Arsip Tag: Banjir

Polresta Pati Distribusikan Bantuan ke Desa Terdampak Banjir Juwana

Lingkar.co – Polresta Pati bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Juwana melakukan pemantauan distribusi logistik sekaligus mengecek kesiapan dapur umum bagi warga terdampak banjir di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (19/1/2026).

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bantuan dari pemerintah maupun masyarakat dapat tersalurkan dengan optimal.

Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi mengatakan, dapur umum yang dikelola Forkopimcam menjadi pusat pendistribusian logistik dan bantuan dari berbagai pihak.

“Kami dari Polresta Pati bersama Forkopimcam datang untuk memantau langsung pendistribusian logistik sekaligus mengecek kesiapan dapur umum yang dikelola Forkopimcam,” ujarnya.

Menurut Kapolresta, bantuan yang masuk berasal dari masyarakat Pati maupun dari luar daerah. Seluruh bantuan tersebut akan didistribusikan ke 19 desa terdampak banjir di Kecamatan Juwana.

“Bantuan dari masyarakat, baik dari Pati maupun luar Pati, akan kami distribusikan ke 19 desa yang terdampak banjir,” kata Kombes Pol Jaka Wahyudi.

Banjir yang merendam wilayah Juwana diketahui memiliki ketinggian antara satu hingga satu setengah meter (100-150 cm). Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah akses terputus.

“Daerah terdampak di Juwana ini terendam dengan ketinggian sekitar satu sampai satu setengah meter,” jelasnya.

Untuk menjangkau wilayah yang terendam, pendistribusian bantuan dilakukan menggunakan perahu. Perahu tersebut berasal dari Polair Polresta Pati, BPBD, serta dibantu masyarakat nelayan setempat.

“Setiap hari kami mendistribusikan bantuan logistik menggunakan perahu agar kebutuhan warga tetap terpenuhi,” ungkap Kapolresta.

Selain sebagai pusat logistik, lokasi tersebut juga difungsikan sebagai posko relawan, posko kesehatan, dan posko pendistribusian bantuan. Keberadaan posko kesehatan diharapkan dapat membantu warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat banjir.

“Kami menyediakan posko kesehatan untuk melayani warga terdampak,” ujarnya.

Kapolresta Pati juga mengimbau warga agar tidak memaksakan diri tinggal di rumah apabila kondisi tidak memungkinkan.

“Kami menghimbau warga untuk menjaga kesehatan dan tidak memaksakan tinggal di rumah, karena situasi banjir ini belum diketahui kapan akan berakhir,” tegas Kombes Pol Jaka Wahyudi.

Di sisi lain, Polresta Pati turut melakukan patroli keamanan secara rutin untuk menjaga rumah-rumah warga yang ditinggalkan mengungsi. “Kami melakukan patroli untuk menjaga keamanan rumah para pengungsi agar masyarakat merasa aman,” pungkasnya.

Penulis: Husni Muso

Destana Kebondalem Dirikan Dapur Umum

Lingkar.co – Desa Tangguh Bencana (Destana) Kebondalem mendirikan dapur umum untuk membantu kebutuhan pangan warga terdampak banjir di wilayah tersebut. Logistik dapur umum ini didukung oleh BPBD, PMI, Baznas, serta Dinas Sosial Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Ketua Destana Kebondalem, Widiastuti, menjelaskan dapur umum telah beroperasi sejak Kamis (16/1/2026) kemarin. Meski masih bersifat terbatas, dapur umum tersebut menyediakan makanan siap saji satu kali sehari bagi warga terdampak banjir.

“Pada hari pertama kami memproduksi sekitar 300 nasi bungkus, dan hari ini meningkat menjadi 400 nasi bungkus,” jelas Widiastuti saat ditemui wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Selain makanan siap saji, bagi warga yang belum terjangkau dapur umum, bantuan juga disalurkan dalam bentuk bahan makanan mentah seperti mi instan.

BPBD Kabupaten Kendal terus melakukan pemantauan di wilayah terdampak serta mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih cukup tinggi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, banjir meluas dari lima menjadi tujuh kecamatan yang meliputi Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Brangsong, Kota Kendal, Ngampel, Pegandon, dan Rowosari dengan variasi ketinggian air dari 15 cm hingga 100 cm.

Salah seorang warga Desa Ketapang, Kecamatan Brangsong, Tono Ginzu, mengatakan banjir tahun ini merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menduga banjir disebabkan luapan Sungai Trompo akibat pintu air yang tidak ditutup, sehingga air melimpas ke permukiman warga.

“Banjir tahun ini paling parah, air cepat naik dan langsung masuk rumah warga,” ujar Tono.

Sementara itu, di Kelurahan Kebondalem, Kecamatan Kota Kendal, hampir seluruh warga terdampak banjir. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena rumah mereka terendam air. (*)

Penulis: Yoedhi W

Atasi Banjir, Pemprov Jateng Modifikasi Cuaca di Jepara, Kudus, dan Pati Hingga 20 Januari

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terus mengintensifkan langkah penanganan cuaca ekstrem yang berdampak pada banjir dan longsor di sejumlah wilayah.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengkoordinasikan untuk dilakukan modifikasi cuaca di Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati yang dijadwalkan berlangsung dari 15-20 Januari 2026.

“Hingga tanggal 20 (Januari), kita melakukan rekayasa cuaca di beberapa daerah, yang paling utama di Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin seusai menghadiri acara Istighotsah dan Pembinaan Organisasi dalam rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) dan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Gedung MWCNU Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jumat (16/1/2026).

Ia menjelaskan, Pemprov Jateng secara intensif memantau perkembangan cuaca pascapelaksanaan modifikasi cuaca. Upaya tersebut dilakukan sebagai ikhtiar untuk mengurangi intensitas hujan agar tidak terpusat di satu wilayah sehingga risiko banjir dapat ditekan.

Ia mengungkapkan, program modifikasi cuaca membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Proses tersebut melibatkan penggunaan helikopter yang diterbangkan beberapa kali ke wilayah sasaran untuk melakukan penyemaian awan.

Khusus di Kabupaten Pati, Pemprov Jateng mengerahkan beberapa helikopter untuk mengatur distribusi awan hujan agar tidak turun di wilayah tertentu saja. Dengan cara ini, diharapkan genangan dan banjir tidak makin meninggi.

Meski demikian, Taj Yasin menegaskan bahwa seluruh ikhtiar tersebut tetap harus diiringi dengan doa.

Selain ikhtiar teknis, tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini juga menekankan pentingnya pendekatan spiritual melalui istighotsah. Ia mengajak seluruh jemaah untuk turut mendoakan Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Kendal, yang saat ini masih terdampak banjir.

“Saya mohon Jawa Tengah, termasuk Kendal yang sedang kebanjiran, untuk didoakan,” tuturnya.(*)

Gus Yasin: Penanganan Banjir Kudus, Pati, dan Jepara Perlu Rekayasa Cuaca

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen mengatakan perlunya dilakukan rekayasa cuaca dalam penanganan bencana banjir dan longsor di wilayah Kudus, Pati, dan Jepara. Mengingat, intensitas hujan sangat tinggi di tiga wilayah ini selama empat hari berturut-turut.

“Jadi selama empat hari tidak ada matahari, jadi hasil koordinasi dengan BBWS memang perlu ada rekayasa cuaca,” kata Gus Yasin, sapaan akrabnya, saat mengunjungi Posko Bencana Banjir Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (13/1/2026).

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, untuk meminta spot-spot yang perlu dibantu dengan pompa. Namun demikian, sungai yang ada saat ini juga masih terkendala adanya air yang melimpah.

Sementara itu, posko banjir yang didirikan di komplek sekolah Hidayatus Shibyan itu, ditempati sebanyak 105 jiwa. Posko tersebut sudah dilengkapi dengan layanan kesehatan dan dapur umum, serta fasilitas MCK.

Gus Yasin juga menemukan ada warga yang anggota keluarganya masih berada di rumah yang terkena banjir, dikarenakan stroke. Menanggapi hal itu, Gus Yasin meminta kepada tenaga kesehatan untuk segera dievakuasi ke Puskesmas dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Gus Yasin menyalurkan bantuan dari Pemprov Jateng senilai Rp 188 juta berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, dan selimut.

Kepala Dusun Karangmalang Sumijan, mengatakan, warga yang berada di posko sudah memperoleh fasilitas memadai dengan dapur umum dan layanan kesehatan.

Kebutuhan yang mendesak bagi warga adalah sembako, selimut, popok bayi dan lansia.

“Kalau untuk fasilitas kesehatan alhamdulillah terpenuhi, dan semoga semua sehat sampai banjir berakhir,” ujarnya.

Diketahui, hujan intensitas tinggi terjadi di wilayah Kudus terjadi sejak tanggal 9 Januari 2026. Banjir terjadi akibat luapan Sungai Dawe, Sungai Piji, dan Sungai Mrisen.

Sedangkan banjir di Desa Golantepus akibat luapan Sungai Dawe dan Sungai Mrisen, diperparah dengan adanya tanggul yang jebol. Adapun banjir Desa Kesambi diakibatkan meluapnya Sungai Piji yang tidak mampu menampung debit air dari hulu Gunung Muria.

Selama kejadian banjir, tercatat ada 2.082 rumah terendam, dan 2.487 KK/8.043 jiwa terdampak. Ketinggian air 5-55 cm, dan 106,4 Ha sawah terendam banjir.

Sementara itu, penanganan yang dilakukan Pemkab Kudus antara lain menetapkan status tanggap darurat bencana. Berlaku dari 12 hingga 19 Januari 2026. Selain itu, dengan mengaktifkan Posko Induk Penanggulangan Bencana di Kantor BPBD Kudus sebagai pusat komando koordinasi antara TNI, Polri, relawan, dan OPD terkait.

Pemerintah setempat juga melakukan penambalan tanggul jebol di Desa Golantepus, dinas terkait (Pusdataru dan BBWS) bersama warga dan relawan melakukan penutupan darurat tanggul yang jebol menggunakan sandbag (karung pasir) dan cerucuk bambu untuk menahan air.

Selain itu, dilakukan pembersihan sumbatan sampah dan eceng gondok di bawah sejumlah jembatan desa (terutama di Sungai Piji, Desa Kesambi) yang menjadi penyebab air meluap ke jalan. (*)

Pastikan Penanganan Banjir dan Longsor di Jateng Masih Terkendali, Pemprov Jateng Belum Tetapkan Status Tanggap Darurat

Lingkar.co – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum menetapkan status darurat bencana meskipun hujan berintensitas tinggi memicu banjir dan longsor di sejumlah wilayah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, hingga saat ini penanganan di lapangan masih berjalan cepat dan terkendali.

“Belum ada penetapan darurat bencana. Status itu ditetapkan apabila kondisi sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat secara luas dan fluktuatif. Namun demikian, kami tetap siaga apabila terjadi perkembangan yang lebih berat,” ujar Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Selasa (13/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Bupati Pati Sudewo, Wakil Bupati Ardhi Chandra, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta unsur TNI dan Polri.

Berdasarkan data penanganan bencana di Kabupaten Pati, banjir tercatat melanda 59 desa di 15 kecamatan. Dampaknya meliputi 55 rumah terdampak, 1 rumah rusak berat, dan 5 rumah rusak sedang.

Selain itu, terdapat 15 titik kerusakan talud dan akses jalan, serta 1 fasilitas umum berupa musala yang terdampak. Sebanyak 15 kepala keluarga atau 46 jiwa sempat mengungsi di Balai Desa Doropayung.

Sementara itu, bencana longsor terjadi di 10 desa pada 3 kecamatan dengan total sekitar 121 titik longsor. Peristiwa tersebut mengakibatkan 20 rumah terdampak, sekitar 80 kepala keluarga atau 264 jiwa terdampak langsung, serta satu orang meninggal dunia.

Dalam peninjauan lapangan, Luthfi memastikan penyaluran bantuan dan penanganan korban di Pati berjalan tanpa hambatan. Pemerintah, kata dia, berupaya menjaga agar aktivitas masyarakat tetap berlangsung.

“Kami memastikan masyarakat tertangani dengan baik. Kebutuhan pokok sudah disalurkan. Jangan sampai masyarakat, terutama anak-anak sekolah, terhambat aktivitasnya, termasuk dalam pemenuhan bahan pokok,” ujarnya.

Bantuan yang disalurkan meliputi kebutuhan logistik, layanan kesehatan, bahan baku, serta persiapan obat-obatan. Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Baznas, Palang Merah Indonesia (PMI), dan pemerintah kabupaten agar bantuan lebih cepat dan merata.

Menurut Gubernur, kondisi penanganan di Pati menjadi salah satu pertimbangan pemerintah provinsi untuk belum menetapkan status darurat bencana secara menyeluruh. Koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, OPD, TNI, dan Polri dinilai masih berjalan efektif.

Kendati demikian, ia mengakui sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah membutuhkan perhatian khusus. Di Kabupaten Jepara, longsor terjadi di banyak titik, termasuk di Desa Tempur yang sempat terisolasi akibat terputusnya akses jalan. Selain itu, banjir juga melanda Kabupaten Kudus dengan dampak yang cukup luas.

“Seluruh kabupaten dan kota sebenarnya telah menyiapkan sarana dan prasarana penanganan bencana, baik oleh bupati, OPD, maupun bersama TNI dan Polri,” kata Luthfi.

Terkait opsi rekayasa cuaca, Luthfi menyatakan langkah tersebut belum dilakukan karena memerlukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Rekayasa cuaca harus dilaporkan dan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem saat ini juga terjadi di daerah lain,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan agar dampak banjir dan longsor dapat ditekan, serta kehadiran negara tetap dirasakan oleh masyarakat terdampak. (*)

Banjir Terjang Jepara Kudus dan Pati

Lingkar.co – Banjir dan longsor menerjang Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

Kunjungan lapangan dilakukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Selasa (13/1/2026), wilayah yang terdampak paling parah akibat longsor. Sementara bantuan logistik untuk warga terdampak di tiga kabupaten tersebut telah dikirim sejak Senin (12/1/2026).

“Saya bersama Wakil Gubernur melakukan cek dan ricek penanganan bencana di beberapa daerah, yakni Kudus, Jepara, dan Pati. Kondisi yang paling parah terjadi di Desa Tempur, Jepara,” kata Ahmad Luthfi di lokasi.

Longsor di Desa Tempur dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama beberapa hari. Secara geografis, wilayah tersebut berada di lereng Gunung Muria yang dikenal rawan bencana. Tercatat sedikitnya 23 titik longsor terjadi di sepanjang ruas jalan desa.

Akibat peristiwa tersebut, hampir 3.600 kepala keluarga terdampak dan sempat terisolasi karena akses jalan utama terputus. Selain itu, enam rumah mengalami rusak ringan, satu rumah rusak berat, serta dua unit usaha milik warga turut terdampak.

“Berkat respons cepat Basarnas, BPBD, relawan, serta dukungan TNI dan Polri, akses darurat kini dapat dilalui kendaraan roda dua,” ujar Ahmad Luthfi.

Ia menegaskan, kecepatan respons menjadi kunci utama dalam penanganan bencana. Untuk itu, Pemprov Jawa Tengah segera mengerahkan alat berat guna membuka akses darurat dan mempercepat distribusi logistik.

Menurut Luthfi, penanganan bencana di Desa Tempur tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga memerlukan solusi jangka menengah dan panjang, termasuk penataan alur sungai serta penguatan infrastruktur jalan.

“Fokus utama penanganan adalah sungai dan akses jalan. Sementara ini kebutuhan dasar warga dipenuhi melalui dapur umum,” katanya.

Distribusi logistik dilakukan dengan kendaraan roda dua untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi. Pemerintah juga memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan, terutama anak-anak dan warga usia lanjut. Pasokan bahan pokok tetap disalurkan masuk desa meski akses masih terbatas.

Dalam penanganan awal, Pemprov Jawa Tengah telah menyalurkan bantuan berupa bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (KUBE), serta Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 260 juta untuk Desa Tempur.

“Bantuan sudah kami salurkan dan akan ditambah jika masih dibutuhkan,” ujar Ahmad Luthfi.

Salah seorang warga Desa Tempur, Adil, mengatakan, longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah lereng Gunung Muria selama empat hari berturut-turut. Akibatnya, akses keluar-masuk desa terputus total.

“Untuk mencari pasokan seperti bensin sangat sulit. Jalan ini satu-satunya akses untuk bekerja. Harapannya segera diperbaiki agar aktivitas warga kembali normal,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur, menyampaikan, pihaknya telah menyalurkan bantuan logistik ke tiga kabupaten terdampak bencana.

“Kami telah mengirimkan logistik sesuai kebutuhan di lapangan, bersumber dari APBD Provinsi dan APBN,” kata Imam.

Ia menjelaskan, bantuan tersebut meliputi makanan siap saji, makanan anak, lauk pauk, tenda keluarga, kasur, selimut, family kit, perlengkapan anak, serta pakaian bagi warga terdampak.

Berdasarkan data Dinas Sosial Jawa Tengah, nilai bantuan logistik yang disalurkan mencapai Rp 140.755.720 untuk Kabupaten Jepara, Rp 133.306.218 untuk Kabupaten Pati, dan Rp 188.014.483 untuk Kabupaten Kudus.

Selain penyaluran logistik, BPBD Provinsi Jawa Tengah bersama BPBD kabupaten dan instansi terkait telah menerjunkan personel ke lokasi bencana. Fokus utama penanganan adalah memastikan keselamatan warga serta percepatan pemulihan akses dan aktivitas masyarakat. (*)

BPBD Rembang Siaga Penuh, Banjir, Pohon Tumbang dan Longsor Terjadi di Sejumlah Wilayah

Lingkar.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang mengimbau warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan dataran tinggi agar meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim penghujan terjadi pada Januari, termasuk di wilayah Rembang.

Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, mengatakan dalam beberapa hari terakhir telah terjadi sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di berbagai titik. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan.

“BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Pantura, khususnya Kabupaten Rembang, pada tanggal 10 hingga 13. Dalam periode tersebut diprediksi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat,” kata Jarwati, Senin (12/1/2026).

BPBD mencatat bencana hidrometeorologi terjadi sejak 8 hingga 11 Januari 2026. Dampaknya meliputi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga rumah roboh di sejumlah kecamatan.

Banjir pertama terjadi pada 8 Januari di Kecamatan Pamotan. Saluran air yang tersumbat sampah dan timbunan tanah menyebabkan luapan air setinggi sekitar 40 sentimeter dan sempat menggenangi SDN 1 Pamotan.

“Selanjutnya hujan dari Jumat malam hingga Sabtu mengakibatkan banjir kiriman dari hulu di Desa Menoro, Kecamatan Sedan. Aliran air tersumbat dapuran bambu yang menutup jembatan di sebelah Balai Desa Menoro,” ujar Sri Jarwati.

BPBD bersama Dinas PUPR, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, serta warga langsung melakukan kerja bakti dengan bantuan alat berat untuk membersihkan sumbatan. Penanganan selesai pada hari Sabtu.

Selain banjir, tanah longsor terjadi di Desa Johogunung, Kecamatan Pancur. Longsor tebing rumah berdampak pada lima kepala keluarga dengan estimasi kerugian Rp122 juta. BPBD telah menyalurkan bantuan logistik sandang, pangan, dan papan bagi warga terdampak.

Longsor serupa juga terjadi di Desa Sendangcoyo, Kecamatan Lasem, yang merusak dua rumah dan dua ruas jalan poros desa, dengan kerugian diperkirakan Rp116 juta. Bantuan logistik sandang dan pangan telah disalurkan kepada korban.

Di Kecamatan Sluke, longsor tebing rumah di Desa Sanetan sepanjang 15 meter dan lebar 4 meter menyebabkan kerugian sekitar Rp30 juta. Sementara di Desa Labuhankidul, satu rumah warga roboh akibat hujan deras dan kondisi bangunan yang sudah lapuk. Korban kini mengungsi ke rumah kerabat.

Sri Jarwati juga menyoroti longsor di Dukuh Kanung, Desa Tlogotunggal, yang melibatkan bangunan permanen berupa gudang tembakau di bantaran sungai.

“Karena itu di bantaran sungai yang menjadi tanggul sungai, secara aturan tidak diperbolehkan,” terangnya.

Selain itu, pohon tumbang terjadi di Desa Kepohagung, Kecamatan Pamotan, serta Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan. BPBD bersama relawan dan warga segera melakukan evakuasi agar akses jalan kembali normal.

Tanah longsor juga terjadi di lingkungan Madrasah Nuraniah, Desa Glebeg, dan akan ditangani pemerintah desa melalui anggaran APBDes.

“Sejak tanggal 8 sampai 11 Januari, seluruh kejadian sudah kami laporkan kepada Bupati dan Wakil Bupati melalui nota dinas. Kami siap siaga 24 jam, baik personel maupun peralatan, dan mohon dukungan dari rekan-rekan media,” tutur Sri Jarwati.

Pada Senin (12/1/2026), BPBD juga mencatat gangguan di jalur Pantura wilayah Purworejo akibat saluran air tersumbat sehingga limpasan air meluber ke badan jalan dan mengganggu arus lalu lintas.

Tak hanya itu, laporan terbaru menyebutkan jembatan longsor di Dukuh Dukoh, Desa Wiroto, Kecamatan Kaliori. Tim BPBD langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan pagi hari.

“Pagi ini sekitar pukul 08.00 hingga 09.00 kami menerima laporan jembatan longsor di wilayah Kaliori, tepatnya di Dukoh Wiroto. Tim kami baru saja meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan,” pungkasnya. (*)

Jelang Operasional Pasar Ikan Rejomulyo, PKL di Atas Saluran Dibongkar

Lingkar.co – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang membongkar sejumlah lapak pedagang kaki lima (PKL) yang berdiri di atas saluran air di kawasan Pasar Ikan Rejomulyo atau Pasar Kobong, Kecamatan Semarang Timur, Senin (12/1/2026).

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir, mengatakan pembongkaran dilakukan karena lapak PKL melanggar aturan dan mengganggu fungsi saluran drainase.

“Pagi hari ini kami dari Satpol PP bersama DPU dan Kecamatan Semarang Timur melakukan pembongkaran PKL yang berdiri di atas saluran di sekitar Pasar Ikan Rejomulyo,” ujar Kusnandir.

Ia menjelaskan, keberadaan lapak di atas saluran tidak hanya melanggar ketentuan, tetapi juga berdampak pada kebersihan lingkungan dan kelancaran aliran air.

“Bangunan PKL tidak boleh berdiri di atas saluran. Selain itu, Pasar Ikan Rejomulyo juga akan segera dioperasionalkan, sehingga kebersihan dan kelancaran air di Jalan Pengapon harus dijaga,” jelasnya.

Menurut Kusnandir, pembongkaran ini juga bertujuan agar Dinas Pekerjaan Umum dapat melakukan pengerukan saluran.

“Dengan dibongkarnya PKL ini, DPU bisa melakukan pengerukan saluran supaya air bisa mengalir dengan lancar dan tidak menyebabkan genangan,” katanya.

Dalam penertiban tersebut, Satpol PP membongkar lima lapak PKL, yang merupakan sisa penertiban sebelumnya.

“Pagi ini kami menertibkan lima PKL. Kalau ditotal, selama ini ada sekitar 15 PKL yang berdiri di atas saluran di sepanjang Jalan Pengapon dan samping pasar ikan,” ungkap Kusnandir.

Terkait relokasi, Kusnandir menyebut para PKL telah diarahkan ke lokasi yang telah disepakati bersama.

“Berdasarkan kesepakatan, ada yang dipindahkan masuk ke Pasar Ikan Higienis dan ada juga yang ke Pasar Tombong. Harapannya mereka bisa berjualan di tempat yang sudah disediakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyaknya sampah yang ditemukan di bawah lapak PKL menjadi perhatian serius pemerintah kota.

“Kami lihat sendiri, sampah di bawah PKL luar biasa banyak. Kalau tidak segera ditangani, ini bisa menyebabkan banjir di sekitar Pasar Kobong dan Jalan Pengapon,” tegasnya.

Kusnandir menyebut lapak-lapak tersebut telah berdiri cukup lama. “PKL ini sudah berbulan-bulan, bahkan ada yang lebih dari setahun berdiri di atas saluran,” katanya.

Ia berharap penertiban ini menjadi pembelajaran bagi PKL lain agar tidak mendirikan lapak di atas saluran air.

“Kami harapkan ini menjadi pembelajaran. PKL di atas saluran sangat menyulitkan perawatan karena sampah plastik dan sisa makanan menumpuk di saluran,” tandasnya.

Ke depan, Satpol PP meminta peran aktif aparatur wilayah untuk mencegah pelanggaran serupa.

“Kami minta lurah dan camat untuk memetakan wilayahnya. Kalau ada PKL yang berdiri di atas saluran, segera diingatkan sejak dini supaya tidak menjamur,” pungkas Kusnandir. ***

Rumah Terendam Banjir, Ribuan KK di Kelurahan Karangasem Utara Terdampak

Lingkar.co – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Batang Jawa Tengah mengakibatkan dua kelurahan di pesisir, yakni Karangasem Utara dan Klidang Lor, terendam banjir dengan kedalaman yang bervariasi.

Sebanyak 30 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang mulai terendam air dan mengungsi ke Masjid Al Ikhlas, RW 05 Karangasem Utara. Meski situasi sempat tegang, para pengungsi dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing sekitar pukul 21.00 WIB seiring surutnya genangan di titik tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD Kabupaten Batang, wilayah Karangasem Utara terdampak cukup luas. Ribuan kepala keluarga harus bersiaga menghadapi luapan air yang masuk ke pemukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Batang Wawan Nurdiansyah mengonfirmasi sebaran wilayah yang terdampak cukup masif di beberapa RW yakni RW 03 hingga RW 09: Mencakup ribuan jiwa yang terdampak, dengan total akumulasi mencapai 2.946 KK atau sekitar 11.784 jiwa.

“Ketinggian Air: Genangan air terpantau sangat dinamis, mulai dari semata kaki hingga mencapai dada orang dewasa. Kedalaman air banjir dari 10 cm hingga 120 cm,” katanya saat ditemui di Kelurahan Karangasem Utara, Kabupaten Batang, Sabtu (10/1/2026) malam.

Kondisi serupa juga menyelimuti Kelurahan Klidang Lor. Air dilaporkan meredam wilayah RW 02 dan RW 03. Di sana, diperkirakan ada 600 KK dengan total 2.400 jiwa yang terdampak luapan air dengan ketinggian yang sama, yakni mencapai 1,2 meter di titik terdalam.

Situasi Terkini

Meskipun ribuan jiwa terdampak, namun menurut Wawan, evakuasi terkonsentrasi di Masjid Al Ikhlas bagi warga yang rumahnya terendam cukup tinggi. Beruntung, kondisi cuaca dan debit air yang mulai melandai memungkinkan warga untuk kembali melakukan pembersihan rumah lebih awal.

“Warga yang mengungsi 30 jiwa di Masjid Al Ikhlas (RW 05), jam 21.00 WIB sudah kembali ke rumah masing-masing,” terangnya.

Saat ini, petugas BPBD masih terus bersiaga di lapangan untuk memantau perkembangan cuaca dan membantu warga yang membutuhkan evakuasi lanjutan jika debit air kembali meningkat. (*)

Banjir dan Longsor Kepung Pati, Sembilan Kecamatan Terdampak

Lingkar.co – Hujan lebat yang mengguyur Kabupaten Pati sejak Jumat (9/1/2026) sore hingga Sabtu (10/1/2026) memicu bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah. Kawasan lereng Gunung Muria hingga daerah pesisir menjadi area paling terdampak.

Kepala BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan sedikitnya sembilan kecamatan terdampak bencana hidrometeorologi kali ini. Banjir terjadi di Kecamatan Dukuhseti, Gembong, Margorejo, Margoyoso, Pati, Tayu, dan Wedarijaksa. Sementara tanah longsor terjadi di Kecamatan Gembong, Gunungwungkal, dan Tlogowungu.

“Banjir melanda sejumlah desa mulai dari Kecamatan Dukuhseti, Pati Kota, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Margorejo, Gembong. Sedangkan, tanah longsor ada di Gunungwungkal, Tlogowungu, dan Gembong (tepatnya Desa Klakahkasihan),” paparnya.

Hingga kini, BPBD masih melakukan pendataan di lapangan. Martinus memperkirakan jumlah desa yang terdampak mencapai puluhan.

”Kalau jumlah desanya puluhan desa. Di Pati Kota saja itu mulai Sidokerto, Kalidoro, Pati Wetan, Sidoharjo, Dengkek, Widorokandang, itu yang Pati Kota. Margorejo juga ada. Pati dan Margorejo saja sudah 10 desa lebih, belum yang lain,” ungkapnya.

Dari seluruh wilayah terdampak, banjir paling parah terjadi di Desa Bulumanis Kidul dan Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso. Ratusan rumah terendam dan sejumlah tanggul dilaporkan jebol.

”Yang parah Bulumanis Kidul, Tunjungrejo. Ada sejumlah tanggul yang rusak,” imbuhnya.

Sementara itu, tanah longsor terparah terjadi di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu. Di desa yang berada di lereng Gunung Muria tersebut, terdapat 13 titik longsor.

Ia menjelaskan banjir dan longsor ini dipicu hujan deras yang turun terus-menerus sejak Jumat sore. Air mulai meluap pada Jumat malam, membawa lumpur, sampah, hingga material bangunan. Sejumlah rumah rusak, dan akses jalan di beberapa titik sempat terganggu. (*)