Arsip Tag: Pertanian

Dukung Pengembangan Pertanian Jepara, Normalisasi Sungai di Pecangaan Dipercepat

Lingkar.co – Bupati Jepara Witiarso Utomo, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jepara akan mempercepat normalisasi sungai di sejumlah desa untuk mendukung sektor pertanian di Kecamatan Pecangaan.

Menurutnya, penanganan sungai sangat penting, agar lahan pertanian dapat kembali produktif dan petani bisa berproduksi optimal pada tahun depan.

“Pada kegiatan ngantor di desa kali ini banyak persoalan terkait normalisasi sungai. Ini akan kita tindaklanjuti supaya petani bisa kembali berproduksi dan panen meningkat,” jelasnya saat Ngantor di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Selasa (23/12/2025).

Disampaikan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), untuk mempercepat penanganan. Jika proses administrasi dinilai terlalu lama, pihaknya siap mengambil langkah percepatan, melalui kolaborasi pendanaan.

“Kalau memang terlalu lama, nanti kita komunikasikan. Bisa kita instruksikan dengan iuran bersama, misalnya alat dari Pemkab Jepara, BBM dari BBWS, atau sebaliknya. Ini sangat urgen dan harus segera ditindaklanjuti secara cepat, agar petani bisa panen,” tegas Mas Wiwit, sapaan akrabnya.

Selain sektor pertanian, pengembangan tenun Troso juga menjadi perhatian. Dia menyebut, Pemkab Jepara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) akan mengembangkan kembali Troso, sebagai kawasan wisata berbasis industri kreatif tenun.

“Tenun Troso akan kita kembangkan kembali. Kita dorong Disparbud untuk menghidupkan kembali wisata ke Troso,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, bupati juga menyampaikan terkait progres pembangunan fasilitas Pendidikan, yakni Sekolah Rakyat (SR) yang saat ini tengah dibangun di wilayah Pakisaji. Rencananya, pada Agustus tahun depan, bangunan bisa digunakan dan aktivitas pembelajaran bisa dimulai.

“Pembangunan sudah berjalan, dengan anggaran kurang lebih Rp200 miliar. Nantinya diperuntukkan bagi sekitar 1.000 siswa, terdiri dari 600 siswa SD, serta sisanya dari jenjang SMP dan SMA,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, fasilitas tersebut diprioritaskan bagi peserta didik dari keluarga desil 1 dan 2, termasuk untuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jepara. Menurutnya, program dari pemerintah pusat ini menjadi bagian dalam mendukung upaya Pemkab Jepara, memperkuat akses pendidikan yang merata dan berkelanjutan. (*)

Sebrangi Lautan ke Cilacap, Pemkab Pringsewu Belajar Kembangkan Susu Etawalin

Lingkar.co – Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung rela menyeberangi dari pulau Sumatra ke Jawa untuk belajar mengembangkan susu kambing etawa. Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas bersama rombongan ingin mendalami inovasi pembangunan daerah di bidang swasembada pangan serta pengembangan potensi sektor pertanian dan peternakan.

Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, menyambut baik kehadiran rombongan dari Pemkab Pringsewu di Ruang Prasanda Rumah Dinas Bupati, Selasa (23/12/2025).

“Saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Bupati Pringsewu, Bapak H. Riyanto Pamungkas, beserta rombongan atas kehadirannya di Kabupaten Cilacap,” kata Syamsul mengawali pembicaraan.

“Kami itu Kabupaten yang paling ujung barat selatan Jawa Tengah. Kita yang terkenal adalah Pulau Nusakambangannya. Total luas wilayah kita sekitar 1.200an KM² sudah termasuk Nusakambangan. Kemudian jumlah penduduk kita 2.066.000, atau 5 kali lipatnya Kabupaten Pringsewu,” sambungnya.

Bupati berharap, kunjungan kerja tersebut bisa mempererat hubungan dan sinergi antarpemerintah daerah, serta saling bertukar gagasan, pengalaman, dan inovasi dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah.

Syamsul lantas menyampaikan rencana Pemkab Cilacap untuk mengembangkan pabrik susu menjadi sentra peternakan dan produksi susu.

“Kebetulan kita sedang mencanangkan untuk menjadi sentra peternakan terkait pabrik susu Etawalin karena kita bisa direct langsung sampai dengan Australia untuk impor susu sapi. Saya juga mendorong beberapa investor yang tertarik membangun pengolahan susu di Cilacap karena kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis jika terus berlanjut tentunya cukup besar,” ujarnya.

Sementara Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, menyebut bahwa kunjungan ke Cilacap merupakan agenda krusial dalam rangkaian roadshow timnya. Salah satu fokus utamanya adalah belajar lebih dalam tentang hilirisasi produk susu kambing yang telah berkembang di Cilacap, khususnya di Kecamatan Kroya.

“Kami ingin berkunjung ke salah satu pabrik susu yang ada di Cilacap, karena kami menjumpai banyak peternak di Kabupaten Pringsewu yang masih kesulitan bagaimana menjual susu kambing di sana,” ungkap Riyanto.

Selain sektor peternakan, Riyanto juga mengaku tertarik mendalami tata kelola pemerintahan di Cilacap, khususnya terkait pengelolaan ASN yang berjumlah besar.

Menurut dia, Pringsewu yang memiliki karakteristik masyarakat agraris dengan mayoritas penduduk asal Jawa memerlukan referensi pembangunan yang aplikatif seperti yang diterapkan di Cilacap.

“Insya Allah ini sebagai awal kulonuwun kami untuk bisa ngangsu ilmu ke Kabupaten Cilacap, mungkin kedepan nanti dari OPD-OPD teknis terkait bisa menindaklanjuti apa yang kita obrolkan hari ini,” tuturnya.

Kunjungan ini diharapkan menghasilkan langkah strategis dan kerja sama konkret antar-kedua pemerintah daerah, terutama dalam pengembangan komoditas unggulan dan peningkatan kesejahteraan petani melalui inovasi yang berkelanjutan. (*)

Gelar Anugerah Insan Pertanian 2025, Jateng Pamer Potensi Pertanian dan Gandeng Generasi Muda

Lingkar.co – Untuk mengangkat sektor pertanian agar lebih bergengsi dan berdaya ekonomi tinggi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menggelar Anugerah Insan Pertanian 2025.

Ajang itu juga menjadi momentum menunjukkan kemampuan pertanian Jateng, dalam memasok kebutuhan pangan nasional.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, ajang tersebut bertujuan menggugah minat generasi muda untuk melirik sektor pertanian. Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi beragam komoditas unggulan.

“Ini karena kami ingin membangun semangat anak-anak muda, bahwa pertanian merupakan peluang besar untuk mendapatkan pendapatan yang lebih,” ujarnya, di Balairung Hotel Novotel Semarang, Kamis (27/11/2025) malam.

Frans, sapaannya, menjelaskan, pertanian modern menghadapi tantangan penyempitan lahan. Namun, perkembangan teknologi mampu meningkatkan hasil pertanian.

Hal itu terlihat dari prognosa produksi padi di Jateng pada 2025, yang diperkirakan naik. Berdasarkan Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik, produksi Gabah Kering Panen (GKP) hingga Desember 2025, diprediksi mencapai 11.362.870 ton atau setara 9.384.982 ton Gabah Kering Giling (GKG).

Sementara prognosa produksi jagung Jawa Tengah pada periode Januari–Desember 2025 mencapai 3.869.168 ton, meningkat dari 3.282.384 ton pada 2024.

“Kita mengalami peningkatan 493.684 ton dibanding periode yang sama pada 2024, yang mencapai 8.891.297 ton GKG. Kami yakin dengan potensi ini, Jateng bisa menjadi andalan menjaga stabilitas ketersediaan beras, makanan pokok masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Berbagai strategi diterapkan untuk menggenjot produksi padi 2025, antara lain penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, bantuan irigasi, serta adopsi teknologi pertanian.

“Anak-anak muda menguasai teknologi, sehingga sistem pertanian dengan mekanisasi dan teknologi lebih cepat mereka kuasai dan terapkan. Sekarang banyak yang sudah menggunakan drone dan teknologi lainnya,” tutur Fransisco.

Pada ajang itu dibagi menjadi beberapa kategori, seperti petani milenial, pendamping petani, kelompok tani perkebunan petani, produsen benih terbaik, dan daerah, dengan kenaikan indeks pertanian pertanaman padi tertinggi.

Petani Milenial asal Bedono, Maresti Mei Yuniasih, mengaku bangga meraih Juara 1 Komoditas Kopi. Dunia yang ia geluti sejak 2019 itu, kini kian menjanjikan dari sisi ekonomi.

Ia berharap dengan prestasinya, dapat memunculkan lebih banyak petani milenial lain.

“Sekarang banyak anak muda gemar kopi. Dulu harga green bean hanya Rp17.000 dijual ke tengkulak. Tahun ini bisa Rp75.000 untuk biji kopi biasa, sedangkan kopi petik merah sudah mencapai Rp100.000,” ungkap pemilik Kelir Javanese Coffee itu. (*)

Pemprov Jateng Fokus Wujudkan Swasembada Pangan pada 2026, Simak 14 Program Penunjangnya

Lingkar.co – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) akan fokus untuk mewujudkan swasembada pangan pada APBD tahun 2026. Hal itu, kata dia, untuk meneguhkan provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Yasin dalam rapat paripurna bersama DPRD Jateng dengan agenda Penjelasan Gubernur atas Raperda Rancangan APBD 2026 dan Nota Keuangannya, di Gedung Berlian Kota Semarang, pada Senin, (24/11/2025).

“Dari program tersebut, struktur rancangan APBD Tahun Anggaran 2026 yakni Pendapatan Daerah sebesar Rp23,74 triliun, Belanja Daerah Rp24,15 triliun, dan Pembiayaan Daerah Rp414,5 miliar,” kata Taj Yasin.

Untuk mewujudkan swasembada pangan, Pemprov Jateng akan melakukan berbagai upaya, antara lain peningkatan produktivitas sektor pertanian, peternakan, pangan, kehutanan, kelautan dan perikanan. Selain itu penguatan infrastruktur yang mendukung kontinuitas produksi pangan.

“Serta penguatan pengendalian harga pangan untuk menjamin aksesibilitas pangan,” kata Taj Yasin.

Pun demikian, lanjut dia, Pemprov Jateng tetap memperhatikan keselarasan prioritas pembangunan nasional yang ditetapkan untuk tahun 2026.

Adapun untuk mewujudkan Jateng sebagai penumpu pangan nasional, setidaknya ada 14 program dan kegiatan penunjang yang akan dilaksanakan pada 2026, antara lain;

  1. Penyaluran benih, pupuk, serta sarana dan prasarana pertanian.
  2. Penyediaan bibit dan pakan ternak benih untuk inseminasi, buatan serta dukungan pembudidayaan perikanan.
  3. Rehabilitasi jaringan irigasi.
  4. Rehabilitasi pelabuhan.
  5. Premi asuransiuntuk petani dan nelayan.
  6. Penyediaan cadangan pangan pemerintah serta subsidi bahan pangan guna stabilisasi harga pangan, penanganan daerah lahan pangan, stunting dan kemiskinan.
  7. Melakukan pelatihan dan pendampingan usaha di bidang pangan.
  8. Memberikan fasilitasi distribusi pangan melalui kios pangan murah.
  9. Penyaluran stimulan alat pengolah pangan lokal.
  10. Penyaluran permodalan kepada kelompok usaha bersama dan perorangan.
  11. Edukasi ketahanan pangan
  12. Rehabilitasi hutan dan lahan.
  13. Penanaman dan pemberian bibit tanaman keras untuk masyarakat di sekitar hutan.
  14. Pemeliharaan daerah aliran sungai. (*)

Dari Pendidikan hingga Pertanian, PWNU Jateng Hadirkan Makna Substantif Peringatan Hari Santri Nasional 2025

Lingkar.co – Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin mengajak seluruh warga nahdliyin untuk menjadikan Hari Santri Nasional 2025 sebagai momentum memperkuat prestasi, bukan sekadar euforia perayaan.

Hal itu ia sampaikan dalam pembukaan rangkaian puncak Hari Santri 2025 PWNU Jateng di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis (23/10/2025).

“Sudah saatnya Hari Santri kita rayakan dengan penuh makna, bukan hanya dengan keramaian. Tahun ini, kita rayakan dengan meneguhkan prestasi dan pencapaian yang telah kita hasilkan bersama,” ungkap Gus Rozin sapaannya.

Gus Rozin menjelaskan, dalam satu setengah tahun terakhir, PWNU Jawa Tengah bersama lembaga dan banomnya telah melakukan berbagai terobosan strategis di bidang pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah kerja sama LP Ma’arif PWNU Jateng dengan 39 perguruan tinggi di Tiongkok, yang membuka peluang beasiswa bagi siswa-siswa Ma’arif.

“Insya Allah semester depan, 20 siswa Ma’arif akan diberangkatkan ke Tiongkok untuk melanjutkan studi. Ini menjadi bukti nyata bahwa NU Jawa Tengah tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus memperluas jejaring pendidikan hingga ke tingkat global,” terang pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati ini.

Selain di bidang pendidikan, Gus Rozin juga menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Ia menilai, santri dan warga NU harus kembali menoleh ke sektor pertanian sebagai basis kekuatan bangsa.

“Sekarang ini, pemenang peradaban bukan lagi yang menguasai energi, melainkan yang menguasai pangan. Karena itu, NU harus kembali meneguhkan peran di bidang pertanian. Dengan dukungan pemerintah daerah dan semangat warga NU, kita bisa menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini dirancang lebih substantif. Selain bazar UMKM yang dari NU, pesantren maupun warga Semarang, malam ini ada Ngaji Bandongan bersama Gus Kautsar dan KH Ahmad Chalwani. Kemudian besok digelar pelatihan pertanian organik yang insyaallah akan diisi oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta konsolidasi pesantren se-Jawa Tengah yang akan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Basnang Said untuk menguatkan peran pesantren menghadapi isu-isu aktual. Kemudian resepsi puncaknya ada jalan sehat santri yang bertabur hadiah, ada sepeda motor hingga umroh gratis.

“Bagi NU, UMKM dan pesantren adalah dua pilar penting. Mayoritas warga kita hidup dari sektor usaha kecil, pertanian, dan pendidikan. Karena itu, acara ini menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dan menampilkan hasil karya,” jelasnya.

Acara pembukaan turut dihadiri Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha, yang menyampaikan apresiasi atas peran aktif PWNU Jawa Tengah dalam mendukung kemajuan daerah.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Semarang, kami berterima kasih kepada PWNU Jateng. Melalui kegiatan Hari Santri ini, masyarakat kami sangat terbantu, terutama lewat bazar UMKM yang memasarkan produk-produk lokal. Ada juga pelatihan pertanian yang memberi manfaat langsung bagi para petani,” kata Ngesti.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan NU terus berlanjut. “Semoga kerja sama ini terus memberi manfaat untuk kemajuan Kabupaten Semarang dan kesejahteraan masyarakatnya,” tandasnya.

Untuk diketahui rangkaian resepsi puncak peringatan Hari Santri 2025 ini digelar selama 3 hari, mulai Kamis-Sabtu (23-25/10/2025) bertempat di Stadion Pandanaran Wujil, Bergas Semarang. (*)

Pertanian Sektor Penting Ketahanan Pangan, Niken Minta Pemerintah Beri Perhatian dan Ruang untuk Petani Muda

Lingkar.co – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Niken Mayasari, mengatakan, profesi petani masih dianggap sebelah mata oleh kalangan muda, karenanya banyak yang lebih memilih bekerja di sektor lain seperti karyawan perkantoran, buruh pabrik dan bidang jasa lainnya.

“Banyak generasi muda yang menganggap profesi petani tidak menarik. Mereka lebih memilih menjadi karyawan atau bekerja di bidang lain. Padahal, pertanian adalah sektor penting yang menyangkut ketahanan pangan bangsa,” ujar Niken dalam keterangan tertulisnya,, Kamis (16/10/2025).

Ia juga menyampaikan hal itu dalam kegiatan reses masa sidang pertama tahun anggaran 2025–2026 di Dusun Ragem, Desa Tambakselo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Rabu (15/10/2025).

Menurut wakil rakyat dari daerah pemilihan Grobogan dan Blora ini, pertanian bisa menjadi profesi yang menjanjikan apabila pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi, memberikan perhatian lebih dan ruang yang luas bagi para petani muda.

“Harapan kami, pemerintah dapat mendorong agar profesi petani menjadi profesi yang menarik, modern, dan memberikan masa depan yang cerah bagi generasi muda,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Niken juga mengapresiasi munculnya inisiatif Petani Muda Kreatif di wilayah Wirosari. Ia menilai gerakan tersebut menjadi bukti bahwa anak muda memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif di sektor pertanian melalui inovasi dan kreativitas.

Sementara itu, salah satu peserta reses, Supriyono, menyampaikan keinginannya agar pemerintah memberikan kesempatan lebih besar bagi petani muda untuk berinovasi dan mengembangkan usaha pertanian.

“Kami ingin diberi ruang dan dukungan untuk menciptakan hal-hal baru yang baik bagi pertanian. Anak muda banyak ide, tinggal bagaimana diberi kesempatan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Niken menyatakan komitmen dirinya menindaklanjuti aspirasi tersebut dan memperjuangkan agar program-program pertanian di Jawa Tengah ke depan lebih berpihak pada generasi muda.

“Keberlanjutan pertanian hanya bisa terwujud jika regenerasi petani berjalan dengan baik,” tegasnya.

Kegiatan reses yang dilakukan Niken Mayasari ini merupakan satu dari beberapa rangkaian kegiatan reses yang akan berlangsung sejak tanggal 13 hingga 20 Oktober 2025 mendatang dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat luas. (*).

Terima Pengurus Himpunan Tani Merdeka, Ini Pesan Ahmad Luthfi

Lingkar.co – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta sebuah organisasi tani tidak boleh berhenti pada pembentukan kepengurusan semata, melainkan harus memiliki road map kerja yang jelas.

“Kalau hanya bikin pengurus tapi tidak punya road map kerja, untuk apa. Intinya harus bisa mengurangi kemiskinan,” tegas Ahmad Luthfi saat menerima audiensi pengurus Himpunan Tani Merdeka Jawa Tengah, di kantor Gubernur, Rabu, 1 Oktober 2025.

Ia menegaskan, arah kerja bersama antara pemerintah daerah dan organisasi petani harus berdampak langsung ke masyarakat. Contohnya fokus pada reduksi kemiskinan di Jawa Tengah.

“Nanti lapor ke Mas Dar (Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono) bahwa tugas kita (Tani Merdeka Jawa Tengah) adalah mereduksi kemiskinan di Jateng,” imbuhnya.

Menanggapi arahan tersebut, Dimas, seorang petani muda anggota Organisasi Tani Merdeka, menyampaikan telah menyiapkan peta jalan sebagaimana diarahkan Gubernur.

“Terutama yang sejalan dengan Mas Dar yaitu terkait Alsintan. Tetapi pada umumnya Insya Allah dampaknya akan terasa pada penurunan angka kemiskinan dan penguatan ekonomi. Mudah-mudahan bisa kami lakukan secepatnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Luthfi juga menegaskan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional, bisa terus memperkuat produktivitas dan distribusi hasil pertanian agar dapat berkontribusi signifikan dalam penurunan angka kemiskinan maupun stunting.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2024 persentase penduduk miskin di Jawa Tengah tercatat 9,58 % atau sekitar 3,40 juta jiwa. Angka ini menurun dibandingkan Maret 2024 yang masih berada di level 10,47 % dengan jumlah penduduk miskin 3,70 juta jiwa. Garis kemiskinan provinsi saat ini berada di Rp 521.093 per kapita per bulan, dengan komposisi kebutuhan makanan mencapai 75,36 %.

Selain itu, isu stunting juga menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Data DP3AP2KB Jawa Tengah menunjukkan prevalensi stunting balita pada 2023 sebesar 20,7 %, turun tipis dari 20,8 % pada 2022. Meski ada penurunan, angka ini masih memerlukan percepatan intervensi lintas sektor, termasuk dari sektor pertanian yang berkaitan dengan pangan.

Sektor pertanian sendiri masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pedesaan Jawa Tengah. Menurut laporan Indikator Utama Pertanian 2023 yang dirilis BPS, subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan menjadi penopang utama kehidupan ekonomi desa. (*)

Sekda Jateng Minta Semua Pihak Lindungi Lahan Sawah untuk Ketahanan Pangan Nasional

Lingkar.co – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno meminta komitmen kepada semua pihak untuk melakukan perlindungan terhadap lahan sawah di wilayahnya, guna menopang ketahanan pangan nasional.

Hal itu disampaikan dalam pembukaan acara Jambore Nasional I Jamaah Tani Muhammadiyah (Jamnas I Jatam) di Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo), Sabtu (20/9/2025).

Memang, lanjut dia, beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah telah menetapkan lahan sawah yang dilindungi melalui Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah. Namun, tanpa komitmen kolektif, keberadaan lahan produktif ini bisa terancam oleh alih fungsi lahan.

“Sawah-sawah yang kita miliki harus benar-benar dijaga. Ini bukan hanya soal pertanian, tetapi menyangkut keberlanjutan pangan kita bersama,” ujarnya.

Selain lahan, Sumarno juga menyoroti mengenai sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya air yang menjadi daya dukung sektor pertanian. Karena itu, ia mengapresiasi Muhammadiyah yang mendorong peningkatan kualitas SDM pertanian melalui Jatam.

“Kami berterima kasih kepada Muhammadiyah yang memberi perhatian serius pada sektor pertanian. Dengan SDM yang unggul, tantangan pangan bisa kita hadapi bersama,” tambahnya.

Di sisi lain, sumber daya air juga menjadi tantangan. Walaupun secara neraca Jawa Tengah memiliki potensi besar, beberapa wilayah masih mengalami kekurangan air. Oleh karenanya, dukungan Kementerian Pertanian dalam hal irigasi dinilai sangat membantu.

Ia berharap, kepedulian terhadap lahan pertanian, SDM, dan kelestarian lingkungan bisa memperkuat kedaulatan pangan bangsa.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan, Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap agenda swasembada dan kedaulatan pangan melalui langkah-langkah progresif—mulai dari perbenihan, irigasi, harga gabah, hingga distribusi. Bahkan, sejak 2010, Muhammadiyah telah menggarap program pertanian di berbagai daerah.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menekankan akan memastikan penyaluran pupuk maupun bantuan pertanian disederhanakan agar langsung menyentuh gapoktan.

“Prinsip kami sederhana: makin cepat makin bagus. Efisiensi anggaran diarahkan ke prioritas seperti irigasi, jalan usaha tani, dan perbaikan sarana,” tegasnya.

Sebagai informasi, Jamnas I Jatam digelar selama tiga hari mulai 19 sampai 21 September 2025, diikuti lebih dari 500 peserta perwakilan Jatam se-Indonesia. Acara ini akan dilakukan di dua venue utama, yaitu di Unimugo dan Pendopo Kabupaten Kebumen.

Selain itu ada pula Jatam Expo dan Bazar yang diikuti kurang lebih 93 stand dari berbagai institusi, baik dari kampus, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Wilayah, Daerah, bahkan sampai Cabang, dan lainnya. (*)

Fraksi PPP DPRD Purworejo Menilai RAPBD 2026 Belum Berpihak ke Petani

Lingkar.co – Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Kabupaten Purworejo menyoroti kecilnya alokasi anggaran sektor pertanian dalam Rancangan APBD 2026.

Padahal, pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Purworejo yang dikenal sebagai lumbung pangan Jawa Tengah bagian selatan.
Juru Bicara Fraksi PPP, KH Akhmat Tawabi S.Sos.I, dalam rapat paripurna DPRD dengan agenda Pemandangan Umum Fraksi terhadap Raperda APBD 2026, Kamis (18/9/2025), menyampaikan bahwa 65 persen wilayah Purworejo adalah lahan pertanian.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, luas lahan pertanian di Purworejo mencapai 67.290 hektare, terdiri atas 35.210 hektare lahan sawah dan 32.080 hektare lahan kering atau tegalan.

“Dengan luas lahan sebesar itu, tentu diperlukan anggaran yang cukup sebagai bentuk keberpihakan kita kepada masyarakat petani. Anggaran yang kecil menunjukkan pemerintah belum menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas, padahal mayoritas penduduk Purworejo adalah petani,” tegas Tawabi.

Ia menambahkan, Fraksi PPP memahami kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami efisiensi, sehingga ada pemangkasan sejumlah pos belanja. Namun, pihaknya berharap anggaran pertanian tidak dipangkas terlalu besar.

“Ini jelas bertolak belakang dengan visi dan misi Bupati Hj Yuli Hastuti dan Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi, yakni Sejahtera Petanine. Jika anggaran pertanian terus ditekan, bagaimana mungkin kesejahteraan petani bisa tercapai?” pungkasnya. ***

Penulis : Lukman Hakim

Tingkatkan Hilirisasi Perkebunan di Jateng, Kementan Siap Gelontorkan Rp 135 Miliar

Lingkar.co – Kementerian Pertanian (Kementan) RI akan meningkatkan hilirisasi sektor perkebunan di Provinsi Jawa Tengah. Kementan akan fokus pada perluasan lahan dan produktivitas tiga komoditas unggulan yaitu tebu, kopi, dan kelapa.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementan RI, Abdul Roni Angkat, mengatakan, salah satu program Presiden Prabowo Subianto adalah hilirisasi perkebunan. Kementan akan memberikan bantuan anggaran yang diperuntukkan bagi beberapa komoditas unggulan seperti tebu, pala, jambu mete, kakao, kopi, dan kelapa.

“Khusus Jawa Tengah setelah mapping kita alokasi Rp 135 miliar. Salah satunya untuk tebu dengan kawasan seluas 11 ribu hektare,” kata Abdul Roni usai menemui Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Kantor Gubernur, Kota Semarang, Rabu, 10 September 2025.

Dijelaskan, program itu akan dimulai September dan harus selesai awal Desember 2025. Provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Tengah harus bisa menuntaskan kawasan perkebunan unggulan dalam waktu kurang lebih dua bulan.

“Gubernur Ahmad Luthfi sangat support sekali untuk mengawal ini, terutama untuk (mengawal) kawan-kawan kabupaten/kota,” kata Roni.

Komoditas tebu menjadi salah satu prioritas karena selama ini kebutuhan gula konsumsi dan industri atau rafinasi nasional masih kurang. Secara nasional kebutuhan gula konsumsi masih kurang sekitar 500 ribu ton, sedangkan gula industri masih kurang sekitar 4-5 juta ton. Guna mencukupi kebutuhan gula konsumsi itu, dibutuhkan penambahan luas perkebunan tebu sekitar 100 ribu hektare.

“Sekarang produksi kita ada di angka 2,4 juta ton, (kebutuhan) konsumsi kita ada di angka 2,9 juta ton sampai 3 juta ton. Dengan tambahan 500 ribu ton itu, tahun depan gula kristal putih kita aman dan sudah swasembada gula konsumsi. Itu seperti yang disampaikan Presiden melalui Menteri Pertanian,” jelas Roni.

Gubernur Ahmad Luthfi mendukung penuh dan memaksimalkan alokasi anggaran dari Kementan. Ia juga langsung menginstruksikan kepada dinas terkait, untuk segera melakukan koordinasi dengan dinas pertanian dan perkebunan di masing-masing kabupaten/kota.

“Intinya kami akan dukung. Kami akan maksimalkan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan, koordinasi dengan dinas terkait di kabupaten/kota akan terus dilakukan, mengingat mereka nantinya yang akan memandu pelaksana bantuan dari Kementan tersebut.

“Untuk tiga komoditas yang menjadi target, kelapa kita sudah 100 persen siap, kemudian kopi juga 100 persen siap, sedangkan tebu masih 80,75 persen. Tebu ini nanti yang akan didorong oleh Gubernur dan besok akan ada rapat dengan kawan-kawan bupati dan wali kota agar dipercepat,” katanya usai mendampingi Ahmad Luthfi.

Berdasarkan data, Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penghasil tebu terbesar ke-3 setelah Jatim dan Lampung. Luas areal tebu pada tahun 2024 adalah 58.633,39 hektare dengan hasil produksi tebu sebesar 3.718.519,02 ton dan gula kristal putih sebesar 258.776,845 ton.

Komoditas lain yang menjadi unggulan sektor perkebunan di Jawa Tengah adalah kopi dan kelapa. Luas areal kopi di Jateng mencapai 47.714,53 hektare dengan produksi 26.507,79 (equivalent kopi ose).

Perkebunan kopi tersebar di 28 kabupaten/kota dengan jenis kopi robusta dan arabika. Beberapa kabupaten juga telah ditetapkan sebagai kawasan kopi nasional diantaranya Kabupaten Temanggung, Wonosobo, Semarang, Magelang dan Jepara.

Sementara untuk kelapa, Jawa Tengah masuk dalam 10 besar provinsi dengan produksi kelapa tertinggi nasional. Data produksi pada Tahun 2024 adalah 161.233 ton (equivalent kopra) dengan luas areal seluas 200.863 hektare.

“Produksi tahun 2024 dari tiga komoditas itu 100 persen bahkan lebih. Dari potensi itulah maka Kementan melihat Jateng bisa meningkatkan lebih tinggi lagi karena kita support nasional. Semua komoditas itu selalu menjadikan Jateng bagian dari kontributor besar nasional,” jelasnya. (*)