Arsip Tag: Peduli Lingkungan

Pesantren Sunan Giri Salatiga

Lingkar.co – Pondok Pesantren Sunan Giri, Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga Jawa Tengah menggelar pawai ta’aruf di setiap menjelang akhir tahun pembelajaran atau alhirus Sanah. Pawai tahun ini, pawai mengangkat tentang budaya Nusantara.

Nampak rombongan demi rombongan santri mengenakan beragam kostum. Yang berbeda. Ada satu rombongan berkostum pasukan pengibar bendera pusaka dengan iringan para santri yang membawa bendera merah putih tampil di depan.

Ada juga rombongan santri yang mengenakan busana tradisional Jawa dengan gunungan seolah sedang melakukan upacara adat saat panen. Ada juga yang berkostum barongan, dan sejumlah kostum unik lainnya.

Panasnya matahari pagi pada hari Ahad (18/1/2026) menjadi penambah semangat para santri dan antusias warga yang menyambut pawai setelah beberapa hari belakangan ini Intensitas hujan yang cukup tinggi.

Setiap rombongan menggunakan alat musik tradisional yang berbeda. Sehingga suasana menjadi lebih khas dan tak beda jauh dengan upacara adat.

Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, menuturkan bahwa tema Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi sengaja diangkat sebagai respons atas derasnya arus globalisasi.

Ia menilai, generasi muda, khususnya Gen Z atau Zilenial yang lebih suka menjauh dari budaya bangsanya sendiri. Mereka malah lebih akrab dengan budaya luar yang populer dan hadir lewat layar gawai dan musik modern.

“Santri punya tanggung jawab moral untuk memperkenalkan dan menjaga kebudayaan bangsa ini,” ujarnya.

Bagi Umam, pesantren memegang peran strategis sebagai penyaring budaya luar sekaligus menjaga nilai-nilai adiluhung warisan leluhur. Ia bilang, budaya tidak boleh ditolak mentah-mentah, tetapi disaring, dirawat, dan dihidupkan kembali agar tetap relevan dengan zaman.

Selain itu, ia memperhatikan Salatiga dikenal sebagai Kota Toleransi, miniatur Indonesia yang penuh dengan keragaman. Kota kecil dengan luas 54,98 kilometer persegi ini menjadi ruang perjumpaan berbagai agama, suku, dan budaya.

Kampanye Ramah Lingkungan

Pesantren yang didirikan dan diasuh oleh KH. Maslihuddin Yazid, salah satu tokoh Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an Nahdliyyah (Jatman) ini pada mulanya hanya menyelenggarakan pendidikan khas pesantren, yakni madrasah diniyah. Namun seiring perkembangannya kini telah memiliki jenjang pendidikan formal.

Sebagai pesantren yang menjadi tempat belajar dan bermukim ribuan santri ini juga memperhatikan kelestarian lingkungan. Hal itu salah satunya dengan menampilkan drumblek sebagai bentuk kampanye kepedulian terhadap lingkungan.

Drumblek, sebuah kreasi seni musik sengaja ditampilkan Para santri dan cukup memikat hati masyarakat yang melihat.

Para penabuh musik drumblek ikut dalam iringan sebagai edukasi bahwa sampah tidak harus dibuang. Namun bisa dikelola menjadi sesuatu yang berharga, seperti memanfaatkan barang bekas menjadi alat musik yang familiar di telinga.

Melalui drumblek, mereka menegaskan bahwa kreatifitas bermain musik tidak bisa lemah oleh terbatasnya alat musik, dan kreatifitas santri tidak terbatas karena waktu yang lebih banyak digunakan untuk belajar ilmu agama.

Selain itu, pawai ta’aruf kali ini seolah menjadi syiar bahwa santri tak hanya berkutat pada ilmu gramatika bahasa arab dan belajar ilmu agama. Lebih dari itu juga menegaskan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.

Umam menegaskan, Pesantren Sunan Giri, seni dan agama bisa berjalan beriringan. Para santri diajarkan bahwa kesenian adalah bagian dari dakwah, media menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang lembut dan membumi.

Nilai budaya dan spiritualitas dipadukan agar ajaran agama terasa indah dan membawa kemaslahatan bagi siapa saja.

“Pawai ta’aruf akhirus sanah kali ini mengajak masyarakat untuk peduli terhadap budaya Indonesia, budaya Nusantara dan peduli terhadap lingkungan yang berkelanjutan,” pungkas Umam. (*)

Penulis: Husni Muso

Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Tanam 1.000 Pohon, Polres Kendal Dukung Pelestarian Lingkungan

Lingkar.co – Kepolisian Resor (Polres) Kendal melaksanakan aksi peduli lingkungan dengan menanam 1.000 pohon di kawasan Kedung Pengilon, Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Selasa (13/1/2026).

Kegiatan penanaman pohon tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Perhutani, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Aksi penghijauan ini dipimpin langsung oleh Kapolres Kendal AKBP Hendry Susanto Sianipar dan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 10.30 WIB.

Penanaman pohon diawali secara simbolis oleh Kapolres Kendal bersama para pejabat yang hadir, kemudian dilanjutkan secara gotong royong dengan masyarakat sekitar. Program ini bertujuan memperbaiki ekosistem, menghijaukan kembali lahan yang mulai kritis, serta sebagai upaya pencegahan bencana alam seperti banjir dan longsor.

Kapolres Kendal AKBP Hendry Susanto Sianipar mengatakan, Polres Kendal tidak hanya berperan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Penanaman pohon ini berawal dari laporan masyarakat bahwa ekosistem di kawasan Kedung Pengilon mulai berkurang dan perlu segera dihijaukan kembali. Ini merupakan langkah konkret untuk menjaga keseimbangan alam,” ujar Kapolres.

Ia menambahkan, sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal telah dipetakan sebagai lahan kritis yang membutuhkan perhatian dan penanganan bersama agar tidak menimbulkan dampak lingkungan di kemudian hari.

Sementara itu, Kepala KPH Perhutani Kendal, Muhadi, mengapresiasi program reboisasi yang dilakukan Polres Kendal. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan sinergi yang baik antarinstansi dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

“Kami dari Perhutani sangat mendukung kegiatan ini. Dengan sinergi seperti ini, lahan-lahan kritis atau gundul dapat ditanami kembali sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” katanya.

Kepala Desa Tunggulsari, Abdul Wahid, juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Polres Kendal atas kepedulian terhadap lingkungan di wilayahnya. Ia menuturkan, pohon-pohon yang ditanam nantinya akan dirawat bersama oleh warga Desa Tunggulsari.

“Perawatan pohon akan kami serahkan kepada warga agar bisa dijaga bersama dan memberikan manfaat bagi masyarakat ke depan,” ujarnya.

Aksi penanaman 1.000 pohon ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan serta memperkuat upaya mitigasi bencana di Kabupaten Kendal. (*)

Penulis: Yoedhi W

16 Satuan Pendidikan di Kendal Terima SK Penetapan Sekolah Adiwiyata

Lingkar.co – Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Aris Irwanto menyerahkan Surat Keputusan (SK) perihal Penetapan Sekolah Adiwiyata Kabupaten tahun 2025 kepada 16 Satuan Pendidikan di Kabupaten Kendal, Selas (16/12/2025) di SMP Negeri 2 Pegandon.

Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan launching persiapan menuju Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2026 bagi 16 Sekolah Adiwiyata Kabupaten Kendal, 16 Sekolah Adiwiyata Provinsi tahun 2025 serta persiapan menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri bagi 8 Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2025.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menyampaikan apresiasi kepada 16 sekolah yang telah menerima SK Penetapan Sekolah Adiwiyata Kabupaten Kendal tahun 2025. Serta  memberikan selamat kepada 16 Sekolah Adiwiyata  Provinsi dan 8 Sekolah Adiwiyata Nasional.

Menurutnya, prestasi ini bukan hanya sebuah penghargaan, melainkan bukti komitmen seluruh warga
sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua dalam menghidupkan nilai-nilai cinta lingkungan dalam seluruh aktivitas pembelajaran.

“Predikat Adiwiyata bukanlah garis akhir. Justru ini adalah titik awal untuk terus meningkatkan kualitas lingkungan sekolah dan memperkuat integrasi pendidikan lingkungan hidup dalam kurikulum maupun budaya sekolah. Harapan kami, sekolah-sekolah ini dapat menjadi role model yang menginspirasi bagi sekolah lain di Kabupaten Kendal,” ujar Bupati Kendal.

Ditambahkan, pada tahun 2025, Kabupaten Kendal telah berhasil melahirkan 40 Sekolah Adiwiyata. Ia berpesan agar pencapaian Adiwiyata ini menjadi motivasi kepada seluruh pihak agar senantiasa menjaga kelestarian lingkungan.

“Tahun ini total ada 40 Sekolah Adiwiyata, tentunya harapan kita ini dapat meningkatkan kepedulian dan budaya kepada para siswa di masing-masing sekolah untuk ikut terlibat dalam menjaga lingkungan, bumi dan isinya. Saya berharap seluruh sekolah di Kabupaten Kendal dapat berpredikat Sekolah Adiwiyata,” harapnya.

Kepala DLH Kendal, Aris Irwanto menyampaikan, bahwa untuk mewujudkan Sekolah Adiwiyata harus ada keterlibatan seluruh warga sekolah dalam menjaga lingkungan sekitar.

“Mereka harus mampu mengelola sampah di sekolahan, penghijauan. Dan kolaorasi perlu dilakukan, misalnya DLH berkontribusi dalam penyediaan tanaman,” katanya.

Kepala Bidang Penataan dan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kendal, Suprayogi menerangkan, dari 40 Sekolah Adiwiyata, 16 sekolah telah menerima SK Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025 dan 8 sekolah telah menerima Penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional
Tahun 2025 di Jakarta, yaitu di Gedung Sasono Utomo TMII pada hari Kamis, 11
Desember 2025 lalu.

“Kemarin yang sudah memenangkan Adiwiyata Kabupaten dan Provinsi bisa maju ke tingkat nasional. Terus yang kemarin dapat Adiwiyata Nasional bisa maju ke Adiwiyata Mandiri syaratnya harus punya sekolah binaan. Dan untuk Adiwiyata Mandiri harus melakukan pembinaan selama 6 bulan sehingga baru bisa maju di tahun 2027,” terangnya.

Sementara, Retno selaku Kepala Sekolah SMPN 2 Pegandon, yang merupakan salah satu penerima SK Penetapan Sekolah Adiwiyata Kabupaten Kendal 2025 menyatakan, pihaknya telah melakukan berbagai persiapan menuju Adiwiyata Nasional.

“Kita sudah melakukan penanaman pohon, konservasi air dan energi, kita juga mengubah mindset anak-anak dan seluruh warga sekolah supaya peduli lingkungan dan kebersihan serta kita melakukan inovasi yang berbasis lingkungan,” pungkasnya. (*)

HAB ke-80 Kemenag, Nasaruddin Usung Semangat Kesederhanaan dan Kebersamaan

Lingkar.co – Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) mengusung semangat kesederhanaan dan kebersamaan dengan tema ‘Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju’.

Pembukaan peringatan HAB ke-80 ditandai dengan senam sehat di halaman kantor pusat Kemenag dan puncaknya akan berlangsung pada 3 Januari 2026 dengan upacara serentak di kantor Kemenag, pusat dan daerah.

Menag Prof. Dr. Nasaruddin Umar menekankan bahwa kesederhanaan ini harus dilandasi semangat dan optimisme dalam melaksanakan tugas. Untuk itu, dibutuhkan kemampuan melakukan loncatan berpikir yang melampaui zamannya, sejalan dengan visi institusi yang progresif.

Nasaruddin secara khusus memberi penekanan pada aspek ekoteologi. Menurutnya, program yang sudah berjalan satu tahun terakhir ini sudah mulai dipahamai masyarakat dan bahkan menjadi perhatian global.

“Hari ini, dunia sudah mulai menggunakan ekoteologi. Ini menunjukkan bahwa Kementerian Agama telah berada on the right tracking,” ujar Menag dalam siaran persnya, Senin (8/12/2025)

Terkait tema rukun dan sinergi, Menag menjelaskan bahwa rukun adalah sebuah subsistem yang saling merajut dan menopang untuk membentuk suatu sistem yang utuh.

“Rukun adalah sebuah subsistem yang jika tidak ada kekompakan di dalamnya, maka totalitas sistem yang sedang dibangun akan terpengaruh secara signifikan. Tujuan akhir dari kerukunan dan sinergi ini adalah terwujudnya kedamaian dan kemajuan bangsa,” jelas Menag.

Kurangi Sampah Plastik

Senada dengan Menteri Agama, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mengingatkan seluruh jajaran untuk mewujudkan semangat ‘Ecotheology in Action’. Salah satu upayanya adalah dengan tidak lagi menggunakan sampah plastik di lingkungan kementerian.

“Mohon menjadi perhatian kita, sebisa mungkin tidak ada lagi penggunaan sampah plastik dan menghindari hal-hal yang berpotensi memperkeruh lingkungan kita,” kata Sekjen.

Sekjen juga menjelaskan bahwa rangkaian peringatan HAB tahun ini akan diselenggarakan dengan sangat sederhana. Kesederhanaan ini merupakan bentuk empati Kemenag terhadap saudara-saudara sebangsa yang sedang tertimpa musibah di Sumatra dan Aceh.

Kemenag telah mengambil langkah cepat untuk membantu korban bencana. Hingga hari ini, telah terkumpul lebih dari Rp4 miliar dana bantuan melalui rekening Tanggap Darurat Kementerian Agama.

Jumlah ini masih akan terus bertambah karena kesempatan berdonasi masih dibuka. Selain itu, Kemenag bersama Baznas, Forum Zakat (FOZ), dan Poroz juga telah menghimpun dana bantuan bencana dengan jumlah mencapai Rp155 miliar, termasuk dari APBN Kementerian Agama.

Tantangan terbesar di akhir tahun ini adalah memastikan anggaran tersebut dapat dieksekusi sesuai dengan tata kelola yang benar dan akuntabel. Harapannya, seluruh pihak dapat mengambil porsi dan mengawal proses tersebut agar berjalan baik. (*).

Kurangi Sampah plastik, Pemda Sumedang Tak Lagi Sediakan Air Kemasan pada Jamuan

Lingkar.co – Guna meminimalisir sampah plastik, dan sebagai aksi peduli terhadap kelestarian lingkungan, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang mulai menerapkan sistem parasmanan saat menggelar rapat atau pertemuan.

Kini  setiap SKPD tidak boleh lagi membuat snack atau nasi box, serta tak lagi menyediakan air kemasan pada saat jamuan, yang dapat menimbulkan banyak sampah utamanya sampah plastik. 

“Untuk konsumsi seperti snack diubah menjadi prasmanan disimpan di atas meja. Makanan bisa diambil secukupnya dan tidak banyak sisa. Kemudian para peserta membawa tumbler atau botol minum tersendiri dari rumah. Kami menyiapkan dispenser untuk minumnya,” ujar Sekda Sumedang Tuti Ruswati.

Sekda menyebutkan hal tersebut merupakan satu upaya, agar dengan cara seperti itu seluruh ASN se Kabupaten Sumedang bisa mengurangi debit timbunan sampah yang akan dibuang ke Tempat Pengolahan Akhir Sampah (TPSA).

Baca Juga: Pemkab Sumedang Optimistis Pertahankan Predikat WTP ke-11

“TPSA Cibeureum seluas 10 hektare, sebagiannya 3 hektare akan diolah menjadi sanitary landfill,” tuturnya. 

Sekda juga meminta dukungan dari seluruh masyarakat Kabupaten Sumedang untuk mulai memilah sampah dari rumah tangga. 

“Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan harus mengedukasi petugas sampahnya, agar sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat tidak disatukan kembali, tetapi semuanya harus konsisten terhadap kebijakan pemerintah. Karena Pak Bupati juga menginginkan adanya Unit Reaksi Cepat (URC) sekitar 20 orang petugas yang akan turun mengedukasi masyarakat agar mengelola sampahnya dengan baik,” jelasnya. 

Isu peduli lingkungan ini dibahas saat Rakor yang dihadiri Bupati Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aldila, sekda Tuti Ruswati, para kepala SKPD serta Camat se Kabupaten Sumedang.

Hari Bhakti PUPR, Bupati Tanam Pohon di Daerah Rawan Longsor

Lingkar.co – Bupati Blora H. Arief Rohman, S.IP., M.Si melakukan penanaman pohon di Gang Jambu Kelurahan Mlangsen bantaran sungai grojogan, Rabu (6/12/2023).

Penanaman pohon tersebut untuk sebagai penanggulangan longsor, bertepatan dengan Hari Bhakti PUPR ke -78

Sebelum melaksanakan penanaman pohon, Bupati Arief memimpin apel bersama yang diikuti oleh jajaran Dinas PUPR, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup dan para relawan.

Orang nomor satu di Blora itu mengucapkan terimakasih kepada PUPR atas sumbangsihnya selama ini.

“Saya ucapkan selamat hari bhakti ke 78 PUPR, semoga senantiasa mengabdi kepada negeri dan terimakasih selama ini turut perlahan mewujudkan keinginan masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur,” ucap Bupati.

Sebelumnya, lokasi apel dan penanaman pohon tersebut longsor sehingga saat ini telah dibangun talud sepanjang lokasi longsor.

Bupati Arief berkomitmen untuk terus meningkatkan sinergitas dengan TNI Polri berkaitan dengan infrastruktur.

“Tentunya kita akan terus meningkatkan sinergitas dengan TNI Polri. Terutama program TMMD dari TNI. Harapan dari masyarakat ini kan terkait dengan infrastruktur”, ucapnya.

Selain penanaman pohon, juga dilaksanakan peresmian tanggul yang berlokasi gang jambu Kelurahan Mlangsen yang dulu selalu longsor.

Harapan Bupati yang akrab disapa Mas Arief itu penanaman pohon itu bisa menjadikan tanah di pinggiran sungan menjadi produktif dan meminimalisir longsor.

Mas Arief juga meminta dan menghimbau seluruh unsur elemen masyarakat untuk selalu bersinergi serta waspada terhadap bencana yang saat ini Blora sudah memasuki musim penghujan. (Adv)

Jaga Kelestarian, Toni Triyanto Tebar Benih Ikan Bersama Komunitas Poman

Lingkar.co – Aktivis dan dosen Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Toni Triyanto, bersama komunitas pemancing Pokoke Mancing (Poman), melakukan tebar ratusan benih ikan jenis nila di rawa Prumpung, Desa Juragan, Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (12/3/2023).

Menurut Tony Triyanto, kegiatan tersebut untuk menjaga kelestarian lingkungan, utamanya ikan yang biasa menjadi target penghoby mancing.

Selain itu, Toni yang juga ketua perhimpunan relawan (PERAN) Indonesia juga mengaku tertarik dengan keunikan komunitas pemancing. Karena itu, ia pun menjalin silaturahmi dengan komunitas Poman.

“Selain memancing, anggotanya juga mempunyai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan,” tuturnga mengapresiasi.

“Selain itu memancing juga bisa menjadi sarana untuk menjaga sillaturrahim. karena bisa bertemu dengan orang dari daerah lain yang hobinya sama,” bebernya.

Pada kesempatan itu, selain menebar benih ikan, Toni Triyanto yang akan maju sebagai calon bupati Batang juga memberikan hadiah pada pemancing yang mendapatkan ikan paling banyak.

“Dan tidak kalah pentingnya, dengan menebar benih ikan, kita juga ikut menjaga keberadaan ikan di spot-spot mancing yang biasa didatangi,” tandasnya.

Sementara, Ketua Poman, Heni Djuwiyanto mengungkapkan, komunitas Poman memiliki anggota puluhan pemancing yang berasal dari beberapa wilayah di Kabupaten Batang.

“Kegiatan Mabar (Mancing bareng) ini merupakan agenda rutin dari komunitas Poman setiap menjelang bulan Ramadhan,” ucapnya.

“Alhamdulillah pada acara ini didukung oleh Bapak Toni Triyanto. Kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi,” sambutnya.

Menurutnya, mereka berkumpul dengan latar belakang memiliki hobi yang sama, yaitu memancing. Maka dari itu, mereka pun sepakat rutin menjalin silaturahmi dengan agenda ‘kopi darat’ yang digelar setiap bulan.

“Agenda kopi darat dilaksanakan setiap bulan. Tempatnya pun bergantian tidak hanya di satu lokasi saja,” ungkapnya.

Kendati sebagai komunitas pemancing, namun dirinya mengatakan bukan berarti sibuk dengan hobi dan mengesampingkan keluarga.

“Meskipun hobi mancing, namun kami di Poman tetap memprioritaskan keluarga, sehingga saat memancing tak lupa waktu,” tandasnya.

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Peduli Lingkungan, Sejumlah Pemuda di Rembang Gelar Bersih-bersih Pantai

REMBANG, Lingkar.co – Sejumlah pemuda bahu-membahu membersihkan pantai di Desa Plawangan, Kragan, dari sampah plastik hingga sampah organik, seperti kayu dan beberapa ranting pepohonan yang dibawa ombak ke tepi pantai.

Gerakan bersih pantai atau dalam bahasa sekitar disebut resik-resik kisik ini tidak hanya dilakukan kali ini saja. Melainkan sudah dimulai hampir satu tahun terakhir,  berbarengan dengan terbentuknya ruang baca Lentera Kisik yang berdiri ditepi pantai dan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dari penuturan Son Aji, pemuda penggagas ruang baca itu, gerakan bersih pantai merupakan serentetan agenda perpustakaan kecilnya yang diadakan saben bulan.  Setidaknya, ada dua kali dalam sebulan.

Sejumlah pemuda saat bahu-membahu membersihkan pantai dari sampah, Jum’at (22/1). (MIFTAHUS SALAM/LINGKAR.CO)
Sejumlah pemuda saat bahu-membahu membersihkan pantai dari sampah, Jum’at (22/1). (MIFTAHUS SALAM/LINGKAR.CO)

Son Aji bersama kawan-kawannya itu,  setidaknya membersihkan sampah hingga mencapai mencapai 8-12 karung. Sampah-sampah itu tak hanya datang dari warga, melainkan datang dari laut yang dibawa entah dari mana. 

“Tapi sampah bisa saja bertambah,  jika badai. Paling-paling sampahnya banyak berupa plastik dan kayu-kayu dari laut,” urainya. 

Menurutnya, sampah-sampah itu juga merupakan sumbangan dari warga luar desanya. Kebiasaan nelayan yang membawa sampah saat berangkat ke laut dan membuangnya, merupakan kejadian yang turut menyumbang besar sampah di tempat itu. 

“Menurut mereka ketika membuang (di laut, red) sampah-sampah itu sudah tidak ada dihadapannya dan dibawa laut. Padahal itu nantinya kan ada ditempat lain,” imbuhnya.

Ia berharap, meski ia dan kawan-kawannya melakukan pembersihan, masyarakat juga sadar agar tidak lagi membuang sampah sembarangan. Bagi Son Aji, sampah itu tidak hanya mengotori tempat, melainkan dapat dimakan ikan, yang bisa saja berbahaya bagi manusia juga. 

“Kalau dari beberapa penelitian itu kan dimakan ikan juga, jadi ikan-ikan yang kita makan kan mengandung plastik dan nantinya itu juga dimakan manusia juga kan,” ungkapnya.

Dalam kegiatannya, Son Aji juga turut melibatkan anak-anak dalam melakukan pembersihan. Hal ini bagi Son Aji sebagai bagian dari edukasi untuk anak-anak dalam menjaga lingkungan.

“Kadang dari anak-anak ini orang tua mereka juga ikut, ya hanya sekadar motret anaknya, yang penting baguslah untuk antusiasnya,” tukasnya. (lam/dim/aji)