Arsip Tag: Kesehatan Anak

Lewat Kampanye Gemar Makan Ikan, Pemkot Semarang Ingin Lahirkan Generasi Sehat dan Cerdas

Lingkar.co – Upaya membangun generasi sehat di Kota Semarang dimulai dari perubahan kebiasaan makan sejak dini. Salah satunya melalui gerakan gemar makan ikan yang menyasar langsung anak-anak dan keluarga.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng turun langsung ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok, Selasa (14/4), untuk mengedukasi pentingnya konsumsi ikan sebagai sumber gizi.

Sebanyak 100 siswa SD Islam Taqwiyatul Wathon diajak mengenal pentingnya konsumsi ikan melalui kegiatan interaktif di TPI Tambaklorok.

Dalam suasana santai, Agustina mengajak anak-anak berdialog, bermain kuis, hingga makan bersama menu berbasis ikan yang dipadukan dengan sayur, susu, dan telur. Pendekatan ini dipilih agar anak-anak tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan langsung pola makan sehat.

“Kalau ingin jadi pilot, dokter, atau profesi lainnya, harus didukung asupan gizi yang baik. Otak butuh nutrisi supaya bisa berkembang optimal,” ujar Agustina.

Langkah ini menjawab tantangan yang mulai muncul di masyarakat, di mana sebagian anak cenderung memilih makanan cepat saji dibandingkan makanan bergizi.

Melalui pendekatan ini, Pemkot Semarang mendorong perubahan kebiasaan makan anak yang diharapkan berlanjut hingga di lingkungan keluarga.

Gerakan gemar makan ikan juga berlanjut di Balai Kota Semarang melalui rangkaian kegiatan yang saling terhubung, mulai dari Fisheries Expo, sarasehan Gemarikan, hingga lomba memasak berbahan dasar ikan.

Fisheries Expo menghadirkan pelaku UMKM dengan berbagai produk olahan ikan, sementara sarasehan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk memahami pentingnya konsumsi ikan bagi kesehatan. Di sisi lain, kader PKK se-Kota Semarang turut ambil bagian dalam lomba memasak ikan, yang memperkuat peran keluarga dalam membiasakan pola makan sehat di rumah.

Bagi pelaku usaha, kegiatan ini berdampak pada peningkatan penjualan dan perluasan pasar.
“Alhamdulillah, tadi kami bawa banyak produk dan sudah banyak yang terjual. Tinggal sedikit,” ujar Dwi Harmayanti, pelaku UMKM olahan ikan dari Muktiharjo Kidul.

Ia menyebut, kegiatan seperti ini membantu UMKM lebih dikenal sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk olahan ikan.

Selain itu, kegiatan ini juga memberi ruang pembelajaran bagi pelaku usaha.
“Acara seperti ini sangat bermanfaat, karena kami jadi tahu hal-hal yang sebelumnya belum kami ketahui,” ujar Sudirma, peserta dari Kecamatan Genuk.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Pemkot Semarang mendorong gerakan gemar makan ikan sebagai langkah konkret yang memberi dampak langsung bagi masyarakat. Mulai dari perubahan pola makan anak, penguatan peran keluarga, hingga terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat di Kota Semarang. ***

Masalah Kesehatan Jiwa dan Mental Anak Sudah Mengkhawatirkan, Gus Ipul: Negara Wajib Beri Perlindungan

Lingkar.co – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan masalah kesehatan jiwa dan mental pada anak serta remaja yang terjadi belakangan ini sudah mengkhawatirkan. Untuk itu, ia menilai negara wajib memberikan perlindungan sesuai mandat konstitusi.

“Artinya, perlindungan kesehatan jiwa anak bukan pilihan kebijakan, ini adalah kewajiban negara,” ujarnya.

Gus Ipul menyatakan hal tersebut saat mengikuti Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang membahas Sinkronisasi dan Koordinasi Pengendalian Pencegahan dan Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja di Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026). Rapat dipimpin oleh Menko PMK Pratikno dan diikuti 7 kementerian serta Polri.

Lebih jauh ia menerangkan, Mandat konatitusi yang dia maksud adalah Pasal 28 Ayat 2 UUD 1945, UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, serta PP Nomor 78 Tahun 2021 tentang Perlindungan Khusus Anak.

Gus Ipul juga memaparkan data yang dikompilasi dari WHO, UNICEF, Polri dan merujuk data nasional, sekitar 1 dari 7 anak dan remaja mengalami gangguan kesehatan jiwa serta lebih dari 50 persen gangguan kesehatan jiwa dimulai sejak usia 14 tahun.

Kemudian, lanjutnya, sekitar 1 dari 20 remaja di Indonesia menunjukkan gejala depresi. Satu dari tiga remaja menghadapi masalah kesehatan mental dimana hanya 26 persen yang mengakses konseling. Lalu, satu dari tujuh remaja mengalami kekerasan fisik, emosional, dan seksual.

Selain itu, 48 persen anak mengalami perundungan siber, dan 90 persen remaja online setiap hari menghadapi risiko eksploitasi digital yang meningkat. Bahkan, terjadi peningkatan kasus bunuh diri pada anak sebanyak 604 kasus saat 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024.

“Tentu angka-angka di atas bukan sekadar statistik, ini adalah alarm sosial, dan ini bukan hanya persoalan kebijakan, ini adalah mandat konstitusi,” katanya.

Lebih lanjut Gus Ipul mengungkapkan, berdasarkan hasil asesmen Kemensos, khususnya pada Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sekolah Rakyat menemukan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan jiwa berasal dari beragam latar belakang keluarga. Salah satu penyebabnya adalah kemiskinan ekstrem, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran atau konflik keluarga, dan anak putus sekolah atau bahkan belum pernah bersekolah.

“Dalam proses pembelajaran di Sekolah Rakyat, kami melihat dan menemukan anak dengan perilaku menyimpang, agresif, menarik diri, kecanduan gawai, dan depresi hampir selalu berasal dari keluarga yang bermasalah. Hasil asesmen kami, kesimpulannya sangat jelas, anak yang bermasalah, umumnya keluarganya bermasalah,” jelasnya.

“Artinya, jika kita hanya menangani anaknya, kita terlambat, dan kita harus memperbaiki ekosistem keluarganya,” sambungnya.

Oleh karena itu, ia menyampaikan, perlu adanya langkah bersama dari berbagai pihak untuk melakukan pencegahan. Di antaranya penguatan kontrol terhadap konten tidak ramah anak, literasi berbasis digital, pendampingan pengasuhan melalui pekerja social profesional, hingga penguatan keluarga sebagai benteng pertama kesehatan anak.

“Jika kita serius ingin menyelamatkan generasi muda, maka fase pencegahan harus menjadi arus utama,” ujarnya.

Sebagai informasi rapat ini dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Fauzi, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji, dan Irwasum Polri Komjen Wahyu Widada.

Rapat ini dilaksanakan untuk membahas mengenai pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa anak dan remaja. Sebab, beberapa waktu belakangan tren kasus kesehatan jiwa pada anak cukup meningkat. Usai pertemuan, seluruh menteri dan Irwasum menandatangani surat keputusan bersama untuk menangani persoalan kesehatan jiwa. (*)

Gigi Berlubang dan Batuk Pilek Dominasi saat Wapres Gibran dan Ahmad Luthfi Tinjau CKG Sekolah di Salatiga

Lingkar.co – Sejumlah penyakit ringan diketahui mendominasi saat pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN Ledok 05, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Pelaksanaan CKG di sekolah tersebut terasa istimewa.

Pasalnya, pelaksanaan CKG di sekolah itu ditinjau langsung Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada Jumat pagi, (7/11/2025).

Rombongan Wakil Presiden dan Gubernur tiba di lokasi sekira pukul 08.20 dan langsung mengecek praktik cek kesehatan gratis di ruang kelas.

Adapun pemeriksaan dilakukan oleh petugas dari Puskesmas Cebongan Kota Salatiga. Total ada 129 anak yang diperiksa kesehatannya di SDN Ledok 05 Kecamatan Argomulyo, Kota Semarang.

Petugas Puskesmas Cebongan, Erlinda Nerlini, mengatakan, pemeriksaan dilakukan sesuai dengan protap CKG dari Kementerian Kesehatan. Semua pemeriksaan diberikan sesuai dengan kriteria usianya, dari kelas 1-6. Juga pemberian imunisasi difteri tetanus kepada anak-anak kelas 1,2, dan 5.

Hasil pemeriksaan yang banyak ditemukan adalah kebersihan telinga, karies gigi yang berlubang, kemudian batuk-pilek karena sedang musimnya, serta radang amandel.

Dalam pemeriksaan itu juga di cek tekanan darah, melihat kecenderungan anak-anak sekarang yang banyak makan makanan instan.

“Kalau basic semua dapat pemeriksaan seluruh tubuh. Dada juga kita cek dari denyut jantungnya, kemudian perut apakah ada kelainan fungsi usus. Kita juga periksa tinggi dan berat badan, apakah anak obesitas atau kurus. Gaya hidup anak sekarang dengan makanan instan cenderung mengarah ke hipertensi,” jelasnya.

Erlinda menjelaskan, anak yang terindikasi kurus atau sangat kurus dan obesitas akan dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan edukasi mengenai gizi.

Program CKG tidak hanya menyasar masyarakat di pedesaan tetapi juga anak-anak usia 7 tahun ke atas di sekolah-sekolah. Hal ini untuk mengefektifkan deteksi dini masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak-anak sehingga dapat dilakukan langkah tindak lanjut dengan cepat.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, capaian CKG di Jawa Tengah sebanyak 10.878.489 jiwa. Kegiatan tersebut juga diintegrasikan dengan Program Speling (dokter spesialis keliling). Di mana Speling sampai 5 November 2025 sudah menjangkau 722 desa dengan total sasaran 73.813 jiwa.

Di samping itu, Speling juga sudah dilakukan di instansi pendidikan. Misalnya di Universitas Diponegoro dan beberapa perguruan tinggi lain yang sudah bekerja sama dengan Pemprov Jateng.

Di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kita sudah dilakukan di hampir seluruh sekolah yang ada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.

“Speling dan CKG di Jawa Tengah sudah 10 juta lebih masyarakat terlayani. Ini bentuk kehadiran negara untuk memberikan pelayanan kesehatan paripurna sampai tingkat desa,” kata Gubernur Ahmad Luthfi beberapa waktu lalu.

Terdapat 13 unit mobil layanan kesehatan terdiri atas 7 unit di RSUD Prov Jateng, 1 Unit di Dinkes Prov Jateng, 1 Unit milik Pemkab Cilacap, 1 Unit milik Pemkab Rembang, 1 Unit milik Pemkab Blora, 1 Unit milik Pemkab Wonogiri, dan 1 Unit di RS Mutiara Bunda Kab Brebes guna mendukung Speling dan CKG di Jawa Tengah.

Speling yang dilakukan di Jawa Tengah juga terintegrasi dengan program TB Express untuk skrining penyakit tuberkulosis yang menjadi prioritas nasional.

“Untuk TB, kita sudah periksa sekitar 5 juta masyarakat. Speling juga kami turunkan dokter spesialis paru,” ujarnya. (*)

Gus Shidqon: Kontribusi LKA Tegaskan Ansor Sebagai Pelayan Umat

Lingkar.co – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah, Dr. Muhammad Shidqon Prabowo mengatakan kontribusi Lembaga Kesehatan Ansor (LKA) Jawa Tengah dalam pengobatan gratis selama tiga hari ini menegaskan bahwa Ansor sebagai pelayan Umat (Khadimul Ummah).

Percepat Penyusutan Banjir Kaligawe, Pemprov Jateng Tambah 38 Pompa“Alhamdulillah baru dilantik Minggu kemarin sudah bisa berkontribusi pada masyarakat ini menegaskan bahwa Ansor sebagai pelayan umat,” kata Gus Shidqon, sapaan akrab Shidqon Prabowo saat meninjau pelaksanaan pengobatan gratis ini halaman kantor Kelurahan Kaligawe Kecamatan Gayamsari Kota Semarang, Kamis?-/11/2025).

Menurut dia, kegiatan Ansor tidak hanya sebatas untuk internal kader, dan juga tidak sebgas pelayanan kesehatan karena Ansor memang harus memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat.

“Tidak hanya kesehatan saja, tapi ada beberapa program yang memberikan dampak langsung atau nilai bahwa kami selalu berusaha hadir di tengah-tengah masyarakat,” tuturrnya

Dia berharap masyarakat mendoakan agar Ansor yang ada di Jawa Tengah bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat, “Jadi kami tiap Minggu muter di 35 kabupaten dan kota untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan itu pengejawantahan Ansor sebagai pelayan umat. Jadi mohon doanya semoga semua berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Sementara, Ketua LKA Jateng, dr. Muhammad Hayyi Wildani mengatakan, semua harus bangkit setelah melewati musibah banjir yang sudah mengering. Maka Ansor Jateng juga tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan tapi juga memberikan pelatihan petugas kesehatan.

“Tidak hanya muter untuk mengadakan kegiatan pemeriksaan kesehatan, tapi juga kita akan mengadakan pelatihan relawan kesehatan atau mempersiapkan masyarakat agar memiliki keterampilan medis dasar,” katanya.

Plt Lurah Kaligawe Sukiswo mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh GP Ansor Jateng dalam melayani masyarakat. Ia berharap kegiatan tersebut bisa berlanjut
Terima kasih kepada Ansor yang telah membantu kami merawat masyarakat terdampak banjir di kelurahan Kaligawe ini. Saya harap tidak hanya ini, tapi ada kegiatan lain lagi. Semoga Ansor bermanfaat,dan berkah untuk semua,” tuturnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat

Hindari Gangguan Konsentrasi, Jaga Kebersihan Telinga

Lingkar.co – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kendal, dr. Budi Mulyono mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan telinga karena gangguan pendengaran akibat kotoran dapat mengganggu konsentrasi siswa saat menerima pelajaran di kelas.

“Kalau telinganya penuh kotoran, otomatis kemampuan mendengar jadi terganggu. Kalau sudah begitu, anak akan kesulitan menyerap pelajaran,” jelas dr. Budi dalam kegiatan bakti sosial dalam rangka Hari Bakti ID di SD Negeri 1 Pidodo Kulon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Jumat (23/5/2025).

Kegiatan ini melibatkan puluhan dokter yang melakukan pemeriksaan dan pembersihan telinga siswa, sekaligus memberikan edukasi kesehatan secara gratis. Sebanyak 60 siswa dari berbagai kelas mendapat pelayanan dengan baik.

Selain pembersihan telinga, siswa juga diajarkan pentingnya menjaga kebersihan tubuh, seperti memotong kuku tangan dan kaki. Edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat juga diberikan oleh para dokter kepada para siswa secara interaktif.

Namun, kegiatan ini tidak lepas dari tantangan. Beberapa siswa terlihat ketakutan saat telinganya hendak dibersihkan. Enjel, siswi kelas 2, bahkan menangis karena merasa takut. Setelah diperiksa, ternyata kotoran dalam telinganya sudah mengeras, sehingga perlu dilunakkan terlebih dahulu dengan cairan khusus sebelum dibersihkan.

“Awalnya takut, tapi setelah disemprot dan dibersihkan rasanya jadi ringan,” ungkap Dian Ulha Ardian, siswa kelas 2 yang merasa senang karena telinganya bersih.

Aqilah, siswi kelas 4 juga menyatakan hal yang sama. Ia merasa senang mendapatkan pemeriksaan dan tahu cara menjaga kebersihan telinga.

Kegiatan bakti sosial ini berlangsung selama dua hari, Jumat dan Sabtu. Untuk hari kedua, IDI Kendal akan melanjutkan kegiatan dengan penanaman mangrove di kawasan pesisir Muara Kencana. Selain itu, akan ada pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian sembako bagi warga kurang mampu di sekitar lokasi.

Melalui kegiatan ini, IDI Kendal berharap dapat terus berkontribusi dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat, khususnya generasi muda sejak usia dini. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Bupati Arief Canangkan Target Sub PIN Polio di Blora 88.309 anak

Lingkar.co – Bupati Blora, H. Arief Rohman canangkan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) Polio di Kabupaten Blora, Senin (15/01). Secara simbolis orang nomor satu di Blora itu bersama dengan Bunda Paud, Ainia Shalichah, SH, M.Pd.AUD, M.Pd.BI meneteskan vaksin ke sejumlah anak di TK Pelangi Ceria, Kelurahan Jetis, Blora Kota.

Bersamaan dengan penacangan itu, penetesan vaksin Polio dilakukan diseluruh wilayah Kabupaten Blora. Baik di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, di Kelompok bermain,PAUD, TK, dan SD.

Diketahui, kegiatan tersebut sesuai arahan Kemenkes RI, setelah satu kasus anak terjangkit polio virus (Acute Flaccid Poralysis) terdeteksi di Kabupaten Klaten, baru-baru ini. Polio sendiri merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kelumpuhan/ kecacatan seumur hidup. Bahkan kematian.

“Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) Polio digelar serentak pada 15 Januari dan 19 Februari 2024, dengan penetesan noval Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2) pada anak-anak umur 0-7 tahun sebanyak 88.309 anak. Tanpa memandang status imunisasi sebelumnya,” papar Bupati Arief.

Kepada seluruh jajaran Dinas Kesehatan Blora, terutama tenaga-tenaga di lapangan yang memberikan layanan vaksin polio saat ini, Bupati mengucapkan terimakasih dan apresiasi. Termasuk ucapkan terimakasih kepada jajaran Dinas Pendidikan yang menyediakan jadwal untuk pelayanan di sekolah-sekolah.

Juga kepada TP PKK dan kader-kader Posyandu yang ada di desa/ kelurahan yang mendukung pelaksanaan Sub PIN Polio di desa/ kelurahan.

“Dengan sinergi yang sangat baik ini semoga harapan kita untuk mencapai tingkat partisipasi hingga 95%, bahkan 100% dapat terwujud. Tentunya hal ini untuk membentuk imunitas anak-anak pada usia tersebut,” imbuhnya.

Mas Arief sapaan akrab Bupati menekanan bahwa imunisasi pada Sub PIN polio ini gratis. Untuk itu ia meminta partisipasi aktif dari masyarakat Kabupaten Blora. “Orang tua cukup membawa anaknya ke Puskesmas/ Puskesmas Pembantu, Posyandu, TK/PAUD/SD/MI, dan pos imunisasi lainnya di bawah koordinasi Puskesmas.

Bupati Arief Canangkan Target Sub PIN Polio di Blora 88.309 anak. Foto: dokumentasi

Minta TNI/Polri Ikut Bantu

Bupati meminta agar TNI/ Polri juga ikut membantu dalam pelaksanaan vaksin polio ini sehingga target 95 persen bisa tercapai. ” InsyaAllah, dengan peran aktif kita dalam memberantas polio, akan membentuk generasi penerus Blora yang sehat dan kuat untuk mendukung pembangunan di Kabupaten Blora,” tambahnya.

Sementara itu, terpisah Kepala Dinkes Blora Edi Widayat, S.Pd, M.Kes., MH mengatakan, pemberian imunisasi akan dilakukan dua tahap. Putaran pertama dimulai 15 Januari 2024, dan putaran kedua mulai 19 Februari 2024.

“Guna mencegah persebaran polio, Sub PIN polio tiga provinsi yaitu Jateng, DIY, dan Jatim diwajibkan memberikan imunisasi polio. Hal ini karena ditemukannya kasus polio di Klaten dan Pamekasan. Target imunisasi tersebut adalah anak-anak usia 0-7 tahun, tanpa melihat status vaksinasi sebelumnya,” jelasnya.

Dikemukakan, Sub PIN Polio akan diberikan melalui oral (mulut) dengan menggunakan jenis vaksin noval Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2). Di Kabuupaten menyasar sekitar 88.309 dengan kebutuhan vaksin dua kali putaran 4.168 vial.

Harapannya, lanjut Edy Widayat, imunisasi akan mengurangi risiko penyebaran atau kejadian luar biasa (KLB) Polio. Dengan target tingkat partisipasi hingga 95 persen, nantinya akan membentuk imunitas anak-anak usia dini agar tidak terjangkit penyakit yang bisa menyebabkan kelumpuhan dan menyerang otot syaraf.

Kepada masyarakat dihimbau untuk tidak panik. Namun demikian Kepala Dinkes Edy minta warga harus tetap melakukan penerapan hidup bersih dan sehat (PHBS). Tidak BAB sembarangan, cuci tangan sebelum makan, dan imunisasi polio. Imunisasi dasar lengkap disediakan pemerintah dan gratis. (Adv)

Survey Status Gizi Indonesia: Prevalensi Balita Stunting Kendal Peringkat 8 di Jawa Tengah, Tertinggi di Kecamatan Ini

Lingkar.co – Kepala Bidang KSPK DP2KBP2PA Kabupaten Kendal, Sudarni, SSos, MM mengungkapkan, prevalensi Balita Stunting Kabupaten Kandal berdasarkan SSGI (Survey Status Gizi Indonesia) tahun 2022 adalah 17,5 persen. Kabupaten Kendal berada di urutan ke 8 dari 35 Kab/Kota se-lawa Tengah.

“Indonesia di 2024 harus mencapai 14 persen, jadi kita masih punya PR (Pekerjaan Rumah) 3,5 persen. Sedangkan di Jawa Tengah prevelensi stunting 20,8 persen,” katnya saat memberikan sosialisasi tekait stunting di kantor Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Senin (23/10/23).

Ia merinci, dari 20 kecamatan se Kabupaten Kendal, wilayah Kangkung menjadi yang paling banyak menyumbang angka stunting dengan angka prevelensi 20,44 persen atau 477 kasus. Sedangkan yang terendah ada di kecamatan Kaliwungu dengan 5,43 persen atau 160 kasus.

Oleh karena itu, pihaknya berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, KUA, Pengadilan Agama, hingga penyaluran CSR Perusahaan untuk intervensi anak stunting dengan pemberian makanan tambahan.

Sudarni juga menerangkan, beberapa inovasi percepatan penurunan stunting dilakukan seperti SEBUNTING (Sedekah Bulanan Penanganan Stunting). Diberikan untuk sasaran Audit Kasus Stunting (AKS) Sudah terlaksana di DP2KBP2PA, dan beberapa Kecamatan.

Kemudian ada Gerakan SEDULUR (Sehari Dua Telur) Gerakan secara massif dimulai dari TPPS Kabupaten, Kecamatan Desa/kelurahan dalam mengintervensi bersama untuk baduta stunting.

“Selain itu ada Inovasi Program ‘Joko Ting-Ting’ (Jogo Tonggo Kasus Stunting) Pendampingan pengasuhan tetangga secara bergantian terhadap anak dengan kasus stunting yang tidak bisa diasuh oleh orang tua /keluarga

Kemudiam ada Program Joko Ting-Ting juga mendampingi pengawasan pemberian PMT dengan memastikan PMT terasup oleh sasaran dan Kolaborasi bersama seluruh Perguruan Tinggi Kesehatan di Kabupaten Kendal, Organisasi Profesi, kemasyarakatan dan Organisasi.

“Program Bapak/Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) dan CSR stunting secara massif dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Dr. Ir. Dyah Siti Sundari, M.M. selaku Widyaiswara BKKBN Provinsi Jawa Tengah mengajak masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat dan menghindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya stunting. (*)

Penulis: Wahyudi
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat

Dinkes Blora Ajak Masyarakat Kenali Gejala Diabetes Pada Anak

Lingkar.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora mengajak seluruh masyarakat, khususnya orang tua untuk mulai bisa mengenali gejala-gejala diabetes melitus (DM) pada anak. Karena deteksi dini akan membantu upaya perawatan ke depannya.

Kepala Dinkes Blora, Edy Widayat melalui spesialis anak RSUD dr. R Soetijono, dr Ivan Veriswan, SpA, merangkan, gejala pada anak biasanya hampir mirip dengan yang dialami orang dewasa, tapi yang utama ada gejala klasik.

“Dimana anak merasa haus, sering ingin kencing, mengompol dan sering ganti popok, dan yang ketiga senang makan. Itu gejala klasiknya,” ungkapnya kepada Lingkar.co, Sabtu (18/2/2023).

Menurutnya, diabetes pada anak umumnya karena faktor keturunan atau bawaan. Ia menyebut hal itu dengan diabetes tipe 1 yang bisa terjadi pada siapa saja, untuk tipe 1 pada anak biasanya terjadi pada usia 7-12 tahun. Berbeda dengan diabetes tipe 2 yang biasanya dialami oleh orang dewasa.

“Dan diabetes anak terjadi karena adanya gangguan fungsi pankreas yang membuatnya tidak mampu menghasilkan insulin yang cukup. Selain itu juga biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan,” ujarnya

Bahkan, lanjutnya, anak yang mengidap penyakit tersebut harus bergantung pada suntikan insulin setiap hari. Langkah tersebut harus diambil untuk mengontrol kadar gula darah.

“Gambaran klinis diabetes pada anak yaitu klasik yang sering ditemui dengan gejala banyak makan dan minum serta sering kencing,” sebutnya.

“Yang kedua adalah silent diabetes. Jarang ditemui dan biasanya diketahui saat pemeriksaan sebelum operasi. Yang ketiga dan berbahaya, bisa menyebabkan kematian adalah ketoasidosis diabetik,” paparnya.

Oleh sebab itu, dr. Ivan berpesan kepada para orang tua, jika anaknya mengalami gejala-gejala seperti yang dia sebutkan agar segera memeriksakan ke dokter untuk memastikan kondisi anak.

“Imbauan pada orang tua, yakni tetap sama, kenali gejala DM, bila ada keluhan yang menyerupai tanda kencing manis, harap segera diobati, karena sering pasien terlambat datang dan sudah dalam kondisi berat, misal: koma ketoasidosis diabetikum,” bebernya.

Karena, kata dr. Ivan, penyakit tersebut belum dapat disembuhkan. Maka pasien bisa melakukan beberapa pengobatan seperti terapi insulin, meminum beberapa jenis obat tertentu, dan menerapkan pola hidup sehat.

“Langkah yang dilakukan mirip dengan dewasa, kenali gejala DM mulai dari sering BAK, badan cepat kurus dan lain-lain. Hanya saja untuk DM tipe 1, pengobatannya memakai terapi pengganti insulin. Bila DM tipe 2 sama dengan dewasa, walau sangat jarang pada anak-anak,” tutupnya. (*)

Penulis: Lilik Yuliantoro
Editor: Ahmad Rifqi Hidayat