Arsip Tag: Seni dan Budaya

Festival Wayang Semesta di Semarang Hadirkan Kolaborasi Budaya dan Komedi Rakyat

Lingkar.co – Kota Semarang kembali menghidupkan napas kebudayaan lewat gelaran Festival Wayang Semesta yang akan berlangsung pada 7–8 November 2025 di Lapangan Pancasila, Simpang Lima. Acara ini dihadirkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sebagai bentuk komitmen menjaga keberlanjutan seni tradisional dalam kemasan yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ruang hidup bagi nilai-nilai budaya dan kreativitas lokal.

“Kami ingin kesenian di Kota Semarang terus tumbuh, terutama wayang yang menjadi warisan luhur bangsa. Melalui festival ini, kami berharap generasi muda ikut mengenal, mencintai, dan bangga dengan budaya sendiri,” ujar Agustina.

Rangkaian kegiatan Festival Wayang Semesta berlangsung dua hari penuh, menampilkan wayang orang Ngesti Pandawa dan Sriwedari, wayang kulit Teater Lingkar Semarang, serta pertunjukan lintas genre yang menggabungkan unsur tradisi dan modern.

Lebih dari sekadar tontonan, festival ini juga menjadi ruang interaktif bagi masyarakat melalui kegiatan Wayang Experience Journey, seperti mewarnai topeng wayang, membuat wayang kertas, hingga partisipasi 1.000 anak sekolah yang akan memainkan wayang secara serempak.

“Kami ingin anak-anak memiliki pengalaman langsung dan merasakan kebanggaan bisa berperan dalam pelestarian budaya,” tutur Agustina.

Acara ini juga didesain untuk mendorong ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Beragam pelaku usaha fesyen, kriya, dan kuliner khas Semarang akan mengisi Pasar UMKM di area festival.

“Wayang bukan hanya simbol budaya, tapi juga punya efek ekonomi nyata. Seni dan ekonomi kreatif harus tumbuh bersama,” tegas Agustina.

Mengusung tema “Semarang Semakin Hebat, Wayang Semakin Mendunia,” festival ini menggabungkan unsur tradisi dan hiburan populer. Selain menampilkan maestro dan seniman muda, panggung utama juga akan menghadirkan komedian Nunung dan Cak Lontong untuk menghibur masyarakat di sela pertunjukan.

Festival ini terbuka untuk umum dan gratis, serta dihadiri sejumlah tokoh budaya nasional termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

“Kami mengundang masyarakat dari Semarang dan daerah lain untuk hadir. Mari menjadikan kota ini rumah bagi tumbuhnya nilai-nilai kebudayaan,” pungkas Agustina. ***

Sendratari Perjuangan Nyi Pandansari Meriahkan Pagelaran Seni dan Silaturahmi Warga Kendal di TMII

Lingkar.co – Sendratari yang menceritakan perjuangan Nyi Pandansari dalam membuka lahan di wilayah Boja memeriahkan pagelaran seni dari Duta Seni Kabupaten Kendal di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Minggu ( 7/9/25).

Warga Kendal yang tinggal di wilayah Jabodetabek pun dengan antusias menyaksikan lakon ‘Kendit Pagesangan’ yang dimainkan para seniman tari dari Sanggar Tari Nyai Dapu, Boja, Kendal yang menyajikan kisah lokal yang sarat makna perjuangan dan pengabdian tersebut.

Selain menampilkan kesenian tradisional, gelaran tersebut juga menghadirkan kuliner khas Kendal dan produk UMKM. Suasana dan sajian makanan tersebut semakin menambah nuansa kebersamaan dan kerinduan akan kampung halaman.

Antusiasme warga Kendal di perantauan terlihat jelas. Mereka mengaku jarang mendapat kesempatan menyaksikan kesenian asli Kendal di Jakarta. “Saya senang sekali bisa kumpul dan bersilaturahmi dengan warga Kendal lainnya. Rasanya rindu dengan kampung halaman sedikit terobati,” ungkap Baim, warga Kendal yang sudah 20 tahun merantau.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Ferinando Rad Bonay, menjelaskan bahwa agenda tahunan ini memang selalu menghadirkan sendratari khas Kendal agar bisa dinikmati masyarakat perantauan.

Sementara itu, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menegaskan, kegiatan ini tidak sekadar menampilkan seni budaya, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dengan warga Kendal di Jabodetabek. Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kendal terus berupaya mengembangkan kesenian dengan memberikan porsi lebih besar dalam setiap kegiatan resmi pemerintah.

“Harapan kami, meski tidak lagi bermukim di Kendal, warga tetap melestarikan budaya asli Kendal sehingga tidak melupakan tanah kelahirannya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Kendal juga menyampaikan rencana menambah armada mudik gratis tahun depan bagi warga Kendal di perantauan, sebagai bentuk perhatian dan kedekatan pemerintah daerah dengan warganya. (*)

Penulis: Yoedhi W

Bina Dalang Cilik dan Karawitan, Yoyok Sukawi Apresiasi Konsistensi Sanggar Monod Laras Lestarikan Budaya Lokal

Lingkar.co – Calon Wali Kota Semarang nomor urut 2, Yoyok Sukawi mengapresiasi upaya Sanggar Monod Laras yang terus konsisten melestarikan budaya lokal. Dia juga berkomitmen mendukung kegiatan pelatihan dalang bagi generasi muda jika terpilih dalam Pilwalkot Semarang 2024 ini.

Sanggar Monod Laras berpusat di Gedung Monod Diephius, Kota Lama Semarang. Selama bertahun-tahun, sanggar ini rutin menggelar kegiatan pelatihan seni wayang dan karawitan bagi anak-anak muda setiap hari Minggu.

Seperti halnya hari Minggu (3/11/2024) siang, Cawalkot Semarang Yoyok Sukawi mengunjungi gedung bersejarah yang dibangun era kolonial tersebut. Di sana dia melihat langsung anak-anak kecil yang terampil belajar memainkan wayang dan gamelan.

“Gedung Monod ini sangat luar biasa, karena menjadi pusat belajar para dalang cilik. Kami sangat mengapresiasi dan siap mendukung kegiatan pelestarian seni dan budaya yang selama ini sudah terlaksana dengan baik,” kata dia.

Menurutnya, peran dan keberadaan Sanggar Monod Laras sangat penting di tengah tantangan zaman yang mengancam eksistensi kebudayaan lokal. Apalagi saat ini generasi muda dihadapkan dengan maraknya budaya asing yang masuk ke Tanah Air.

“Ini jadi suatu tantangan bagi kita semua agar bagaimana anak-anak dikenalkan dan diajarkan mencintai budaya kita. Sanggar Monod ini memberikan contoh yang baik dalam upaya mencetak dalang-dalang cilik,” beber Yoyok Sukawi.

Dalam upaya nguri-nguri budaya, kata dia, peran pemerintah sangat penting. Pasalnya seniman dan budayawan tidak bisa bekerja sendirian tanpa dukungan dari pemerintah.

“Oleh sebab itu kami komitmen kami yaitu kesenian dan kebudayaan lokal bisa terjaga dengan baik. Anak-anak kita harus ditanamkan kalau wayang dan gamelan tidak kalah keren dengan K-Pop dan juga budaya luar lainnya,” ucap Yoyok Sukawi.

Pamong Sanggar Monod Laras, Tjahjono Rahardjo mengatakan, pihaknya memiliki misi mengenalkan dan mengajarkan seni pedalangan dan karawitan kepada para generasi muda. Tujuannya melahirkan dalang profesional yang memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan.

“Harapannya, apapun profesi mereka kelak, apakah pejabat, pengusaha, pendidik, dan lain-lain mereka akan menjadi orang yang bisa memberi sumbangan positif pada seni pedalangan dan karawitan,” ujar dia

Yoyok-Joss Komitmen Jadikan TBRS Sentra Budaya di Kota Semarang

Lingkar.co – Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang Nomor Urut 02, Yoyok Sukawi dan Joko Santoso (Yoyok-Joss) berkomitmen untuk menjadikan Taman Batu Raden Saleh (TBRS) sebagai sentra budaya di Kota Semarang. Hal itu ditegaskan Yoyok Sukawi, saat berdialog dengan Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Adhitia Armitrianto di kompleks TBRS Jalan Sriwijaya Kecamatan Candisari, Senin (21/10/2024).

Yoyok pun memastikan akan memberikan akses khusus bagi para pelaku seni dan budaya untuk menggunakan segala fasilitas yang ada di TBRS. Dalam upaya pengembangannya pun, dia siap untuk berkolaborasi dengan para seniman dan budayawan di Kota Semarang. Karena Yoyok menganggap, bahwa seniman dan budayawan lah pengguna aset yang akan dibangun pemerintah nantinya.

Selain mengembangkan TBRS, Yoyok juga siap mensupport pegiat seni, seniman, dan budayawan dengan membangun fasilitas atau ruang kesenian di tiap kecamatan. Menurut Yoyok, seni dan budaya merupakan salah satu media berekspresi serta produk kreativitas manusia yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, penting bagi Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mendukung pengembangan dan memberikan ruang berekspresi serta berkarya bagi pelaku seni dan budaya.

“Kami ingin mengembalikan lagi masa kejayaan TBRS sebagai pusat kegiatan budaya dan seni,” katanya.

Ia menegaskan, akan membuat kebijakan-kebijakan khusus di TBRS ketika menjadi Wali Kota Semarang nanti. Yoyok pun tak ingin menjadikan kawasan TBRS sebagai target pendapatan daerah, namun menjadikannya sebagai ruang kebudayaan.

“Khususnya sebagai tempat untuk berkarya para seniman, budayawan, anak-anak muda yang memiliki semangat berkesian,” terangnya.

Untuk merealisasikan hal ini, Yoyok siap menggandeng pengusaha agar TBRS ini makin eksis dan ramah bagi para pegiat seni dan budaya. Termasuk, jika terpilih menjadi Wali Kota Semarang di Pilwakot Semarang, akan ada kebijakan politik anggaran untuk pengembangan kesenian dan kebudayaan. Dirinya juga siap mempermudah perizinan kegiatan dan penggunaan fasilitas di TBRS.

“Nantinya untuk misi pembinaan budaya, pelestarian budaya lokal dan juga misi memberi anak-anak muda kegiatan positif. Berarti kita tidak lagi menganggap TBRS ini sebagai target pendapatan,” paparnya.

Dari Sinden Idol Sampai Gandeng ISI Surakarta, Simak Komitmen Bupati Blora Lestarikan Seni dan Budaya

Lingkar.co – Bupati Blora, Arief Rohman menunjukkan komitmen untuk melestarikan seni dan budaya melalui berbagai cara. Dari ajang pencarian bakat sampai menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Blora menggelar ajang pencarian bakat Sinden Idol dengan kategori pelajar SD/MI dan SMP/MTs.

Satu per satu dari 10 peserta pilihan tampil saat pementasan wayang kulit milenial di Pendopo Kabupaten Blora, Jumat (27/10/2023) malam. Mereka bahkan turut serta membawa pendukung yang otomatis memeriahkan acara.

Nampak pula, Bupati tidak canggung berada diantara supporter, ikut memberikan dukungan dan motivasi kepada peserta sinden idol Blora 2023.

“Bakat anak-anak kita ini luar biasa. Saya sampaikan apresiasi dan terima kasih untuk Kominfo, panitia, dan bea cukai yang telah mendukung kegiatan ini. Malam hari ini kita tampilkan 10 peserta Sinden Idol ya,” ucapnya.

Ia sempat terkejut dengan bakat nyinden para pelajar Blora. Karena itu orang nomor satu di Blora ini berharap bisa bertemu dan tampil bersama sinden muda yang tengah kondang, yakni Niken Salindri pada bulan terakhir tahun 2023.

“Ini ternyata anak-anak Blora banyak bakat-bakat terpendam. Saya senang sekali dengan adanya kegiatan ini. Nanti kita jumpa lagi di tanggal 7 Desember yang ada Niken Salindri,” kata Bupati.

Selain menggelar ajang pencarian bakat sinden, bahkan Bupati juga ingin ada kontestasi dalang cilik. ia berharap melalui even-even tersebut bisa mewadahi dan melatih bakat anak-anak Blora khususnya di bidang seni dan budaya.

Tidak hanya itu, ia bahkan menyebut Pemkab Blora saat ini telah menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk melestarikan budaya dalam jenjang pendidikan formal.

“Insya Allah ISI Solo akan buka cabang di Blora. Hal itu sebagai bentuk komitmen kita, bahwa Blora ini kaya akan kebudayaan dan kesenian. Biar anak-anak Blora kuliah di ISI tidak perlu jauh-jauh ke Solo,” harapnya.

Sementara, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Blora, H. Soekarno mengapresiasi banyaknya talenta muda yang ikut ikut menyukseskan wayang kulit milenial. Ia tidak bisa menutupi kegembiraan melihat sinden cilik, sinden muda hingga para nayaga (penabuh gamelan) yang rata-rata diisi oleh kalangan muda.

Dia menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Blora yang telah memberikan wadah bagi potensi-potensi sinden muda dari Blora. “Matur nuwun sampun diparingi wadah ingkang sae kados mekaten (Terima kasih sudah diberikan sarana yang sedemikian baik ini -red),” tuturnya.

Oleh karena itu, Soekarno ingin agar nantinya semakin banyak sinden muda bertalenta di Blora seperti halnya sinden muda Niken Salindri.

“Mugi-mugi 5 tahun ke depan kalau para dalang mencari sinden tidak kesulitan lagi. Alhamdulillah semoga muncul Niken Salindry – Niken Salindry lain dari Blora,” doanya.

Seleksi Sinden Idol

Bupati Blora Arief Rohman saat bersama para pendukung Sinden Idol Blora 2023 dalam pementasan wayang kulit milenial di Pendopo Kabupaten. Foto: dokumentasi

Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Blora Pratikto Nugroho memerinci, terdapat 94 peserta dari kalangan pelajar yang telah mendaftar Sinden Idol ini. Dari jumlah tersebut kemudian dilakukan seleksi.

“Ini menjadi potensi dari Blora. Sehingga terpilihlah dari 94 peserta menjadi 32 peserta, dan pada pagelaran hari ini sudah tampil anak-anak dari SD dan SMP sebanyak 10 orang,” terang Pratikto.

Nantinya 32 peserta tersebut akan dibagi menjadi 3 pementasan. Hingga puncaknya pada tanggal 7 Desember 2023 akan ada pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah.

Selain itu, pihaknya juga ingin kesenian wayang bisa dicintai dan digemari oleh generasi muda. Salah satunya dengan adanya pementasan wayang dan Sinden Idol dari para pelajar SD dan SMP ini.

“Bagaimana ada tantangan dari Pak Karno (Ketua Pepadi) supaya wayang bisa ditonton tidak hanya orang sepuh saja, tapi juga dari kalangan muda.”

Tak hanya itu, dirinya mengatakan pementasan wayang kali ini memiliki keunikan tersendiri dengan mengusung konsep ‘Wayang Gaul’.

“Konsep kami karena ini memang kami kemas karena wayang agar dicintai anak muda. Kalau pagelaran wayang malam ini wayang gaul, karena kelirnya juga diganti videowall, panjak-panjak (pemain gamelan)nya juga anak muda,”ujarnya.

Menurut Praktikto, masyarakat sangat antusias terhadap Sinden Idol. Ia menilai hal tersebut tampak dari partisipasi masyarakat yang sudah memberikan dukungan kepada peserta idola melalui vote.

“Ini datanya, yang sudah nge-vote sinden idolanya sudah 10 ribu orang lebih,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Tampil Memukau, Setwan DPRD Blora Sabet Juara I Karnaval Pembangunan

Lingkar.co – Siapa sangka jika jajaran staf Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD Blora punya bakat seni yang luar biasa hingga memukau penonton. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan berhasil menyabet Juara I dalam Karnaval Pembangunan.

Menduduki peringkat teratas pemilihan dewan juri dalam kategori kelompok Organisasi Perangkat Daerah, jajaran staf Setwan DPRD Blora tampil all out.

Memilih tema Jas Merah (Jangan sekali-kali Meninggalkan sejarah), para staf langsung menggelar drama teaterikal yang menampilkan kerja paksa pada masa penjajahan.

Penampilan tersebut turut didukung dengan kostum yang sesuai. Ada yang berseragam penjajah Belanda lengkap dengan senjata, dan sebagian lain mengenakan pakaian rakyat jelata.

Penonton pun dibawa dalam suasana emosional ketika adegan penyiksaan rakyat Indonesia dengan rantai di tangan dan belenggu kayu di leher. Sontak adegan itu membuat penonton yang menyaksikan larut dalam suasana haru dan iba.

Ada juga yang berperan sebagai bangsawan Indonesia yang memihak Belanda, karena kita semua tahu musuh bangsa kita bukan hanya bangsa lain, melainkan juga dari bangsa kita sendiri.

Ada pula yang memerankan pejuang Indonesia serta para perempuan berperan sebagai petugas paramedis Palang Merah Indonesia.

Penampilan ditutup ketika Sang Proklamator membacakan teks proklamasi kemerdekaan. Semua aktor pun berkumpul di panggung utama.

Melalui aksi teatrikal itu, para staf Setwan DPRD Blora mengajak masyarakat mengambil pelajaran bahwa perjuangan para pahlawan membebaskan diri dari belenggu penjajah amat berat.

Selain teaterikal, Setwan DPRD Blora juga menampilkan Pangeran Diponegoro menunggang replika kuda. Sekretaris DPRD Kabupaten Blora, Catur Pambudi Amperawan juga sukses memerankan sang pahlawan nasional tersebut.

Menyaksikan penampilan tersebut, beberapa warga tampak memberikan komentar positif. Salah satunya adalah Yunia, warga Kecamatan Blora kota tersebut mengaku terharu.

“Mewek….membayangkan perjuangan mereka jaman dulu terbawa emosi, karena bagaimana sulitnya hidup di masa penjajahan, dan nikmatnya hidup di zaman kemerdekaan. Alfatihah buat para pejuang,” ucapnya, usai melihat kembali vidio karnval yang digelar Pemkab Blora, Minggu (3/9/023).

Sementara itu, salah satu staf Setwan DPRD Blora, Anna Oktaviani Prasetyo, menyatakan bahwa tema perjuangan wajib diangkat dalam berbagai kesempatan dan bahkan bisa di hampir semua event.

“Pada intinya saya miris lagi dengan kondisi yang terjadi, karena selama ini karnaval isinya yang penuh euforia, tari-tarian yang kayak tiktokkan, terus hanya seputar hura-hura. Jadi sama sekali karnaval 17-an itu nggak ada temanya,” ungkapnya.

Ia menyebut keprihatinan jajaran Setwan melihat anak muda sekarang ternyata tidak memahami gambaran perjuangan di zaman penjajahan. Namun hanya sebatas mengetahui dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

“Terus ketika saya bersantai di rumah secara spontan punya ide karnaval dengan tema perjuangan kemerdekaan Indonesia jaman dulu,” ungkapnya.

“Dari situlah saya ngobrol, bercerita sama keluarga, terutamanya pada anak saya. Saya menceritakan perjuangan jaman dulu pada anak saya, dan (salah satu) anak saya ternyata merespons dengan kalimat ‘Oh, ternyata begitu ya mah perjuangan jaman dulu’. Jadi, mereka tak tahu gambaran asli dari sebuah perjuangan di zaman lalu,” urainya.

“Tahunya mereka ya dari buku. Kalau hanya dulu berjuang intinya seperti itu, nggak tahu kalau perjuangan kemerdekaan itu seperti itu,” jelasnya.

Selain itu, dirinya juga mengakui arus perkembangan teknologi digital meleenakan remaja atau generasi milenial. Oleh karena itu, ia juga memanfaatkan teknologi digital untuk mengingatkan beratnya mencapai kemerdekaan.

“Zaman sekarang kan era digital, tentunya mereka akan menampilkan dari hasil melihat di dalam gawai tersebut, baik YouTube, tiktok, Instagram, Facebook dan lainnya. Makanya, saya ambil tema perjuangan, kalau dengan tema-tema seperti itu yakni romusha, lebih mengena hati,” paparnya.

Terkait beragam atribut dan pernak-pernik yang digunakan untuk Karnaval Pembangunan, ia mengaku tidak semuanya membeli.

“Kita, saat menampilkan itu, pakai barang-barang bekas milik sendiri dari sekitar kita,” bebernya.

Terakhir, Ana menyebut keberhasilan meraih juara I adalah kerja keras tim. Semua anggota Setwan yang bertukar ide, berlatih dan bermain dengan totalitas seperti layaknya seorang pemain teater.

“Tentunya juara dan penghargaan itu dibarengi juga oleh kerjasama tim yang luar biasa. Dan, pastinya membutuhkan sesuatu yang benar-benar luar biasa bagi kami. Karena dengan kondisi keuangan yang limit, akhirnya cekatan tanpa menyewa pelatih dari luar, dengan ide sampai menjadi penampilan sampai menjadi pemenang itu dari kita untuk kita,” pungkasnya. (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Karnaval HUT ke-73 RI di Ngawen Diharap Bangkitkan Semangat Pelaku Budaya

Lingkar.co – Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-78 RI di Kecamatan Ngawen dimeriahkan dengan Karnaval Budaya. Antusias para pelaku budaya nampak pada totalitas penampilan, dan ribuan massa pun tumpah ruah menyebut gelaran yang ada di Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini, Kamis (22/08/2023) pagi.

Nampak para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau pedagang kecil menjajakan barang dagangan di sepanjang jalan yang ramai oleh warga yang menonton iring-iringan peserta karnt.

Ketua panitia Karnaval HUT ke78 RI Ngawen, Sobirin menerangkan, sedikitnya ada 24 kontingen dari berbagai desa se-Kecamatan Ngawen. Dari Kesenian barongan, Bujang Ganong, Reog, Tayub, tari kreasi hingga Marching Band tampil memerahkan karnaval tersebut. Bahkan, ada pula yang menampilkan berbagai macam pakaian adat, maskot dan replika.

“Karnaval Budaya diikuti 24 kontingen dan menampilkan potensi seni budaya, khususnya dari wilayah Kabupaten Blora. Dan karnaval ini menjadi wujud kreativitas generasi muda,” ujarnya.

Oleh sebab itu ia berharap, karnaval tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat Ngawen. Namun lebih dari itu juga memberikan semangat bagi pelaku seni budaya di setiap wilayah kecamatan.

“Untuk penampilannya durasi kurang lebih lima menit. Karnaval budaya juga sebagai ajang mempromosikan potensi seni budaya yang ada di wilayah Kabupaten Blora,” jelasnya.

Terlebih, Sobirin mengungkapkan bahwa karnaval budaya tersebutdl diadakan atas permintaan dari masyarakat yang ada di Kecamatan Ngawen

“Kegiatan karnaval ini diadakan, dikarenakan permintaan dari masyarakat terutama para pemuda, dikarenakan sudah empat tahun tidak pernah menggelar karnaval,” ungkapnya.

Salah satu sudut pandang totalitas penampilan peserta dalam karnaval budaya HUT ke-78 RI di Ngawen Kabupaten Blora. Foto: Lilik Yuliantoro/lingkar.co

Sementara, Camat Ngawen, Mochammad Zainuri mengapresiasi kegiatan tersebut. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menyukseskan karnaval tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi setinggi-tingginya kepada segenap panitia yang telah bekerja keras menyukseskan terselenggaranya karnaval budaya ini,” ucapnya.

“Dan juga kepada peserta saya juga mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti karnaval budaya ini,” sambungnya.

Meski acara tersebut mengambil tema tentang kebudayaan, namun ia berharap dapat memberikan dampak pada kebangkitan perekonomian masyarakat Blora, khususnya para pelaku UMKM di wilayah Kecamatan Ngawen.

“Alhamdulillah masyarakat terhibur dengan penampilan peserta yang menyuguhkan kreasinya di karnaval budaya ini,” tuturnya.

“Semoga kegiatan yang luar biasa ini semakin mendukung kebangkitan ekonomi masyarakat, khususnya UMKM,” lanjutnya.

Sebagai informasi, karnaval budaya ini mengambil rute awal dari halaman Kecamatan Ngawen menuju terminal dan belok ke kiri menuju desa Berbak. Sampai perempatan Berbak lanjut belok ke kanan menuju jalan Raya Blora-Purwodadi.

Setelah itu, belok kanan kembali menuju depan terminal, dan belok ke kiri menuju jalan Sawahan. Sesampainya di perempatan Sawahan, rute selanjutnya belok ke kanan hingga pertigaan Rudal dan belok ke Kanan menuju halaman Kecamatan Ngawen. (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Bersama Dedi Mizwar, UMM Bahas Strategi Dakwah Melalui Seni dan Budaya

Lingkar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membahas strategi dakwah melalui seni dan budaya dengan menghadirkan dua artis nasional, Dedi Mizwar dan Muhammad Dwiki Dharmawan.

Menurut Rektor UMM, Fauzan, bahwa aktor, seniman dan budaya bisa menjadi da’i atau juru dakwah melalui keahlian yang dimiliki. Karena untuk menyampaikan pesan dalam dakwah harus memiliki banyak cara atau metode.

Bagi keluarga besar Muhammadiyah, Dedi Mizwar dan Dwiki Dharmawan bukan orang asing. Fauzan pun menyebut dua aktor kenamaan tersebut tercatat sebagai Dewan Pakar di Lembaga Seni dan Budaya PP Muhammadiyah pada periode 2022-2027 sebagaimana dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, Jum’at (14/4/2023) pada acara Tadarus Ramadhan yang diselenggarakan di UMM Dome, Malang Jawa Timur.

Menurut Fauzan, kegiatan itu sebagai bagian dari Ramadhan 1444 Hijriah di Kampus. Ia tegaskan, Tadarus Ramadhan ini untuk misi kemasyarakatan sebagaimana kegiatan sebelumnya di Lembaga Pemasyarakatan.

“Yang baru selesai kita menjalankan visi kemasyarakat di Lembaga Pemasyarakatan Wanita di Malang, kelas II A.” ungkap Fauzan.

Sementara, Dedi Mizwar memaparkan, dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, berdakwah melalui seni dan budaya, khususnya di dunia film jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.

“Saat ini dengan handphone saja di mana saja kita bisa membuat film-film dengan konten-konten yang berisi kebenaran, yang bisa ditayangkan di sosial media yang tidak perlu biaya.” ujarnya.

Ia pun membandingkan dengan masa sebelum ini. Ia ungkapkan, saat itu untuk memproduksi film sampai bisa disaksikan oleh publik membutuhkan banyak biaya, karena juga melibatkan pihak ketiga.

Berdakwah melalui seni dan budaya, imbuhnya, saat ini lebih mudah dan banyak. Oleh karena itu, dia mendorong lebih banyak lagi produk-produk seni dan budaya untuk berdakwah lebih banyak.

Sementara, Dwiki Dharmawan menuturkan, berdakwah melalui seni musik memiliki potensi yang besar untuk digarap. Ia menilai musik dan drama masih memiliki pangsa pasar yang bagus di Indonesia, terutama peminat musik dalam negeri.

Ia pun menyebut drama dan musik asal Korea yang merajai dunia, dan masuk ke Indonesia. Penggemar musik Indonesia masih memiliki coraknya sendiri, terlihat dari konser yang digelar oleh musisi asal Indonesia yang masih banyak peminatnya.

“Di Indonesia juga terkenal drama dan musik Korea, tapi konser-konser yang paling penuh tetap konser lokal artis dan musisi Indonesia. Fenomena ini dahsyat sekali, dengan penduduk yang jutaan.” paparnya.

Oleh karenanya, dia mewanti-wanti bagi siapa saja yang merilis musik untuk senantiasa berhati-hati, karena musik yang dikonsumsi oleh suatu bangsa akan mempengaruhi pandangan suatu bangsa itu. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Kembangkan Seni dan Lestarikan Budaya, Hingga Bentuk ‘Sanggar Pasinaon’

PATI, JAWA TENGAH, Lingkar.co – Berawal dari kegelisahaan Pemuda Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati terhadap realitas pendidikan seni, budaya dan sejarah, hingga terbentuknya ‘Sanggar Pasinaon’.

Muh. Haydar Fachrudin, selaku Lurah ‘Sanggar Pasinaon’menuturkan, Sanggar pasinaon ini berada di bawah naungan karangtaruna desa Kertomulyo.

Lahir pada bulan November tahun 2020. Yangmana Proses kelahirannya, karena melihat realita pendidikan seni dan budaya di Indonesia, utamanya di Pati yang tidak maksimal untuk anak-anak.

Baca juga:
Teater Sanggar Pasinaon Bakal Produksi Film Kedua

“Bagi kami ini satu tantangan untuk mengambil peran sebagai anak muda.  Kemudian kita menginisiasi karangtaruna mengajar dari sana kemudian membuat suatu wadah, dan lahirlah sanggar ini,” ujar Haydar.

Lanjutnya, “Jadi kita mencoba untuk hadir dan memberikan kelas-kelas gratis untuk adik-adik SD dan MTs selama masa pandemi. Biasanya satu minggu satu kali,” terangnya.

Gunakan Pendekatan Kesenian Dalam Mengajar

Pendekatan yang pihaknya gunakan dalam proses pengajaran adalah pendekatan kesenian. Oleh karena itu namanya adalah ‘Sanggar Pasinaon’.

Prosesnya, setelah mengajar kurang lebih 1.5 jam kemudian lanjut dengan sejumlah kelas kesenian, seperti  kelas menari, kelas musik, kemudian  kelas teater, dan kelas seni rupa.

“Dua kelas pengajarnya masih kita ambil dari orang-orang luar, yaitu seni tari sama teater, karena kita melihat di desa kita masih kurang orang yang mampu untuk mengawal itu,” paparnya.

Baca juga:
Mengabdi Untuk Pendidikan Anak Sedulur Sikep, Raih Pemuda Pelopor Pati 2021

Haydar menuturkan Sanggar Pasinaon memiliki tagline ‘Merawat Tradisi Memayu Hayuning Generasi’. Harapannya melalui ‘Sanggar Pasinaon’ ini para generasi desa dapat mengetahui berbagai kesenian, budaya dan sejarah yang ada di Desa

“Dengan melihat keadaan di desa kami anak-anak kecil hari ini itu tidak paham lagi akan budayanya tidak faham akan sejarahnya, leluhurnya, mereka tidak paham,” ungkapnya.

Terpisah, Heru Riandani, selaku Kasi pengembangan dan pemberdayaan pemuda Dinporapar Pati mengungkapkan, bahwa pihaknya selaku pembina kepemudaan di Kabupaten Pati merasa bangga dengan pemuda yang peduli terhadap kesenian dan budaya.

Baca juga:
Penyebaran Covid-19, Ketua DPRD Jatim Minta Pemerintah Awasi Klaster Keluarga

Pasalnya, menurut Heru pelestarian budaya ini sangat penting. Tentunya pemuda juga memiliki peran besar dalam hal ini.

“Karena kita tahu bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai budayanya. Dan itu semua berawal dari kepedulian generasi muda kita,” pungkasnya.

Penulis: Miftahus Salam

Editor: Galuh Sekar Kinanthi