Arsip Tag: Sepi

Sepi, Kios di Alun-Alun Kembangjoyo Akhirnya Dibongkar

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati membongkar puluhan kios yang berada di tengah-tengah Alun-alun Kembangjoyo. Berdasarkan pantauan Lingkar.co pada Selasa (1/9/2024), kios yang berada di bagian tengah Alun-Alun kondisinya sudah rata dengan tanah.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati Hadi Santosa pembongkaran dilakukan berdasarkan usulan dari para Pedagang Kaki Lima (PKL).

“Pembongkaran atau penataan ulang ini  menindaklanjuti usulan dari PKL yang selama ini menilai kios yang berada di tengah alun-alun kondisinya sangat sepi,” kata Hadi.

Sebelumnya, katanya, pihaknya juga telah mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati terkait rencana pembongkaran atau penataan kembali kawasan Alun-Alun Kembangjoyo.

“Para PKL juga sudah beberapa kali mengadu kepada wakil rakyat yakni DPRD agar segera dilakukan penataan ulang oleh Pemerintah Kabupaten Pati,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dari awal Alun-Alun Kembangjoyo dibangun untuk dijadikan sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pati. Namun, ternyata berjalannya waktu kondisinya makin sepi.

“Sejak diresmikan oleh Bupati Haryanto pada tahun 2022 lalu, kondisi Alun-alun yang sebelumnya diharap menjadi pusat kuliner di Kabupaten Pati itu kondisinya sangat memprihatinkan dengan sepinya pengunjung,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pembongkaran dan penataan kembali kawasan Alun-Alun Kembangjoyo Pati dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati.

“Lapak yang di tengah juga sudah dibongkar. Yang mengerjakan DPUTR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang),” kata Hadi.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya pada DPUTR Pati Arip Wahyudi mengatakan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 114 juta untuk menata ulang Alun-Alun Kembangjoyo, khususnya di bagian tengah.

“Untuk yang bongkaran kios pagu anggaran  Rp 114.635.750. Dikerjakan oleh CV Karya Bangun mulai tanggal 19 September dengan waktu pengerjaan 90 hari kalender,” jelasnya.

Untuk penataan bagian tengah, katanya, akan dilanjutkan pada tahun depan. Tujuannya untuk mempercantik area dalam alun-alun, sehingga menarik minat dari para pengunjung.

“Yang area bekas bongkaran kios rencana tahun depan akan dibuat alun-alun di tengahnya,” tutupnya. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Pedagang Pasar Sukoharjo Curhat Sepi Pembeli, Minta Ahmad Luthfi Cari Solusi Fluktuasi Harga

Lingkar.co – Pedagang Pasar Ir Soekarno Kabupaten Sukoharjo pada Minggu (15/9/2024) pagi dikejutkan kehadiran Calon Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. Mereka lantas memanfaatkan momen itu untuk curhat menyampaikan keluh kesahnya pada Ahmad Luthfi. Sepinya penjualan dan fluktuasi harga barang jadi persoalan yang belum ada solusi.

“Harapanya harganya bisa stabil. Jangan terlalu melonjak tinggi,” kata Riyanti pedagang ayam potong yang menceritakan pengalaman beberapa waktu lalu.

Saat harga tinggi, maka otomatis membuat penjualan menjadi lesu. Masyarakat ekonomi menengah ke bawah takut untuk membeli.

Saat ini harga ayam Rp 33 ribu sampai Rp 35 ribu per kg. Harga itu disebut standar namun jumlah pembeli yang Datang belum sesuai harapan. Hal senada disampaikan oleh Aminah yang juga penjualan ayam. “Harga stabil tapi pembelinya masih lesu. Ya pendapatan turun jadinya,” ujar Aminah.

Apa yang dialami oleh Aminah tak jauh beda dengan Bu Cipto. Ia menyampaikan keluhan soal dagangan tempe. Lagi-lagi soal lesunya pembeli yang datang ke pasar jadi persoalan. Ia tidak tahu harus menarik pembeli ke lapaknya dengan cara seperti apa. Lantaran saat ini harga tempe juga masih seperti biasanya dan tak dinaikkan.

Menanggapi hal itu, Ahmad Luthfi menyampaikan kedatangan dirinya di Pasar Tradisional Sukoharjo merupakan lanjutan dari pasar-pasar sebelumnya di kabupaten dan kota lain. Luthfi bilang, tujuannya memang untuk mengetahui kondisi riel pasar tradisional. Bukan hanya bangunan fisik pasarnya saja tapi juga kondisi pedagang, pembeli hingga fasilitas pasar.

Ia menekankan pasar tradisional adalah titik perekonomian masyarakat. Tempat interaksi perekonomian hingga sosial. Untuk itu ia ingin memastikan kondisi pasar tradisional tetap nyaman dan representatif untuk jual-beli.

Terkait keluhan pedagang, menjadi masukan baginya. Artinya pemerintah harus hadir untuk memberikan dukungan pada masyarakat. “Pasar ini kan pusat perekonomian masyarakat. Regulasi harus diarahkan untuk mendukung,” ujar Ahmad Luthfi.

Selain itu, Ahmad Luthfi juga menyoroti sanitasi di lingkungan pasar tradisional. Kedepan harus ditata menjadi lebih baik.

Sebagai informasi, Ahmad Luthfi tiba di pasar yang berada di jantung kota Sukoharjo Minggu 15 September sekitar pukul 07.00 WIB. Turun dari mobil, ia langsung disambut para pedagang oprokan di depan pasar. Sejumlah juru parkir juga melakukan hal serupa.

“Mriki (ke sini) Pak Luthfi, foto dulu Pak,” kata pedagang pada calon gubernur yang merupakan mantan Kapolda Jateng itu. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Alun-Alun Kembang Joyo Sepi, Ini Tanggapan Disdagperin Pati

Lingkar.co – Para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di Alun-Alun Kembang Joyo Pati mengeluhkan sepinya pengunjung. Padahal, saat awal dibuka pada tahun 2022, kompleks kuliner ini sempat ramai penuh sesak oleh para pengunjung.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pati Hadi Santoso mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi dengan paguyuban PKL dan pihak terkait untuk membenahi sarana dan prasarana yang ada di Alun-Alun Kembang Joyo.

“Contohnya dibuat ada pasar malam untuk meramaikan dan mungkin perlu ada pembenahan sarana prasarana,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini kios-kios yang berada di bagian tengah kurang berjalan dengan semestinya, sehingga membuatnya mangkrak begitu saja.

“Kita usulkan juga ada ruang untuk kegiatan publik di bagian tengah (Alun-alun) ini. Kita lihat kios-kios yang di tengah ini tidak berfungsi dengan baik. Sehingga mungkin perlu penataan kembali,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah PKL mengaku omzetnya makin menurun, karena pengunjung di Alun-Alun Kembang Joyo semakin sepi. Bahkan, beberapa di antaranya memilih untuk tidak berjualan lagi.

Salah satu PKL, Amin mengatakan saat awal-awal dibuka Alun-Alun Kembang Joyo sangat ramai oleh para pengunjung. Namun, setelah enam bulan berjalan, pengunjung berangsur-angsur surut.

”Kalau dulu ramai setiap hari. Tapi setelah enam bulan, sudah mulai sepi. Saya beberapa kali pernah ndak dapat pembeli selama sehari. Jadi buka jam 17.00 WIB sampai 22.00 WIB kadang ndak ada yang beli. Kalau dulu ramai,” ujarnya.

Kondisi ini, menurutnya membuat sejumlah pedagang tidak lagi membuka lapaknya. Mereka memilih berjualan di tempat lainnya yang lebih rami. 

”Banyak yang memilih untuk tidak buka. Sekitar separuhnya. Tapi kalau ada acara besar seperti kesenian, mereka buka,” bebernya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Cecep mengusulkan agar Alun-Alun Kembang Joyo diubah menjadi destinasi wisata yang lebih menarik. Di samping itu sejumlah fasilitas juga harus ditingkatkan.

Menurutnya, dengan meningkatkan fasilitas dan menggelar berbagai pertunjukan atau pameran, maka pengunjung otomatis akan datang. Sehingga, Alun-Alun Kembang Joyo bisa kembali ramai. (*)

Penulis: Miftahus Salam

Kios Daging Pasar Johar Sepi Pembeli, Pedagang Curhat ke Dokter Hayyi

Lingkar.co – Caleg Provinsi Jawa Tengah dapil Jateng I dari PPP, dr. Muh. Hayyi Wildani mengunjungi pasar Johar, Kauman, Kota Semarang, Kamis (11/1/2024) pagi. Para pedagang pun memanfaatkan momen itu untuk curhat. Mereka katakan kios daging di Pasar Johar, Kauman Kota Semarang sepi pembeli.

Rumanah salah satunya, dia mengaku hanya bisa melayani beberapa pelanggan saja

“Di sini kendalanya ya sepi pembeli, paling hanya melayani beberapa pelanggan saja, njih planggan niku mboten tiap hari,” katanya kepada Dokter Hayyi.

Ia berharap, nantinya jika Dokter Hayyi mendapatkan amanah sebagai anggota legislatif Jawa Tengah bisa lebih memperhatikan para pedagang pasar.

“Nyuwun tulung njih mas dokter, harapan kami para pedagang bisa ikut membantu bagaimana caranya agar bisa ramai pembeli,” tuturnya.

Sementara, Dokter Hayyi mengatakan, pembangunan pasar Johar saat ini sudah sangat baik. Namun strategi pemasaran belum banyak diajarkan kepada pembeli.

“Tempatnya bersih, rapi, higienis, ayo belanja di pasar Johar,” ajaknya

“Setelah semua tertata ini yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita semua adalah mengajarkan marketing, tidak hanya persoalan bank pasar. Kalau bank pasar itu kan kaitannya dengan permodalan,” ujarnya.

“Kita juga perlu menggarap bagaimana memajukan pedagang dengan mengajarkan strategi marketing, karena persaingan di era online ini juga harus diikuti pedagang pasar,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, pemilik usaha Dokter Chicken ini menyatakan komitmen untuk bisa membantu pedagang pasar Johar agar bisa lebih sejahtera.

“Ya mudah-mudahan kalau nanti saya diberi amanah bisa memberikan solusi terbaik untuk para pedagang, terutama para pedagang daging di sini,” tuturnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat
.

Pedagang Hewan Kurban di Semarang Mengeluh Sepi Pembeli

SEMARANG, Lingkar.co – Pedagang hewan kurban mengeluhkan sepinya pembeli jelang Iduladha 1442 Hijriah/2021 Masehi.

Agus Hartono, pedagang hewan kurban di Jalan Jolotundo, Kelurahan Sambirejo, Kota Semarang, mengaku, pada momen Iduladha tahun ini, lapak hewan kurban miliknya sangat sepi dari pembeli.

Biasanya kata Agus, pada H-6 Iduladha, lapaknya ramai pembeli, namun tahun ini sangat sepi pembeli. Bahkan banyak langganannya yang tidak datang untuk membeli hewan kurban.

Menurut pengakuan pedagang hewan kurban ini, tahun lalu ia bisa menjual 4-5 ekor tiap harinya. Namun, tahun ini hanya dua hewan kurban setiap harinya terbeli.

“Misalkan tahun kemarin dalam satu hari, kambing kurban bisa terjual empat sampai lima. Sekarang paling-paling hanya dua. Banyak juga pembeli tahun kemarin yang tidak beli lagi di tahun ini,” ujar Agus, Kamis (15/7/2021).

Baca Juga:
DMI Kota Yogya: Takbir Keliling Ditiadakan dan Salat Id di Rumah Saja

Agus mengatakan, ada juga yang datang ke lapaknya hanya untuk membandingkan harga bukan untuk membeli. Bahkan, sejak dua minggu yang lalu hingga hari ini, hanya satu ekor sapi yang laku.

Padahal, kata Agus, sumber penghasilan pedagang hewan kurban musiman seperti dirinya sangat bergantung pada momen Hari Raya Iduladha.

“Tahun 2019 sebanyak 200 ekor dan tahun 2020 hanya 100 ekor menurun. Kalau sekarang laku 70 ekor, sudah Alhamdulillah, ” ujarnya.

Ia menuturkan banyaknya masjid yang tidak menggelar penyembelihan hewan kurban menjadi salah satu faktor sepinya pembeli hewan kurban tahun ini.

PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN DI RPH

Sebelumnya, Kepala Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kota Semarang, Ika Nurawati, mengimbau kepada warga untuk melakukan penyembelihan hewan kurban di RPH sesuai anjuran pemerintah.

Ika, mengatakan, pihaknya akan memegang kunci dalam penyembelihan hewan kurban. Mulai dari menerima hewan hingga menyerahkan kembali kepada panitia kurban.

Berlaku untuk hewan kurban yang berasal dari masjid maupun kelompok masyarakat.

“Pemotongan kita lakukan sampai proses pemotongan lepas dari tulang dan packing kita serahkan kembali ke masing-masing masjid,” tutur Ika.

Selain itu, Ika, juga meminta kepada panitia kurban atau masyarakat yang akan melakukan penyembelihan hewan kurban untuk mentaati dan menerapkan protokol kesehatan ketat.

Selama masa pandemi ini, lanjutnya, memang dianjurkan untuk melakukan penyembelihan hewan kurban di RPH.

Persiapan dari RPH yaitu pemotongan tetap ada dengan protokol kesehatan ketat, seperti orang-orang yang masuk RPH wajib di Rapid Antigen dan negatif Covid-19.” pungkasnya. *

Penulis : Dinda Rahmasari Tunggal Sukma
Editor : M. Rain Daling

PPKM Membuat Pedagang di Pasar Semarang Menjerit, Tetap Jualan Meski Sepi

SEMARANG, Lingkar.co Sejumlah pedagang di salah satu Pasar di Kota Semarang mengaku belum mengetahui adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang telah dilaksanakan sepekan ini. hal itu membuat pedagang kecil di pasar tradisional menjerit, lantaran pasar yang menjadi tempat mereka mencari nafkah sepi secara tiba-tiba.

Jumiyen misalnya. Salah satu penjual telor asin dan rempah-rempah di Pasar Bulu Semarang itu mengaku belum mengetahui adanya PPKM. “Saya kurang tau kalau ada PPKM. Saya jualannya biasanya pulang sebelum maghrib,” ungkapnya.

 Ia menambahkan, beberapa hari ini tidak banyak pembeli yang datang. Selain itu, harga beli yang saat ini sudah mahal, ditambah lagi dengan adanya PPKM yang baru diketahuinya, dirasa amat membebani.

“Hari ini cuma ada tiga pembeli, biasanya juga hanya lima sampai enam pembeli, sangat sepi. Pernah telor saya tidak laku sama sekali dan akhirnya saya berikan kepada orang-orang,” tuturnya.

Di sisi lain, Juki (67), salah satu pedagang kelapa yang juga berjualan di pasar yang sama juga mengaku belum mengetahui adanya PPKM. “Saya tidak tau kalau ada PPKM. Saya jualan masih 24 jam disini, karena tempat tinggal saya juga disini,” jelasnya. Ia berharap, pemerintah tidak perlu memberlakukan PPKM karena dapat mengurangi pemasukan pedagang apalagi di masa pandemi seperti ini. “Ya saya harap gausah lah ada PPKM, kasian kami yang jualan nanti barang dagangannya ga banyak yang laku,” tutupnya. (ris/dim/aji)