peluang kerja yang lebih baik,” tuturnya.

Di lain sisi, direktur Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Airlangga Sosial Eksakta (ASE) untuk regional Jawa Tengah ini juga menyoroti perilaku warganet yang menyudutkan Yoyok Sukawi terkait ungkapan kasih sayang pada salah satu buah hatinya yang disabilitas.

“Nah, masalahnya hari ini ada pada sebagian netizen yang menyudutkan Mas Yoyok mempolitisasi anaknya. Sesekali saya pantau di media sosial kok begitu. Ini yang tidak bijak,” tukasnya.

Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi saat berpelukan dengan pendiri gerakan DHC, dr. Muhammad Hayyi Wildani disela kegiatan bershalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di MAJT Semarang. Foto: dokumentasi
Calon Wali Kota Semarang, Yoyok Sukawi saat berpelukan dengan pendiri gerakan DHC, dr. Muhammad Hayyi Wildani disela kegiatan bershalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di MAJT Semarang. Foto: dokumentasi

Menurutnya, unggahan Yoyok Sukawi di media sosial yang lebih menonjolkan keluarga merupakan cerminan pribadi yang humanis. “Kalau menurut saya, Mas Yoyok itu bukan orang yang politis meskipun seorang politisi, anggota DPR RI yang rela melepaskan posisi di Senayan untuk membangun kota Semarang,” ucapnya.

“Beliau juga nampak tidak mengedepankan karir politik di media sosial, tapi lebih mengedepankan dirinya sebagai seorang kepala keluarga, seorang suami yang menyayangi istri, seorang ayah yang bangga dengan anak dan keluarga kecilnya,” urainya.